Kamis, 11 Januari 2018 15:22:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Wildan Kusuma
Begini Kronologis Pelaporan Sandiaga Uno ke Polda Metro Jaya
Wagub DKI Sandiaga Uno
Foto : Rendy MR
 

KEBAYORAN – Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Sandiaga Uno dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya oleh perempuan bernama Fransiska Kumalawati Susilo, Selasa (9/1/2018). Fransiska melaporkan Sandiaga atas dugaan penipuan dan penggelapan atas penjualan lahan seluas 1 hektare di jalan Curug Raya, Desa Kadu, Tangerang.

Fransiska menceritakan menceritakan kejadian bermula pada tahun 2012 lalu. Saat itu, Sandiaga dan rekan bisnisnya bernama Andreas Tjahyadi menjual satu hamparan lahan seluas hampir 1 hektare seharga Rp 12 miliar.

"Satu hamparan tersebut ada tiga sertifikat," kata Fransiska saat dihubungi, Rabu, (10/1/2018) kemarin.

Dalam tiga lahan yang berada di satu hamparan tersebut, ada satu bidang lahan seluas 3.000 meter milik Djoni Hidayat yang ikut dijual oleh perusahaan milik Sandiaga dan Andreas, yakni PT Japirex.

Sandiaga dan Andreas membalik nama sertifikat lahan milik Djoni ke perusahaan mereka tersebut. Padahal, menurut Fransiska, jika suatu PT ingin membeli lahan harus ada rapat umum pemegang saham (RUPS). Namun, hal itu tidak terjadi. PT Japirex menguasai lahan tanpa melalui RUPS.

"Kalau jual beli juga harus ada AJB (akte jual beli). Ini tidak ada. Kok bisa balik nama ke PT lalu dijual. Kan aneh. Pasti ada yang dipalsukan," kata Fransiska.

Pada awalnya, PT Japirex adalah milik Edward Soeryadjaya. Lahan tersebut lalu diserahkan kepada istrinya bernama Happy Soeryadjaya yang telah meninggal pada tahun 1992. Di tangan Happy, lahan seluas 3.000 meter tersebut diserahkan kepada Djoni.

Selain itu, Edward telah menyerahkan PT Japirex kepada Sandiaga dan Andreas, empat hari setelah kepergian istrinya. Sandiaga pemegang saham 40 persen PT Japirex sejak tahun 2001, sedangkan Andreas 60 persen sejak 1992.

"Sebab, Sandiaga dan Andreas adalah rekan bisnis almarhum Edward. Jadi, dipercaya untuk menguasai perusahaan," ujarnya.

Diakui Fransiska, ini adalah langkah terakhir yang dilakukan oleh Fransiska. Jauh sebelum pelaporan ini, Fransiska sudah mencoba mempertanyakan masalah ini secara probadi kepada Sandiaga. Namun, Sandiaga tidak pernah merespon. “Bahkan handphone saya di-block,” katanya.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda