Rabu, 13 Desember 2017 18:37:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky
Ilustrasi pasien difteri
Ilustrasi pasien difteri
Foto : istimewa
 

PONDOK INDAH - Di penghujung tahun 2017, Indonesia kembali dilanda wabah penyakit difteri. Saking tingginya tingkat penderita penyakit difteri ini, pemerintah sampai-sampai disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Dikatakan oleh Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari Sp.A (K) M.Tropaed, penyakit difteri ini bukanlah penyakit yang baru muncul. Akan tetapi penyakit ini sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu.

"Ini bukan penyakit baru. Ini merupakan akumulasi dari tahun sebelumnya," ujarnya kepada Infonitas.com, Jumat (8/12/2017).

Difteri itu sendiri merupakan infeksi yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan akibat bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Dikatakan berpotensi mengancam jiwa karena racun (toksin) yang dilepaskan dari bakteri Corynebacterium diphtheriae ini bisa menyebar ke seluruh tubuh melalu peredaran darah. Hingga pada akhirnya bisa mengganggu irama denyut jantung.

Menurutnya, angka kematian mencapai 10 persen akibat difteri yang sudah meyerang jantung. "Racunnya menyebar. Biasanya minggu ke dua setelah tertular kalau tidak diobati lebih lanjut," paparnya.

Spesialis Anak Konsultan Penyakit Tropical & Infeksi Anak RS Pondok Indah ini juga menerangkan, gejala yang ditimbulkan seperti batuk dan pilek, demam, hingga susah menelan.

Bakteri dari difteri ini hidup di daerah tropis. Dapat berkembang di lingkungan yang kebersihannya kurang terjaga, dan pemukiman padat.

Dari data Kementerian Kesehatan selama kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

"Sekitar tahun 2010, awal munculnya penyakit defteri ini dari daerah Jawa Timur. Lalu menyebar ke berbagai wilayah, hingga pada akhirnya sampai di Jakarta," terangnya.

Dirinya pun menilai, hingga disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB) dikarenakan bukan hanya dampaknya saja. Namun juga dari program imunisasi yang cakupannya tidak merata. Pasalnya, penyakit defteri ini lebih utama menyerang anak-anak.

"Kalau ada outbreak, cakupan (imunisasi) tidak merata," ujar dokter murah senyum ini.

Dengan melihat kondisi seperti ini, dirinya menyarankan agar menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Selain itu, masyarakat juga perlu mendukung dan memanfaatkan pelayanan yang ada di pemerintah.

"Tetap waspada dan tanyakan hal ini kepada orang yang punya kompetensi," kata Dr.dr. Hinky.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda