Selasa, 02 Mei 2017 13:53:00
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS
Infografis Moda Transportasi di Jakarta dari Masa ke Masa
Ilustrasi
Foto : istimewa
 

JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya menghadirkan moda transportasi umum yang ideal untuk warganya. Fokus mengarah ke kecepatan dan tarif terjangkau.

Pasalnya, moda transportasi yang ada saat ini selalu bergelut dengan kemacetan. Sehingga, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi saat beraktivitas.

“Ya, mau gimana lagi. Mening naik sepeda motor. Semacet-macetnya masih bisa nyelip-nyelip. Lagipula, percuma juga naik angkot kalau macet-macet juga, lebih mahal,” ucap Rendi (32), warga Pamulang, Selasa (2/5/2017).

Chandra (28), warga Kota Depok juga mengungkapkan hal sama. “Apalagi, sekarang. Perempatan Cililitan macet total setiap pagi. Terus di Lampu merah Pancoran, sampe jalur-jalur tikus aja udah padat.”

“Ya, semoga proyek LRT dan MRT nantinya bisa menjadi cara ampuh atasi kemacetan. Jangan sampe sekadar bisnis,” sambungnya.

Baca Juga : Masyarakat Berperan Bangun Karakter Pelajar

Jauh sebelum LRT dan MRT, moda transportasi umum di Ibu Kota memang cenderung berubah.

Pada zaman kolonial Belanda, angkutan yang pertama digunakan adalah delman atau andong. Keberadaan angkutan delman ini yang membuat warga mengenal adanya Pasar Rumput di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan. Kawasan inilah yang disinyalir sebagai pasar rumput untuk pakan kuda.

Lalu, sekitar tahun 1920an, Belanda pun membuat angkutan trem yang bisa dibilang bus bermesin uap yang menggunakan rel sebagai jalurnya. saat itu ada lima rute atau Lin yang melayani warga Jakarta. Lin 1 melayani rute Menteng - Kramat - Senen - Vrijmetselaarweg - Gunung Sahari - Kota bawah (PP).

Selanjutnya, Lin 2 melalui Menteng - Willemslaam - Harmoni (PP), Lin 3 : Menteng - Willemslaam - Vrijmetselaarweg (PP). Lin 4 : Menteng - Tanah Abang - Harmoni (PP), dan Lin 5 : Vrijmetselaarweg - Willemslaam - Harmoni (PP).

Pada 1960-an, angkutan umum massal pertama yang menggunakan mesin ini akhirnya menghilang. Sedangkan becak masih terus bertahan bahkan jumlahnya bisa mencapai 160 ribuan pada 1966. Becak masih ada di beberapa wilayah hingga awal 1990.

Pada 1970-an, juga ada sejumlah angkutan umum massal berupa oplet. Rupanya bisa disimak di sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’ yang sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta Tanah Air.

Namun keberadaan oplet tak bertahan lama, sekitar tahun 1979-an angkutan umum tersebut diganti dengan Mikrolet dan Metro Mini. Lalu, sekitar 1985-an, ada juga sejumlah bus tingkat yang beroperasi di Jakarta. Seiring pembangunan, bus tingkat ini hilang sekitar tahun 1990-an.

Baca Juga : Diduga Jadi Mafia Tanah Tol Cijago, Empat Pejabat Dilaporkan ke KPK

Pada era gubernur Sutiyoso, Jakarta mulai membangun busway sebagai solusi angkutan umum nyaman di Jakarta. Sayangnya, perkembangan bus dengan jalur khusus ini berjalan lambat sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan warga Jakarta.

Meski memiliki jalur khusus, realitanya keberadaan transjakarta juga belum bisa mengatasi kemacetan hingga saat ini.

Era gubernur Jokowi, mulailah digalakkan konsep moda transportasi LRT dan MRT. Saat ini, pembangunannya sedang berlangsung dan akan mulai beroperasi paling cepat pada 2018 di beberapa lokasi.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda