Features

Penjahit Baju Dinas Anies Baswedan Itu Tinggal Dekat Rumah Ahok

Kamis, 12 Oktober 2017 18:30:00
Editor : Fauzi | Reporter : Farid Hidayat

Suasana kerja di Chiu Tailor.
Suasana kerja di Chiu Tailor.

Share this








Terletak di kawasan Muara Karang, penjahit baju dinas Anies Baswedan jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah Ahok, saingannya saat Pilkada DKI Jakarta lalu.

PENJARINGAN – Jelang pelantikan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Senin (16/10) pekan depan. Sejumlah persiapan dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan. Salah satunya adalah Pakaian Dinas Upacara (PDU) yang akan dikenakan saat pelantikan di Istana Negara. Untuk yang satu ini, Anies memercayakan Chiu Tailor untuk menjahit baju dinas yang akan dipakainya. Lokasinya dekat rumah Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) pesaingnya dalam Pilkada DKI Jakarta lalu.

Terletak di Muara Karang Blok O VIII Timur, No.73, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Pantauan Infonitas.com tempat Chiu Tailor tidak begitu mewah, hanya rumah toko (ruko). Kebetulan di sepanjang jalan ini kebanyakan restoran. Jadilah plang papan nama Chiu Tailor mudah ditemukan.

Thio Ahmad Hendra, pemilik Chiu Tailor ketika ditemui Infonitas.com mengatakan, dirinya memulai usaha sejak tahun 1977. Sebelumnya dia masih ikut orang, sebelum akhirnya memutuskan membuka usaha sendiri, ketika mendapatkan orderan pertama kali dari orang Pemprov DKI Jakarta. "Dari situlah saya berani buka sendiri. Awalnya ikut orang, tidak bisa menjahit dulu, cuma jadi cari order dan saya pun belajar menjahit," kenangnya.

Pria 64 tahun ini menuturkan, dirinya pernah menjahitkan baju dinas untuk Gubernur DKI Jakarta beberapa tahun lalu, Fauzi Bowo (Foke). Ia mengenang, order jahitan PDU untuk Foke tersebut datangnay dari Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerjasama Luar Negeri (KDH dan KLN) Pemprov DKI Jakarta ketika itu, Muhammad Mawardi.

"Ketika itu dia (Mawardi) datang untuk memesan dijahitkan baju Gubernur DKI Jakarta. Saya kaget saat itu, karena sudah lama tidak menerima pesanan dari Pemrov DKI," tandasnya.

Terkait baju yang yang akan dikenakan Anies Baswedan dalam pelantikan nanti, sebagai penjahit baju dinas yang profesional, hari ini ia sudah menyerahkan baju tersebut ke kediaman Anies di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Pesanan tersebut terdiri dari beberapa setelan baju jas, celana dan kemeja lengan panjang serba putih, dua stel seragam dinas cokelat yang akan dikenakan Anies kelak saat berdinas sebagai gubernur.



Features

Digaji 2 Kali UMP, Masihkah Sopir Kopaja Ugal-ugalan?

Jumat, 26 Juni 2015 11:03:09
Editor : Hanafie | Sumber : Dtc

Kopaja melintas di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
Kopaja melintas di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Share this








Untuk meningkatkan mutu pelayanan, sopir Kopaja akan digaji Rp 5,4 juta. Dengan harapan, cara berkendara sopirnya tidak ugal-ugalan. Terwujudkah?

JAKARTA – Bus Kopaja setuju bergabung dengan manajemen Transjakarta. Dengan gaji 2 kali UMP Jakarta atau sekitar Rp 5,4 juta, sopir Kopaja janji tidak bakal ugal-ugalan lagi. Namun tidak sedikit warga yang menyangsikan hal tersebut. Revolusi mental yang diharapkan dikhawatirkan tidak memenuhi standar manajemen baru.

“Saya sih sebenarnya setuju saja dengan bergabungnya Kopaja ke Transjakarta. Itu artinya, mental menyupir dan sikap berkendara sopirnya, harus berubah, tidak ugal-ugalan, karena sudah tidak kejar setoran lagi,” ujar Nanda, pekerja swasta di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur ini. Ia mengharapkan agar para sopir Kopaja harus diseleksi secara ketat dengan sejumlah tes, “ Jadi gak sembarangan merekrut, nanti tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan malah tidak tercapai”.

Hal senada juga diungkapkan Nuri. Karyawati swasta yang sehari-hari bekerja di kawasan Kuningan ini tidak yakin 100 persen bahwa sopir Kopaja tidak lagi ugal-ugalan. Alasannya, susah untuk menghilangkan kebiasaan lama dalam waktu singkat. “Butuh waktu agar prilaku itu berubah. Tapi untuk menekannya, perlu sanksi yang tegas kepada sopir yang tidak juga merubah sikap berkendaranya,” ujarnya.

Namun kekhawatiran masyarakat tersebut dijawab diplomatis oleh Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki. “Nanti kita kan sudah pakai tarif per kilometer. Jadi tak perlu mengejar penumpang lagi seperti dulu. Dengan demikian bus juga tak perlu diisi penuh sehingga pintunya mudah untuk tutup buka. Mudah-mudahan prilaku berkendaranya bisa berubah dan penumpangnya nyaman,” katanya Kamis (25/6/2015).

Untuk diketahui, Kopaja AC yang dikelola Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) sepakat bergabung dengan PT Transportasi Jakarta per Agustus nanti. Dengan manajemen baru ini, penumpang cukup membayar satu tarif yaitu Rp 3.500. Dan dipastikan jalur yang digunakan oleh Kopaja AC adalah jalur Transjakarta. “Jadi bus tidak keluar-masuk busway untuk mengejar penumpang. Dan sopirnya juga akan lulus tes dan menerima sertifikasi,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa penumpang Kopaja AC cukup membayar satu kali kalau ingin menyambung Transjakarta jika turun di halte busway. Karena tarif bus yang nantinya berwarna putih itu, sudah disesuaikan dengan tarif Transjakarta. “Jadi penumpang lebih gampang. Ketika di halte busway tinggal pilih mau naik Transjakarta atau Kopaja AC, dan tarifnya sama yaitu Rp 3.500,” katanya.

Keberhasilan Pemprov DKI membujuk Kopaja masuk ke dalam manajemen Transjakarta, kini giliran pemilik Metromini ditawari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bergabung dengan PT Transportasi Jakarta. Karena selama ini, armada metromini hampir sebagian besar dimiliki oleh perorangan. “Jadi gak jelas manajemennya,” aku Ahok di Balai Kota, Jakarta, Jumat (26/6/2015).

Karena milik perorangan, faktor ini menjadi kendala dalam mengintegerasikan bus tersebut ke dalam manajemen PT Transportasi Jakarta. Sebab nantinya bisa menyulitkan pembayaran dengan sistem rupiah per kilometernya. Karena tidak terdaftar itulah, maka ada kemungkinan satu orang bisa memiliki 2-3 bus. “Gak peduli dengan pemilik bus, yang penting busnya bisa dipakai atau tidak,” lanjutnya.

Disamping itu, suami dari Veronica Tan ini meminta Dirut PT Transportasi Jakarta ANS Kosasih tidak terlalu ketat dalam menyeleksi sopir yang harus lulusan SMA. Karena menurut Ahok, berkendara itu tidak ada kaitannya dengan ijazah formal. “Yang kita butuhkan hanya kesabaran dan secara teknis seorang sopir harus mampu mengemudi kendaraan dengan baik dan tahu medan,” katanya.







Features

Ciri-ciri Penipuan Bisnis Online

Jumat, 04 September 2015 10:31:12
Editor : Hanafie | Sumber : Kcm

penipuan online
penipuan online

Share this








Mengecek terlebih dahulu kejelasan sebuah situs jual beli, menjadi hal yang wajib dilakukan netizen ketika bertransaksi di dunia maya.

Sejumlah orang mendatangi Polda Metro Jaya, kemarin. Mereka melapor telah menjadi korban penipuan saat transaksi pembelian tiket konser band rock asal Amerika Serikat, Bon Jovi, di Jakarta lewat www.ticketbonjovi.com. Setelah ditelusuri, kebanyakan korban tidak mengecek terlebih dahulu kejelasan situs tersebut.  

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iqbal, masyarakat perlu berhati-hati dengan transaksi jual beli di dunia maya. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat menelusuri kejelasan dan kebenaran informasi situs yang bersangkutan. “Sebelum transaksi, diperiksa dulu kontennya apa dan online mana,” kata Iqbal di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun ada ciri khusus metode penipuan yang paling mudah dikenali. Menurut Iqbal, salah satunya pelaku memberikan batasan waktu kepada pemesan untuk mentransfer uangnya. “Biasanya mereka memberikan batasan satu jam atau dua jam, karena mereka ingin langsung ditransfer,” ujarnya.

Seperti dilaporkan oleh Deki Surahman (35), yang mewakili 27 orang yang menjadi korban penipuan menyebutkan ia dan korban lainnya awalnya dijanjikan akan mendapat tiket fisik dari tempat penjualan tersebut. Mereka percaya saja dan mentransfer uang ke rekening yang ditunjuk. Namun ketika dikonfirmasi balik, tidak ada jawaban dari pihak situs tersebut. “Kami mencoba menghubungi Live Nation, ternyata mereka membantah bahwa ticketbonjovi.com bukan ofisial resmi pembelian ticket box dari mereka,” kata Deki.

Saat ini, jumlah total kerugian dari 28 orang tersebut ialah sekitar Rp 108.470.000. Namun, jumlah tersebut akan terus bertambah jika korban lainnya juga ikut melapor. Deki dan puluhan orang lainnya akhirnya memutuskan untuk melapor ke Polda Metro Jaya dengan nomor pelaporan LP/3542/IX/2015/PMJ/Ditreskrimsus. Pengelola situs tersebut terancam Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan atau Pasal 28 ayat 1 juncto Pasal 5 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.







Features

Berharap ‘Tuah’ Final Piala Presiden 2015

Minggu, 18 Oktober 2015 14:05:53
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian dan perwakilan suporter di Mapolda Metro Jaya
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian dan perwakilan suporter di Mapolda Metro Jaya

Share this








Meski tidak mempertemukan Persib dan Persija, partai final Piala Presiden 2015 diharapkan jadi ajang rekonsiliasi The Jakmania dan Bobotoh Persib.

JAKARTA – Sejak era Galatama hingga Indonesia Super League (ISL), rivalitas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta tak pernah surut. Duel keduanya bahkan kerap disebut sebagai El-Classico di Indonesia, merujuk pada persaingan antara Barcelona dengan Real Madrid di Liga Spanyol.

Sayangnya, rivalitas keduanya juga berimbas ke luar lapangan, dimana suporter fanatik kedua tim, The Jakmania (Persija) dan Viking atau Bobotoh (Persib Bandung) kerap bersinggungan dan terlibat bentrokan. Bahkan, belakangan rivalitas keduanya kerap memakan korban jiwa dan mulai menimbulkan aksi anarkisme satu sama lain yang merugikan masyarakat.

Tak ayal, saat Mahaka Sport and Entertainment selaku penyelenggara Piala Presiden 2015 mengumumkan final kejuaraan ini akan dihelat di Ibu Kota, berbagai pihak pun angkat bicara dan disibukan. Mulai dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kapolri Jend Pol Badrodin Haitin, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, hingga Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian.

Maklum, partai final nanti mempertemukan Persib Bandung melawan Sriwijaya FC. Penolakan partai final di Ibu Kota pun langsung disuarakan oleh oknum-oknum suporter Persija Jakarta, meski belakangan dicapai kesepakatan damai yang melibatkan Pemprov DKI, Pemkot Bandung, pengurus suporter masing-masing klub dan pihak kepolisian.

Meski demikian, tensi ketegangan dari jam ke jam jelang partai final kian meningkat. Bahkan, mobil Kapolretro Jakarta Timur Kombes Pol Umar Farouq pun dirusak pada Minggu (18/10/2015) dinihari oleh segerombolan massa yang mengincar mobil pribadi berplat nomor polisi D (Bandung).

“Saya perintahkan anggota menindak tegas. Tangkap yang anarkis. Kita akan cari dan usut siapa di belakang aksi pelemparan ini,” ujar Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.

Padahal, sejumlah tokoh sejak Jumat (16/10/2015) telah mengimbau kepada kedua kelompok suporter untuk memulai periode baru tanpa permusuhan, tanpa anarkisme dan aksi saling balas dendam. Mantan pendiri sekaligus pembina The Jakmania yang juga Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (purn) Sutiyoso meminta The Jakmania bersikap ksatria dan bisa berubah menjadi suporter modern yang menghindari bentrokan.

Sementara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berharap ada rekonsiliasi di antara The Jakmania dengan Bobotoh. Bahkan, ia menyatakan siap menyambut The Jakmania sebagai saudara saat datang ke Bandung.

Ada pun Gubernur DKI Jakarta Ahok sendiri berharap The Jakmania dapat menunjukan mampu bersikap fair dan menghormati semua tim maupun pendukung mereka yang berlaga di partai final petang nanti.

“Tunjukan Jakarta bisa menjadi tuan rumah yang baik, The Jak bisa menerima saudara-saudara mereka dari klub lain. Jangan sampai, nanti The Jak ditolak dimana-mana, kalau suka nolak pendukung tim tamu,” tukasnya.

Meski demikian, aparat gabungan tetap bersiaga. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian memimpin langsung 31.700 personil gabungan dari Polda Metro Jaya, Brimob Mabes Polri, Kodam Jaya hingga Satpol-PP dan Pemadam Kebakaran.

Dari jumah tersebut, sebanyak 9 ribu personil disebar di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dengan pola pengamanan berlapis 4 ring. Ini belum termasuk pengamanan oleh Paspampres lantaran Presiden Jokowi dipastikan hadir dan menyerahkan langsung Piala Presiden kepada klub pemenang.

"Polda dan rekan terkait siap mengamankan jalannya partai final nanti. Sesuai arahan Kapolri, kita akan tindak tegas setiap tindakan anarkisme dan provokatif, serta menekan sedini mungkin potensi kericuhan,” tandas Tito.

Semoga, suasana Ibu Kota dan sekitarnya meski ditetapkan Siaga-1 sepanjang hari ini, tidak memengaruhi kehidupan masyarakat lainnya. Pertandingan final pun dapat berlangsung aman, tertib dan lancar. Siapa pun yang menang, harus tetap rendah diri dan jangan memprovokasi. Sementara yang kalah harus siap dan jangan merusak. Sementara penonton jangan terprovokasi atau malah memprovokasi.

“Menang tetap rendah diri, jangan memprovokasi. Kalau kalah, jangan merusak,” pesan Tito.

Mari berharap agar partai final dan berbagai kesibukan jelang pelaksanaannya nanti bisa memberikan tuah berupa perdamaian antara The Jakmania dan Bobotoh Persib.







Features

Saatnya Ibu Kota Waspada Kekerasan Seksual dan Pencabulan Anak

Minggu, 18 Oktober 2015 14:35:48
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Tiga pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di Mapolda Metro Jaya.
Tiga pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di Mapolda Metro Jaya.

Share this








Perlu penanganan khusus bagi anak yang menjadi korban kekerasan seksual dan pencabulan, agar mereka tidak melakukan hal yang sama saat dewasa.

SEMANGGI - Tindakan kekerasan seksual dan pencabulan anak di bawah umur kembali marak di Ibu Kota. Bocah yang harusnya mendapat kasih sayang dan pelukan hangat orangtuannya, malah dijadikan pelampiasan birahi oleh segelintir orang yang hanya mementingkan nafsu dunia. Ironisnya, ada orangtua kandung yang justru menjadi pelaku kekejian ini terhadap buah hatinya sendiri.

Atau bagaimana bejat dan kejinya perilaku Agus, predator dari Kalideres yang kerap melakukan kekerasan seksual dan pelecehan terhadap anak-anak di bawah umur yang menjadi ‘binaannya’ dalam geng Boel Tachoes. Bahkan Agus tegas membunuh dan ‘mengepak’ jasad PNF ke dalam kardus, setelah mendapatkan kekerasan seksual dari dirinya.

Data Polda Metro Jaya mencatat, sejak akhir tahun 2014 sampai September 2015 terdapat 622 kasus kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Khrisna Murti mengatakan, situasi saat ini harus dicermati dan diwaspadai oleh para orangtua murid dan pihak sekolah. Sebab, pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak tidak jarang merupakan orang dekat dan dikenal korban.

"Kasus pencabulan anak dibawah umur kembali marak terjadi, bahkan pelaku pencabulannya justru orang-orang terdekat yang mustahil melakukan hal keji tersebut. Untuk itu, kita sebagai warga masyarakat patut lebih memperhatikan lingkungan sekitar, agar kejadian pencabulan bisa dihindarkan," ujar Khrisna, Senin, (5/10/2015).

Mungkin, para pelaku kejahatan tersebut sudah dibutakan oleh nafsu bejat sesaat. Para tersangka pencabulan justru lebih memilih orang-orang terdekatnya, dengan alasan lebih mudah dirayu. Para korban yang masih lugu tersebut, diiming-imingi uang atau barang kesukaannya agar terbujuk rayuan setan oleh si tersangka.

Yang lebih gilanya lagi, para tersangka bukan hanya melakukan hal bejat tersebut sekali, tetapi bisa berbulan-bulan bahkan ada korban yang melahirkan anak dari prilaku tidak bermoral tersebut.

"Kasus pencabulan yang paling membuat mata masyarakat terbelalak adalah saat ayah kandungnya sendiri yang tega melakukan tindakan tidak senonoh dan menyebabkan si korban sampai hamil," geram Khrisna.

Peristiwa memilukan tersebut, merupakan potret ketidak warasan lantaran kerap dicekoki dengan video-video porno. Karena, rata-rata berdasarkan pengakuan tersangka, mereka nekat melakukan tindak tidak terpuji tersebut karena usai menonton video porno.

"Saya melakukan ini (penjabulan) karena seusai menonton video porno, hasrat saya jadi meningkat. Saya menyesal, atas perbuatan saya. Makanya mungkin ini adalah hukuman terberat yang harus saya lalui," papar MY alias NI, tersangka kasus kekerasan seksual yang menyebabkan kehamilan anak kandungnya sendiri.

Yang menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua bukan hanya melakukan tindak pencegahan terhadap penyakit moral tersebut, namun trauma para korban tersebut juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Jangan malah mengucilkan korban, lantaran tragedi yang tidak diinginkan korban.

"Untuk penanganan kasus kekerasan anak kami rasakan cukup bagus, namun untuk penanganan kepada anak yang mendapatkan kekerasan, trauma masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang," papar Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlindabeberapa waktu lalu di Mapolda Metro Jaya.Sedangkan menurut pakar seksolog, Zoya Amirin, seorang yang pernah mengalami pelecehan seksual atau malah korban pencabulan dan dikucilkan dari lingkungan sekitar saat dewasanya akan melakukan hal yang sama saat waktu ia menjadi korban.

"Biasanya anak yang menjadi korban pencabulan dan kekerasan cendrung akan mengulanginya saat dewasa nanti, dan anak-anak kecil pula yang menjadi korban. Untuk itu perlu bantuan dari masyarakat sendiri, agar kejadian tersebut tidak terulang dimasa mendatang," tandas Zoya.







Features

Tanda Tanya Seputar Bom Alam Sutera

Sabtu, 31 Oktober 2015 13:59:22
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Leopard (belakang tengah, baju putih) saat diunjukan kepada wartawan.
Leopard (belakang tengah, baju putih) saat diunjukan kepada wartawan.

Share this








Meski Kompolnas dan Polisi bertolak belakang mengenai sosok Leopard, ada beberapa hal yang bisa dicermati dari kasus ini.

SEMANGGI – Teror ledakan bom di Mal Alam Sutera, Tangerang, Banten pada Rabu (28/10/2015) lalu masih menimbulkan tanda tanya besar, meski Polda Metro Jaya berhasil menangkap tersangka pemasang bom serta sejumlah barang bukti tak lama setelah ledakan pada Rabu siang tersebut.

Tanpa bermaksud mengecilkan kinerja jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya pimpinan Kombes Pol Krishna Murti yang berhasil menangkap Leopard Wisnu Kumala (29) terduga pelaku peledakan beserta sejumlah bom yang belum meledak di kediamannya.

Banyak pihak justru meragukan sosok Leopard dan sanksi jitorial.ka ia beraksi sendiri dalam teror ledakan bom yang sudah terjadi dua kali dalam tiga bulan terakhir. Banyak pihak meyakini Lep hanyalah pion.

Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane mengatakan, ada beberapa kejanggalan kasus ledakan bom di Mal Alam Sutera. Neta mengatakan, jenis bom yang meledak di Mal Alam Sutera sama dengan jenis bom yang meledak di pusat perbelanjaan Paragon, Bangkok pada 1 Februari 2015.

“Bomnya sama-sama jenis Triaceton Triperoxide (TATP) dengan daya ledak tinggi. Yang menarik, ini ledakan TATP pertama di Indonesia. Apa mungkin Leo yang membuatnya dengan mempelajari di dunia maya?” ungkap Neta.

Untuk diketahui, Leo memiliki latar belakan pendidikan teknologi informasi dan bekerja di salah satu perusaahan teknologi Informasi di kawasan Alam Sutera. Lantas, mungkinkah Leo mengerjakan sema seorang diri dan membuta bom hanya dari video tutorial.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengungkapkan, meski tergolong high explosive, bom jenis TATP mudah dibuat. Cukup dengan menggunakan bahan rumah tangga seperti tiner dan aceton.

“Jenisnya memang high explosive, namun sangat mudah dibuatnya,” tandas Tito.

Dikonfirmasi mengenai masalah ini, Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti menyayangkan pernyataan IPW dan Neta S. Pane. Krishna menilai, penyataan IPW bisa meresahkan warga.

Krishna menggaris bawahi, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan polisi, Leo menjalankan akisnya sendiri dan tidak terkait dengan jaringan teroris internasional.

"Kejadiannya seperti itu dan yang kita dapat seperti itu. Sekarang kalau IPW merilis itu, apakah IPW melakukan penyelidikan?. Kan tidak dan tahu darimana kalau sama," ujar Krishna kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jumat, (30/10/2015).

Bagi masyarakat, Leo terlibat jaringan teroris internasional atau tidak, mengebom sendirian atau tidak, yang penting, peristiwa tersebut tidak terulang kembali dan menjadi yang terakhir kalinya di Nusantara.







Features

Kisah Sepasang Kekasih yang Selamat dari Tabrakan KRL vs Metromini

Selasa, 08 Desember 2015 15:08:12
Editor : Fauzi | Reporter : Adi Wijaya

Metromini yang tertabrak terseret hingga 200 meter
Metromini yang tertabrak terseret hingga 200 meter

Share this








Jika saja Uus tidak berpindah tempat duduk ke sebelah kekasihnya di bangku belakang, belum tentu dirinya selamat dari peristiwa maut tersebut.

GROGOLPETAMBURAN – Peristiwa tabrakan maut antara Metromini S-80 jurusan Kalideres – Jembatan Lima dengan KRL 1528 jurusan Jatinegara - Bogor di kawasan Tubagus Angke, Minggu (6/12/2015) pagi menyisakan trauma bagi pasangan kekasih Amanudin (23) dan Uus Kusnawati (21), dua korban selamat dalam peristiwa tragis tersebut.

Ghozali (65), ayah kandung Amanudin menuturkan, buah hatinya sampai berlinang air mata saat mengingat kembali peristiwa nahas tersebut. Ia menuturkan, Amanudin yang tinggal di kamar kos di kawasan Teluk Gong, pagi itu sedianya hendak mengantarkan Uus ke tempat kerjanya di industri rumahan ‘Sarang Walet’ di bilangan Pasar Baru, Teluk Gong, Jakarta Utara.

“Mereka naik Metromini yang tak jauh di lokasi kecelakaan tersebut,” ungkapnya lirih, Selasa (8/12/2015).

Sambil menahan sedih Ghozali melanjutkan, awalnya, Amanudin dan Uus duduk terpisah saat baru naik Metromini maut tersebut. Putranya duduk di kursi paling belakang, sementara sang kekasih duduk di bagian tengah.

Tak lama berselang, saat penumpang di sebalahnya turun, Amanudin pun meminta Uus pindah ke sebelahnya. Uus pun bergegas berpindah tempat duduk dan mengambil posisi di bagian tengah kursi paling belakang yang modelnya memanjang.

“Enggak lama setelah itu, kata anak saya peristiwa itu pun terjadi. Padahal, penumpang sudah mengingatkan sopir biar enggak nerobos palang, tapi sopirnya cuek terus terjadi peristiwa itu,” ujar Ghazali pelan.

Di lain sisi, Mulyadi (25) kakak kandung Uus mengatakan, pagi itu sang adik memang hendak melakukan rutinitasnya sebagai pekerja di industri rumahan dengan diantar Amandi. Kepada dirinya sang adik mengatakan, peristiwa itu terjadi dengan cepat. Para penumpang hanya bisa berteriak sambil menyebut nama Tuhannya tanpa sempat berusaha menyelamatkan diri.

“Dia (Uus) bilang, semua pada teriak-teriak nyebut nama Tuhan terus langsung kejadian dan dia seperti terkena benturan yang sangat keras,” tutur Mulyadi.

Menurutnya, pihak keluarga bersyukur Uus masih selamat, meski saat ini masih harus mendapatkan perawatan dan mengalami trauma. Dokter yang merawatnya pun belum mengizinkan Uus untuk pulang.

“Keluarga menyayangkan dan mengecam sopir yang ugal-ugalan bawa Metromini. Sudah tahu kereta mau lewat malah diterobos. Beruntung adik saya selamat,” sambungnya.

Baik Amandi maupun Uus sudah mengetahui kondisi satu sama lain dan bersyukur mereka berdua selamat dari kecelakaan maut tersebut. Bahkan, Uus pun bersyukur dirinya menuruti sang kekasih untuk berpindah ke bangku belakang dan duduk di sebalah Amanudin.

“Katanya, kalau dia masih di bangku tengah, mungkin enggak selamat,” pungkas.







Features

Kabid Humas Polda dan Polisi Gadungan

Sabtu, 12 Desember 2015 17:20:19
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M. Iqbal
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M. Iqbal

Share this








Intinya, jika merasa tidak bersalah, masyarakat jangan pernah takut dan selalu berupaya melakukan cross check mengenai identitas polisi yang dih

SEMANGGI – Kembali maraknya praktik penipuan berkedok anggota kepolisian alias polisi gadung, menjadi sorotan jajaran pemimpin kepolisian di negeri ini. Maklum, hingga saat ini kasus penipuan berkedok anggota kepolisian masih sering terjadi, termasuk di Ibu Kota.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Mohammad Iqbal mengatakan, selain meresahkan, perilaku seperti ini juga menjatuhkan citra Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Agar masyarakat awam tidak tertipu dengan praktik aparat gadung, mantan Kapolrestro Jakarta Utara ini memberikan saran bagaimana menghadapinya.

Menurutnyam masyarakat awam yang kurang pengetahuan tentang kepolisian, jika dihadapkan dengan polisi gadungan alangkah baiknya harus memiliki jiwa pemberani untuk sedikit melawan jika memang tidak terbukti bersalah.

"Para warga yang merasa tidak bersalah, lalu disatroni polisi gadungan dengan dalih memeras atau menipu harus berani menentang," papar dia kepada infonitas, Jumat (11/12/2015).

Lanjutnya, aparat penegak hukum selalu dilengkapi dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) Polri untuk membuktikan bahwa dirinya adalah aparat yang sah di Republik Indonesia. Namun menurut Iqbal, jangankan KTA, buku Uji Berkala Kendaraaan Bermotor (KIR) saja bisa dipalsukan.

"Jika masih ragu juga dengan KTA anggota kepolisian, para masyarakat boleh menanyakan surat perintah yang sudah ditanda tangani Kapolres, Kapolsek dan RT/RW," lanjutnya.

Untuk itu, mantan Kepala SPN Lido Polda Metro Jaya ini mengimbau masyarakat untuk menyimpan nomor-nomor penting kepolisian di tempatnya tinggal. Seperti nomor Kapolres atau Kapolsek.  

Kendati demikian, Iqbal mengakui tidak tertutup kemungkinan ada anggota kepolisian yang sah namun menyalahgunakan wewenangnya. Hal seperti itu juga suatu tindakan melawan hukum, jadi jika masyarakat menjadi korban pemerasan atau penipuan yang dilakukan pihak kepolisian harus berani melawan jika memang tidak bersalah.

"Kalau dia benar oknum kepolisian, akan dikenakan Pasal 9, 10, 11 KUHP. Ancamannya 5 tahun penjara. Juga diatur dalam Pasal 18 Kepolisian RI mengenai penyalahgunaan diskresi polisi," papar alumnus Akademi Kepolisian Tahun 1991 ini.

Ditambahkan olehnya, namun kalau sipil yang mengaku menjadi petugas, akan dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, 263 KUHP dan 268 KUHP tentang pemalsuan, kemudian 362 KUHP, 363 KUHP, dan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.







Features

MetroMini, Warisan Perang Dingin yang Menjadi Ikon Ibu Kota

Sabtu, 12 Desember 2015 19:11:00
Editor : Fauzi | Reporter :

Tabrakan krl dengan metromini
Tabrakan krl dengan metromini

Share this








Konflik internal berkepanjangan di PT MetroMini sepanjang tahun 1993 sampai tahun 2011 membuat operasional dan perawatan MetroMini tidak terawasi.

JAKARTA – Peristiwa kecelakaan maut antara MetroMini S80 dengan KRL jurusan Tanah Abang – Serpong di kawasan Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat, Minggu (6/12/2015) pagi yang menewaskan 18 penumpangnya kembali membuat MetroMini mendapat sorotan.

Salah satu ‘ikon’ transportasi Ibu Kota ini acap kali menjadi pusat perhatian lantaran berbagai hal negatif yang melibatkan moda transportasi yang menggunakan bus berukuran sedang ini. Mulai dari kecelakaan tunggal, tabrak lari, tabrakan beruntun, hingga tabrakan maut di perlintasan kereta.

Namun, tahukah Anda sekilas mengenai moda transportasi dengan warna oranye-biru tuanya yang ikonik ini?

Mal Siantar Nainggolan, salah satu pemilik MetroMini menuturkan, sejarah panjang MetroMini dimulai saat penyelenggaraan Games of New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1962 di Stadion Senayan yang digagas oleh mendiang Presiden Soekarno.

GANEFO sendiri berisikan negara-negara yang tergabung dalam Conference of New Emerging Forces (CONEFO), negara-negara ingin melepaskan diri dari pengaruh perang dingin antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Sovyet.

“Jadi saat itu diadakan bus-bus berukuran sedang untuk mengangkut para atlet yang akan bertanding dalam satu-satunya penyelenggaraan GANEFO tersebut,” cerita Nainggolan, Senin (6/11/2015).

Paska penyelenggaraan GANEFO dan runtuhnya Orde Lama di bawah pimpinan Presiden Soekarno, MetroMini yang saat itu familiar dipanggil ‘bus merah’ beroperasional secara liar, tanpa manajemen dan ketentuan trayek.

Penyebutan Bus merah itu bisa merujuk pada warna bus, bisa juga merepresentasikan ‘golongan merah’ alias golongan kiri, karena pengadaannya dimulai saat puncak kejayaan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hingga akhirnya pada tahun 1976 Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin membentuk PT MetroMini untuk menaungi sekitar 6 ribu armada tersebut yang dimiliki oleh lebih dari 2 ribu orang. Jelas, MetroMini bukanlah nama jenis moda transportasi, melainkan nama perusahaan yang didirikan oleh Gubernur Ali Sadikin.

“Sengketa internal berkepanjangan dari tahun 1993 sampai 2011 membuat pengelolaan PT MetroMini jadi tidak jelas,” sambung Nainggolan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membentuk PT Transjakarta. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini diharapkan menjadi pengelola semua transportasi di Ibu Kota. 

Selama ini, publik hanya mengenal Transjakarta sebagai lembagapengelola Bus Rapid Transit (BRT) atau popular dengan istilah "Busway".

Karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah meminta perusahaan bus di Jakarta bergabung di bawahTransJakarta. 

Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja), salah satu pengelola bus setara MetroMini, sudah mulai menjalin kerjasama dengan TransJakarta. Meski, kerjasama ini belum bisa dibilang berjalan mulus.

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun pernah menyarankan kepada para pemilik bus MetroMini agar menjadi bagian dari Kopaja bila ingin bergabung PT TransJakarta, karena pengelolaan PT MetroMini dinilai tak jelas.

"Saya tawarkan ke MetroMini, Anda pindah deh.Bagi saya bukan soal merek MetroMini atau Kopaja. Kalau Metro Mini tidak jelas manajemennya, silakan pemilik bus MetroMini boleh masuk keTransJakarta. Tapi Anda harus di bawah manajemen Kopaja," jelasnya.

Namun salah seorang pengusaha MetroMini, AzasTigorNainggolan, menyatakan ide bergabung ke manajemen Kopaja merupakan wacana lama. Ide ini pun ia klaim datang dari para pengusaha Metro Mini beberapa tahunsilam.

“Kami justru menanti aksi Pemprov DKI Jakarta, karena selama ini hanya mentok pada wacana,”imbuhnya.

Di mata pakar transportasi, Danang Parikesit, PT Transjakarta masih belum bisa mengkoordinir semua armada angkutan umum di Ibu Kota. Bahkan, ia menilai untuk mengelola manajemen internalnya sendiri dengan baik saja PT Transjakarta belum mampu.

”PT TransJakarta bisa menaungi perusahaan lain seperti MetroMini, jika sudah punya manajemen yang kuat,” tandasnya.

Entah kapan polemik mengenai MetroMini ini bisa berakhir, sambil berdoa tidak ada lagi nyawa melayang lantaran MetroMini. 

Pun demikian, mari sama-sama berharap Transjakarta mampu segera berbenah diri, tidak ada lagi armada mogok, terbakar, hingga terlibat insiden kecelakaan. Serta mewujudkan impian pengelolaan transportasi umum di bawah satu atap.

 

 







Features

Begini Langkah Polres Jakbar Amankan Tiga Hari Besar

Sabtu, 26 Desember 2015 16:00:41
Editor : Denny | Reporter : Adi Wijaya

Jajaran Polres Jakarta Barat sedang memeriksa keamanan di gereja
Jajaran Polres Jakarta Barat sedang memeriksa keamanan di gereja

Share this








Selain menyebar 1608 personel, Polres Jakarta Barat juga menyisir tiap gereja untuk memeriksa kemungkinan adanya bahan peledak.

SLIPI - Sehari sebelum perayaan hari Natal 2015, Polda Metro Jaya menetapkan status Siaga Satu. Melihat kondisi seperti itu, jajaran Polrestro Jakarta Barat pun telah menerjunkan sebanyak 1608 anggota untuk mengamankan ketiga hari besar agama pada akhir tahun ini, yakni Maulid Nabi Muhamad SAW pada Kamis (24/12/2015), Natal pada Jumat (25/12/2015) serta malam pergantian tahun 1 Januari 2016.

Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Rudy Herianto Adi Nugroho mengatakan, ribuan anggotanya akan melakukan pengamanan di titik-titik rawan hingga akhir pergantian tahun 2016. “Pasukan Pengamanan Masyarakat (PAM) dibagi menjadi tiga. Pertama PAM Maulid Nabi Muhammad SAW, kedua PAM Natal, dan ketiga PAM Tahun Baru,” tutur Rudy kepada infonitas.com, Kamis (24/12/2015).

Rudy menjelaskan, dengan berdekatannya hari besar tersebut, jajarannya melakukan pengamanan ketat terutama di gereja yang berdekatan dengan masjid. “Kami telah bekerjasama dengan pengurus masjid dan gereja agar tidak melakukan ibadah secara bersamaan. Terutama tidak mengeraskan volume sound agar tidak terjadi kesalahpahaman antar umat yang sedang menjalankan ibadah,” ujar Rudy di lokasi penyisiran Unit Penjinak Bom Polda Metro Jaya di Gereja Maria Bunda Karmel, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Terkait penangkapan terduga anggota teroris di Bekasi pada Rabu (23/12/2015), Rudy mengklaim tidak akan menyepelekan pengamanan di berbagai titik rawan. “Kami tidak boleh menyepelekan hal tersebut, ada mau pun tidak ada penangkapan teroris kemarin akan tetap dilakukan pengamanan seoptimal mungkin agar masyarakat yang menjalankan ibadah merasa aman, tentram, serta hikmat,” tuturnya.

Di sisi lain, Unit Penjinak Bom (Jibom) Polda Metro Jaya yang turut menyisir ke-45 gereja di Jakarta tidak menemukan satupun bahan peledak. “Makanya akan dipastikan perayaan umat Nasrani tersebut akan berjalan aman,” tandasnya.

Sementara itu, Pastur Gereja Maria Bunda Karmel (MBK) Heri Bertus Supriyadi menambahkan, keberadaan pengamanan kepolisian yang ketat justru menambah keyakinan jemaatnya akan keamanan saat melakukan ibadah. “Kami berterimakasih kepada kepolisian yang melakukan pengamanan, karena hal tersebut dapat membuat rasa ketentraman kami dalam melakukan peribadatan,” sebutnya.

Ia melanjutkan, pihak gereja MBK pun sudah menjalin koordinasi dengan masyarakat sekitar, seperti dengan ketua RT dan RW untuk mengamankan jalannya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal yang jatuh berselang satu hari saja.

Perlu diketahui, di Jakarta Barat terdapat sebanyak 185 gereja yang melakukan Misa Natal. Hasil pengamanan tersebut terbayar tuntas dengan terciptanya suasana kondusif saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal. Kini jajaran Polres Jakarta Barat hanya tinggal memfokuskan pada keamanan saat perayaan pergantian tahun 2016.







Features

Tukar-Tambah Hape Berujung Pengadilan

Minggu, 27 Desember 2015 12:00:25
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Betty (57) korban pemukulan
Betty (57) korban pemukulan

Share this








Lantaran melibatkan penggede, kasus ini ditangani oleh Polres Metro Jakarta Utara dan sudah memasuki tahap persidangan.

PADEMANGAN – Betty (57) mungkin tidak akan pernah menyangka jika di Hari Ibu pada 22 Desember lalu, hari dimana seharusnya ia memeroleh apresiasi sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, justru harus menjalani persidangan guna memeroleh keadilan.

Karyawan swasta ini mengikuti persidangan pada Selasa (22/12/2015) lalu, dalam kasus penganiayaan berat terhadap dirinya dengan terdakwa seorang pengacara bernama Michael Pasaribu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Kasus ini bermula dari niatan warga Jalan Gading Kusuma 2, Blok GK, No.17, Perumahan Gading Kusuma, Kelapa Gading ini, untuk mengikuti acara trade ini salah satu vendor telepon seluler di Mal Kelapa Gading pada 3 Juli 2015.

"Saat itu saya datang ke acara Tread in untuk menukarkan Handpone milik saya Blackberry Z10 dengan Samsung S6," tutur Betty, Selasa (22/12/2015) lalu.

Usai melakukan pembelian, Betty pun bermaksud memindahkan data-data pribadinya dari hadnphone lama miliknya ke handphone yang baru dibelinya. Namun, penjaga counter tempatnya mengantri di counter nomor tiga memintanya untuk berpindah ke counter nomor satu.

"Saya berada di counter nomor tiga, minta tolong pindahin data dari Blackberry milik saya ke Samsung yang sudah saya tukarkan sebelumnya. Tapi karena dia (penjaga counter tiga) enggak mengerti, saya dioper ke counter nomer satu," ceritanya.

Merasa diperintahkan untuk pindah ke counter nomor satu, ibu empat anak ini pun langsung bergeser. Namun, seorang pria yang sedang mengantri di counter nomor satu tidak terima, saat Bety langsung berada di depannya.

"Mungkin karena dia merasa dilewati, saya ditegur sama bapak Michael. Tapi saya bilang saya hanya disuruh oleh penjaga counter nomor tiga untuk memindahkan data saya di counter nomer satu," lanjutnya.

Pada saat yang bersamaan, Betty yang tengah kesal dan menggerutu sendiri didorong oleh Michael hingga hampir terjatuh.

"Kamu itu siapa coba-coba nasehati saya," tukar Betty menirukan perkataan Michael.

Sementara, Betty yang didorong Michael mengatakan.

"Kok bapak main fisik sih sama wanita," sergahnya.

Mendapat jawaban demikian, emosi Michael pun memuncak dan dirinya langsung melepaskan pukulan tangan kosong sekuat tenaga ke wajah sebelah kiri Betty, tepatnya di bagian bawah mata. Sejurus kemudian Betty pun tersungkur.

Dibantu beberapa pengunjung mal lainnya, Betty pun dipapah berdiri. Sementara Michael berhasil diamankan pengunjung dan dilaporkan ke pihak keamanan Mal Kelapa Gading.

“Setelah kejadian hari itu saya pulang. Baru pada 27 Juli 2015 saya melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Utara,” tandasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Utara Kompol Sungkono membenarkan adanya pelaporan ini dengan sangkaan pemukulan yang menyebabkan luka memar dan lecet pada pelipis mata sebelah kiri bawah.

"Benar bulan Juli lalu ada sorang ibu yang melapor ke Polres Metro Jakarta Utara karena mengalami penganiayaan saat mengantri di sebuah counter penukaran hape di wilayah Kelapa Gading. Pasalnya kita sangkakan Pasal 351 ayat (1)," ungkap Sungkono.

Kasus ini sendiri tengah bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Betty berharap, sidang kasus ini dapat segera diselesaikan dan Michael dihukum sesuai dengan perbuatannya.

Harapan Betty terasa wajar, karena informasi terhimpun, kasus ini melibatkan ‘penggede’ sehingga ‘dilimpahkan’ ke Polres Metro Jakarta Utara, setelah sebelumnya beredar kabar kasus ini tidak ditanggapi dengan baik Polsek Kelapa Gading.

“Ini kasus waktu Kapolsek Kelapa Gading yang dulu (Kompol Sutriyono). Waktu itu sudah diterima laporannya, namun karena kasus ‘penggede’, ‘dilimpahkan’ ke Polres (Metro Jakarta Utara),” singkat seorang sumber Infonitas.com.