Jakarta > Figur

Kupas Tuntas Kehidupan Adik Perempuan Ahok

Rabu, 08 Maret 2017 11:26 WIB
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : M Nashrudin Albaany

Fifi Lety Tjahaja Purnama
Fifi Lety Tjahaja Purnama
Foto : M Nashrudin Albaany

Share this





Semenjak menjadi tim kuasa hukum Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama, nama Fifi Lety Tjahaja Purnama mulai dikenal publik.

JAKARTA - Menjalani profesi sebagai pengacara tidak pernah ada di benak seorang Fifi Lety Tjahaja Purnama. Terlebih sejak kecil, adik kandung Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini gemar melukis.

"Sewaktu kecil, saya memiliki keinginan untuk menjadi seorang pelukis, karena sejak pada saat itu, saya sangat suka melukis. Jadi saya pernah berpikir kenapa tidak jadi seniman saja," ujarnya saat memulai perbincangan dengan infonitas.com, Selasa (7/3/2017).

Namun, lambat laun Fifi sadar seniman hanya cukup dijadikan sebagai hobi saja. Terlebih, keinginan Almarhum Bapaknya agar dia menjadi seorang pengacara. Keinginan, ayahnya ini berdasarkan skill yang dimiliki Fifi sejak kecil lebih cocok untuk menjadi advokat.  

Berangkat dari situ, akhirnya perempuan yang masih melajang ini menempuh pendidikan di jalur hukum, hingga akhirnya berhasil menamatkan S2 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan Praktisi Hukum.

"Motivasi saya memilih bidang hukum ini, karena permintaan dari Almarhum papa. Papa sewaktu masih hidup dulu pernah meminta agar adiknya pak Ahok itu ada yang jadi dokter dan jadi lawyer. Dan kebetulan saya yang diminta untuk jadi seorang lawyer. Karena papa menganggap saya ini lebih cocok," ungkapnya usai persidangan kasus dugaan penistaan Agama dengan terdakwa Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Suka Duka

Bagi Fifi, menjadi seorang lawyer bukan tanpa masalah. Sebab, resiko profesi ini cukup besar, dia harus berani melawan arus, dalam arti menjadi seorang pengacara yang bersih tanpa suap menyuap.

Maka tak heran, perempuan yang gemar meminum es kelapa muda ini kerap kali kalah saat menangani kasus di pengadilan. Hal itu terjadi karena dia bersikukuh untuk selalu menjadi seorang kuasa hukum yang bersih dan tidak mau menyuap siapa pun.

"Jadi didalam perjalanan karier saya sebagai seorang lawyer ini, memang tidak pernah ada oknum seperti itu. Hal itu juga kemudian yang saya terapkan di kantor kepada rekan-rekan yang lain, bahwa kita tidak boleh melakukan suap menyuap. Jadi hukum itu harus demi keadilan yang berdasarkan ketuhanan," jelas Fifi.

Dia juga yakin dan percaya bahwa Tuhan pasti melihat semua perbuatan yang dilakukannya, entah itu baik ataupun jahat. Maka itu, dia selalu berusaha untuk dapat hidup bersih, tidak korupsi dan tidak menyuap untuk dapat memenangkan sebuah perkara.

"Karena waktu masih kecil, saya pernah belajar bahwa kita itu di ikuti malaikat. Ada malaikat yang mencatat perbuatan baik dan ada juga yang mencatat perbuatan jahat kita. Saya percaya itu," tuturnya.

Sebelum menjadi seorang pengacara, Fifi juga mengaku pernah mengambil di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dibagian hukum pidana. Namun, karena pada waktu itu untuk bisa masuk di pidana sangat sulit sekali kalau tidak melakukan suap menyuap. Akhirnya dia banting stir dan menjadi korporat lawyer.

"Saya berharap hukum kita ini bisa bersih. Jadi kita ini sebagai pengacara bukan hanya membela yang bayar, tapi membela yang benar akhirnya," kata dia.

"Begitu pula dengan hakim dan jaksa juga harus berani. Saya pikir jaksa harus mulai berani dalam hal ini. Misalnya ada orang yang tidak bersalah dan sudah terlanjur didudukkan di kursi terdakwa, tapi dia tidak berani menuntut bebas. Padahal kan bukan berarti yang jadi terdakwa itu harus selalu salah meskipun sebenarnya tidak. Kan banyak kasus yang akhirnya kita menghukum orang yang tidak bersalah," paparnya.

Kehidupan Pribadi

Meskipun disibukkan dengan berbagai aktivitasnya di bidang hukum, perempuan Gantung Belitung pada 3 Januari 1969 ini tetap tidak melupakan peran keluarga di kehidupannya. Bersama dengan keluarga besar yang sebagian ada di Belitung Timur, Ia selalu berusaha untuk dapat berkumpul dengan mereka di saat libur.

"Kita selalu berusaha untuk bisa kumpul saat weekend, karena kita itu juga ada grup chatting begitu. Tapi karena memang kita ini kan keluarga masing-masing itu sibuk, jadi boleh dibilang hanya ketemu pada saat ada acara keluarga saja atau pas kumpul di hari raya," sambungnya.

Selain berkumpul bersama keluarga, untuk mengisi waktu liburnya di sela-sela padatnya aktivitas yang ia lalui, Fifi biasanya berlibur ke Belitung Timur. Disana, ia sering menghabiskan waktu dengan berenang di laut. Terlebih menurutnya, pantai-pantai yang ada di Belitung Timur itu masih sangat asri dan terawat kebersihannya.

"Kalau pas lagi di Belitung, saya pasti berenang di laut, karena saya suka sekali dari dulu. Apalagi disana pantainya masih bersih, jadi silakan datang ke Belitung," ujarnya sembari tersenyum.

Tak hanya itu, di Belitung Timur tepatnya di kawasan Gantong, dia mengaku telah membuat sebuah kampung yang diberi nama Kampung Ahok. "Di Kampung Ahok itu juga ada taman yang bernama kupu-kupu. Disana banyak turis yang datang untuk berlibur,"

Kenangan Bersama Keluarga

Telah banyak peristiwa penting yang Dia lalui selama hidup ini, mulai dari masa kecil di Belitung kehidupan di kampus, hingga perjalanan menjadi seorang pengacara. Kendati begitu, ada sebuah moment yang selalu dia ingat dan tak pernah bisa dilupakannya.

Peristiwa itu adalah ketika perempuan satu-satunya dalam keluarga Almarhum Indra Tjahaja Purnama ini mengingat pesan bapaknya tentang cerita berburu harimau denganAhok semasa kecil. Dia menganggap itu merupakan sebuah pertanda yang luar biasa yang disampaikan oleh papanya.

"Jadi pada saat hari pertama sidang pak Ahok, kami sama-sama duduk di pengadilan. Karena kakak saya di fitnah, dan dijadikan tersangka, dianggap menghina agama islam. Saat itu saya juga menjadi salah satu tim pengacaranya," ujarnya.

Fifi masih ingat betul peristiwa pada hari itu, yakni pada 13 Desember yang juga merupakan hari meninggalnya papa dia. Pada saat itu, Ahok membacakan esepsinya. Dan hal itu mengingatkan dia akan pesan dari Almarhum papanya agar mereka berdua bisa mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Perempuan yang sedari dulu gemar menyantap makanan sambel goreng udang pete buatan ibunya ini juga memiliki harapan agar semua orang dapat mencintai tanah air. Salah satu yang dilakukannya adalah dengan membangun rumah doa yang berlandaskan pancasila. Dimana semua anak bangsa baik dari suku maupun agama yang berbeda, bisa bersama-sama percaya akan ketuhanan yang maha Esa.

"Karena saya rindu akan adanya kerukunan umat beragama di negeri ini. Jadi seseorang pemimpin itu dipilih bukan karena suku atau agamanya. Tapi karena dia mampu dan pantas untuk menduduki jabatan itu, apalagi dia memang punya hati untuk melayani rakyat,"

"Hal itu saya mulai dengan membangun di Belitung Timur. Disana saya membangun rumah doa untuk segala bangsa, itu adalah cita-cita terbesar saya," pungkasnya sembari berharap agar di kehidupan pribadinya Fifi bisa segera bertemu jodoh, menikah, punya suami dan punya anak.

Baca juga : Polisi Lemah Tangani Pelecehan Seksual di Transjakarta