Jakarta > Pemerintahan

Inilah Alasan Mengapa Ahok Harus Dibui

Senin, 15 Mei 2017 17:55 WIB
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Muhammad Saiful Hadi

jakarta
Basuki Tjahaja Purnama
Foto : istimewa

Share this








Andai saja pada saat menjabat Ahok tidak terlalu frontal dalam melakukan perubahan, dia akan selamat hingga saat ini.

JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selalu tampil apa adanya, mengaplikasikan apa arti sebuah kewajaran yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Namun kewajarannya itulah yang mampu merubah wajah Ibu Kota menjadi lebih baik di mata dunia internasional.

Sukardi Dharmawan, pemimpin redaksi Infonitas.com dan CEO Info Gading Group (IGG), mengungkapkan jika Ahok panggilan Basuki Tjahaja Purnama mempunyai arti yang sangat mendalam.

Kurawa dalam bukunya bertajuk 'A man called AHOK' menceritakan profil lengkap Ahok sedari kecil sampai menjabat gubernur DKI. Kurawa menggambarkan Ahok sebagai sosok yang apa adanya, tegas, dan tidak berkompromi dengan kemunafikan, Juga, tidak bermuka dua, apa yang dilihat dan dengar itulah Ahok yang sebenarnya. Menurut saya,  sangat pas sesuai nama panggilan singkat  AHOK sebagai kepanjangan dari huruf  A adalah akal sehat, H adalah hati bersih dan tulus, O adalah orang cerdas, kemudian K adalah kerja keras dan tegas,” kata Sukardi, Senin (15/05/2017).

Dia menjelaskan jika kewajaran yang ditunjukan Ahok melalui karakter yang apa adanya itu, memang sulit diubah 100 persen karena itulah diri Ahok. Ketegasan, kejujuran, perjuangan tanpa pamrih, merakyat, cara berkomunikasi terbuka, ceplas ceplos, to the point.

Namun sepandai-pandainya tupai meloncat akan jatuh juga, perkataannya yang jujur malah membawa petaka bagi dirinya. Niat Ahok yang ingin mengingatkan masyarakat supaya tidak dibodohi oknum yang haus kekuasaan, justru dipelintir menjadi komoditas politik, alhasil Ahok divonis dua tahun penjara pada tanggal 09 Mei 2017.

Namun andai saja pada saat menjabat Ahok tidak terlalu frontal dalam melakukan perubahan, seperti reformasi birokrasi, pengubahan sistem anggaran ke sistem e-budgeting yang membuat banyak pejabat kehilangan pemasukan, pastinya Ahok akan selamat, karena bisa “berkompromi” dengan para bandit.

Baca juga : Ahok Dibui, Keadilan Telah Mati?

“Selama pengabdian Ahok jadi Gubernur DKI, dia melakukan reformasi birokrasi dan perubahan radikal membenahi dan membangun Jakarta  mengundang  banyak intrik dan musuh,  khususnya para koruptor, opportunis, pengusaha hitam, politikus busuk dan pembawa rasialis yang merasa rejeki dan kekuasaan mereka hilang. Perbuatan kotor dan niat jahat orang tak bermoral yang selama ini mereka lakukan secara leluasa, kolusif dan sistimik,” ujar Sukardi.

Dia menjelaskan wajar saja Ahok harus kalah dalam pilkada dan proses hukum. Isu agama dan cara yang dimainkan lawan politik Ahok dalam pilkada,  aksi politikus yang arogan dan tekanan massa yang sangat besar tentu tak terelakan. Hingga Ahok harus menyerah demi menjaga nilai demokrasi, kebhinekaan dan keutuhan NKRI.

“Memang dari awal  mereka sudah punya tekat dan nekat mau menghabisi  Ahok dengan cara apapun dilakukan. Sejak Ahok menjabat Gubernur,  mereka khususnya koruptor merasa sangat terganggu dan tak nyaman. Bahkan, Ahok dianggap tokoh yang sangat berbahaya kalau dibiarkan menjabat eksekutif dan dipertahankan,” tegas Sukardi.