Jakarta > Pemerintahan

Hashtag #2019GantiPresiden Menguntungkan Jokowi?

Jumat, 13 April 2018 13:35 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Adi Wijaya

Kaos hashtaag 2019GantiPresiden
Kaos hashtag 2019GantiPresiden.
Foto : istimewa

Share this








Masihnya hashtag #2019GantiPresiden bisa dianggap menguntungkan Joko Widodo (Jokowi) yang akan kembali mencalonkan sebagai presiden.

JAKARTA – Sejumlah pengamat politik menilai hashtag #2019GantiPresiden dapat memberi dampak positif bagi kubu Jokowi. Hal itu bisa terjadi jika kondisinya tidak diikuti pengusungan calon presiden  yang memiliki figur yang baik.

Pengamat Politik Progres 98, Faisal Assegaf menilai, #2019GantiPresiden merupakan umpan pendek jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) nanti. Isu itu dianggap sebagai transaksi tawar mahar yang dilakukan pihak oposisi seperti PKS dan Gerindra.

"Gerakan politis PKS dan oposisi ingin memompa emosi. Membuka posisi bargaining (daya tawar) mereka jelang Pilpres. Tapi yang dilakukan mereka justru malah menguntungkan Jokowi karena tidak diikuti pengusungan calon lebih baik. Mereka juga belum bisa meyakinkan masyarakat bahwa elit mereka bersih dari korupsi," kata Faisal saat ditemui di.kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (13/4/2018).

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Indonesia Arbi Sanit menerangkan, #2019GantiPresiden adalah hal yang lumrah di tengah 'genderang perang'. Merebut opini publik menjelang Polres tahun depan.

"Apalagi Ketum Gerindra Prabowo Subianto sudah ditetapkan sebagai Calon Presiden dalam Rakernas, jadi segala macam tagline politis pada media sosial sudah bagian dari strategi pemenangan Pemilu Presiden 2019," terangnya.

Disarankannya, masyarakat perlu obyektif menilai wacana yang pada media sosial. Mencari tahun kebenaran fakta lapangan. Selain itu, aparat kepolisian pun harus tegas bertindak mengontrol hoax (kabar bohong) yang sengaja digulirkan untuk menggiring opini publik.

"Perlu diwaspadai juga masuknya kaum radikal mengambil kesempatan dalam permainan isu jelang Pilpres 2019 ini. Jangan kaget bila aksi massa akan semakin sering dilakukan untuk menggiring opini publik tengah tahun politik," tutupnya.