Jakarta > Pemerintahan

Pilkada DKI 2017

Hal Ini yang Membuat Ahok – Djarot Keok di Putaran Kedua Pilkada DKI

Rabu, 19 April 2017 17:50 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Amin Hayyu Al Bakki

Ahok dalam Debat Pilkada DKI Jakarta
Ahok dalam Debat Pilkada DKI Jakarta
Foto : istimewa

Share this








Ada dua faktor yang sangat mempengaruhi elektabilitas pasangan nomor urut dua tersebut.

PULOGADUNG – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA menyatakan ada beberapa alasan yang membuat perolehan suara Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat anjlok dan kalah telak dari pesaingnya, Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Pimpinan LSI, Denny JA menyebut ada dua faktor yang sangat mempengaruhi elektabilitas pasangan nomor urut dua tersebut. Faktor tersebut merupakan isu yang berkembang selama beberapa minggu terakhir dan cukup menyebabkan tren negatif bagi Ahok-Djarot.

"Faktor yang pertama itu kita sebut dengan blunder sembako," ungkap Denny JA, di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (19/4/2017).

Denny menjelaskan, blunder sembako gratis yang dilakukan oleh relawan dari pasangan Ahok-Djarot saat masa tenang kampanye itu, dinilai sebagai sesuatu yang negatif bagi warga Ibu Kota.

"Kita mendengar berapa banyak sembako yang dibagikan secara masif, mungkin sebagian publik menengah ke bawah senang, tapi mayoritas publik tidak suka dan menilai itu negatif, di situ blundernya," ungkap Denny.

Denny menjelaskan, pembagian sembako gratis di masa tenang yang berlaku sejak tanggal 16 sampai 18 April 2017 itu merupakan blunder elektoral yang merugikan pasangan Ahok-Djarot.

"Itu merupakan satu tindakan yang menyalahi aturan dengan maksud mendatangkan keuntungan tapi ternyata mendatangkan lebih banyak kerugian," ungkap Denny.

Denny menyebut, pasca era reformasi, masyarakat Indonesia telah dihadapkan dengan Pemilu terbuka selama empat kali. Oleh karena itu, masyarakat pemilih pun semakin terlatih dan cerdas dalam memilih calon pemimpinnya. 

"Publik inginkan politisi dan partai politik (parpol) untuk melakukan hal-hal yang ingin di dengar, yakni politik yang jujut dan tak menyalahi aturan," tutur Denny.

Apalagi, lanjut Denny, saat ini masyarakat dihadapkan oleh laju pesat perkembangan teknologi sehingga kampanye penyampaian visi-misi setiap pasangan calon pemimpin daerah dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat secara luas.

"Kalau gak bersih, jujur, dan menyalahi aturan, apalagi hal itu tersebar luas di media sosial, maka akan menimbulkan efek yang besar sementara publik makin cerdas dan tidak akan simpati kepada pihak yang menyalahi aturan," pungkas Denny.