Feature

MEOLUT, Si Pendeteksi Bahaya Dini 'Zaman Now'

Sabtu, 05 Mei 2018 12:00:00
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Adi Wijaya

EOLUT, Si Pendeteksi Bahaya Dini 'Zaman Now'
EOLUT, Si Pendeteksi Bahaya Dini 'Zaman Now'

Share this








Pendeteksi bahaya dini atau disebut MEOLUT merupakan teknologi terkini dan berkelas internasional.

JAKARTA - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau lebih dikenal Badan SAR Nasional (BASARNAS) kian menyejajarkan teknologi pendeteksi bahaya dini 'Zaman Now' sekaliber internasional.

Kali ini, hadir sebuah alat bernama Medium Earth Orbit Local User Terminal (MEOLUT) atau dengan sebutan Stasiun Bumi Satelit SAR. 

Dengan alat tersebut, bahaya dini semakin cepat terdeteksi. Dibandingkan dengan alat sebelumnya, Low Earth Orbit Local User Terminal (LEOLUT) dimana MEOLUT mampu mendeteksi bahaya dini hanya dengan rentan waktu lima menit.

"Kalau dengan sistem LEOLUT, pendeteksian bahaya dini mencapai 2-3 hari. Sedangkan MEOLUT hanya dalam hitungan menit," kata Marsekal Madya TNI M. Syaugi, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), kepada Infonitas.com, Sabtu (5/5/2018).

Fokus Deteksi Kecelakaan Moda Transportasi

Sistem MEOLUT tergolong alat canggih sebagai pendeteksi bahaya dini. Fokus utamanya, mendeteksi kecelakaan moda transportasi, baik darat, laut, dan udara. Meski begitu, moda transportasi tersebut harus dilengkapi sistem radio keamanan (safety) berstandar internasional.

Seperti Personal Locator Bitter (PLB) pada moda transportasi darat, Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) moda transportasi laut dan Emergency Locater Transmitter (ELT) moda transportasi udara. 

"Jadi transportasi yang bisa dideteksi tentu harus memiliki kelengkapan sistem radio safety berskala internasional. Sehingga sinyal dapat ditangkap satelit," terangnya.

Dijelaskannya, sistem radio keamanan pada ketiga moda trasportasi akan memancarkan sinyal kepada satelit MEOLUT. Lantas, sinyal itu ditransmisikan dan dibaca oleh stasiun bumi satelit yang berada di kawasan Balai Diklat Basarnas, Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

"Tanda merah pada peta layar komputer akan muncul dalam waktu satu menit (belum terkonfirmasi). Sedangkan hijau akan muncul dalam waktu lima menit (sudah terkonfirmasi). Lokasi itu lah yang dipastikan terjadi bahaya dini. Sehingga dapat mempercepat petugas mencari lokasi kecelakaan," jelasnya.

Sistem MEOLUT Buatan Amerika Serikat

Pengoperasian MEOLUT bukanlah seperti kisah legenda Bandung Bondowoso, yang hanya memerlukan waktu satu malam untuk membangun seribu candi. Persiapan dibutuhkan dalam waktu setahun dengan tenaga ahli asal Amerika Serikat.

"Di sini ada empat antena penangkap sinyal. Itu jumlah minimum. Sudah cukup untuk mendeteksi dengan kecepatan tinggi," ungkapnya.

Meski tak menjelaskan total biaya pengadaan MEOLUT, dipastikannya sistem tersebut telah dimiliki BASARNAS secara penuh (100 persen). Bukan kontrak dan tidak memiliki masa tenggang waktu pemakaian. 

"Ya batas waktu pemakaiannya jika sudah hadir sistem terbaru yang lebih canggih. Seperti LEOLUT yang kini digantikan MEOLUT," paparnya.

Lanjutnya, sistem MEOLUT dipastikan dioperasikan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) profesional. Puluhan anggota telah telah diberikan pendidikan khusus sebelum sistem beroperasi.

"Kami pastikan SDM yang mengoperasikan sistem ini mempuni. Mereka standby selama 24 jam untuk terus memantau perkembangan deteksi bahaya dini di seluruh negara, khususnya Indonesia," tukasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Diklat BNPP Moch Barokna Haulah menambahkan, pengoperasian MEOLUT juga bertepatan penutupan program Pendidikan dan Pelatihan 146 pegawai BNNP, sejak 12 Maret 2018 hingga 4 Mei 2018.

Program yang digelar di lima lokasi berbeda, yakni Balai Diklat Basarnas, Kantor Pusat BASARNAS, Tebing Tanjungsari, Gunung Salak, dan Buperta Cibubur itu memberikan pelatihan mulai dari tingkat dasar hingga tinggat Tinggi.

"Program tersebut merupakan upaya mengembangkan SDM agar semakin profesional," tambahnya.

Jalin Sinergitas Antar Negara

Tak hanya dideteksi di Balai Diklat BASARNAS, pendeteksian bahaya dini melalui sistem MEOLUT pun dapat disaksikan di ruang Comment Centre Kantor Pusat BASARNAS, Kemayoran, Jakarta Pusat. Hal itu dilakukan guna pemantauan bersama.

"Hadirnya alat ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014. Dengan tugas mencari, menolong, menyelamatkan dan mengevakuasi korban jiwa," pungkasnya.

Dengan hadirnya alat tersebut, sinergitas antar negara pun semakin terjalin. Negara lain yang mempunyai alat serupa dapat saling memberikan informasi deteksi bahaya dini. Begitu pun BNPP yang dapat memberikan informasi tersebut kepada negara lain.

"Kita bisa bersinergi saling komunikasi dengan negara lain. Memberikan informasi deteksi bahaya dini," tutupnya.