Features

Taman dan Lahan Parkir, Akhir dari ‘Drama’ Kolong Tol Kalijodo

Sabtu, 01 Juli 2017 14:30:00
Editor : Ivan | Reporter : Adi Wijaya

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meninjau kolong Tol Kalijodo pasca penertiban.
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meninjau kolong Tol Kalijodo pasca penertiban.

Share this








Penertiban kolong Tol Kalijodo bak sebuah drama. Air mata, bentrokan, hingga tindakan tegas petugas keamanan tumpah di lokasi tersebut.

GROGOL PETAMBURAN – Isak tangis hingga emosi pecah saat warga yang tinggal di bawah Tol Sedyatmo atau yang akrab dikenal dengan kolong Tol Kalijodo, diminta untuk pindah. Mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di kolong tol sepanjang 800 meter itu mengambil sikap yang beragam. Mulai dari yang ikhlas menerima keputusan, berusaha melawan, sampai bertahan meski bangunan telah diruntuhkan.

Kini, drama tersebut nyaris usai. Tindakan tegas petugas keamanan berhasil mencegah perlawanan, serta sikap warga yang bandel untuk tetap bertahan di sana. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun segera mewujudkan tujuan dari penertiban kolong tol tersebut, yakni membangun taman dan parkiran resmi untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) serta Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRH) Kalijodo yang memang minim parkiran.

Terkait pembangunan taman dan lahan parkir di kolong tol yang berada di perbatasan Jakarta utara dan Jakarta Barat tersebut, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat beralasan, jumlah pengunjung RPTRA Kalijodo saat ini tidak sebanding dengan lahan parkir yang tersedia. Makanya, lahan bekas penertiban akan dijadikan area parkir tambahan.

"Lahan parkir di sana (RTH dan RPTRA Kalijodo) kan minim. Hanya sepanjang Jalan Kepanduan I saja," ujar Djarot saat meninjau kawasan kolong Tol Kalijodo, Jalan Kepanduan I, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Jumat (30/6/2017).

Untuk menyukseskan rencananya itu, Djarot mengklaim pihaknya akan melayangkan sejumlah perizinan alih fungsi lahan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPERA) Republik Indonesia (RI).

"Kami akan meminta Kementerian PUPERA untuk mengambil alih lahan. Kita sinergikan dengan rencana kami," katanya seraya menjelaskan bahwa area parkir yang akan dibangun akan dilengkapi dengan gate atau gerbang masuk dan keluar.

Selain itu, dia juga berencana akan membangun jembatan penyebrangan dari lahan parkir kolong tol menuju RTH dan RPTRA Kalijodo. Hal itu untuk memfasilitasi pengunjung agar dapat langsung menyebrangi kali Angke tanpa berjalan jauh dari depan gerbang.

"Lokasi ini bukan hanya dikunjungi masyarakat Jakarta saja, namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Kita harus benar-benar melayani para pengunjung," paparnya.

 

Penjagaan Ketat Tetap Dilakukan

Tak ingin kecolongan dengan kembalinya para pemukim liar di kawasan Kolong Tol Kalijodo, Djarot pun menugaskan aparat gabungan Satpol PP, Polisi, TNI, serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya untuk berjaga di lokasi. Bahkan, pemagaran di sepanjang Jalan Kepanduan I pun mulai dipasang pasca penertiban dua pekan lalu.

 

"Kita terus antisipasi agar mereka tidak kembali lagi menduduki kawasan ini," tegasnya.

Djarot mensinyalir, arus balik libur lebaran Idul Fitri tahun ini akan memengaruhi angka urbanisasi masyarakat ke daerah yang dipimpinnya saat ini. Untuk itu, lokasi ini wajib dijaga ketat selama 24 jam.

"Penduduk liar itu kan seperti keluarga tanpa program KB (Keluarga Berencana). Cepat sekali beranak-binaknya. Tak sampai sembilan bulan, bahkan dua bulan pun bisa cepat bertambah," ungkapnya.

 

Pembentukan Tim Terpadu

Selain mengecek kawasan Kolong Tol Kalijodo, Djarot pun melipir ke RTH dan RPTRA Kalijodo. Dia memberikan arahan kepada para pengelola kedua lokasi wisata masyarakat itu.

Dia mengakui, penelolaan RTH dan RPTRA Kalijodo masih dalam tahap belajar dan penyempurnaan. Untuk itu, perlu adanya sinergi antara kedua pengelola itu.

"Tidak boleh dikelola sendiri-sendiri. Harus saling bersinergis," imbuhnya.

Untuk itu, dia akan membentuk tim terpadu agar pengelolaan lebih solid. Sebab, RTH dan RPTRA Kalijodo ini memiliki keistimewaan dibanding RPTRA di lokasi lainnya.

"Lokasi ini tak sama seperti RPTRA lainnya. Jika RPTRA lainnya hanya dimanfaatkan masyarakat sekitar, maka lokasi ini dimanfaatkan masyarakat Indonesia, bahkan dunia," paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta Dien Emmawati menambahkan, tim terpadu itu telah melalui proses pembahasan sebelum Ramadan tahun ini. Rencananya, sebanyak 12 instansi akan tergabung dalam tim tersebut.

"Keduabelas instansi itu, diantaranya Dinas PPAPP, Dinas Kehutanan, Dinas Kebersihan, Dinas Pemuda dan Olah Ragala, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Arsip dan Perpustakaan, hingga unsur Camat dan Lurah," ungkapnya.

Dengan adanya tim itu, lanjutnya, segala urusan RTH dan RTPRA Kalijodo akan diangkat ke tingkat Provinsi. Koordinator berada pada Asisten Pemerintahan (Aspem) sehingga dapat dapat membawahi SKPD kedua Walikota, yakni Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

"Jadi nantinya, Aspem dapat memerintahkan instansi terkait untuk mengurusi permasalahan di lokasi ini," terangnya.

Selain terus mendorong pembangunan RPTRA di sejumlah wilayah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tengah melalukan proses pengasetan lahan. Terutama, pada RPTRA yang telah dibangun pada lahan milik Pemprov.

"Pengasetan terus kita lakukan. Kecuali pada lahan RPTRA milik instansi lain, contohnya PT KAI. Pemprov hanya meminjam lahan, agar lahan dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar," katanya.

 



Features

Asyiknya Berakhir Pekan di Jakarta Food Festival Kelapa Gading

Sabtu, 14 November 2015 17:05:51
Editor : Denny | Sumber : kcm

Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading
Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading

Share this








Jakarta Food Festival 2015 kali ini menyajikan menu Eropa dan Asia

KELAPA GADING - Kemana anda biasanya menghabiskan weekend? Bila bingung mau kemana, coba saja sambangi daerah Kelapa Gading yang terkenal akan wisata kulinernya. Pasalnya, di daerah itu saat ini sedang digelar acara bertema kuliner yakni Jakarta Food Festival 2015, yang bertempat di La Piazza Kelapa Gading.

Pada event yang berlangsung dari 6-22 November 2015 ini, Jakarta Food Festival menghadirkan ragam menu, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara. Pada 2015 ini, Jakarta Street Food Festival menghadirkan suasana berbeda. Kali ini, La Piazza dipenuhi nuansa Eropa. Hal ini dipertegas dengan dekorasi bangunan dan gedung khas Eropa dan pernak-pernik lainnya.

Sajian jenis makanan ada pun disesuaikan dengan tema Eropa, seperti Henk’s Pizza, Fruit Chocolate Fondue, La Crepie, Pastalicious Petit Julien, Bitslicious, hingga beragam makanan khas negara lainnya, antara lain, Phat Phuc, MieChino, Ichitori. 

Namun bagi pengunjung yang setia dengan kuliner asli Nusantara, ragam hidangan lezat bisa dicicipi, mulai dari ketoprak Ciragil, Makobar (Martabak Kota Barat), Durian Dessert by The Pancake Museum, hingga Bakso Malang Cak Kumis. 

Pengunjung pun dibuat nyaman dengan dekorasi bergaya street café khas kota-kota metropolitan di Eropa sana. Anda pun bisa bersantai menikmati makanan ringan dengan kopi ataupun minuman segar dalam suasana santai dan menyenangkan.

Selain menyajikan makanan, Jakarta  Street Food festival juga diramaikan dengan penampilan live music, kuis-kuis berhadiah, demo membuat kue serta program-program diskon lainnya. Ayo, tunggu apa lagi, segera langkahkan kaki anda ke La Piazza Kelapa Gading.







Features

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 17:13:31
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

 Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).

Share this








Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.







Features

Hadapi Kenakalan Remaja Gengster dengan Hipnoterapi

Rabu, 14 Juni 2017 11:26:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Wildan Kusuma

Hipnoterapi di Polresta Depok
Hipnoterapi di Polresta Depok

Share this








Menghadapi kenakalan remaja yang terjerumus dalam dunia gengster, ternyata penyembuhan bisa dilakukan dengan hipnoterapi.

DEPOK - Kasus anak remaja yang bergerombol menamakan diri mereka gangster muncul di Kota Depok. Mereka kerap terlibat tawuran antar remaja bahkan tak segan melukai warga.

Dengan dalih menjaga diri, remaja belasan tahun tersebut sangat percaya diri membawa senjata tajam seperti celurit, klewang, dan samurai. Jika tak ada musuh, warga biasa yang tengah berkumpul malah jadi sasaran keberingasan mereka.

Situasi tersebut lantas membuat geram Polresta Depok. Akhirnya, Polreta Depok melalui Satuan Reserse dan Kriminal di bawah pimpinan Kompol Teguh Nugroho melakukan operasi gangster. Alhasil, salah satu pelaku gangster "sanca bergoyang" diciduk Satreskrim Polreta Depok, Selasa (6/6/2017) lalu.

Salah satu pelaku dari geng "Sanca Bergoyang", berinisial KT (17) dijadikan tersangka lantaran dirinya menjadi bandar sajam untuk dijual ke gengster-gengster di Depok. Hal tersebut sangat miris, karena KT baru dianugerahi seorang anak berusia 9 bulan.

Di sisi kegeraman pihak kepolisian, muncul sebuah teka teki yang harus diungkap. Apa penyebab para remaja ini membuat beken kriminal menjadi gangster? Hal tersebut membuat Kompol Teguh mengundang ahli hipnoterapi untuk mengungkap penyebab para remaja yang terjerumus ke dalam gangster.

Senin, (12/6/2017) sore kemarin, Yulianti Wijoyo, seorang ahli hipnoterapi cantik menemui KT untuk melakukan proses wawancara. Proses wawancara ini merupakan salah satu rangkaian hipnoterapi kepada KT di Mapolresta Depok.

Kurang Perhatian Orang Tua

Di dalam ruangan kira-kira seluas 4 kali 4 meter di Mapolresta Depok, suasana proses wawancara sangat mengharukan. Isak tangis KT karena menyesal dengan perbuatannya, meminta ampun warnai suguhan proses hipnoterapi. Padahal, proses hipnoterapi hanya menggunakan psikologis yang menyentuh emosi si pelaku.

Yulianti menjelesan, ia dan rekannya, Romanus Remegius, hanya bertanya penyebab KT menjadi seorang gangster dan menjual senjata tajam. Ia menyimpulkan, kurangnya perhatian orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi faktor jati diri KT.

"Memang semua berawal dari kurangnya perhatian, makanya dia perlu untuk mengeksistensikan diri, membuat diri terlihat keren gitu, itu yang kami temukan tadi. Karena kekosongan di dalam itu di sebabkan tidak dipenuhinya bahasa kasih 
dari orang tua sama anak," ujar Yulianti di ruangan Satreskrim Mapolresta Depok.

Yulianti menambahkan, bahasa kasih itu ada lima yaitu, waktu, hadiah, sentuhan, pelayanan, dan pujian. Menurutnya, semua orang memerlukan hal tersebut meski hanya sedikit.

"Dia mau untuk bisa diterima masyarakat, biar terlihat gagah, merasa harus menampilkan diri, karena tidak ada yang memperhatikannya," katanya.

Ia menegaskan, keluarga merupakan faktor yang paling penting terhadap masa depan anak. Jika hal tersebut dipenuhi, faktor lainnya seperti lingkungan bisa di atasi.

"Lingkungan ada, pasti ada, tapi kalo keluarganya kuat lingkungan bisa diatasi.Menyampaikan bahasa kasih itu setiap hari, ibarat baterai handphone tiap hari dicarger, jadi sama kayak ke anak harus diisi juga," kata dia.

 







Features

Hari Ibu dan Peran Wanita Sosialita dalam Keluarga

Minggu, 13 Desember 2015 14:46:31
Editor : rudiyansyah | Reporter : Wahyu Muntinanto

Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading
Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading

Share this








Walau memiliki segudang kegiatan, para wanita sosialita yang gemar arisan ini tetap menomor satukan keluarganya.

KELAPA GADING - Desember merupkan hari bahagia bagi para ibu di Indonesia, mengingat di tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu. Sedikit , Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No 316 Tahun 1959 menetapkan bahwa 22 Desember sebagai hari ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Pada awalnya, peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama.

Jika dilihat dari sejarah, betapa heroiknya kaum perempuan pada masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu lalu dimana para kaum permpuan seperti Cut Nyak Dien dan RA Kartini merintis organisasi perempuan melalui gerakan perjuangan.

Namun di era globalisasi dan seiring perkembangan zaman, hari ibu mempunyai pergeseran. Kini, para ibu modern juga memiliki organisasi atau kegiatan dalam meluangkan waktu. Salah satunya di lakukan oleh Fanny Lisi (39), seorang wanita yang berkarier di bidang properti.

Selain sebagai wanita karir, dirinya juga mengetuai sebuah komunitas Arisan New Hore di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dirinya pun tak berkeberatan disebut sebagai seorang sosialita sejati. Lagi pula, Fanny menganggap kegiatan yang dilakukan bersama komunitasnya adalah hal positif.

"Hari ibu itu untuk mengenang kebaikan ibu kita yang sudah berjasa membesarkan dan mendidik kita hinggaa kita seperti sekarang," ujar Fanny ketika menghadiri arisan New Hore di sebuah restoran bilangan Kelapa Gading, Jumat (11/12/2015).

Banyaknya pandangan miring terhadap komunitas sosialita atau arisanbukanlah hambatan bagi Arisan New Hore untuk terus berkarya. Bagi mereka, arisan yang dibuat merupakan wadah bagi para ibu-ibu menyalurkan inspirasi dan berbagi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita mikir positifnya saja, kaya kita udah lama nih gak ketemu ibu A atau B, dengan arisan kan jadi bisa ketemu, bisa juga ada yang gak kenal bisa saling kenal," jelas Fanny.

Memiliki kesibukan dengan jadwal yang padat bukanlah kesulitan bagi Fanny. Semua pertemuan untuk arisan sudah di persiapkan dengan matang. Seperti Arisan New Hore ini yang mengagendakan pertemuan mereka setiap tanggal 10 untuk mengocok arisan.

"Kita harus pintar bagi-bagi waktu aja, kalo bentrok ya kita atur jadwal lagi biar gak bentrok, misalnya kaya di arisan New Hore itu kan udah pasti kalo setiap tanggal 10 kita kumpul jadi di tanggal tersebut gak bisa diganggu," ucap warga Kelapa Gading ini.

Fanny menjelaskan, dalam tiap kegiatan arisan para wanita sosialita itu, mereka tidak hanya melakukan aktivitas bersifat hura-hura. Namun, mereka juga saling berbagi cara mengurus keluarga, terutama pendidikan anak-anak mereka.

"Kita kan dalam kelompok arisan ini banyak yang bisa dibahas seperti aktivitas anak dan perkembanganya, terus apa yang harus dilakukan ibu-ibu dalam tumbuh kembang anak," ucapnya.

Menurut Fanny, dari banyaknya kegiatan yang dimiliki bukan berarti menomor duakan keluarga. Dia menganggap keluarga tetap merupakan nomer satu dalam kehidupannya. "Mau berapa banyak aktivitas kita di luar, kita harus tetap mementingkan keluarga karena keluarga harus menjadi nomor satu," tutupnya.







Features

Tukar-Tambah Hape Berujung Pengadilan

Minggu, 27 Desember 2015 12:00:25
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Betty (57) korban pemukulan
Betty (57) korban pemukulan

Share this








Lantaran melibatkan penggede, kasus ini ditangani oleh Polres Metro Jakarta Utara dan sudah memasuki tahap persidangan.

PADEMANGAN – Betty (57) mungkin tidak akan pernah menyangka jika di Hari Ibu pada 22 Desember lalu, hari dimana seharusnya ia memeroleh apresiasi sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, justru harus menjalani persidangan guna memeroleh keadilan.

Karyawan swasta ini mengikuti persidangan pada Selasa (22/12/2015) lalu, dalam kasus penganiayaan berat terhadap dirinya dengan terdakwa seorang pengacara bernama Michael Pasaribu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Kasus ini bermula dari niatan warga Jalan Gading Kusuma 2, Blok GK, No.17, Perumahan Gading Kusuma, Kelapa Gading ini, untuk mengikuti acara trade ini salah satu vendor telepon seluler di Mal Kelapa Gading pada 3 Juli 2015.

"Saat itu saya datang ke acara Tread in untuk menukarkan Handpone milik saya Blackberry Z10 dengan Samsung S6," tutur Betty, Selasa (22/12/2015) lalu.

Usai melakukan pembelian, Betty pun bermaksud memindahkan data-data pribadinya dari hadnphone lama miliknya ke handphone yang baru dibelinya. Namun, penjaga counter tempatnya mengantri di counter nomor tiga memintanya untuk berpindah ke counter nomor satu.

"Saya berada di counter nomor tiga, minta tolong pindahin data dari Blackberry milik saya ke Samsung yang sudah saya tukarkan sebelumnya. Tapi karena dia (penjaga counter tiga) enggak mengerti, saya dioper ke counter nomer satu," ceritanya.

Merasa diperintahkan untuk pindah ke counter nomor satu, ibu empat anak ini pun langsung bergeser. Namun, seorang pria yang sedang mengantri di counter nomor satu tidak terima, saat Bety langsung berada di depannya.

"Mungkin karena dia merasa dilewati, saya ditegur sama bapak Michael. Tapi saya bilang saya hanya disuruh oleh penjaga counter nomor tiga untuk memindahkan data saya di counter nomer satu," lanjutnya.

Pada saat yang bersamaan, Betty yang tengah kesal dan menggerutu sendiri didorong oleh Michael hingga hampir terjatuh.

"Kamu itu siapa coba-coba nasehati saya," tukar Betty menirukan perkataan Michael.

Sementara, Betty yang didorong Michael mengatakan.

"Kok bapak main fisik sih sama wanita," sergahnya.

Mendapat jawaban demikian, emosi Michael pun memuncak dan dirinya langsung melepaskan pukulan tangan kosong sekuat tenaga ke wajah sebelah kiri Betty, tepatnya di bagian bawah mata. Sejurus kemudian Betty pun tersungkur.

Dibantu beberapa pengunjung mal lainnya, Betty pun dipapah berdiri. Sementara Michael berhasil diamankan pengunjung dan dilaporkan ke pihak keamanan Mal Kelapa Gading.

“Setelah kejadian hari itu saya pulang. Baru pada 27 Juli 2015 saya melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Utara,” tandasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Utara Kompol Sungkono membenarkan adanya pelaporan ini dengan sangkaan pemukulan yang menyebabkan luka memar dan lecet pada pelipis mata sebelah kiri bawah.

"Benar bulan Juli lalu ada sorang ibu yang melapor ke Polres Metro Jakarta Utara karena mengalami penganiayaan saat mengantri di sebuah counter penukaran hape di wilayah Kelapa Gading. Pasalnya kita sangkakan Pasal 351 ayat (1)," ungkap Sungkono.

Kasus ini sendiri tengah bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Betty berharap, sidang kasus ini dapat segera diselesaikan dan Michael dihukum sesuai dengan perbuatannya.

Harapan Betty terasa wajar, karena informasi terhimpun, kasus ini melibatkan ‘penggede’ sehingga ‘dilimpahkan’ ke Polres Metro Jakarta Utara, setelah sebelumnya beredar kabar kasus ini tidak ditanggapi dengan baik Polsek Kelapa Gading.

“Ini kasus waktu Kapolsek Kelapa Gading yang dulu (Kompol Sutriyono). Waktu itu sudah diterima laporannya, namun karena kasus ‘penggede’, ‘dilimpahkan’ ke Polres (Metro Jakarta Utara),” singkat seorang sumber Infonitas.com.







Features

Maksimalkan Otak Kanan Untuk Kreativitas Anak

Jumat, 29 Januari 2016 14:47:34
Editor : | Reporter :

Heguru Academy
Heguru Academy

Share this








Berbeda dengan sekolah infomal pada umumnya, metode ini menyampaikan materi dengan waktu luar biasa cepat. Hal tersebut untuk merangsang otak kanan anak.

Anak merupakan salah satu anugerah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Mereka lahir tentunya dengan kelebihan dan keunikannya masing-masing. Sebagai orang tua, tentu kita berharap anak dapat memiliki otak yang cerdas dan kreatif di usia emas. Usia emas anak adalah 0 hingga 6 tahun. Konon, untuk memiliki otak yang cerdas dan kreatif, otak kanan harus dikembangkan agar seimbang dengan otak kiri.

Ditengah perkembangan zaman yang ada, diiringi pula dengan perkembangan di dunia pendidikan. Perkembangan tersebut adalah adanya sebuah metode pendidikan yang menitikberatkan pada otak kanan. Metode ini ditemukan oleh dua orang asal Jepang yang bernama Hirotada dan Ruiko Henmi. Metode tersebut bernama Henmi Educational General Laboratory (HEGL) atau yang lebih dikenal dengan nama Heguru. Metode ini sudah hadir di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, China, Thailand, Kuwait, Jepang, hingga Australia.

Metode yang disampaikan sangat berbeda dengan sekolah informal pada umumnya. Selain berbahasa Inggris, penyampaian materi menggunakan berbagai macam alat bantu pendidikan, yang cukup sering ditemui sehari-hari. Hebatnya, materi disampaikan dengan durasi waktu yang luar biasa cepat. “Penyampaian materi membutuhkan waktu 50 menit. Dalam 50 menit kami memberikan 50 buah materi untuk para murid. Setelah penyampaian materi selesai, kami akan memberikan waktu 10 menit untuk tanya jawab bagi orang tua,” kata Teacher Heguru @Puri Suryanto.

Suryanto juga menjelaskan, tujuan disampaikan materi dengan waktu yang luar biasa cepat adalah untuk merangsang otak kanan anak, agar seimbang dengan otak kiri. Dengan berkembangnya otak kanan, maka anak akan memiliki kreativitas, karakter, dan moral value sedini mungkin. Dengan demikian, generasi emas di masa depan dapat diraih. “Metode Heguru menstimulasi otak agar daya tangkap anak lebih cepat,” ujar Suryanto.







Features

test features dev

Selasa, 24 Januari 2017 16:15:00
Editor : | Reporter :

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam

Share this








test features

TEST







Features

Rumah Pompa Kelapa Gading Diganggu Momok Sampah

Sabtu, 13 Februari 2016 14:04:28
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Sampah yang kerap menjadi momok di Rumah Pompa Kelapa Gading
Sampah yang kerap menjadi momok di Rumah Pompa Kelapa Gading

Share this








Sampah tali dan plastik kerap menyebabkan pompa di Yos Sudarso dan Kelapa Gading, Jakarta Utara, tidak berfungsi normal.

KELAPA GADING - Sampah lagi-lagi menjadi sumber masalah yang cukup sulit ditanggulangi. Banjir pun bisa diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat ketika membuang sampah. Bicara soal banjir, Kelapa Gading, Jakarta Utara, adalah salah satu wilayah yang jadi langganan banjir. Selain letak geografisnya yang terbilang rendah, banjir di Kelapa Gading disebabkan oleh sampah yang menghiasi sungai-sungai yang melintas di salah satu kawasan elit Jakarta itu.

Walau kerap jadi biang keladi, nyatanya masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Ini dirasakan oleh warga dan beberapa petugas atau penanggung jawab rumah pompa yang selalu bekerja mengontrol ketinggian air yang tak kenal waktu. Tak pelak, momok bernama sampah menghantui para petugas rumah pompa air tersebut.

Kelapa Gading sebenarnya telah dipersenjatai tiga rumah pompa. Dua berada di Jalan Yos Sudarso, dan satunya bernama Rumah Pompa Waduk Kelapa Gading. Ketiganya adalah rumah pompa utama yang mengatasi genangan air dan banjir di sejumlah titik wilayah Kelapa Gading

Wahyudi (35), penjaga Rumah Pompa Yos Sudarso 1 mengaku sudah siap jika musim penghujan tiba. Tiga mesin pompanya pun berfungsi dengan baik menyedot air. Ketiganya dapat menyedot air sebanyak 2.700 liter perdetik dengan asumsi satu mesin menyedot 900 liter per detik.

Air tersebut terlihat mengucur deras dan terbuang di sebuah saluran Penghubung (PHB) di Jalan Yos Sudarso. Pantauan yang sama terlihat di Rumah Pompa Yos Sudarso II, ketiga mesinya beroperasi dengan normal.

Apriadi (35) selaku operator dan Purwanto (40) selaku penanggungjawab, mengoperasikan tiga pompa di Rumah Pompa di Yos Sudarso II. Ketiga pompa bermerk Grundfos dan dapat mengalir air 900 liter per detik itu pun beroperasi dengan baik.

Apriadi selaku operator, mengaku jika ketiga mesinya tak ada kendala namun menurutnya yang menjadi kendala ketiga pompanya macet adalah sampah.

"Sampah berupa karung, plastik dan tali sering membuat ampere pompanya panas. Yang paling saya takutkan adanya tali tambang atau sejenisnya tersangkut di baling-baling. Kalau tersangkut, ya harus dibongkar lagi, dan pastinya mesin mati secara mendadak," katanya, Jumat (12/2/2016).

Oleh karena itu, Apriadi sepakat bahwa sampah merupakan momok utama bagi dirinya. "Kalau sebab lain jarang terjadi. Pokoknya sampah dan paling berbahaya itu karung dan tali tambang," ungkapnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rozik (36), penanggungjawab sekaligus operator di Rumah Pompa Waduk Kelapa Gading. Selama dirinya bekerja satu tahun, tak pernah mengalami kendala lain terkecuali sampah yang pernah membuat dua pompa di sana tak berfungsi normal.

"Yang paling berbahaya memang tali tambang. Kalau sudah tersangkut di baling-baling, mesin menjadi overheat (panas) dan mesin berhenti secara mendadak. Mau tidak mau taling yang tersangkut di baling-baling yang ada dibawah air itu harus dicabut. Beruntung kalau mesinnya tak mengalami kerusakan, kalau rusak justru harus dibongkar untuk dilakukan perbaikan," paparnya.

Dirinya pun berharap, dua mesin pompa yang mampu menyedot air sebanyak 2000 liter per detik tersebut diharapkan tak terjadi kerusakan sehingga wilayah Kelapa Gading tidak terendam banjir.







Features

Kisah Jubaedah, Warga Kelapa Gading yang Tinggal di Rumah Kumuh

Senin, 07 November 2016 11:04:28
Editor : rudiyansyah | Reporter : Muhammad Azzam

Jubaedah bahagia, rumahnya terpilih dalam program bedah rumah Bazis Pemkot Jakarta Utara.
Jubaedah bahagia, rumahnya terpilih dalam program bedah rumah Bazis Pemkot Jakarta Utara.

Share this








Jubaedah menempati rumah di Kelapa Gading sejak lahir. Keterbatasan biaya membuat kondisi rumahnya kian memprihatinkan.

KELAPA GADING – Kondisi rumah Jubaedah (56) di Jalan Haji Oyar RT 002 RW 02, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara tampak memprihatinkan. Timpang dengan rumah-rumah yang ada disekelilingnya. Cenderung terkesan megah. Atau paling tidak, layak ditempati.

Dindingnya hanya berupa triplek, bukan susunan bata merah. Atapnya dari seng yang sudah berkarat dan berlubang di beberapa bagian. Bahkan, kondisinya sudah nyaris roboh saat ini.

Di rumah seluas 42 meter persegi ini, Jubaedah tinggal bersama suami, anak, menantu, dan dua cucunya. Apa daya, kondisi perekonomian yang cenderung pas-pasan, membuat Jubaedah dan keluarga tidak mampu merenovasi.

Suaminya menderita sesak nafas. Tidak mungkin untuk bekerja berat. Anaknya hanya bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Pegangsaan Dua.

“Gimana mau renovasi, mau makan saja susah. Rumah ini peninggalan orangtua. Saya lahir di sini. Dari dulu, memang belum pernah diperbaiki. Kalau hujan, atap bocor dan air masuk ke dalam. Terus juga sering banjir. Kalau sudah basah semua, kami tidak  ke mana-mana dan terpaksa bertahan di sini,” katanya.

Pertolongan Datang

Beruntung, pertolongan datang. Petugas puskesmas yang datang mengobati suaminya terkejut melihat kondisi rumah. Terlebih, ketika itu, sedang ada genangan. Hampir setiap hari air selalu merembes ke dalam rumah.

Tim puskesmas langsung melaporkan hal ini ke petugas kelurahan. Satu pekan kemudian, tim kelurahan datang melihat lokasi dan menyampaikan bahwa pemerintah kota akan merenovasi rumah Jubaedah.

“Saya langsung menangis. Saya bahagia. Sebelumnya, saya sempat putus asa, kenapa rumah selalu ada genangan air. Alhamdulillah, ternyata pemerintah mau membantu. Sekitar akhir Oktober, rumah saya langsung dibedah,” ungkap Jubaedah.

Semua dindingnya diganti batako. Begitupun atapnya, menggunakan baja ringan dan asbes.

Kini, proses renovasi sudah masuk tahap finishing. Kondisinya sudah jauh lebih layak. "Saya ingin anak anak bisa kumpul kembali, rasanya sedih saat Lebaran lalu orang-orang merayakan, lah kita malah basah-basahan kebanjiran," pungkasnya.







Features

Menyelisik Kemegahan Kantor RW 08 Kelapa Gading Barat

Rabu, 23 November 2016 15:22:06
Editor : Wahyu AH | Sumber : Dokumentasi Info Gading

Kantor RW 08 Kelapa Gading.
Kantor RW 08 Kelapa Gading.

Share this








Proses renovasi dimulai pada Agustus 2013.

JAKARTA – Jumlah penduduk RW 08 Perumahan Gading Kirana, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara  cenderung bertambah dalam kurun waktu 23 tahun. Atau, pasca serah terima dari PT Nusa Kirana selaku pengembang Perumahan Gading Kirana.

Pada 2014 saja, sekiranya sudah ada 900 Kepala Keluarga (KK) yang menempati area perumahan dan 300 KK di area rumah kantor (rukan) dengan jumlah penduduk 4.800 jiwa.

Atas dasar itulah, pengurus RW 08 ketika itu berinisiatif melakukan renovasi bangunan kantor RW guna memberikan wadah untuk warga berinteraksi, sekaligus untuk meningkatkan pelayanan. “Lagipula, bangunan ini, awalnya adalah kantor proyek pengembang. Kondisinya sudah tidak layak,” kata Ketua RW 08 Kelapa Gading Barat Sutjipto, Rabu (23/11/2016).

Proses renovasi dimulai pada Agustus 2013. Setelah 80 persen rampung, muncul hambatan. Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta mengancam akan membongkarnya karena tidak memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Proses renovasi akhirnya tertunda.

“Sebagai RW terpilih, ketika itu, saya langsung mengambil tindakan cepat dengan melakukan perizinan dan proses mediasi dengan seluruh instansi terkait,” tuturnya.

Hasilnya mencapai titik terang. Pada Mei 2015, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta menerbitkan surat nomor 468/-1.711 perihal persetujuan pemanfaatan lahan dengan beberapa ketentuan.

Antara lain, lahan harus dimanfaatkan untuk kantor RW 08 dan balai warga. Perizinannya atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan selanjutnya agar diserahkan tanpa ganti rugi kepada pemprov sesuai ketentuan perundang-undangan. “Setelah terbit surat itu, kami langsung melanjutkan pembangunan,” lanjut Sutjipto.

Kantor RW 08 dan balai warga dibangun dengan mengusung konsep “Berwibawa”. Secara fungsional, dia menerjemahkan konsep itu dalam aspek pembagian luas yang hampir berimbang antara kantor RW dengan balai warga (ruang serba guna). Kantor RW sekitar 450 meter persegi (dua lantai) dan balai warga sekitar 300 meter persegi.

“Kami pun menyediakan tempat beribadah yang layak, semisal musala dan taman beserta balairung yang juga dapat mengakomodasi kebutuhan warga untuk bersosialisasi,” katanya seperti yang dipetik dalam Proposal  Pembangunan Kantor RW dan Balai Warga RW 08,.

Secara arsitektural, bangunan dirancang dengan bentuk yang sederhana yang dikombinasikan dengan pengulangan garis-garis vertikal agar terkesan monumental. Atapnya pun cukup tinggi. Semua dibalut dengan warna putih biar terkesan elegan.

Menurut Sutjipto, total biaya renovasi diperkirakan mencapai Rp 2,5 miliar. Dana ini dikumpulkan sejak 10 tahun lalu secara swadaya. “Pengurus RW 08 sejatinya akan terus berupaya agar menjadi prototype dalam mendukung penuh program pemerintah. Kami ingin memiliki standar sebagai percontohan RW-RW lainnya,” pungkasnya.