Jakarta > Pemerintahan

Faktor yang Bisa Membuat Ahok-Djarot Kembali Memimpin Ibu Kota

Rabu, 08 Maret 2017 10:48 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Amin Hayyu Al Bakki

Survei LSI
Rilis Survei LSI di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017).
Foto : Amin Hayyu Al Bakki

Share this








Pasangan Ahok-Djarot lebih memiliki tren positif ketimbang rivalnya.

PULOGADUNG- Lingkaran Survei Indonesia merilis hasil survei terhadap elektabilitas para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Hasilnya, sebanyak 49,7 persen responden memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan 40,5 persen memilih Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat.

Sementara pemilih yang belum menentukan sebanyak 9,8 persen dan margin of error sekitar 4,8 persen. Survei dilakukan dari 23 Februari hingga 3 Maret 2017.

Namun, Peneliti senior LSI, Adjie Alfaraaby mengatakan, meski secara elektabilitas Anies-Sandi lebih unggul, tetapi pasangan Ahok-Djarot lebih memiliki tren positif. “Tren inilah yang bisa menjadi senjata ampuh memenangkan Pilkada DKI putaran kedua,” tuturnya saat rilis di kantor LSI, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017).

Menurut Adjie, sedikitnya ada tiga faktor yang membuat tren positif pasangan Ahok-Djarot. Pertama, yakni tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Ahok masih cukup tinggi. Meski tidak mendukung Ahok, lanjut Adjie, banyak responden yang menyatakan cukup puas dengan kinerja Ahok selama menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Yang puas terhadap kinerja Ahok ini 73,5 persen suara, hanya 25,2 persen saja yang mengaku tidak puas," tambah Adjie.

Apabila bercermin dari hasil survei-survei LSI sebelumnya, setiap pasangan petahana yang mendapatkan tingkat kepuasan publik di atas 70 persen terhadap kinerja mereka, umumnya menang dan kembali menjabat dalam pemilihan selanjutnya.

"Contohnya ada beberapa, salah satunya Tri Risma Harini yang kembali menjabat sebagai Wali Kota Surabaya," tambahnya.

Baca juga : Ini Penyebab Sentra Otomotif di Koja Lesu

Faktor kedua, lanjut Adjie, masyarakat pemilih muslim yang menilai Ahok tidak menistakan agama masih konsisten dan kuat untuk mendukung Mantan Bupati Belitung Timur tersebut. 

"Di pemilih muslim yang menilai Ahok tidak menistakan agama islam terkait surat Al Maidah ayat 51, sebesar 81,70 persen menyatakan masih mendukung Ahok-Djarot. Hanya 15,90 persen saja yang mengalihkan dukungan ke Anies-Sandi," tambahnya.

Faktor terakhir adalah dukungan kuat dari ormas muslim berbasis Nahdhatul Ulama (NU). Meski belum mayoritas, ungkap Adjie, namun dukungan warga NU kepada Ahok terbesar dibandingkan ke pasangan lainnya.

"NU sendiri ormas terbesar dengan jumlah pemilih di DKI Jakarta sebesar 30 persen, artinya dukungan pemilih NU cukup menentukan karena populasinya terbesar dibandingkan ormas islam lain," imbuhnya.

"Ini termasuk good news bagi pasangan Ahok-Djarot. Bila ingin menang, mereka harus mampu mengoptimalkan hal itu," pungkasnya.

Baca juga : Lahan Bikin Agung Podomoro Canggung Berinvestasi di LRT