Features

Nasib Pengemudi Gojek

Rabu, 23 November 2016 16:00:00
Editor : Naufal | Reporter : Farid Hidayat

Ilustrasi Gojek
Ilustrasi Gojek

Share this





Penghasilan yang besar membuat banyak orang beralih menjadi pengemudi Gojek. Namun, sekarang, mereka memilih ‘angkat kaki’.

JAKARTA – Kehadiran Gojek pada awal 2015 mengikis eksistensi ojek konvensional. Konsumen perlahan mulai beralih. Bagaimana tidak, selain tarifnya lebih murah, sistem pemesanan yang ditawarkan Gojek pun lebih praktis. Semua by online, tidak ada tawar-menawar harga, besaran tarif dihitung dari kilometer.

Bahkan, tidak hanya konsumen, para pengojeknya pun perlahan mulai beralih meninggalkan sistem konvensional dan lebih memilih mengikuti tren, bergabung dengan Gojek. Lagi-lagi maklum, upah yang dijanjikan cukup besar. Para pengojek pun tak perlu antre mengambil konsumen.

Profesi tukang ojek naik kelas. Bahkan, mahasiswa dan karyawan swasta pun berebut nyambi menjadi tukang ojek. Buktinya, saat pembukan lowongan pengemudi Gojek di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Agustus 2015. Tidak hanya pria, banyak juga para ibu yang mau menjadi tukang ojek.

“Ya, pasti tertarik lah. Penghasilannya cukup fantastik. Satu bulan saja bisa Rp 8-10 juta,” kata Haryono (32) kepada infonitas.com, Sabtu (12/11/2016).

Itu sebabnya, dia pun memilih beralih profesi dari seorang karyawan di salah satu pabrik di Jakarta Timur menjadi pengemudi Gojek. Penghasilan yang diterima jauh lebih besar.

“Dulu, boro-boro cukup, penghasilan paling UMP. Setelah ngojek, 5 bulan berjalan hutang motor saya bisa lunas. Narik dari pagi sampai malam bisa dapat 5-7 juta per bulan. Saya sempat berencana nyicil rumah,” tutur ayah dari 2 anak ini.

Gojek

Fahri (32) berpendapat sama. Penghasilan yang diterima memang tidak sebesar Haryono, karena dia hanya nyambi. “Paling saat berangkat dan pulang kerja saja. Itupun pilih-pilih konsumen yang searah jalur kerja saya. Engga semua diambil.”

Meski begitu, Fahri bisa mendapat penghasilan tambahan Rp 2-4 juta. “Ya, lumayanlah, buat jajan anak,” ucapnya ayah 1 anak ini.

Lain Dulu Lain Sekarang

Namun, itu dulu. Saat ini, kondisinya sudah berubah. Kebijakan Gojek yang mengurangi subsidi harga tarif pengemudi membuat penghasilan pengemudi berkurang. Awalnya, dari Rp 4.000 per kilometer menjadi Rp 3.000 per kilometer.

Lalu, pada 18 Februari 2016, Gojek kembali mengubah skema tarif konsumen. Untuk 10 kilometer tarifnya Rp 12 ribu, 11-15 kilometer Rp 20 ribu, dan di lebih dari 15 kilometer dikenakan tarif normal sebesar Rp 2.500 per kilometer. Akibatnya, upah pengemudi juga berkurang menjadi Rp 2 ribu per kilometer. “Berarti hampir 50 persen turun,” kata Fahri.

Tidak itu saja, pihak Gojek juga menerbitkan kebijakan-kebijakan baru terkait rating dan performa yang cenderung menyulitkan pengemudi. Jika tidak terpenuhi, pihak manajemen bisa langsung memutuskan kemitraan.

“Ini tentu merugikan. Contohnya layanan Go Food. Kita tidak boleh cancel pesanan. Nah, kalau kita engga punya duit untuk bayar pesanan bagaimana?. Sehingga, ya banyak yang berhenti, pindah ke Grab Bike,” imbuhnya.

Turmanto (52), pengemudi Gojek lainnya tidak bisa menyalahkan. “Sudah banyak yang enggak narik Gojek lagi, kita mau ambil order yang deket deket saja tidak boleh, bisa diputus kemitraannya. Ya, mau gimana lagi. Sekarang yang rajin paling cuma dapat Rp 3-4 juta.”

Gojek

Puncaknya, aksi demonstrasi para pengemudi Gojek pada 3 Oktober 2016 di kantor pusat PT Go-Jek Indonesia, Kemang, Jakarta Selatan. Para pengemudi menuntut manajemen Gojek berdialog terbuka.

Sistem penilaian performa menjadi tuntutan utama. Sebab, berpengaruh terhadap bonus. Bonus yang seharusnya diterima tak akan turun apabila mereka tak mencapai performa 50 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding sistem penilaian yang ada sebelumnya.

Normalnya untuk mendapatkan bonus sebesar Rp140 ribu, pengemudi perlu mengumpulkan 14 poin dalam sehari. Poin tersebut diperoleh dari banyaknya order yang berhasil dipenuhi seorang pengemudi.

Untuk pesanan berjarak di bawah 5 kilometer, pengemudi akan mendapatkan satu poin. Pada jarak 5-10 kilometer, poin yang diperoleh 1,5 poin. Terakhir pada jarak di atas 10 km pengemudi dapat 2 poin.

“Ya, kami berharap pihak Gojek bisa membereskan masalah ini dengan cepat,” pungkasnya.





Features

Nasib Pengemudi Gojek

Minggu, 13 November 2016 19:50:48
Editor : Wahyu AH | Reporter : Muhammad Azzam

Ilustrasi Gojek
Ilustrasi Gojek

Share this





Penghasilan yang besar membuat banyak orang beralih menjadi pengemudi Gojek. Namun, sekarang, mereka memilih ‘angkat kaki’.

JAKARTA – Kehadiran Gojek pada awal 2015 mengikis eksistensi ojek konvensional. Konsumen perlahan mulai beralih. Bagaimana tidak, selain tarifnya lebih murah, sistem pemesanan yang ditawarkan Gojek pun lebih praktis. Semua by online, tidak ada tawar-menawar harga, besaran tarif dihitung dari kilometer.

Bahkan, tidak hanya konsumen, para pengojeknya pun perlahan mulai beralih meninggalkan sistem konvensional dan lebih memilih mengikuti tren, bergabung dengan Gojek. Lagi-lagi maklum, upah yang dijanjikan cukup besar. Para pengojek pun tak perlu antre mengambil konsumen.

Profesi tukang ojek naik kelas. Bahkan, mahasiswa dan karyawan swasta pun berebut nyambi menjadi tukang ojek. Buktinya, saat pembukan lowongan pengemudi Gojek di Hall Basket Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Agustus 2015. Tidak hanya pria, banyak juga para ibu yang mau menjadi tukang ojek.

“Ya, pasti tertarik lah. Penghasilannya cukup fantastik. Satu bulan saja bisa Rp 8-10 juta,” kata Haryono (32) kepada infonitas.com, Sabtu (12/11/2016).

Itu sebabnya, dia pun memilih beralih profesi dari seorang karyawan di salah satu pabrik di Jakarta Timur menjadi pengemudi Gojek. Penghasilan yang diterima jauh lebih besar.

“Dulu, boro-boro cukup, penghasilan paling UMP. Setelah ngojek, 5 bulan berjalan hutang motor saya bisa lunas. Narik dari pagi sampai malam bisa dapat 5-7 juta per bulan. Saya sempat berencana nyicil rumah,” tutur ayah dari 2 anak ini.

Gojek

Fahri (32) berpendapat sama. Penghasilan yang diterima memang tidak sebesar Haryono, karena dia hanya nyambi. “Paling saat berangkat dan pulang kerja saja. Itupun pilih-pilih konsumen yang searah jalur kerja saya. Engga semua diambil.”

Meski begitu, Fahri bisa mendapat penghasilan tambahan Rp 2-4 juta. “Ya, lumayanlah, buat jajan anak,” ucapnya ayah 1 anak ini.

Lain Dulu Lain Sekarang

Namun, itu dulu. Saat ini, kondisinya sudah berubah. Kebijakan Gojek yang mengurangi subsidi harga tarif pengemudi membuat penghasilan pengemudi berkurang. Awalnya, dari Rp 4.000 per kilometer menjadi Rp 3.000 per kilometer.

Lalu, pada 18 Februari 2016, Gojek kembali mengubah skema tarif konsumen. Untuk 10 kilometer tarifnya Rp 12 ribu, 11-15 kilometer Rp 20 ribu, dan di lebih dari 15 kilometer dikenakan tarif normal sebesar Rp 2.500 per kilometer. Akibatnya, upah pengemudi juga berkurang menjadi Rp 2 ribu per kilometer. “Berarti hampir 50 persen turun,” kata Fahri.

Tidak itu saja, pihak Gojek juga menerbitkan kebijakan-kebijakan baru terkait rating dan performa yang cenderung menyulitkan pengemudi. Jika tidak terpenuhi, pihak manajemen bisa langsung memutuskan kemitraan.

“Ini tentu merugikan. Contohnya layanan Go Food. Kita tidak boleh cancel pesanan. Nah, kalau kita engga punya duit untuk bayar pesanan bagaimana?. Sehingga, ya banyak yang berhenti, pindah ke Grab Bike,” imbuhnya.

Turmanto (52), pengemudi Gojek lainnya tidak bisa menyalahkan. “Sudah banyak yang enggak narik Gojek lagi, kita mau ambil order yang deket deket saja tidak boleh, bisa diputus kemitraannya. Ya, mau gimana lagi. Sekarang yang rajin paling cuma dapat Rp 3-4 juta.”

Gojek

Puncaknya, aksi demonstrasi para pengemudi Gojek pada 3 Oktober 2016 di kantor pusat PT Go-Jek Indonesia, Kemang, Jakarta Selatan. Para pengemudi menuntut manajemen Gojek berdialog terbuka.

Sistem penilaian performa menjadi tuntutan utama. Sebab, berpengaruh terhadap bonus. Bonus yang seharusnya diterima tak akan turun apabila mereka tak mencapai performa 50 persen. Angka itu lebih tinggi dibanding sistem penilaian yang ada sebelumnya.

Normalnya untuk mendapatkan bonus sebesar Rp140 ribu, pengemudi perlu mengumpulkan 14 poin dalam sehari. Poin tersebut diperoleh dari banyaknya order yang berhasil dipenuhi seorang pengemudi.

Untuk pesanan berjarak di bawah 5 kilometer, pengemudi akan mendapatkan satu poin. Pada jarak 5-10 kilometer, poin yang diperoleh 1,5 poin. Terakhir pada jarak di atas 10 km pengemudi dapat 2 poin.

“Ya, kami berharap pihak Gojek bisa membereskan masalah ini dengan cepat,” pungkasnya.