Kebayoran > Laporan Utama

Sidang Ahok Ke-8

Begini Cara MUI Tetapkan Ucapan Ahok Sebagai Penista Agama

Selasa, 31 Januari 2017 15:57 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Chandra Purnama

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin, saat masuk ruang sidang.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma'ruf Amin, saat masuk ruang sidang.
Foto : Chandra Purnama

Share this








Ucapan Ahok yang menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 telah diteliti oleh empat komisi MUI.

PASAR MINGGU – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menjelaskan latar belakang MUI menetapkan ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tentang Surat Al-Maidah ayat 51, dianggap menistakan agama.

Menurut Ma'ruf, ucapan Ahok saat kunjungan ke Pulau Panggang, Kepulauan Seribu telah diteliti oleh empat komisi MUI. Komisi tersebut ialah, Komisi Fatwa, Infokom, Perundangan, dan Penelitian. Pasalnya, ucapan Ahok tergolong tendensius dan dapat memecah belah kesatuan umat beragama.

"Karena dibahas bukan hanya satu komisi tapi oleh empat komisi dan dibahas oleh pengurus harian jadi lebih banyak yang terlibat," ungkap Ma'ruf saat persidangan ke-8 yang digelar di Auditorium Kementrian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (31/1/2017).

Ma'ruf menjelaskan, pihaknya memiliki beberapa tingkatan dalam mengeluarkan sebuah keputusan yakni keputusan fatwa, rekomendasi, tausiah, seruan, pendapat, dan sikap keagamaan. "Yang paling tinggi itu sikap keagamaan," bebernya.

Sementara itu, dari data yang dihimpun infonitas.com, kasus dugaan penistaan agama masuk kategori sikap keagamaan yang dikeluarkan oleh MUI. Hal tersebut pun menjawab pertanyaan salah satu dari penasihat hukum Ahok, yang berujar asal usul adanya fatwa MUI tentang ajaran Surat Al-Maidah ayat 51 soal pemimpin non muslim.