-->
Jakarta > Kesehatan

Awas Diare Bisa Membunuh Anak

Sabtu, 26 Agustus 2017 20:00 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : Ronald Tanoso

 Ilustrasi diare pada anak.
Ilustrasi diare pada anak.
Foto : istimewa

Share this








Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar diare adalah penyebab kematian pada anak nomor dua tertinggi di Indonesia.

CIBUBUR – Diare adalah salah satu penyakit yang umum di derita oleh anak. Seringkali ibu menganggap sepele permasalahan diare pada anak karena dapat diatasi sendiri. Namun, para ibu perlu mengetahui penaganan diare dengan tepat. Jika penanganan tidak tepat diaere bisa menjadi monster pembunuh bagi anak.

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar diare adalah penyebab kematian pada anak nomor dua tertinggi di Indonesia. Setidaknya 1 dari 7 anak Indonesia pernah mengalami diare dengan frekuesi 2-6 kali setahun.

Diare ini merupakan sebuah kondisi dimana si penderita mengalami Buang Air Besar (BAB) lebih dari 2-3 kali dalam sehari atau 24 jam dengan kondisi feses yang lembek atau cair.

Biasanya diare disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit. Penyebab terbanyaknya adalah rotavirus dimana jonjot usus rusak. Sehingga mengakibatkan produksi enzim laktase berkurang. Hal itu membuat laktosa tidak tercerna dan tidak dapat diserap pada akhirnya membuat diare semakin berat, kembung, dan tinja berbau asam. Kondisi ini disebut intoleransi laktosa. 

Dr. Syarif Rohimi, SpA. (K) mengungkapkan, penyebab diare yang paling umum adalah infeksi pada usus yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit. Penyebab terbanyak dari diare yang terjadi pada anak adalah Rotavirus. Dari hasil penelitian, ditemukan 30 persen anak Indonesia yang mengalami diare karena Rotavirus juga mengalami intoleransi laktosa. 

"Pada saat terjadinya kerusakan pada vili usus inilah yang membuat BAB berbau asam dan dubur si anak ini menjadi lecet karena asam tersebut. Di Indonesia sendiri, Rotavirus ini menjadi penyebab 60 persen diare pada anak balita yang mengalami rawat inap dan 41 persen dari kasus diare rawat jalan," ujar Syarif dalam seminarnya di RS Permata Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (26/8/2017).

Syarif melanjutkan, apa yang disebut dengan kondisi intoleransi laktosa ini banyak disebabkan karena rotavirus di mana jonjot usus rusak yang akhirnya mengakibatkan produksi enzim laktase berkurang. Hal itu lah yang membuat laktosa tidak tercerna dan tidak dapat diserap, sehingga diare semakin berat, kembung dan tinja berbau asam.

Maka dari itu, Syarif menganjurkan saat anak mengalami diare, ibu harus sigap dan cermat dalam mengambil tindakan pengobatan. Jangan sampai buah hatinya mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi.

"Diare yang berkembang sampai berminggu-minggu atau diare akut yang berulang karena daya tahan tubuh tidak bagus. Dan karena itu, dapat mengakibatkan gangguan tinggi badan dan juga kecerdasaa sang anak," tegasnya.

Pertolongan Pertama

Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua ini ketika mendapati anaknya yang mengalami diare. Dikatakan dr Syarif, salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh para orang tua adalah dengan memberikan anak cairan dan oralit lalu obat-obatan yang sudah tersedia di apotik. "Cairan, oralit dan probiotik itu harus. Untuk oralit ada yang rendah natrium, lebih baik dari pada konvensional," ujarnya.

Disamping itu, para orang tua ini perlu memperhatikan agar anak tidak mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi diare pada anak ini, seperti pemberian ASI pada anak yang masih menyusui agar terus dilakukan karena ASI adalah yang terbaik. 

"Selain itu juga orang tua harus menjaga kebersihan dan mencuci tangan hal itu untu mengontrol penyebaran rotavirus. Serta juga memperbaiki sanitasi lingkungan dan higiene serta upaya rehidrasi oral dengan oralit. IKatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun merekomendasikan vaksin pada usia 2-4 bulan dan 6 bulan untuk pemberian vaksin," katanya.

    -->