Jakarta > Pemerintahan

Segera Lapor RT/RW Bila Lihat Orang Gila Berkeliaran

Senin, 20 Maret 2017 13:37 WIB
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS

Ilustrasi gangguan jiwa
Ilustrasi
Foto : istimewa

Share this








Sempat terjadi penganiayaan warga terhadap orang gila yang berkeliaran di Depok dan Tangerang.

JAKARTA – Pesan mengenai isu penculinan anak dengan modus berpura-pura gila sempat beredar luas di media sosial dalam satu pekan terakhir. Para orangtua yang mendapatkan pesan tersebut cenderung protektif. Bahkan, tak segan bertindak nekat.

Beberapa kasus penganiayaan orang yang mengidap gangguan kejiwaan mencuat. Misal, di Kota Tangerang. Seorang wanita nyaris dianiaya massa di Tanah Tinggi, Benteng, Kota Tangerang. Wanita itu dianggap warga akan menculik anak.

"Itu orang stres. Katanya dia mau nyari adiknya di Tanah Tinggi, karena stres dia lupa posisinya di mana," kata Kapolsek Tangerang Kompol Ewo Samono, Minggu (19/3/2017).

Namun, kecurigaan warga tidak terbukti kebenarannya. Yang pasti, wanita yang belakangan diketahui bernama Ira asal Serang, Banten ini memang mengalami gangguan jiwa. “Dia susah diajak berkomunikasi. Kejiwaannya labil,” tuturnya.

Begitupun di Depok. Pada Selasa (7/3/2017), Polres Depok sempat mengamankan seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa. Wanita bernama Ari Pudi (44) itu dianggap akan melakukan penculikan terhadap salah satu murid Sekolah Pribadi.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Teguh Nugroho, Ari sempat diinterogasi. Sayangnya, dia tidak komunikatif. Keterangannya pun cenderung berubah.

“Kami sudah menelusuri alamat tinggalnya sesuai KTP di Bojong Pondok Terong, Cipayung, Depok. Yang bersangkutan tinggal sendirian di rumah kosong dan, menurut keterangan tetangganya juga, yang bersangkutan ini stres,” ucapnya.

Baca Juga : Memaksimalkan Bank Sampah di Kelurahan Abadijaya

Untuk mengantisipasi hal-hal anarkis, Kabagpenum Polri Kombes Martinus Sitompul menyarankan, bila warga menemukan orang gila di lingkungannya, segera melapor ke pihak RT/RW atau kelurahan.

"Aksi main hakim sendiri tidak dibenarkan secara hukum, apalagi dilakukan terhadap seseorang yang sama sekali tidak bersalah," ujar Martinus.