Kebayoran > Komunitas

Komunitas R15 Jakut, Ingin Bermanfaat untuk Masyarakat

Rabu, 14 Desember 2016 14:50 WIB
Editor : | Reporter :

Komunitas R15 Jakut
Komunitas R15 Jakut

Share this





Komunitas - Di pintu masuk utama Taman Impian Jaya Ancol, terlihat satu persatu motor racing berkapasitas 150 CC parkir dengan rapi. Ya. Mereka adalah anggota Yamaha R15 Club Jakarta Utara (R15 Jakut). Kehadiran komunitas pencinta kuda besi tersebut merupakan bentuk masih kuat rasa persaudaraan antarpemilik kendaraan sejenis.

Menurut Budi Susanto, Ketua R15 Jakut, ajang kumpul bareng antaranggota kerap kali digelar. Pada kesempatan kali ini, bertepatan dengan momentum Lebaran 2016. “Ya, ini merupakan kumpul perdana setelah Lebaran. Sekalian kami halal bihalal. Termasuk membicarakan program yang akan kami jalani,“paparnya.

Ia menjelaskan, kehadiran Yamaha R15 Club Indonesia bersamaan dengan keluarnya motor sport itu pada 2014. Setelah itu, mulai muncul chapter di berbagai kota, termasuk Jakarta Utara. “Kami berinisiatif membentuk chapter sendiri pada akhir 2015 dengan jumlah member awal sekitar 20 orang,” tuturnya.

Tujuan dari pembentukan chapter di Jakarta Utara, sambungnya, sebagai wadah penyalur hobi dan kegiatan positif. “Memang Pandangan dan opini masyarakat masih negatif tentang anak club motor. Masih dikira geng motor. Kami beda, safty riding dan bisa dijamin tidak melanggar aturan lalu lintas. Itu menjadi komitmen anggota. Yang terpenting kami tidak anarkistis, justru lebih mempunyai kegiatan  positif dan bermanfaat,“ ujarnya.

 “Bagi yang mau bergabung syarat kelengkapan motor dan pengendara sendiri harus ada, seperti KTP, STNK, SIM C dan pas foto. Terakhir, pesan kami, menyalurkan hobi lewat club itu harus bisa bermanfaat buat masyarakat. Jangan pernah lelah untuk membantu,“ pungkasnya.







Kebayoran > Komunitas

Komunitas Perantauan Wadah Sambungrasa Sesama Perantauan

Selasa, 31 Januari 2017 13:33 WIB
Editor : Hanafie | Sumber : wartakota.com

Komunitas Kasmaran gelar lomba futsal
Komunitas Kasmaran gelar lomba futsal

Share this





Forum Kasmaran menggelar kegiatan lomba fustal antar komunitas perantau, di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

KEBAYORAN BARU - Forum Komunitas Masyarakat Perantauan (Kasmaran) menggelar kegiatan lomba fustal antar komunitas perantau. Lomba yang bertajuk ‘Kasmaran Cup 2017’, diadakan di GOR Bulungan, Jakarta Selatan pada 21-22 Januari 2017 lalu.

Teguh Wardoyo, Ketua Panitia Pelaksana ‘Kasmaran Cup 2017’ menjelaskan, kegiatan lomba futsal tersebut sebagai ajang silaturahmi, kebersamaan, dan keberagaman antarkomunitas perantau yang ada di ibukota Jakarta. “Sekaligus sebagai wujud implementasi rasa persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan,” kata Teguh beberapa waktu lalu.

Lomba tersebut, diikuti 27 tim futsal dari berbagai komunitas kedaerahan yang tergabung dalam Forum Kasmaran. Antara lain Ika Ragil (Gunung Kidul), OPEK (Pekalongan), KPK (Klaten), IKW (Kabupaten Wonogiri), Pakari (Wonogiri), Ikatan Perantau Minang (Padang/Sumbar), Lanus Batavia (Cilacap), Pasukan Plat AD (Jateng), Si Borong Borong Nauli (Medan), Aceh Serantau (Aceh), dan Ambon Tupessy FC (Ambon).

Dalam helatan hari itu turut hadir calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI, Djarot Saiful Hidayat yang didapuk membuka event tersebut. Ketua Umum Forum Kasmaran, Brigjen Mar (pur), Giyarto mengatakan kehadiran Djarot Saiful Hidayat karena Kasmaran melihat proses perjalanan pria yang akrab disapa Mas Djarot itu sebagai sosok perantau yang militansinya luar biasa.

Bhinneka Tunggal Ika

Forum Kasmaran dibentuk pada tahun 2012. Lahirnya komunitas ini awalnya untuk mendukung perjuangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) maju untuk memimpin Jakarta. “Nah sekarang biarlah kita benar-benar Kasmaran dengan Mas Djarot. Kita mendukung beliau bersama Pak Ahok kembali untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jakarta,” kata Giyarto.

Dan saat ini kata Giyarto ada 60 komunitas, paguyuban kedaerahan yang ada di Jakarta tergabung dalam Forum Kasmaran. Teguh Wardoyo menambahkan, terlepas dari aksi mendukung calon orang nomer satu di DKI Jakarta, hadirnya Forum Kasmaran ini bisa menjadi sambungrasa, saling berbagi sesama perantauan.

“Ini kita tumbuhkan. Dengan cara seperti itu maka kita bisa membangun budaya musyawarah mufakat, tidak saling bersaing dan konflik satu sama lain. Inilah gunanya forum. Makanya di forum ini dikembangkan kegiatan seperti olaharga, seni budaya, jadi bisa benar benar kompak,” katanya.

Sementara itu, mendapat dukungan dari Forum Kasmaran, Djarot Saiful Hidayat mengaku sangat suka dengan kasmaran yang artinya jatuh cinta. “Kasmaran pada Djarot, alhamdulillah. Kalau enggak kasmaran, keterlaluan,” kata Djarot bercanda disambut dengan gelak tawa para peserta lomba futsal.

Namun, Djarot mengajak seluruh masyarakat perantauan di Jakarta lebih kasmaran kepada Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan DKI Jakarta yang bersih, melayani sehingga betul-betul menjadi ibukota Republik Indonesia yang sejajar dengan ibu kota negara maju lainnya di dunia.

Djarot menjelaskan warga perantauan di Jakarta ada lebih dari 70 persen. Perantau paling banyak berasal dari Suku Jawa ada sekitar 35,5 persen, kemudian diikuti Suku Betawi sebanyak 25 persen, lalu Sunda, Batak dan suku lainnya. “Artinya, sebagai ibu kota negara, Jakarta adalah miniatur Indonesia. Sebab, semua suku bangsa, agama dan status sosial ekonomi ada di Jakarta,” katanya.







Kebayoran > Komunitas

Hitchhiker Indonesia, Memopulerkan Budaya Berani Berbagi

Jumat, 18 November 2016 13:44 WIB
Editor : Admin | Reporter : Cynthia Octavia

Hitchhiker Indonesia.
Hitchhiker Indonesia.

Share this





Info Komunitas - Bagi seorang traveler, menumpang merupakan bagian dari cerita perjalanan berwisata. Ya, kegiatan menumpang itulah yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang tergabung dalam Hitchhiker Indonesia (HHI). Biasanya hitchhike (menumpang) dilakukan oleh mereka yang gemar berwisata. Mengeksplorasi dan menikmati tempat-tempat indah di Indonesia dan luar negeri dengan mengurangi biaya perjalanan.

Salah satu pengiat HHI Hafiz Riza menuturkan Hitchhiker Indonesia merupakan kumpulan orang-orang yang suka berpetualang dengan meminimalisir biaya pengeluaran. Bahkan, sebisa mungkin terbebas dari biaya transportasi. Salah satunya dengan cara menumpang. Para member komunitas ini biasa menyebutnya dengan perjalanan Nol Rupiah.

Tidak ada batasan kendaraan yang bisa ditumpangi. “Berbagai jenis kendaraan bisa kita tumpangi, baik umum atau pribadi, seperti roda tiga hingga truk dan sebagainya,” jelas Hafiz saat ditemui Info Kebayoran di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Caranya dengan memberikan tanda seperti tulisan atau acungan jempol.

Member HHI Rezi Zulia menambahkan komunitas dengan tagline ‘free everywhere with your tumb’ ini bukan hanya sekadar untuk menumpang saja. Dengan menularkan budaya akan muncul rasa saling percaya antara pengendara dan penumpang. Selain itu bila diterapkan di kota besar dengan tingkat kemacetan yang tinggi, tentu bisa berdampak mengurangi kemacetan karena bisa saling berbagi tumpangan.

Komunitas yang hadir sejak tahun 2012 ini kerap mengadakan berbagai event . Bisanya dilakukan di tempat wisata dan untuk mengikuti event tentu dengan hitchhike. “Bisa dilakukan kelompok atau sendiri dan bisa dilakukan siang atau malam hari, dan event tergantung kesepakatan bersama,” jelas terang Hafiz. Namun, untuk perempuan tidak disarankan untuk hitchhike sendiri. Saat ini, jumlah member ada di HHI sekitar 100 orang.  “Yang aktif ikut event biasanya 30-an,” tambah pria yang pernah melakukan hitchhike Jakarta-Denpasar ini.







Kebayoran > Komunitas

Komunitas Jakarta Nyastra, Memberi Ruang Apresiasi Pecinta Sastra

Kamis, 07 April 2016 11:16 WIB
Editor : Fauzi | Reporter : Cynthia Octavia

Cynthia Octavia
Cynthia Octavia

Share this





Di komunitas ini, para pecinta sastra dapat mengekpresikan hasil karyanya. Komunitas ini juga menjadi sarana mereka berdiskusi mengenai dunia sastra Indone

Komunitas - Komunitas Jakarta Nyastra ini dibentuk oleh Fadli Mubarak Arsya, seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Universitas Diponegoro Semarang pada 28 Juni 2015. Ide awalnya muncul dari salah satu mata kuliah yang ia pelajari yaitu Sastra Cyber. Dengan memanfaat dunia maya, pria yang akrab disapa Acoy ini membentuk Komunitas Jakarta Nyastra melalui aplikasi messenger Line.

Gayung bersambut, banyak followers yang menyukainya. Melalui akun itu, Acoy mengajak followers untuk berkumpul di kawasan Taman Langsat, Barito. Sekitar 20 orang hadir di pertemuan pertama itu dan mampu memamerkan kemampuan sastra mereka. Mulai membaca puisi karya sendiri, karya penulis Indonesia dan lainnya.

Pertemuan kedua pun digagasnya dan diadakan di Warung Apresiasi (Wapres) di kawasan Bulungan. Acara yang dikemas lebih formal itu mampu mengundang followers lebih banyak untuk menunjukkan aksi mereka membacakan puisi sendiri, musikalisasi puisi dan karya sastra lainnya. Diakui Acoy, member Komunitas Jakarta Nyastra tercatat sebanyak 56 orang anggota aktif se-Jabotabek. Mereka datang dari berbagai kalangan. Mulai siswa, mahasiswa hingga pekerja dengan rentang usia 16-26 tahun.

Hafendra Adam, Admin Official Account Komunitas Jakarta Nyastra menambahkan komunitas ini merupakan ruang bagi pecinta sastra untuk diskusi dan membahas berbagai kumpulan cerpen, sejarah sastra Indonesia dan luar negeri. “Biasanya kami berkumpul membuka ruang diskusi dengan saling mengapresiasikan karya sendiri dan orang lain,” jelas mahasiswa jurusan Sastra Rusia, Universitas Indonesia tersebut. Di penghujung 2015, komunitas ini mengadakan gathering  dengan mengumpulkan 25 anggotanya dan mengundang salah satu anggotanya yang juga Penulis Antologi Puisi Skenario Menyusun Antena, Galeh Pramudianto.

Menurut pria yang biasa disapa Afe ini, berbagai karya sastra anggota Komunitas Jakarta Nyastra dapat dibaca melalui jakartanyastra.wordpress.com. Di setiap minggunya, ada tema sastra yang berbeda-beda. Sampai saat ini, sedikitnya ada 20 karya yang dikirim oleh anggota setiap harinya. “Sastra sangat menyenangkan dan bercerita. Karena sastra bukan hanya sebuah puisi, puisi bukan hanya gombalan,” tutur Afe.







Kebayoran > Komunitas

Komunitas Hammockers Indonesia (HI), Keep Hanging & See You at The Next Trees

Senin, 21 Maret 2016 14:46 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter :

Komunitas Hammockers Indonesia
Komunitas Hammockers Indonesia

Share this





Selain kumpul gantung, para anggota Hammockers Indonesia juga sering melakukan aksi sosial seperti pengumpulan dana untuk korban bencana asap.

Info komunitas - Mungkin sebagian orang masih asing dengan hammock. Alat berupa kain seperti ayunan yang bisa dijadikan tempat tidur dengan menggantung kedua ujungnya. Biasanya alat ini dipakai untuk sekadar bersantai atau tidur di alam terbuka. Pecinta alat ini ternyata cukup banyak. Mereka bergabung dalam komunitas yang dinamakan Hammockers Indonesia (HI), sebuah komunitas yang berdiri sejak Februari 2015.

“Komunitas ini berawal dari situs jejaring sosial Facebook, karena merasa hobinya sama kami adakan gathering dan akhirnya membuat komunitas,” terang Panji Witaryanto, salah satu penggiat Hammockers Indonesia (HI). Jumlah anggota HI yang tercatat dalam jejaring Facebook sudah mencapai 3.500 dari seluruh Indonesia. Salah satu misi komunitas ini adalah mensosialisasikan cara menggunakan hammock dengan benar dan aman.

 

Acara kumpul perdana dilakukan dengan melakukan gathering di kawasan Gunung Bunder, Bogor, beberapa bulan lalu. Memang tidak semua anggota dapat hadir pada acara tersebut. Bukan hanya itu, HI juga sering melakukan kopi darat di berbagai kawasan, sepeti hutan, gunung, pantai, bumi perkemahan ataupun taman kota. “Kami tidak pernah mematok suatu tempat untuk berkumpul. Untuk mengetahui waktu dan tempat kumpul yang pasti bisa dilihat langsung di grup Facebook Hammockers Indonesia,” ujar pria kelahiran Jakarta, 31 Agustus tersebut.

Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui mengenai hammock, dapat melihat kegiatan Hammockers Indonesia regional Jakarta yang kerap berkumpul di kawasan Gelora Bungkarno, Senayan pada hari minggu pukul 08.00 WIB. Mereka kumpul gantung, istilah mereka untuk menyebut kegiatan bersantai bersama di atas hammock, sekaligus olahraga.







Kebayoran > Komunitas

Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M, Wadah Bersatu Para Basudara

Senin, 18 Januari 2016 16:53 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M
Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M

Share this





Komunitas ini terbentuk untuk mempersatukan saudara-saudara perantau asal Maluku tanpa membedakan latar belakang agama.

Komunitas - Terbentuknya Komunitas Pemuda Pemudi Maluku Blok M tidak lepas dari peran Ferry Lasatira. Pria asal Seram Barat, Maluku itu tiba di Jakarta pada 1980. Kala itu, Ferry bersama rekannya Telly Pattinama berpikir untuk merangkul para saudara asal Maluku yang berada di kawasan Blok M dan mengajak beribadah bersama di Gereja Effatha.

Keberhasilan Ferry dan Telly merangkul pemuda-pemudi Maluku itu melahirkan Persekutuan Pemuda-Pemudi Maluku Blok M pada 2001. Setelah 14 tahun berdiri, keinginan untuk merangkul pemuda-pemudi Maluku lebih luas lagi maka dibentuklah Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M. Atas ketekunan dan kerja keras menyatukan pemuda-pemudi Maluku di kawasan Blok M, Ferry pun didapuk menjadi pembina dan Telly dipercaya sebagai ketua komunitas ini.

Sekretaris Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M, Maribel Gumban menjelaskan, komunitas ini terbentuk dari rasa kebersamaan dan keinginan untuk mempersatukan basudara (istilah orang Maluku yang berarti saudara se-suku) yang berada di perantauan tanpa memandang latar belakang keagamaan. “Misinya juga untuk kaderisasi, pembinaan dan pengarahan pada para anggota terutama generasi muda,” kata Maribel.

Diakui Maribel, komunitas yang kini beranggotakan sekitar 200 orang ini dijadikan sebagai saran untuk saling berbagi dan tolong menolong baik dalam kebahagiaan maupun kesulitan. “Saling membantu baik secara moril maupun materil terutama apabila ada kedukaan atau musibah,” terangnya. Bukan hanya untuk kepentingan internal komunitas saja. Berbagai aktivitas sosial pun tidak luput menjadi agenda kegiatan Komunitas Pemuda-Pemudi Maluku Blok M.

Selain lebih banyak melakukan kegiatan keagamaan, Maribel menceritakan pada Ramadan lalu, komunitas ini menggelar kegiatan buka puasa dan halal bihalal untuk para anggota yang beragama Islam, masyarakat Blok M dan sekitarnya. Kegiatan sosial yang belum lama ini dilakukan yaitu penggalangan dana untuk korban bencana asap di Indonesia. “Segala kegiatan amal yang kami laksanakan tidak baku, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau urgensinya,” tegas Maribel.







Kebayoran > Komunitas

Komunitas Jakarta Jalan-jalan, Trip Loves Earth

Kamis, 12 November 2015 17:46 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Budiyanto Rusli

Komunitas Jakarta Jalan-jalan
Komunitas Jakarta Jalan-jalan

Share this





Bukan hanya menikmati keindahan alam, komunitas ini juga memiliki misi dan berbagai kegiatan untuk mengenalkan dan menjaga potensi wisata Indonesia.

Bagi sebagian orang traveling lebih asyik jika dilakukan bersama teman. Berwisata dalam rombongan pun dapat menekan budget. Hal tersebut menjadi salah satu alasan Amiey Dhayan membentuk Jakarta Jalan-jalan pada 29 Maret 2012, bersama seorang teman semasa masih duduk di bangku sekolah menengah. “Kita bentuk komunitas supaya jika mau kemana - mana itu sudah terjadwal. Tujuannya jelas, bisa arrange sendiri atau kalau pakai travel agent tidak bingung memilihnya, dan budget bisa ditekan,” kata Amiey.

Saat ini, Jakarta Jalan-jalan (TripleJ) telah memiliki 35 anggota yang kebanyakan berasal dari kaum pekerja. Syarat untuk menjadi anggota sangatlah mudah. Dalam setahun, TripleJ memiliki agenda empat kali trip. Dengan ikut minimal dua kali saja, maka sudah dianggap sebagai anggota. “Kalau sekarang cukup dengan sering ikut kegiatan selain jalan - jalan seperti ngopi bareng atau kegiatan charity sudah bisa dianggap anggota,” jelas pria lajang kelahiran Jakarta 3 Oktober 1990 itu.

Amiey menjelaskan dalam satu kali trip terdapat kuota minimal sebanyak 10 orang. Setiap trip bersifat terbuka, tidak hanya untuk member. Ada beberapa participant non member yang rajin mengikuti trip TripleJ. Tak hanya itu, TripleJ juga aktif dalam kegiatan #1Traveller1Book, sebuah kampanye sosial di mana para traveler membawa minimal satu buah buku untuk dibagikan ke masyarakat sekitar destinasi wisata mereka. Buku - buku tersebut tentu saja buku bertema edukasi dengan target usia taman kanak - kanak hingga SMP.

Ada misi penting yang dibawa oleh komunitas ini. Mereka ingin mengajak masyarakat bukan hanya mengenal potensi wisata di Indonesia, namun juga memberi arti di setiap destinasi yang dikunjungi. “Tidak sekadar foto - foto lalu di-upload di media sosial saja,” tegas Amiey. TripleJ bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat dan membantu menjaga kebersihan tempat wisata. “Menegur traveler lain yang membuang sampah sembarangan dan memungut sampah yang terlihat mata,” tambahnya.

Misi tersebut tersurat dalam singkatan nama Jakarta Jalan-jalan, yaitu TripleJ. Amiey menjelaskan ‘Triple’ dalam TripleJ adalah singkatan dari Trip Loves Earth. Karyawan sebuah agensi periklanan itu berharap TripleJ bisa lebih berbaur dengan local people di destinasi traveling.