Rabu, 31 Januari 2018 14:00:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Wildan Kusuma
Pedagang barang bekas di Pasar Kebayoran Lama
Pedagang barang bekas di Pasar Kebayoran Lama
Foto : Wildan Kusuma
 

KEBAYORAN – Sore itu meski disertai hujan gerimis, suasana lalu lintas di Pasar Kebayoran Lama tetap ramai. Puluhan bahkan ratusan pedagang menyatu dalam area yang dilintasi rel kereta commuterline. Tepat di bawah fly over dan di samping Stasiun Kebayoran Lama, saya berteduh.

Pandangan ini menyasar lapak-lapak yang berbaris rapi di emperan jalan samping stasiun. Puluhan lapak menggelar aneka dagangan barang bekas. Namun, entah kenapa, mata saya tertuju pada satu lapak.

Lapak berukuran 1 meter x 2 meter ini bergitu ramai dikerumuni orang-orang. Penasaran, saya mencoba menghampiri. Hasilnya, tidak ada yang istimewa dari lapak ini. Hanya barang-barang bekas yang dijual.

Pasar Kebayoran Lama memang sejak dulu dikenal sebagai salah satu spot favorit orang-orang yang ingin mencari barang-barang bekas. Barang-barang seperti handphone, pengisi daya handphone, sepatu, kaset, speaker, walkman, hingga kabel bekas pun dijual.

Di era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, pasar ini mulai sepi pembeli. Aksi penertiban PKL kerap dilakukan oleh Satpol PP.

"Di sini mah emang ramai dari dulu bang. Tapi pas jaman Ahok, banyak pedagang yang gak boleh dagang di kolong kan bukan tempatnya," ujar salah satu pedagang Amroni di lokasi kepada infonitas, Senin (30/1/2018).

Kejar-kejaran dengan Satpol PP seakan menjadi santapan harian bagi para PKL saat itu. Namun, tetap saja para pedagang “kucing-kucingan” berdagang.

Suwarni bercerita panjang soal kejar-kejaran itu. Tapi bagaimana tuntutan hidup memaksa dirinya terus memberanikan diri menjajakan barang dagangan meski dalam rasa ketakutan.

"Ya mau gimana lagi, kami kan di sini cari uang. Makanya lapak saya cuma begitu doang, biar gampang rapihinnya kalau ada operasi," katanya.

Barang-barang yang dijual Suwarni sedikit berbeda. Dia menjual barang bekas rumahan yang sudah tidak terpakai seperti  bingkai foto, dompet, dan kaset.

"Kalau saya dagang mah yang murah-murah aja, yang penting ada yang nyari. Ada bingkai-bingkai yang udah rusak saya benerin lagi. Ya, kebanyakan udah jadi rongsokan terus kita bersihin lagi," lanjutnya.

Amroni dan Suwarni tidak sendiri, masih ada beberapa pedagang lain yang berjajar bersamanya. Pembeli juga bisa melihat barang-barang yang dijual sambil membeli minuman kemasan siap seduh di tempat itu. Jika lapar, bergeser saja sedikit, di situ ada pedagang mi ayam bertenda.

Seorang warga Kebayoran Lama, Anugrah mengingat, pedagang barang bekas di Pasar Kebayoran Lama sudah ada sejak lama. “Dari saya kecil, itu tempat memang sudah terkenal sama barang bekas. Bahkan, kalau pintar nyarinya bisa dapat barang yang bagus dan murah,” katanya.

Satu nilai lebih yang diperjualbelikan, meski barang bekas, namun kualitasnya masih cukup baik. Bahkan jika beruntung bisa mendapatkan barang langka di area ini. Apalagi harga yang juga terbilang murah.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda