Senin, 03 Desember 2018 09:15:00
Editor : Fauzi | Reporter : Leny Kurniawati
Ilustrasi proses penyeduhan kopi.
Ilustrasi proses penyeduhan kopi.
Foto : Ibnu Wibowo
 

CIBUBUR – Bisnis kedai kopi bukan hal baru di Indonesia, apalagi jika dibilang mengekor kesuksesan bisnis kedai kopi franchise dari luar negeri. Ya, lebih dari empat abad lalu, kedai kopi sudah hadir di Indonesia, tepatnya setelah Pemerintahan Kolonialisme Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengimpor biji kopi Yemen atau Arabica dari India pada tahun 1969, diikuti dengan mulai dibukanya warung-warung kopi di kota-kota di Nusantara yang pada masa itu menjadi pusat perekonomian VOC.

Salah satu kedai kopi lokal yang terkenal dan mampu bertahan lebih dari seabad adalah Koffie Warung Tinggi yang terletak di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Dulunya, kedai kopi ini bernama Tek Sun Ho yang didirikan oleh Liaw Tek Soen pada tahun 1878 atau kini berusia 140 tahun. Di tangan generasi kelima, kedai kopi ini bukan cuma sukses bertahan, tapi kini sudah mengekspor biji kopi ke Amerika Serikat dan Jepang.

Di masa modern, kedai kopi yang awalnya terkonsentrasi di wilayah-wilayah pusat bisnis dan perkantoran, kini kedai kopi pun sudah merambah ke wilayah pemukiman di Ibukota dan sekitarnya, seperti di Cibubur, wilayah pemukiman  yang menjadi irisan antara Jakarta Timur, Kota Bekasi, Kota Depok dan Kabupaten Bogor.

Owner Typicali Coffee Tata Lukmanika menuturkan, perkembangan bisnis kedai kopi di wilayah ini tidak terlepas dari perubahan karakter masyarakatnya, dari yang semua hanya menyukai kopi instan dan ikui-ikutan, menjadi penikmat kopi asli, bukan sekadar lifestyle.

“Perkembangan peluang bisnis kedai kopi lokal di wilayah ini sangat terbuka lebar. Masyarakatnya mulai banyak yang menyukai kopi asli, bukan hanya lifestyle. Namun, masih banyak faktor yang perlu dimaksimalkan agar bisnis ini bisa memberikan hasil yang maksimal,” jelasnya.

Kreatifitas Pemilik

Kendati memiliki potensi bisnis yang besar dan masih bisa terus dikembangkan, Tata Lukmanika mengingatkan pentingnya kreatifitas dari para pengelola kedai kopi. Bukan hanya dari segi olahan kopi, lebih jauh menurutnynya masing-masing kedai kopi harus memiliki karakteristik yang khas, berbeda dari pesaing, sehingga bisa menarik minat konsumen. “Bisnis ini sangat menjanjikan, namun masing-masing kedai kopi harus memiliki karakter tersendiri. Kedepan tren kedai kopi akan lebih simple, sesuai dengan yang dicari konsumen,” tandasnya.

Karakteristik atau gampangnya ciri khas diyakini menjadi kunci untuk sukses di bisnis ini. misalnya saja seperti yang ditawarkan oleh  Mokka Coffee Cabana. Sang general manager Aditya Chandra mengtakan, sama-sama mengandalkan kopi lokal, kedai kopinya mengusung tema rustic. Dengan tema yang banyak diusung kedai kopi di Australia ini, konsumen diharapkan betah berlama-lama untuk spent money, ditambah dengan ambience yang nyaman.

“Ini diperkuat dengan beragam jenis kopi, makanan dan minuman lainnya akan memanjakan konsumen. Kami juga memiliki keunggulan untuk menyajikan kopi dengan ‘hiasan’ sesuai keinginan konsumen dengan latte art atau 3D. Keunggulan lain, kami juga memberikan edukasi dan showing on the table untuk manual brewing. Alasannya, karena tidak semua Coffee Shop dapat menyajikan kopi dengan memberikan edukasi dan tentang kopi yang disajikan," papar Aditya.

Sementara itu, owner franchise Coffee Toffee Kota Wisata, Cibubur Mita Pramita  menambahkan, euphoria kedai kopi lokal tidak terlepas dari cita-cita para pelaku bisnis ini, yang kebanyakan juga pecinta kopi, untuk mengangkat derajat dan memopulerkan kekayaan citarasa kopi khas Nusantara. “Kami terus berkomitmen dengan visi yang kami miliki, untuk menjadikan kopi lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri, dengan memberikan berapah produk dan layanan terbaik dengan bahan baku lokal terbaik,” singkatnya.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda