Features

Taman Makam Pahlawan Raga Sampurna Riwayatmu Kini

Jumat, 10 November 2017 17:30:00
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Ronald Tanoso

Taman Makam Pahlawan Raga Sampurna
Taman Makam Pahlawan Raga Sampurna

Share this








Taman Makam Pahlawan Raga Sampurna sedikit tak terurus namun tetap terlihat rapi. Warga sekitar banyak yang tidak mengetahui nama pahlawan yang dimakamkan di sana

CILEUNGSI – Siapa yang menyangka, dipadatnya sebuah perkampungan, ternyata masih ada sebuah pemakaman yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir para pejuang kemerdekaan.

Namanya Taman Makam Pahlawan Raga Sampurna. Di sana, ada sekitar 26 makam tanpa nama yang dipercaya oleh warga sekitar adalah makam para pahlawan.

Berlokasi di Jalan Pahlawan RT 03 RW 06 Kampung Tengah Cileungsi, makam ini dipercaya oleh warga sekitar sudah ada sejak lama. 

Syarifudin (46), salah satu warga yang rumahnya tidak jauh dari lokasi makam mengatakan, sejak dirinya tinggal dikampung ini 25 tahun silam mengakui sudah ada makam tanpa nama tersebut.

“Sejak dahulu sudah ada memang makam tersebut. Saya tidak tahu makam pahlawan siapa, soalnya tidak ada namanya,” ujarnya kepada Infonitas.com, Jumat (10/11).

Keberadaan makam ini diperkuat dengan adanya sebuah papan nama (plang) yang letaknya sekitar 50 meter dipinggir jalan. Posisinya yang agak masuk gang, makam ini terlihat sedikit tak terurus. Namun tetap terlihat rapi.

“Beberapa hari yang lalu, ada beberapa anggota dari koramil yang datang membersihkan areal lahan dan juga mengganti bendera. Mungkin buat memperingati hari pahlawan nasional,” ujarnya.

Meskipun demikian, dengan keberadaan makam ini, menunjukan bahwa di wilayah Cileungsi dan sekitarnya pernah ada beberapa pejuang kemerdekaan dimasanya. Dan ini dibuktikan dengan keberadaan taman makam tersebut.

 

Features

Menyabung Nyawa di Perlintasan KA Horor

Minggu, 22 Maret 2015 12:41:14
Editor : Denny | Reporter :

Perlintasan KA Rawa Buaya untuk sementara dipasangi tanda peringatan.
Perlintasan KA Rawa Buaya untuk sementara dipasangi tanda peringatan.

Share this








CENGKARENG – Dalam satu pekan kemarin, kita disuguhkan dua peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi di satu tempat. Ya, perlintasan kereta api liar di Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, kembali menelan korban jiwa.

Adalah Ahmad Junaidi (43) beserta sang putri Nurul Komariah (7) yang harus meregang nyawanya saat hendak melintas di perlintasan KA horor itu. Motor yang dikendarai Junadi tertabrak kereta api commuterline Tangerang-Kota pada Rabu (18/3/2015) lalu. Keduanya pun meninggal di tempat dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga mereka.

Sehari sebelum kecelakaan nahas tersebut, sebuah mobil Toyota Avanza milik Felisiana Lestari (35), warga Taman Semanan Indah, Jakarta Barat juga ringsek dihajar kereta di perlintasan yang sama. Beruntung, Felisiana masih selamat dari maut.

Tentu dua peristiwa menyedihkan itu menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat. Perlintasan KA yang ‘resmi’ saja sudah terbilang rawan kecelakaan, apalagi di perlintasan yang tak memiliki palang  seperti di Rawa Buaya ini. Apakah kesadaran berlalu lintas masyarakat kita yang kurang atau memang pihak pengelola perkeretaapian yang tidak peduli dengan kebutuhan pengguna jalan yang dilintasi rel?

Dari sisi warga, sejumlah warga RT 01 RW 07, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, memprotes adanya penangkapan juru parkir liar yang biasa mengatur arus lalu lintas di perlintasan KA Rawa Buaya.

DIkatakan koordinator juru parkir liar setempat bernama Enjo Ferari, tidak adanya tukang parkir yang mengatur arus lalu lintas di pelintasan kereta itu dinilai merupakan salah satu penyebab terjadinya rentetan kecelakaan maut tersebut.

Enjo juga meminta pihak kelurahan untuk mengeluarkan surat izin pengaturan pelintasan. “Hanya dengan cara itu pelintasan Rawa Buaya bisa berjalan aman tanpa menimbulkan korban jiwa,” paparnya.

Senada, Lurah Duri Kosambi Herman mendukung keinginan warga. Dia tidak sepakat dengan PT KAI yang melarang warga untuk melintasi perlintasan tersebut. Menurut dia, menutup pintu pelintasan kereta bukanlah solusi terbaik, sebab jalan tersebut merupakan akses utama bagi warga Duri Kosambi.

Perdebatan tak sampai di sini. Kepala Stasiun Rawa Buaya Sularto mengatakan, pihaknya enggan memberi palang pintu di perlintasan maut itu karena dianggap liar atau tidak berizin. Bahkan Sularto menegaskan, kapasitas memberi palang pintu, ataupun menutup total perlintasan bukanlah kewenangan pihak Stasiun Rawa Buaya. Namun kata dia, Daop 1 dan Dinas Perhubungan Pemprov DKI.

"Itu yang harus bertanggung jawab pemerintah setempat. Bukan stasiun," tukas Sularto saat ditemui reporter Infonitas di ruang kerjanya, Selasa (17/3/2015) lalu. Lanjut Sularto, selama dua tahun bertugas sebagai Kepala Stasiun Rawa Buaya, hingga saat ini dirinya tidak mengakui palang pintu tersebut sebagai tanggung jawab PT KAI.

Sementara Kahumas Daops I PT KAI Bambang S Prayitno juga menegaskan, terus berulangnya kecelakaan yang merenggut korban jiwa di perlintasan kereta api Rawa Buaya merupakan murni kecelakaan lalu lintas.

Lanjut Bambang, pihaknya telah melakukan kooordinasi dengan pihak kepolisian untuk meminta Pemkot Administrasi Jakarta Barat agar menutup perlintasan tersebut. Bambang menerangkan, kawasan Rawa Buaya memiliki tiga perlintasan liar, dua di antaranya sudah ditutup pada 16 Desember 2014. Sementara satu lagi belum ditutup hingga saat ini karena ditolak oleh warga dengan alasan akses penghubung satu-satunya.

Dihubungi terpisah, Kasudin Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Barat Mirza Aryadi mengungkapkan, pihaknya hanya bisa memberi rambu-rambu peringatan terkait perlintasan kereta api. Ia beranggapan, penyelesaian masalah ini perlu koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta, Kementerian Perhubungan dan PT KAI.

Ditilik dari perbedaan pendapat dua kubu antara masyarakat dengan pemerintah tadi, belum bisa ditarik benang merah untuk menghadirkan solusi yang konkrit mengenai permasalahan ini.

Untuk sementara, aparat keamanan dari Kepolisian, TNI hingga Satpol PP terlihat berjaga di perlintasan kereta api tanpa palang di Rawa Buaya, selama beberapa hari kemarin untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa.

Pantauan Infonitas.com saat itu, adanya penjagaan tersebut membuat arus lalu lintas baik yang menuju Rawa buaya maupun kawasan Semanan dan Pegadungan mengalami kemacetan yang cukup parah. Kondisi semakin ramai setelah adanya puluhan warga melakukan protes keras terhadap penangkapan para juru parkir yang biasa mengatur lalu lintas di perlintasan.

Meski terjadi kemacetan, beberapa pengendara baik sepeda motor maupun roda empat mengaku tak berkeberatan dengan adanya penjagaan ketat tersebut. Sebab, perlintasan itu dianggap salah satu akses vital di wilayah Cengkareng.

Features

Mengarungi Sejarah dari Sebuah Kompleks Nisan

Minggu, 22 Maret 2015 16:32:45
Editor : Denny | Reporter :

Beberapa nisan di komplek Museum Taman Prasasti .
Beberapa nisan di komplek Museum Taman Prasasti .

Share this








TANAH ABANG – Semerbak wangi bunga kamboja menyeruak di pintu masuk Museum Taman Prasasti. Pemilhan bunga kamboja sebagai penghias museum ini bukanlah tanpa sebab. Pasalnya museum yang berlokasi jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat ini ratusan tahun lalu memang sebuah tempat pemakaman umum bagi warga Belanda yang tinggal di Jakarta.

Di museum seluas 1,2 hektar ini tersimpan cerita kematian tokoh-tokoh Belanda yang pernah tinggal di Batavia. "Museum ini memang dikhususkan untuk menyimpan berbagai macam batu nisan yang memiliki nilai sejarah tinggi," kata pemandu Museum Taman Prasasti, Lilik (35) saat berbincang dengan reporter Infonitas, Sabtu (21/3/2015).

Sebelum diresmikan sebagai museum pada zaman Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, awalnya tempat ini merupakan sebuah pemakaman bernama Kebun Jahe Kober. “Pada tahun 1997, barulah resmi menjadi Museum Taman Prasasti,” tukas Lilik.

Pemakaman Kebon Jahe Kober sendiri sudah ada sejak tahun 1795, pada masa penjajahan Belanda. “Pada saat itu terjadi wabah hebat di Batavia yang menewaskan banyak orang sehingga mengharuskan pemerintah Belanda membuka kuburan baru. Karena letaknya yang strategis di dekat Kali Krukut, maka dibukalah kuburan baru di sini," katanya. 

Dari sekian banyak batu nisan yang ada di museum ini, terdapat batu nisan pendiri sekolah kedokteran Stovia H.F Roll. "Di sini juga ada batu nisan Olivia Marianne yaitu istri Thomas Stamford Raffles, perintis Kebun Raya Bogor," jelas Lilik. 

Menurut Lilik lagi, ada satu makam yang dianggap misterius yaitu makam Kapitan Jas. "Tidak diketahui benar siapa yang dimakamkan di situ, tetapi ada satu kepercayaan bahwa peziarah yang mengunjungi makam ini akan diberikan kesuburan, keselamatan dan kemakmuran," ucap dia. 

Selain makam tokoh – tokoh penting Belanda, terdapat juga makam tokoh pribumi di kompleks Taman Prasasti ini. Seperti batu nisan Soe Hoek Gie, aktivis politik, mahasiswa pecinta alam, serta penulis yang cukup tersohor hingga hari ini. Ia meninggal karena menghirup gas beracun di Gunung Semeru, Jawa Timur, 16 Desember 1969.

Tak hanya nisan-nisan dari tokoh-tokoh penting, di Museum Prasasti  bisa juga dijumpai patung-patung yang bernilai seni tinggi. Salah satu patung yang menarik adalah patung wanita menangis. patung perempuan dengan kepala tertelungkup ini kerap disebut Si Cantik Menangis. “Konon ceritanya perempuan ini menangisi suaminya yang mati bunuh diri karena sakit malaria,” terang Lilik

Ada juga kereta pengangkut jenazah pada zaman Belanda di Komplek Museum Taman Prasasti.  Kereta itu ditempatkan di arah pintu masuk menuju museum.

Sayangnya di balik sejarah dan karya seni tinggi, museum ini terlihat tidak terurus dengan baik. Rumput yang tinggi cat yang mengelupas di sana sini, serta sampah berserakan menjadi pemandangan yang mengganggu. 

"Saat ini memang petugas di sini memang masih sedikit ,”ujar Lilik. Saat ditanya tidak adanya tempat sampah, ia mengatakan ke depannya akan segera disediakan.

Lilik mengatakan saat ini pengunjung memang berkurang karena faktor cuaca. "Di sini kan outdoor, jadi sehari cuma 20 pengunjung saja sudah bersyukur kalau di musim hujan begini," kata dia. Berbeda jika cuaca sedang bagus, bisa berjumlah dua kali lipat lebih banyak dalam sehari.

Meski pengunjungnya tidak terlalu banyak, tetapi daftar yang minta izin untuk menggunakan museum ini masih banyak. "Biasanya yang daftar buat izin untuk pembuatan sinetron FTV dan video klip," ungkapnya.

Lilik menambahkan saat ini pihak museum sedang mengupayakan pengajuan anggaran untuk memperbaharui tempat bersejarah ini. Dia berharap pengunjung dapat lebih nyaman saat berkunjung, dan museum ini menjadi salah satu destinasi wisatawan Jakarta.

Features

Fenomena Tanggul BKT

Sabtu, 28 Maret 2015 11:56:24
Editor : | Reporter :

Fenomena Tanggul BKT
Fenomena Tanggul BKT

Share this








Klender - Malam sudah mulai larut. Namun, sekumpulan muda-mudi masih enggan bergegas meninggalkan lokasi. Mereka terus berbincang penuh canda tawa, tanpa menghiraukan waktu yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. ‎

Hal tersebut yang terlihat di tepian tanggul Banjir Kanal Timur (BKT) yang berada di Duren Sawit Jakarta Timur. Kanal buatan, yang memang difungsikan untuk menampung air dari Kali Ciliwung, Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung ini, kini dijadikan tempat rekreasi dan kongkow-kongkow warga, khususnya para muda mudi.

Disuguhi pemandangan aliran air sungai yang membentang panjang dan disertai banyaknya pedagang kaki lima baik penjual makanan, minuman, aksesoris, pakaian dan lainnya semakin memanjakan para 'pelancong' yang datang ke lokasi ini. Tak sedikit pula tempat ini dijadikan lokasi untuk memadu kasih.

Tengoklah Fajar (32), warga Pondok Kopi yang tengah nongkrong dengan beberapa temannya mengaku, sebelum adanya kanal ini mereka selama ini biasa kumpul di dekat rumah bersama teman-temannya. Namun, setelah dibangunnya BKT ini, mereka lebih memilih pinggiran kanal menjadi tempat tongkrongan mereka.

"Disini lebih nyaman, ada pemandangannya. Ya sekalian cuci mata liat keramaian. Kalau ditanya sejak kapan nongkrong disini, ya hampir 5 tahunanlah," tuturnya ke Infonitas.com

Fajar mengaku, BKT ini memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan sebagai tempat rekreasi. Selain dikelilingi pohon yang asri, lokasi tersebut juga katanya perlu dikembangkan agar menjadi tempat rekreasi, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di BKT seperti aliran sungai. "Ya dibuatkan perahu untuk menyusuri sungai," ungkapnya.

Lain Fajar, lain pula Agus (25). Pria asal Kampung Melayu ini datang bersama kekasihnya. Ia mengaku pinggiran BKT ini sudah lama ia jadikan sebagai tempat tongkrongan dengan kekasihnya itu. Diatas lapak tikar yang disediakan pedagang, sepasang kekasih ini duduk menghadap ke kali dan berbincang dengan asik yang ditemani dua gelas minuman ringan.

"Jalan-jalan kan gak harus ke Mall. Disini juga asik, lebih ekonomis mas," tuturnya sambil terbahak.

Selain Agus dan Fajar, masih banyak lagi warga lainnya yang mengunjungi dan menikmati lokasi ini di malam hari. Saking ramainya pengunjung, para pedagang disinipun tak mau ketinggalan. Para pedagang memanfaatkan kondisi tersebut dengan mendirikan lapak untuk berjualan.

Hampir tidak ada lahan kosong di pinggir kanal ini. Sisi pinggir BKT sudah penuh dengan pedagang mulai dari bakso, sate, jagung bakar, jaket kulit, handuk, pembungkus ponsel, hingga mainan anak-anak ada dilokasi ini. Imbasnya, kepadatan kendaraan terjadi khususnya di hari Sabtu dan Minggu. 

Namun, yang unik di kala pagi hingga sore hari, lokasi ini tidak seramai malam hari. Dengan kondisi tersebut, warga memanfaatkannya untuk berolah raga.

Features

Dibalik Layanan Panti Pijat

Sabtu, 28 Maret 2015 13:35:35
Editor : | Reporter :

Dibalik Layanan Panti Pijat
Dibalik Layanan Panti Pijat

Share this








Sawah Besar - Umumnya, seseorang akan merasa senang bila di pijat sehat, ditambah jika badan terasa lelah setelah aktifitas dan pekerjaan sehari-hari.

Penyedia layanan pijat sehat terbilang menumpuk di kota Jakarta ini. Namun, ada beberapa panti yang menawarkan jasa pijat dengan hanya sebatas semboyan saja, alias pijat plus-plus.

Seperti yang dijumpai disalah satu panti pijat yang berlokasi di Jalan Kartini Raya, Sawah Besar, Jakarta Pusat yang menawarkan pijat plus-plus. Kenapa plus-plus? Pasalnya, dalam berpraktek pijat, semua pakaian pelanggan akan ditanggalkan.

Begitu juga sebaliknya. Para tenaga pemijat yang berkelamin perempuan, yang notabene memiliki paras cantik dan bertubuh seksi akan menghampiri pelanggan dengan tubuh tanpa sehelai benang pun.

Praktek terselubung prostitusi berkedok panti pijat ini ada di bangunan yang memiliki beberapa lantai tersebut. Mereka menyediakan spa, sauna dan pijat dengan harga bervariasi mulai dari Rp.300 ribu hingga Rp.350 ribu. Harga tersebut hanya untuk pijat dan mandi sauna, plus room. Sedangkan untuk mendapatkan yang plus-plus para pelanggan harus merogoh kocek lebih dalam lagi dengan menambah Rp.250 ribu hingga Rp.350 ribu, tergantung pilihan apakah wanita lokal atau wanita 'amoy'.

Usai memesan, pelanggan tinggal menunggu panggilan sesuai nomor yang diambil. Tak lama salah seorang petugas memanggil pelanggan tersebut, dan mengantarkan kesebuah kamar berukuran 2x3 meter untuk di 'servis'.

Sebut saja Ibrahim, salah seorang pengunjung yang kerap datang ke lokasi ini untuk dipijat dan mandi sauna. Dia mengaku, pijat yang ditawarkan hanya kedok dan menurutnya praktek prostitusi lebih menonjol. Walau Ia tak menjelaskan berapa lama praktek itu sudah berjalan, menurutnya pihak pengelola sangat pintar dan rapi untuk mengelabui warga atau aparat dengan modus Spa dan panti pijat.

Features

Secercah Asa dari Kawasan Thamrin

Minggu, 29 Maret 2015 14:45:39
Editor : Fauzi | Reporter :

JPO Bundaran HI
JPO Bundaran HI

Share this








MENTENG – Kesan megah, anggun dan bersih nampak dari jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di kawasan Jl. M.H Thamrin, Jakarta Pusat. Berbeda dengan JPO pada umumnya di Ibu Kota, JPO ini terlihat bersih dan tertata rapih. Hiasan berupa tanaman melengkapi ruang berjalan bagi warga yang mengunakan JPO ini, selain papan reklame moderen serta tata pencahayaan yang apik menjadikan JPO ini layaknya JPO di manca negara pada malam hari.

Diklaim menghabiskan dana pembangunan hingga Rp 5 miliar, JPO ini awalnya pengganti JPO lama di kawasan tersebut yang dirobohkan seiring dengan pembangunan jalur moda transportasi mass rapid transportation (MRT) yang pengerjaannya dilakukan oleh PT MRT.

“Rangka baja ringan yang menjadi konstruksi JPO ini yang bikin mahal, namun kualitasnya kami jamin sesuai dengan permintaan.Pak Gubernur (Basuki Tjahaja Purnama – Ahok) juga senang dengan hasilnya,” ujar Project Manager MRT Jakarta Shiego Hanaki kepada Infonitas.com beberapa waktu lalu.

Ya, Ahok memang pernah mengutarakan niat Pemprov DKI Jakarta untuk memiliki JPO dengan kualitas apik dan tak kalah cantik dengan JPO di manca negara. Ahok berucap, mulai tahun 2015 ini pihaknya akan melelang seribu proyek pembangunan JPO di Ibu Kota.

Tak hanya JPO, nantinya Ahok ingin JPO-JPO yang dibangun bisa terintegrasi dengan halte-halte TransJakarta di semua koridor. Ahok pun sudah menyiapkan skema pengelolaan JPO ini kelak ketika terwujud. Ahok mengungkapkan, JPO Bundaran HI dapat dijadikan percontohan pembanguan JPO lainnya di Ibu Kota.

“Kami ingin seperti di luar negeri. Ada standar tertentu, tidak lagi asal-asalan. Kita akan lelang proyeknya. Nanti pemasang iklan di situ juga harus membersihkan halte, saya tidak mau lagi kami yang bersihkan halte,” papar mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

Namun, ekspektasi warga tampaknya tidak sebesar pemberitaan keberadaan JPO percontohan ini. Pantauan Infonitas.com di lapangan, banyak warga yang memanfaatkan jembatan ini sebagai lokasi berfoto ria. Latar belakang ikonik Patung Selamat Datang di Bundaran HI dan view gedung-gedung bertingkat bermandikan cahaya di sepanjang Jl. M.H Thamrin menjadi alasan warga untuk berfoto ria.

“Kan bagus kalau foto dari sini,” ujar Ade (18), gadis remaja yang tengah menghabiskan waktu usai menikmati momen carr free day (CFD) di kawasan M.H Thamrin, Minggu (29/3/2015).

Ade menuturkan, keberadaan JPO yang relatif bersih dan tidak ada PKL ini sejatinya akan lebih memesona jika dilengkapi dengan keberadaan tanaman hidup, tak hanya replika seperti saat ini. Menurutnya, selain lebih asri, tanaman hidup bisa menghasilkan oksigen, bukan hiasan semata.

“Bagus lagi kalau tanaman benaran. Tapi lumayanlah kondisi sekarang,” lanjutnya.

Guna memastikan keamanan dan kenyamanan di JPO ini dari pihak tidak bertanggung jawab maupun keberadaan PKL, ditempatkan petugas jaga yang bekerja dengan sistem shift selama 7 hari dalam seminggu. Untuk sementara, guna menjaga kebersihan JPO ini, pihak Pemprov DKI Jakarta mempekerjakan tenaga kebersihan lepas.

Pemprov DKI Jakarta sendiri tengah mengukur minat dan antusiasme warga Ibu Kota terhadap keberadaan JPO ini. Jika disambut baik, JPO percontohan ini akan menjadi standar pembangunan JPO lainnya di Ibu Kota.

“Ya lumayanlah mas masih ada jembatan bisa seperti aman dan nyaman begini. Mudah-mudahan bisa terus seperti ini kondisinya, enggak cuma awalnya doang. Dan kalau bisa diperbanyak yang seperti ini,” singkat pengguna JPO bernama Nadin (33).

Features

Ikon Pengakuan Budaya Tionghoa dari Timur Jakarta

Minggu, 29 Maret 2015 16:57:32
Editor : Fauzi | Reporter :

Gerbang Taman Budaya Tionghoa
Gerbang Taman Budaya Tionghoa

Share this








CIPAYUNG – Mulai dibangun oleh Yayasan Harapan Kita pada tahun 2004, Taman Budaya Tionghoa yang terletak di dalam komplek kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah, Cipayung, Jakarta Timur diresmikan pada 8 November 2006 Ketua Yayasan Harapan Kita yang juga Presiden ke-2 Republik Indonesia mendiang H. M Soeharto.

Sepasang pilar pintu gerbang melambangkan jantan dan betina merupakan penampakan pertaman kawasan taman ini. Sepasang patung lilin berbentuk singa yang dipercaya sebagai binatang para Dewa menyambut setiap pengunjung taman ini di depan gerbang utama.

Sejumlah bangunan sebagai fasilitas penunjang pengunjung taman yang didominasi warna merah dan kuning emas dibangun di sini. Mulai dari gazebo, danau buatan, sepasang tiang naga, patu Dewi Bulan, Patung Kwan Kong, tiruan Jembatan Batu Sampek Eng Tay, Museum Laksaman Cheng Ho, hingga tiruan kampung Pecinan.

Keberadaannya di satu di antara kawasan wisata favorit di Tanah Air membuat taman ini ramai dikunjungi bukan hanya oleh warga Tionghoa. Misalnya saja Asep (32) dan kekasihnya Suci (26) yang ada di taman seluas 4,5 hektar ini saat Infonitas.com bertandang, Minggu (29/3/2015).

“Lagi ke Taman Mini, sekalian ke sini. Lokasinya juga asri dan danau buatannya. Jadi segar buat istirahat,” ujar Asep kepada reporter Infonitas.com.

Seperti halnya anjungan provinsi yang ada di Taman Mini Indonesia Indah. Taman Budaya Tionghoa pun tidak mengenakan tarif masuk bagi pengunjung. Sayang, taman ini tidak dilengkapi pemandu atau papan informasi atau sejenisnya guna menerangkan berbagai filosifo arsitektur dan artefak di taman ini.

Dengan polos Asep mengaku tidak memahami makna bangunan dan artefak di taman ini. Satu hal yang ia mengerti, bahwa seni budaya Tionghoa, termasuk arsitekturnya itu unik dan khas. Asep dan Suci pun setuju jika negeri ini melestarikan budaya Tionghoa.

“Karena sejarah kita kan tidak bisa lepas dari Tionghoa sejak dulu,” ujarnya diplomatis.

Saya jadi teringat perkataan mendiang Presiden ke-4 Republik Indonesia yang juga diangkat sebagai Bapak Tionghoa Indonesia mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

“Indonesia itu ada karena keberagaman. Jangan lagi ada perkataan ‘Cina’ (konotasi negatif) keluar dari mulut anak bangsa,” ucap Gus Dur kala itu.

Keberadaan Taman Budaya Tionghoa sendiri kian mempertegas bahwa bangsa ini menerima dan mengakui keberadaan entitas Tionghoa sebagai bagian dari bangsa ini, setelah sebelumnya Gus Dur mengawali dengan mengakui dan mengizinkan Perayaan Tahun Baru Imlek serta pertunjukan barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Setelah lebih dari tiga dekade kebudayaan dan berbagai hal terkait Tionghoa mati suri di negeri ini.

Features

Ironi Bernama Video Games

Sabtu, 04 April 2015 16:30:36
Editor : Fauzi | Reporter :

Ironi Bernama Video Games
Ironi Bernama Video Games

Share this








KRAMATJATI – Riuh-rendah suara anak-anak usia kelas 2 -5 SD terdengar dari rumah kontrakan berukuran 3x5 meter di Jl. Pelita, Kelurahan Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur siang itu. Hampir setiap hari, anak-anak ini memadati rumah kontrakan Imam (29) dan Yunita (28) tersebut yang juga menjadi rental permainan video games Play Station (PS).

Lazimnya, anak-anak seusia mereka memang tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas bermain. Namun, tidak semua jenis permainan tentunya dan durasi bermain pun ada batasannya. Ironisnya, permainan dalam PS yang dimainkan anak-anak ini kebanyakan syarat akan kekerasan hingga pornografi. Entah bagaimana anak-anak ini bisa begitu menikmati frame demi frame kekerasan yang mereka mainkan, atau sejumlah adegan ketelanjangan, yang semuanya itu memicu mereka tertawa lepas.

“Seru main ini,” ujar Zidan (10), singkat.

Bocah kelas 5 SD ini kerap terpantau berada di rental permainan PS tersebut. Seperti teman-temannya sesama penggila permianan video games, Zidan menghabiskan sebagian besar waktu dan uang jajannya di tempat ini.

Padahal, dibalik keceriaan dan tawa mereka memainkan games ini, tersimpam memori negatif akan budaya kekerasan hingga pornografi yang mereka miliki dan kelak memengaruhi mereka. Meski begitu, tak ada upaya penghentian berarti dari pihak-pihak yang berkepentingan, semisal orangtua, atas kondisi ini.

"Nggak dimarahi. Mending main di sini daripada main jauh-jauh," kelit Adi (11).

Adapun para orang tua ketika diwawancara mengaku hanya bisa pasrah dengan kegemaran putra-putrinya ini. Meski begitu, mereka sadar bahwa permainan tersebut membawa efek negatif bagi tumbuh kembang anak-anak mereka.

"Ya tapi mau gimana, kalau dilarang juga susah, suka diam-diam mainnya. Yang penting mainnya masih aman lah," tandas Yeni (36), satu di antara orangtua di kawasan ini kepada Infonitas.com.

Fenomena buang-buang waktu melalui permainan games pada rental PS ini, merupakan salah satu aktivitas negatif selain tentunya yang terjadi di Warung Internet (Warnet) dan perangkat perangkat seluler, melalui games online, yang juga digandrungi tua-muda. Aktivitas ini tentunya sedikit lebih berbahaya guna tumbuh kembang anak, sebab di tempat itulah akses pornografi dan lainnya lebih mudah dilakukan.

Miris memang saksikan fakta ini. Tentunya perhatian pemerintah terhadap persoalan ini harus lebih besar porsinya. Sebab, jangan bicara generasi muda sebagai generasi harapan atau penerus bangsa, apabila pengrusakan mental dan etika ini terus dibiarkan.

Features

Memancing Ikan hingga Birahi di Setu Pulo Asih

Sabtu, 04 April 2015 16:42:31
Editor : Fauzi | Reporter :

Ironi Setu Pulo Asih
Ironi Setu Pulo Asih

Share this








PANCORAN MAS - Guratan wajah-wajah yang refleksikan kekhawatiran, seketika muncul dari para pemancing di danau saat awan-awan penanda hujan, muncul bergumul. Tak hanya pemancing, muda-mudi yang memadu asyik memadu kasih, pun juga nampak mulai dilanda kecemasan dengan cuaca ini.

Inilah kondisi yang tergambar dari wajah para pengunjung Setu Pulo Asih, Pancoran Mas, Depok, pada Sabtu (4/4/2015). Awan hitam yang melanda wilayah itu, seakan menjadi penanda dihentikannya segala aktivitas di setu yang memiliki luas 1,9 hektar tersebut.

Sebagai salah wilayah yang didaulat sebagai daerah resapan air, Depok memang kaya akan danau (setu). Setu Pulo Asih satu di antaranya. Meski tak sebesar setu-setu yang ada di Depok, setu yang memiliki kedalaman rata-rata 1,2 meter ini, tetap menjadi destinasi wisata pilihan bagi warga sekitar.

Tak dipungutnya tarif kepada pengunjungnya, menjadi salah satu alasan tetap ramainya setu yang beberapa waktu lalu sempat jebol akibat tak mampu menahan debit air hujan yang begitu tinggi tersebut.

Tua-muda menjadi pengunjung setia. Mulai dari berniat memadu asmara hingga pencari ikan, di setiap harinya ada. Untuk para pemancing, mereka hadir cenderung mulai pagi hingga sore hari. Meski begitu, tak jarang mereka menghabiskan waktunya hingga malam melanda.

"Mancing mulai dari pagi tadi. Mau sampai malam kayaknya. Ikannya di sini mujair, nila, mas sama gabus," ujar Udin (41), satu di antara pemancing di setu ini.

Udin memaparkan, baik dirinya maupun pemancing lainnya, jarang memperoleh ikan dengan ukuran besar dari Setu Pulo Asih. Kendati demikian dirinya mengaku cukup bahagia dengan kegiatannya ini.

Sebaliknya, kunjungan generasi muda yang menghabiskan waktunya di Setu Pulo Asih untuk memadu kasih, lebih banyak dilakukan pada malam hari. Lokasinya yang minim penerangan, seakan menjadi pendukung segala 'aktivitas nakal', alias aktivitas mesum

Beberapa kali Infonitas.com yang melintas di lokasi ini pada malam hari pun, memergoki sepasang kekasih yang asyik bercumbu dan berpelukan satu sama lain. Bahkan, kabar sumir miring kerap terdengar dari Setu Pulo Asih yang menyebut adanya praktik seks bebas dari muda-mudi di kawasan ini yang dilakukan muda-mudi tersebut.

"Kadang yang pacaran juga ada yang masuk ke dalam kalau malam-malam. Nggak tau ngapain. Cuman situ paham lah kalau di tempat gini," seloroh Jastian (29), pemancing.

Menurutnya remaja seusia siswa SLTP dan SLTA lah yang kerap kali terpantau berada di lokasi ini. Dikabarkan juga terdapat lokasi 'prostitusi ecek-ecek' di salah sudut setu itu.

Udin, Jastian dan warga sekitar Setu berharap Pemerintah Kota Depok mengambil tindakan tegas terhadap fenomena menyimpang yang dilakukan muda-mudi di kawasan ini, serta menertibkan lokasi prostitusi di kawasan setu.

Features

Sejarah Singkat Kota Depok

Minggu, 05 April 2015 10:05:55
Editor : | Reporter :

Tugu Selamat datang di Kota Depok, Jawa Barat.
Tugu Selamat datang di Kota Depok, Jawa Barat.

Share this








Depok - Kota kecil bermaskot buah belimbing yang terletak di sebelah selatan Kota Jakarta ini memang sudah menjadi salah satu tujuan dari warga Jakarta. Entah itu hanya sekedar wisata kuliner, atau hanya sekedar berekreasi bersama dengan kerabat dan keluarga. Depok, kini dapat dikatakan sebagai salah satu kota yang memiliki perkembangan sangat signifikan, terutama dalam bidang properti.

Namun, tahukah Anda, sebelum menjadi bagian dari negara Republik Indonesia, Depok merupakan sebuah “negara” yang didirikan oleh meneer Belanda yang bernama Cornelis Chastelein pada tahun 1600-an. Di bawah kekuasaan pemerintah Belanda pada saat zaman penjajahan, Cornelis Chastelein diizinkan untuk membeli dan memiliki tanah seluas wilayah Kota Depok saat ini, sebagai lahan perkebunan dan pertanian. Pada saat itu pula, Cornelis Chastelein dijadikan pemimpin tertinggi Kota Depok, serta membeli 12 orang budak untuk dipekerjakan dari berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, Cornelis Chastelein diakui sebagai penggagas berdirinya Kota Depok.

Pada saat meletus revolusi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Depok enggan mengakui kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, karena kuatnya pengaruh kebudayaan Belanda. Akibatnya, Depok diserbu dan dikepung oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia, serta memaksa warga Depok untuk mengibarkan Sang Merah Putih. Masyarakat Depok tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dengan alasan sudah memiliki pemimpin, dan memiliki pemerintahan sendiri yang diwariskan dari Cornelis Chastelein. Kerusuhan terjadi, hingga jatuh korban. Bahkan tidak sedikit yang ditawan. Para pejuang kemerdekaan bahkan sampai memeriksa tiap rumah yang ada di Depok. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama ‘Gedoran Depok’.

Tentara Belanda tidak tinggal diam. Dengan membonceng sekutu, tentara Belanda membebaskan para masyarakat Depok yang ditawan oleh para pejuang kemerdekaan. Pada saat itu pula meletuslah ‘serangan kilat’, pertempuran terbesar di Depok pada tanggal 16 November 1945. Salah seorang pejuang kemerdekaan yang bernama Margonda gugur pada perang tersebut. Atas jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai jalan utama Kota Depok saat ini yakni Jalan Margonda.

Pada tanggal 27 Desember 1949, lewat Konferensi Meja Bundar (KMB), pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia diikuti oleh masyarakat Depok di hari yang sama. Pilihan diberikan kepada masyarakat Depok yakni ikut pemerintah Belanda, atau bergabung dengan Republik Indonesia. Penyerahan kekuasaan atas Depok kepada Republik Indonesia dilakukan di Istana Presiden Depok, yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan Depok di Jalan Pemuda.

Kini, apabila Anda singgah ke Depok khususnya di kawasan Depok Lama, Anda akan menemukan banyak sekali peninggalan Belanda. Salah satunya adalah Gereja tertua di Depok, yakni Gereja GPIB Immanuel Depok.

Sumber: agussutondomediacenter.blogspot.com, depoknews.com, kamusilmiah.com, investigasi.seruu.com

Features

Wanita Penggoda di Jalan Raya Bekasi Timur

Minggu, 05 April 2015 12:48:21
Editor : | Reporter :

Wanita Penggoda di Jalan Raya Bekasi Timur
Wanita Penggoda di Jalan Raya Bekasi Timur

Share this








Jatinegara - Mungkin sahabat infonitas.com sudah tahu, jika di sepanjang Jalan Raya Bekasi Timur, mulai dari Kolong jembatan Jatinegara hingga ke depan Rutan Cipinang banyak wanita-wanita pemuas birahi para hidung belang berkeliaran. Dengan pakaian seksi, dan usia yang masih relatif muda, kerap banyak terlihat wanita berdiri dipinggir jalan itu. Bak joki 3in1 yang sesekali melambaikan tangannya kepada pengendara dengan gaya khas yang menggoda untuk menjajakan dirinya.

Namun, mereka yang kita ketahui selama ini sebagai pekerja seks komersial ternyata ‎bukanlah demikian. Meski berpakaian seksi serta menggoda para pengendara lalu lintas, ternyata cara itu hanya merupakan sebuah modus. Mereka ternyata adalah wanita tukang ngeret, alias suka morotin laki-laki hidung belang.

Sebut saja Pajar, (32), pria warga Pondok Kopi yang baru pulang dari Arab Saudi ini mengaku, dirinya sudah menjadi korban para wanita pengeret dilokasi itu. Dengan wajah cantik, dan usia muda, menjadi jurus andalan mereka untuk memangsa korbannya. Pajar bercerita, awal dirinya menjadi korban dilokasi tersebut, saat itu dirinya hendak akan ke Pondok Kopi Jakarta Timur, ditengah jalan tepat dilokasi tersebut seorang wanita cantik melambai tanpa pikir panjang dirinya pun menghampiri sang wanita itu.

Saat berbincang, Pajar diajak untuk berkencan, dengan tarif yang sangat murah. Tanpa pikir panjang Pajar menyanggupi tawaran untuk berkencan. "Waktu saya tanya tarif, dia bilang cuma Rp. 50 ribu sekali kencan. Karena cantik dan  murah saya mau dong," jelasnya.

Usai sepakat dengan harga, wanita cantik tersebut mengajaknya kesebuah tempat yang mengaku tempat kost-nya. Sesampainya di lokasi, ia disuguhkan minuman jenis bir dan makanan ringan. Bosan dengan berbincang disertai menenggak bir, Pajar pun mulai mengajak wanita itu untuk berkencan. Sebelum beranjak dari tempat duduk bill pembayaran yang disodorkan ternyata sampai 500 ribu.

"Saya baru minum bir putih 2 botol, satu kacang, sudah bayar 500 ribu, karena takut malu, terpaksa saya bayar," ungkapnya.

Tak sampai disitu, sebelum diajak masuk kamar, Pajar terlebih dahulu harus pamit kepada 'sang mami'. Dan untuk pamit membawa si wanita, ia harus dipatok 200 ribu lagi. "Belum apa-apa saya sudah habis banyak duit, modus mereka begitu. Wanita itu emang ga niat kencan. Dari glagatnya juga saya tahu," ungkapnya.

Merasa dirinya ditipu dan dipersulit akhirnya Pajar meninggalkan lokasi, penuh kesialan.

Apa yang dialami Pajar, tak jauh berbeda dengan Zulham, (35). Pria asal Sumatra utara Ini juga menjadi korban para wanita pengeret disana. Ia mengaku para wanita yang ada disana sebenarnya bukan pelacur tapi pengeret. Bahkan saat baru masuk ke tempat wanita tersebut, dirinya sudah dibebankan biaya lokasi sebesar Rp. 25 ribu. 

"Padahal tempatnya aja kumuh. Jadi mereka yang disitu bukan jablay.  Mereka banyak disitu yang kerjanya cuma jadi pengeret, laki-laki. Untuk diajak kencan pun si wanita itu sebenarnya tidak mau," paparnya.

Lanjut Zulham, dirinya menjadi korban kala itu juga dirinya ditawari 50 ribu sekali kencan. Hanya saja, berbeda dengan yang dilakukan oleh Pajar yang membayar,  Zulham tak mau membayar meski bill yang disodorkan bernilai Rp. 500 ribu. "Saya sampai sempat ajak berantem, karena saya waktu itu juga ga punya duit. Saya cuma ngantongin Rp. 150 ribu, tapi saya dipaksa bayar waktu itu," kenangnya. 

Di ruangan tersebut kata Zulham, ada seorang pria bertato, yang sengaja dikhususkan untuk menagih pembayaran. Ketika pelanggan tak mau bayar pria itu akan turun tangan. "Dia sempat mendatangi saya. Saya bilang ga punya duit sebanyak Rp.500 ribu. Sampe dompet saya disuruh buka. Akhirnya, saya waktu itu hanya ditagih Rp.120 ribu. Sisanya saya bilang buat bensin," kenangnya dengan terbahak sembari berpesan hati-hati dengan wanita pengerek di Jalan Raya Bekasi Timur.