Kebayoran > Laporan Utama

Besok Sidang Ahok, Polisi Pastikan Auditorium Kementan Steril

Senin, 09 Januari 2017 19:39 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Chandra Purnama

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Pihak kepolisian saat ini tengah melakukan beragam upaya pengamanan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saat sidang Ahok besok.

KEBAYORAN BARU - Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, kembali menggelar persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) besok. Saat ini, pihak kepolisian tengah melakukan sterilisasi area Gedung Kementerian Pertanian (Kementan), Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Seperti biasa, kami melakukan persiapan jelang sidang, baik dari segi pengamanannya maupun perlengkapan untuk sidang nanti," kata Kepala Sub Bagian Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Purwanta di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (9/1/2017).

Selain itu, lanjut Purwanta, pihak kepolisian juga menerjunkan Tim Gegana. Hal tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman, baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar, termasuk potensi adanya teror.

"Tim Gegana yang melakukan sterilisasi di Auditorium Kementan, mulai malam ini ruangan sidang sudah steril sampai besok baru dibuka," terang Purwanta.

Untuk awak media yang hendak meliput persidangan, diharapkan kehadirannya pada pukul 05.00 WIB Selasa, 10 Januari 2017 esok. Sedangkan untuk media televisi diharapkan mobil SNG sudah datang pukul 22.00 WIB, Senin (9/1/2016).







Kebayoran > Laporan Utama

Sidang Ahok Besok Hadirkan 4 Saksi Ahli

Minggu, 12 Februari 2017 15:25 WIB
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Saksi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan bukan lagi saksi fakta, melainkan saksi ahli.

JAKARTA – Sidang lanjutan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digelar besok di Auditorium Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) rencananya akan menghadirkan 4 saksi ahli.

Keempatnya adalah, Prof. Dr. Muhammad Amin Suma selaku ahli agama Islam; Dua ahli hukum pidana, yakni Dr. Mudzakkir dan Dr. Abdul Chair Ramadhan; dan  ahli Bahasa Indonesia Prof. Mahyuni.

“Sidang-sidang selanjutnya, JPU tidak lagi menghadirkan saksi fakta. Saksi yang dihadirkan adalah saksi ahli,” ucap anggota tim advokasi dan hukum Ahok, Ronny Talapessy, Minggu (12/2/2017).







Kebayoran > Laporan Utama

Usai SBY, Giliran Donal Trump Disebut Dalam Sidang Ahok

Selasa, 31 Januari 2017 20:12 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ketua MUI Ma’ruf Amin saat menghadiri sidang Ahok.
Ketua MUI Ma’ruf Amin saat menghadiri sidang Ahok.

Share this





Nama Donald Trump dibawa-bawa saat tim kuasa hukum Ahok bertanya soal pemimpin bukan dari kaum muslim.

PASAR MINGGU - Usai nama Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut dalam persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kini giliran nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump disinggung dalam persidangan.

Kejadian berawal saat tim kuasa hukum Ahok, mendapat giliran bertanya kepada saksi persidangan, yakni Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Ma'ruf Amin. Dalam kesempatan itu, salah seorang tim kuasa hukum Ahok bertanya soal pemimpin bukan dari kaum muslim.

"Kan anda tadi bilang kami kalau pilih pemimpin gak boleh Yahudi dan Nasrani. Bagaimana anda berkata itu, apakah bisa digunakan membangun bangsa?," beber Teguh Samudera saat mengajukan pertanyaan ke Ma'ruf Amin, Selasa (31/1/2017).

Belum sempat Ma'ruf menjawab, Teguh kembali mengaitkan kebijakan Presiden Amekia Serikat, Donald Trump soal pelarangan imigran yang hendak masuk ke wilayah Amerika Serikat.

"Kami lihat di Amerika Donald Trump mengeluarkan kebijakan imigran yang kontroversial, gimana dikaitkan dengan pernyataan anda?," lanjut Teguh.

Mendengar pertanyaan tersebut, Ma'ruf lantas terdiam. Mantan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era SBY itu, memilih enggan menanggapi pertanyaan tersebut.

"Gak relevan, itu sudah kemana-mana pertanyannya. Menurut saya bukan porsi saya. Yang duduk sebagai saksi," kata Ma'aruf," tegas Ma'ruf.







Kebayoran > Laporan Utama

Ahok Tuding Ma’ruf Amin Berikan Kesaksian Palsu

Selasa, 31 Januari 2017 17:32 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ahok
Ahok

Share this





Ahok pun berencana akan mempolisikan Ketua MUI Ma'aruf Amin karena telah memberikan kesaksian palsu di dalam persidangan.

PASAR MINGGU – Majelis hakim persidangan kasus dugaan penistaan agama, mempersilahkan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk memberikan tanggapan atas kesaksian yang disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin.

Ahok yang terlihat geram dengan jawaban Ma'ruf soal tidak benar adanya percakapan dirinya dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Padahal, tim kuasa hukumnya memiliki bukti tentang kebeneran adanya percakapan tersebut.

"Saudara tidak pantas jadi saksi," tegas Ahok saat menanggapi kesaksian Ma'ruf Amin di Auditorium Kementrian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).

Selain itu, Ahok menuding Ma'ruf yang pernah menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era SBY ini telah melakukan kebohongan, yakni perihal pertemuan calon gubernur DKI Jakarta nomor urut satu Agus-Sylvi.

Ahok juga membantah pernyataan Ma’ruf yang mengatakan kedatangan paslon nomor urut satu ke Kantor Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) terjadi sebelum kunjungan dirinya ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu yakni pada 27 September 2016. "Sebenernya itu pertemuan tanggal 7 Oktober 2016. Yang tidak lain setelah saya ke Pulau Panggang," ungkap Ahok.

Ahok pun berencana akan mempolisikan Ma'aruf karena telah memberikan kesaksian palsu pada saat persidangan. "Kami akan polisikan saudara saksi. Saya akan buktikan, satu persatu dipermalukan nanti," ujar Ahok.







Kebayoran > Laporan Utama

Nama SBY Disebut Dalam Sidang Ahok

Selasa, 31 Januari 2017 16:49 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ahok
Ahok

Share this





Nama SBY disebut saat salah seorang dari tim kuasa hukum Ahok, Humphrey R Djemat.

PASAR MINGGU – Nama mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut-sebut saat sidang lanjutan kasus penistaan oleh saksi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma'ruf Amin, dalam persidangan yang digelar di Auditorium Kementrian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Nama SBY disebut saat salah seorang dari tim kuasa hukum Ahok, Humphrey R Djemat menanyakan kepada Ma'ruf tentang adanya percakapan antara dirinya dengan SBY melalui sambungan telepon.

"Apakah sebelum pertemuan hari Jumat, Kamisnya ada telepon dari SBY sekitar pukul 10:16 WIB supaya diatur pertemuan dengan paslon satu agar diterima di PBNU, dan SBY juga minta segera dikeluarkan fatwa soal penodaan agama," tanya Humprey kepada Ma'ruf didepan majelis hakim, Selasa (31/1/2017).

Pertanyaan itu sontak membuat pengunjung persidangan terpana. Namun, dengan lantangnya Ma'ruf segera menjawab tidak ada sambungan telepon dari SBY perihal penjelasan tersebut. "Tidak, tidak ada," jawab Ma'ruf.

Karena tidak percaya dengan jawaban saksi, Humphrey lantas kembali menegaskan kepada Ma'ruf bahwa dirinya memiliki bukti tentang adanya percakapan antara SBY dan Ma'ruf. "Saudara jangan tidak-tidak terus. Saya punya buktinya," tegas Humphrey.

Mendengar ucapan Humphrey, membuat Ma'ruf terdiam. Selanjutnya, dengan sikap Humphrey menghampiri majelis hakim untuk menunjukan bukti tersebut.







Kebayoran > Laporan Utama

Begini Cara MUI Tetapkan Ucapan Ahok Sebagai Penista Agama

Selasa, 31 Januari 2017 15:57 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin, saat masuk ruang sidang.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin, saat masuk ruang sidang.

Share this





Ucapan Ahok yang menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 telah diteliti oleh empat komisi MUI.

PASAR MINGGU – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menjelaskan latar belakang MUI menetapkan ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentang Surat Al-Maidah ayat 51, dianggap menistakan agama.

Menurut Ma'ruf, ucapan Ahok saat kunjungan ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu telah diteliti oleh empat komisi MUI. Komisi tersebut ialah, Komisi Fatwa, Infokom, Perundangan, dan Penelitian. Pasalnya, ucapan Ahok tergolong tendensius dan dapat memecah belah kesatuan umat beragama.

"Karena dibahas bukan hanya satu komisi tapi oleh empat komisi dan dibahas oleh pengurus harian jadi lebih banyak yang terlibat," ungkap Ma'ruf saat persidangan ke-8 yang digelar di Auditorium Kementrian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).

Ma'ruf menjelaskan, pihaknya memiliki beberapa tingkatan dalam mengeluarkan sebuah keputusan yakni keputusan fatwa, rekomendasi, tausiah, seruan, pendapat, dan sikap keagamaan. "Yang paling tinggi itu sikap keagamaan," bebernya.

Sementara itu, dari data yang dihimpun infonitas.com, kasus dugaan penistaan agama masuk kategori sikap keagamaan yang dikeluarkan oleh MUI. Hal tersebut pun menjawab pertanyaan salah satu dari penasihat hukum Ahok, yang berujar asal usul adanya fatwa MUI tentang ajaran Surat Al-Maidah ayat 51 soal pemimpin non muslim.







Kebayoran > Laporan Utama

MUI Tak Perlu Klarifikasi Ucapan Ahok

Selasa, 31 Januari 2017 14:18 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin

Share this





Ketua MUI Ma’ruf Amin mengatakan, ucapan ahok di Kepulauan Seribu masuk kategori penistaan agama.

PASAR MINGGU – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin membeberkan alasan soal tidak diberi kesempatan terdakwa kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk mengklarifikasi ucapannya soal Al Maidah ayat 51. Padahal, akibat ucapan tersebut, Ahok kini duduk dikursi pesakitan.

Ma'ruf menjelaskan, ucapan Ahok saat kunjungan ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu sudah masuk kategori menistakan agama Islam. "Tidak perlu (klarifikasi) menurut saya. Karena kami sudah mengklasifikasi bahwa ucapan itu benar disampaikan terdakwa," kata dia di muka persidangan, Selasa (31/1/2017).

Ma'ruf meyakini, meskipun tidak meminta klarifikasi atas ucapan Ahok, pihak MUI sudah dapat memastikan ucapan tersebut keluar dari mulut Gubernur DKI Jakarta nonaktif saat berkunjung ke Kepulauan Seribu.

"Kami tidak merasa perlu mendatangi terdakwa, karena sudah pasti itu ucapannya berdasarkan rekaman-rekaman yang ada, kami juga sudah turun ke lapangan, dan informasinya itu benar perkataannya (Ahok)," pungkasnya.







Kebayoran > Laporan Utama

Ketua MUI : Ahok Posisikan Al-Quran Sebagai Alat Kebohongan

Selasa, 31 Januari 2017 13:40 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin

Share this





MUI berkesimpulan Ahok telah melakukan penghinaan pada Al-Quran dan ulama.

PASAR MINGGU – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menegaskan dirinya tidak akan membahas penafsiran dari surat Al-Maidah ayat 51, yang diucapkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat kunjungan dinas ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu yang akhirnya menjadi viral di masyatakat.

Menurut Ma'ruf, pihak MUI hanya akan membahas ucapan Ahok yang diduga telah menistakan agama Islam. "Kami tidak membahas kandungan isi dan tafsir Al-Maidah. Yang kami bahas hanya ucapan terdakwa," tegasnya di muka persidangan di Auditorium Kementan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).

Kata-kata yang dimaksud, lanjut Ma'ruf, 'dibohongi pakai Al-Maidah ayat 51'. "Satu kalimat saja. Gak ada yang perlu di masukan dalam pembahasan (keseluruhan pidato Ahok). Tidak ada relevansi, sehingga yang dibahas sepotong (ucapan Ahok) itu saja (yang dianggap menista)," terangnya.

Mendengar jawaban dari Ma'ruf, salah seorang majelis hakim lantas mempertanyakan keluarnya Fatwa MUI tentang adanya penistaan agama dari ucapan Ahok, namun tidak menelaah kandungan dari surat Al-Maidah ayat 51 sendiri.

"Menurut pendapat yang kami bahas, bahwa terdakwa memposisikan Al-Quran sebagai alat kebohongan, memposisikan Al-Quran rendah. Yang sampaikan alat itu adalah para ulama, maka kesimpulannya melakukan penghinaan pada Al-Quran dan ulama," jawab Ma'ruf.







Kebayoran > Laporan Utama

Kualitas Saksi Pelapor Dipertanyakan

Selasa, 24 Januari 2017 18:02 WIB
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Pernyataan saksi pelapor menyoal profesi dan barang bukti berbeda dari yang tertulis di BAP.

JAKARTA – Kesaksian Muhammad Asroi Saputra tidak sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Alhasil, tim kuasa Ahok meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan penyidik Polresta Padang Sidempuan saat sidang berikutnya. Ini untuk membuktikan kualitas saksi pelapor.

Tim kuasa hukum Ahok, Sirra Prayuna mengungkapkan itu dalam persidangan kasus penodaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2017). “Ini perlu mendapat konfirmasi dari penyidik Polresta Padang Sidempuan. Jangan sampai polisi terus yang disalahkan.”

Pernyataan Asroi yang tidak sesuai menyoal pekerjaan. Dalam persidangan, Asroi menyatakan dia adalah penghulu yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Agama Kantor Wilayah Padang Sidempuan. Namun, di BAP pekerjaan Asroi adalah wiraswasta.

Begitupun menyoal penyerahan barang bukti berupa CD. Dalam laporan polisi, Asroi mengaku sudah menyerahkan barang bukti kepada kepolisian. Sedangkan dalam BAP, Asroi tidak menyerahkan bukti apapun.

“Kemudian, perbedaan laporan dalam kalimat penistaan dan penodaan agama,” lanjut Sirra.

Namun, Ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Mukartono menilai, permohonan tim kuasa hukum tidak bersifat substansial. “Apalagi, jarak antara Padang Sidempuan dengan Jakarta cukup jauh. Sehingga sulit dihadirkan.”

Sementara, Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi menyetujui permintaan tim kuasa hukum terdakwa. “Jawaban JPU tidak beralasan. Lokasi jauh dekat itu kami anggap sama. Tapi terkait substansi, saksi bertahan pada BAP dan sama dengan yang disampaikan di persidangan," tegas Dwiarso.







Kebayoran > Laporan Utama

Kesaksian Lurah Pulau Panggang

Selasa, 24 Januari 2017 11:21 WIB
Editor : Denisa Tristianty | Sumber : DBS

Ketika Ahok memasuki ruang sidang untuk lanjutan persidangan penistaan agama.
Ketika Ahok memasuki ruang sidang untuk lanjutan persidangan penistaan agama.

Share this





Lurah Pulau Panggang Yuli Hardi sebut tak begitu perhatikan pidato Ahok.

RAGUNAN – Persidangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghadirkan lima saksi dan satu saksi merupakan Lurah Pulau Panggang, Yuli Hardi.

Dalam persidangan, Yuli mengaku tidak terlalu memperhatikan pidato Ahok ketika berkunjung ke pelelangan ikan (TPI) Pulau Pramuka, Pulau Panggang, pada (27/9/2016) silam.

“Tidak begitu fokus ke pidato karena pikiran saya ke kebersihan dan lainnya,”kata Yuli Hardi dalam persidangan yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Pasar Minggu, Selasa (24/1/2017).

Selain itu, ia mengatakan baru mengetahui kedatangan Ahok saat itu menjadi masalah saat menonton berita di televisi.

“Saya lihat di televisi waktu itu katanya di Pulau Pramuka,”ujarnya.

Ahok sendiri saat itu, kata dia, untuk program budidaya ikan kerapu di Kepulauan Seribu. Bahkan, terdakwa Ahok juga sempat menghadiri panen ikan kerapu.

Saat diatanya persoalan omongan pidato Ahok , ia menjawab “Dibohongin pakai Al Maidah 51.”

Sementara, dalam surat dakwaan, Jaksa menyebutkan ketika terdakwa memberikan sambutan dengan sengaja dengan memasukkan kalimat yang berkaitan dengan agenda pemilihan gubernur tersebut dengan mengaitkan surat Al Maidah ayat 51.

Saat itu, Ahok sudah terdaftar sebagai Cagub DKI. Tetapi, ia belum menjalankan kampanye untuk pemilihan gubernur.

 







Kebayoran > Laporan Utama

JPU Hadirkan 5 Saksi

Selasa, 24 Januari 2017 10:01 WIB
Editor : Denisa Tristianty | Sumber : DBS

Sidang Ahok
Sidang Ahok

Share this





Ahok tak banyak bicara memasuki persidangan dengan agenda kesaksian lima saksid dari JPU.

RAGUNAN – Kementerian Pertanian kembali ramai, khususnya di ruang auditorium lantaran digelarnya sidang terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Lima saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) hari ini.

Lima orang saksi itu adalah Lurah Pulau Panggang, Kepulauan Seribu yaitu Yuli Hardi, kameramen di Dinas Komunikasi, Informasi dan Kehumasan yaitu Nurkholis Majid, Ibnu Baskoro, Muhammad Asroi Saputra dan Iman Sudirman.

Seperti diketahui, Ahok didakwa melakukan penodaan agama karena menyebut dan mengaitkan Surat Al Maidah 51 dengan agenda Pilkada DKI.

Ahok telah menyebut Surat Al Maidah dengan pemilihan kembali dirinya sebagai Cagub Pilkada DKI di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada (27/9/2016) lalu. Saat itu, masa kampanye juga belum dimulai.

Hari ini, Ahok terlihat mengenakan kemeja batik coklat dan langsung masuk ke ruang persidangan. Ia didakwa dengan Pasal 156 a huruf a dan/atau Pasal 156 KUHP.