Kebayoran > Laporan Utama

Gedung Sejarah dalam Catatan Lahirnya Pancasila

Jumat, 01 Juni 2018 12:00 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Gedung Pancasila
Gedung Pancasila.
Foto : istimewa

Share this








Gedung bersejarah yang menjadi saksi bisu lahirnya Pancasila sebagai dasar negara adalah Gedung Volksraad saat ini dikenal sebagai Gedung Pancasila.

KEBAYORAN – Setiap tanggal 1 Juni Indonesia memperingati hari kelahiran Pancasila. Hari ini dianggap sakral karena menjadi hari dimana untuk pertama kalinya nama Pancasila diungkapkan ke publik.

Banyak kesaksian yang bisa diungkap dalam lahirnya Pancasila. Namun, ada saksi bisu yang hingga saat ini masih bisa dilihat dan dirasakan keberadaannya.

Namanya Gedung Pancasila. Gedung ini menjadi saksi saat Presiden Soekarno yang melontarkan kata Pancasila untuk pertama kalinya.

Pada masa penjajahan Belanda, gedung bernama asli Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) ini sekarang berada menjadi bagian dari kompleks bangunan gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Dalam laman kantor Kementerian Luar Negeri, tidak ada catatan resmi yang menunjukkan kapan Gedung Pancasila atau Volksraad ini dibangun. Beberapa literatur menuliskan pembangunan gedung ini diperkirakan pada tahun 1830.

Gedung tersebut awalnya dibangun sebagai rumah kediaman Panglima Angkatan Perang Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang juga merangkap sebagai Letnan Gubernur Jenderal.

Namun karena dianggap cukup memadai sebagai ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad), maka Gubernur Jenderal Limburg Stirum meresmikan rumah itu menjadi Gedung Volksraad.

Ketika Jepang menguasai Indonesia, seluruh aset milik Belanda diambil, termasuk Gedung Volksraad ini. Pada masa penjajahan Jepang inilah, upaya Indonesia untuk merdeka semakin besar.

Pada tanggal 1 Maret 1945, Saiko Syikikan (Penguasa Tertinggi Pemerintah Militer Jepang) mengumumkan pembentukan Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).

Badan ini bertugas  untuk mempelajari soal-soal yang berhubungan dengan segi-segi politik, ekonomi, dan tata-pemerintahan yang diperlukan dalam usaha pembentukan Indonesia yang merdeka di kemudian hari.

Upacara pembukaan BPUPK dilaksanakan pada 28 Mei 1945 di bekas gedung Volksraad  Jalan Pejambon 6, Jakarta Pusat. Sidang BPUPK diadakan dari tanggal 29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945 dan dilanjutkan mulai tanggal 10-17 Juli 1945.

Dalam laman Kemendagri, dalam sidang BPUPK ini, Muhammad Yamin enyampaikan pidato dan merumuskan hal yang menjadi awal sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, yaitu ideologi Kebangsaan, ideologi kemanusiaan, ideologi ketuhanan, ideologi kerakyatan, dan ideologi kesejahteraan.

Sementara Soekarno pada tanggal 1 Juni mencetuskan dasar-dasar kebangsaan, internasionalisme, kesejahteraan, ketuhanaan, dan mufakat sebagai dasar negara.

Bung Karno juga memberi nama dasar-dasar tersebut Pancasila, dari kata panca yang berarti lima dan sila yang berarti dasar atau azas.

Usulan Pancasila milik Soekarno kemudian ditanggapi dengan serius, dan melahirkan Panitia Sembilan yang
bertugas merumuskan ulang Pancasila yang telah dicetuskan oleh Soekarno.

Rumusan tersebut nantinya menjadi pencipta sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia adalah ketika dibuatnya Piagam Jakarta yang menimbulkan perdebatan.

Sidang-sidang tersebut diselenggarakan di bekas gedung Volksraad atau pada zaman Jepang dikenal sebagai Gedung Tyuuoo Sangi-In. Sekarang gedung itu bernama Gedung Pancasila sekarang.