Jakarta Kota > Bisnis

Tanggapan Warga Soal Kenaikan Tarif Penerbitan STNK dan BPKB

Kamis, 05 Januari 2017 11:32 WIB
Editor : Wahyu AH | Reporter : Yusuf Bachtiar

Palayanan Samsat Keliling
Yusuf- Pelayanan Samsat keliling di LTC Glodok, Jalan Hayam Wuruk, Tamansari, Jakarta Barat.
Foto : Yusuf Bachtiar

Share this





Warga menyayangkan kenaikan tarif penerbitan STNK dan BPKB.

JAKARTA - Pemerintah, per 6 Januari 2017, telah menetapkan tarif baru penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB). Dasarnya adalah Peraturan Pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2016 tentang jenis dan tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang terbit pada 6 Desember 2016.

Dalam aturan itu, terjadi peningkatan biaya tarif penerbitan STNK roda dua dan tiga. Dari Rp 50.000 menjadi Rp 100.000. Begitupun roda empat, dari Rp 75.000 menjadi Rp 200.000.

Tidak hanya itu, tarif pengesahan STNK yang sebelumnya gratis, kini, dikenakan biaya sebesar Rp 25.000 untuk kendaraan roda dua dan tiga, serta Rp 50.000 untuk kendaraan roda empat atau lebih.

Selain penerbitan STNK, tarif pengurusan dan penertiban BPKB juga mengalami kenaikan. Bahkan, lebih signifikan. Dari Rp 80.000 menjadi Rp 225.000 untuk kendaraan roda dua dan tiga. Sedangkan, kendaraan roda empat atau lebih dari Rp 100.000 menjadi Rp 375.000.

Warga menilai, kenaikan tarif tersebut seharusnya dilakukan bertahap. Sehingga, tidak terlalu memberatkan. “Berasa juga kalo harganya segitu,” tutur Daniel, pemilik kendaraan yang sedang melakukan perpanjangan STNK di Samsat Keliling, LTC Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (4/1/2016).

Warga lainnya, Hasyim Irawan juga berpendapat sama. Namun, dia berharap, hal itu diimbangi dengan pelayanan yang lebih berkualitas. Misal, soal waktu penerbitan STNK. Bisa lebih cepat dari sebelumnya.

"Mudah-mudahan aja lebih baik, jangan tarif naik tapi pelayanan tetep lama, kan sama aja gak ada perubahan," pungkasnya.