Sabtu, 25 Februari 2017 16:30:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Wildan Kusuma
Pelukis jalanan yang biasa mangkal di Jalan Pintu Besar Selatan , Glodok, Kota Tua, Jakarta Barat.
Pelukis jalanan yang biasa mangkal di Jalan Pintu Besar Selatan , Glodok, Kota Tua, Jakarta Barat.
Foto : Wildan Kusuma
 

TAMAN SARI - Trotoar  di Jalan Pintu Besar Selatan, Glodok, Jakarta Barat, dihiasi dengan lukisan para pelukis jalanan. Komunitas pelukis potret di kawasan Kota Tua ini, sudah berkembang sejak tahun 1988. Mereka sudah menempati di area sepanjang 100 meter dari arah Pasar Glodok.

Seniman lukis  yang masih tersisa di Kota Tua sekitar 30 anggota. Meraka datang silih berganti dan berasal dari latar belakang yang berbeda. Menjalani profesi sebagai pelukis jalanan bukan tan risiko.Para pelukis tersebut memiliki cukup banyak risiko yang harus dihadapi.

Salah seorang pelukis, Afil (56) mengungkapkan, terkadang lukisan yang dipajang hilang karena dicuri atau dijambret oleh penjahat sekitar. Selain itu, para pelukis harus berhadapan dengan preman. "Lukisan pernah hilang diambil jambret. Bukan hanya itu, handphone saya juga pernah dijambret," ujarnya kepada Infonitas.com, Sabtu (24/2/2017).

Tidak hanya Afil, seorang pelukis yang berprofesi sebagai guru seni rupa di Sekolah Menengah Atas (SMA) Ferry Kurniawan, juga merasakan hal yang sama. Bahkan, dia harus rela beberapa barang pribadinya sering hilang ketika berdagang lukisan di kawasan tersebut. "Waktu itu yang jaga belum banyak, jadi rentan sekali kehilangan. Saya berharap agar kami diberikan tempat yang layak," katanya.

Melukis Wajah

Karya pelukis jalanan di Kota Tua memang sudah terkenal seantero Ibu Kota. Para pelukis bermodalkan tangan yang terampil dan kerja keras. Mereka bekerja tiap hari, Senin sampai Sabt. Beragam lukisan berkumpul disini. Paling banyak didominasi lukisan wajah. Tak jarang wajah tokoh tahun 60 – 70an jadi inspirasi para pelukis, mulai dari Mao Tse Tung, Richard Nixon, atau Einstein bisa dilukis oleh seniman jalanan ini. Selain mahir melukis wajah, para pelukis juga mampu membuat karikatur serta lukisan-lukisan pemandangan yang indah.

“Untuk biaya membuat lukisan wajah dengan ukuran kertas 10 R hanya dikenakan uang Rp 200.000, sedangkan untuk ukuran 10 R, sekitar Rp 300.000,” kata Ferry.

Biaya tersebut belum, dengan bingkai, jika ingin tampilan yang bagus Sobari juga menyedikan bingkai harga yang ditawarkan juga murah yakni Rp 70.000. Harga-harga tersebut bisa dinego sesuai dengan kesepakatan bersama.

Baik Ferry maupun Afil mengaku, dalam sebulan mereka mampu menerima pesanan tidak kurang dari 20 lukisan. “Biasanya kalau hari libur di trotoar menjadi hari yang sepi, dari 30 anggota paling hanya 13 orang yang masih bekerja, selebihnya memilih untuk beristirahat di rumah,” tuturnya.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda