Kamis, 17 Mei 2018 17:30:00
Editor : Galih Pratama | Reporter : Alfriani Anisma Wibowo
Lonjakan pemesanan kue kering sudah mulai dirasakan pelaku usaha kue di Tangerang.
Lonjakan pemesanan kue kering sudah mulai dirasakan pelaku usaha kue di Tangerang.
Foto : Abdul Rahman
 

TANGERANG - Menyediakan kue kering saat Lebaran sepertinya sudah menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia. Bisa dibilang, kurang afdol jika tak mencicipi kue kering khas Lebaran jika bertandang ke sanak keluarga ataupun teman saat hari raya. Tak heran bila sebagian orang telah jauh-jauh hari menyiapkan kue kering sebelum Lebaran tiba. Ada yang membuat sendiri, ada pula yang tak ingin repot memesan langsung dengan penjual atau pengusaha kue.

Kondisi ini membawa angin segar bagi para pelaku usaha kue di Tangerang. Permintaan akan kue Lebaran pun kian meningkat. Bahkan ada yang merasakan lonjakan permintaan sebelum Ramadan. Seperti yang dirasakan Desie Halim, Pemilik Nastarian.  Dia mengaku pemesanan kue kering mulai berdatangan dua bulan sebelum Ramadan. “Pesanan kue kering untuk Lebaran tahun ini naik sekitar 200-300 persen. Minimal produksi sekitar 100 toples, dibanding hari biasa yang hanya memproduksi 10-20 toples,” ujarnya.

Dikatakan Desie, pembeli kue kering ini tidak hanya datang dari Tangerang saja, ada juga dari luar kota bahkan luar negeri. “Banyak pelanggan yang memesan dari luar Tangerang. Seperti Jakarta, Bogor, Bekasi Bandung, Sukabumi, Bali, Medan, Cirebon, Makassar, Surabaya, dan Solo. Bahkan pernah juga kirim pesanan ke Malaysia, Singapura dan California USA,” terangnya.

Sesuai namanya, Desie lebih dominan menawarkan kue nastar. Namun, dia juga menyediakan pilihan lain. Seperti kastangel, lidah kucing, cheese stick, dan brownish panggang. Harganya pun bervariatif mulai dari Rp 80 ribu sampai Rp 150 ribu per toples.

Pengusaha kue lainnya yang kebanjiran pesanan adalah Iriyanti (56). Pemilik Alia Cookies ini mengatakan, Lebaran menjadi momen yang ditunggu-tunggu. “Alhamdulillah banyak pesanan untuk kue kering. Terutama yang paling best seller adalah nastar, kastangel, putri salju, sagu keju, choco nut, dan cherry cookies,” papar Yanti, sapaan akrab Iriyanti.

Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, Yanti mengaku telah mempersiapkan bahan baku dari jauh-jauh hari. “Saya harus membeli bahan baku sebelum bulan puasa. Kalau sudah memasuki bulan puasa, harga bahan baku melonjak tinggi,” imbuhnya.

Tak hanya kue kering, Yanti juga menjalin kerja sama dengan perusahaan tertentu dalam penyediaan hampers. Untuk hampers, ia membanderol seharga Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu. Dari bisnis ini, Yanti mengaku bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 20 juta selama Ramadan.

Cerita berbeda datang dari Pratiwi Witjaksono, Pemilik Ningrat Cookies. Berbekal tekad dan semangat, bisnis kue keringnya bisa eksis dan mampu meraup omzet Rp 40 juta selama Ramadan. “Pemesanan kue memiliki peningkatan sangat signifikan sekitar 300 persen. Adapun kue-kue yang ditawarkannya, yaitu nastar, kastangel, sagu keju, skippy, ovomaltine, dan lidah kucing,” pungkas.

Diakui Tiwi, begitu ia disapa, kebanyakan konsumen lebih banyak melakukan pemesanan hampers. Alasannya, lebih simpel untuk dibawa. Harga yang ditawarkan juga terbilang murah, sekitar Rp 140 ribu (1/4 kilogram) dan Rp 230 ribu (1/2 kilogram) untuk tiga toples. Sementara harga satuan kue kering dijualnya dari harga Rp 55 ribu sampai Rp 80 ribu untuk ukuran toples setengah kilogram.

Adu Strategi Pemasaran

Pemasaran yang tepat, tentunya akan berimbas kepada permintaan suatu jasa atau produk yang ditawarkan. Tak terkecuali dalam bisnis kue, para pengusaha adu strategi pemasaran, terutama saat Ramadan dan jelang Lebaran. Banyak cara yang digunakan, namun sebagian pelaku usaha ini lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut.

Seperti yang dikatakan Pratiwi Witjaksono Pemilik Ningrat Cookies. Dia mengaku tak ada strategi khusus, namun menurutnya promosi dari mulut ke mulut lebih efektif. Tak heran bila saat ini, sudah banyak pelanggan tetapnya dari generasi ke generasi. “Yang penting kami tetap menjaga dan meningkatkan kualitas produk dan pelayanan,” ucapnya.

Sama halnya dengan pemilik Nastarian, Desie Halim. Menurutnya, dengan menjaga mutu rasa dan penggunaan bahan baku yang berkualitas menjadi salah satu pemasaran yang efektif. “Dengan begitu, orang lain tanpa sengaja akan melakukan promosi word of mouth,” katanya.

Selain itu, kata Desie, ia juga bekerja sama dengan beberapa e-commerce melalui aplikasi mobile. Melalui situs perbelanjaan online dan media sosial, dirinya merasakan pengaruh yang begitu besar terhadap jumlah pelanggan sebesar 30-50 persen.

Sementara pemilik Alia Cookies Iriyanti mengaku, dirinya melakukan pemasaran lewat reseller. Dengan begitu, profit yang didapatkannya bisa lebih besar. “Tapi setiap reseller harus order minimal dua lusin kue,” jelasnya.

Nastar dan Kastengel Tetap Jadi Primadona

Banyak jenis kue kering yang hidangkan saat Lebaran. Namun dari sekian banyak kue kering, nastar dan kastengel ternyata tak pernah lekang oleh waktu. Dari tahun ke tahun, kue jenis tersebut tetap menjadi primadona. Tak terkecuali tahun ini, para pengusaha kue mengatakan nastar dan kastengel akan tetap jadi favorit kue Lebaran.

“Nastar atau kastangel sudah menjadi tradisi kue kering hari raya. Setiap tahunnya, kedua kue tersebut masih menjadi favoritnya,” kata Iriyanti, pemilik usaha kue kering yang dilabeli Alia Cookies ini.

Hal yang sama juga dikatakan Desie Halim, Pemilik Nastarian. Kata dia, jenis kue kering nastar menjadi primadonanya. Apalagi Nastarian sendiri menghadirkan 10 varian rasa nastar. Ada original, keju, cokelat, stroberi, blueberry, tarjo, durian, red velvet, kopi, dan brownish.

“Kue kering dengan isian selai nanas ini seolah sudah jadi kue wajib saat hari lebaran. Dalam sehari, saya bisa produksi 20 sampai 30 toples nastar,” katanya.

Sementara menurut Pratiwi Witjaksono, Pemilik Ningrat Cookies, semua jenis kue banyak diminati pelanggannya. Sebab, pelanggannya lebih banyak order sistem hampers dengan pilihan kue sesuai selera. “Setiap hari kami selalu produksi, kira-kira bisa 15-20 toples untuk ukuran besar, dan 30-40 toples ukuran kecil,” kata Pratiwi Witjaksono.

 

 

 

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda