Jakarta > Figur

Sempat Mimpi Jadi Vokalis, Puadi Justru Jadi Ketua Bawaslu DKI

Selasa, 13 Februari 2018 19:00 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Adi Wijaya

Ketua Bawaslu DKI Puadi
Ketua Bawaslu DKI Puadi
Foto : istimewa

Share this








Semasa kuliah Ketua Bawaslu DKI Puadi sempat menjadi anak band sebagai vokalis. Namun, kini, itu hanya sekadar mimpi sebagai alat melepas penat.

TANJUNG PRIOK - Karier menjadi pucuk pimpinan tentu dambaan bagi setiap orang. Tak mudah menggapainya. Butuh ketekunan serta kerja keras dalam tiap tahapan kehidupan.

Seperti halnya Puadi. Jabatan sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta bukanlah tiba-tiba diraihnya. Tangga kehidupan dilalui sepanjang hidupnya. Satu di antaranya pernah menjadi anggota kelompok musik saat berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) 13 tahun silam.

Awalnya, pria kelahiran Bekasi, 4 Januari 1974 sama sekali tak mengetahui soal musik. Tak satupun alat musik dikuasainya. Hanya sekadar ‘penyanyi kamar mandi’. 

"Enggak tahu soal musik. Tapi, terbawa lingkungan kampus jadi mengerti musik," kata Puadi, saat ditemui di kantor Bawaslu DKI, Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (13/2/2018).

Semasa kuliah, Puadi sering berkumpul bersama rekannya. Membentuk kelompok musik untuk sekadar nongkrong bareng. Tak hanya belajar bermain alat musik, tapi juga mendalami olah vokal menjadi sang vokalis.

"Saya lebih menyukai aliran musik soft, seperti pop. Enggak terlalu suka dengan musik beraliran keras," terangnya.

Lulus kuliah 1998, lingkungan musik yang dimilikinya perlahan memudar. Masing-masing sudah memiliki kesibukan. Namun, semangat bermusik Puadi tetap menyala. Terbukti ketika menjadi guru mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di tiga SMAN berbeda yakni SMAN 24 Jakarta, SMAN 30 Jakarta dan SMAN 37 Jakarta.

"Di SMAN 24 Jakarta, saya pernah membentuk geng bernama musik 'Teletubis'. Lagi-lagi saya menjadi vokalis," ungkap sambil tersenyum.

Hingga kesempatan menekuni musik datang. Puadi ditawari membentuk sekolah musik oleh owner Bimbingan Belajar Primagama, Ir Sunaryo Sunardi pada 2003. Bekerjasama dengan sekolah Musik Purwacaraka, suami dari Siti Nur Subhiani (38) pun lama kelamaan diangkat sebagai Brand Manager.

"Saat itu saya mendapat amanah untuk memimpin sekolah musik Purwacaraka sejak Desember 2003," jelasnya.

Sebagai pimpinan, dia dituntut menguasai vokal atau alat musik. Tujuannya, agar dapat meyakinkan murid bahwa sekolah Purwacaraka bukan sekadar pelaku bisnis, namun juga dapat menguasai musik.

"Di situ ada tuntutan harus bisa memainkan musik. Ya sudah saya ikut belajar olah vokal dan piano," lanjutnya.

Kini, disela kesibukannya sebagai pimpinan Bawaslu DKI, ayah dari Futi Thurfah Nada (11) dan Azmi Oktafiano (9) kerap bermain musik bersama keluarga. Melepas penat usai bekerja.

"Sesekali kita sekeluarga kumpul bernyanyi bersama di rumah," ungkapnya.

Sejatinya, musik tak terlepas dari kehidupan manusia. Bukan sekadar hura-hura. Hasil penelitian juga membuktikan musik dapat mencerdaskan anak dan mengubah suasana hati yang tengah dilanda kegundahan. 

"Manfaat musik banyak. Musik tak mengenal usia. Siapapun, usia berapapun dapat menikmati musik sesuai dengan emosi jiwa yang sedang dilandanya," tutupnya.

 

Berita Terkait