Features

Mengenal Narkotika Jenis Baru Bernama Blue Safir

Kamis, 02 Februari 2017 18:15:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Amin Hayyu Al Bakki

Ilustrasi Blue Safir.
Ilustrasi Blue Safir.

Share this








Blue safir dapat mengakibatkan kematian bila dikonsumsi secara berlebihan.

KRAMAT JATI – Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali menemukan narkotika jenis baru yang beredar di kalangan masyarakat Indonesia. Setelah ramai dengan tembakau gorilla, kini BNN kembali menemukan narkotika jenis baru bernama Blue Safir yang merupakan turunan dari narkotika jenis Katinon. Lantas seberapa bahayakah Blue Safire itu?

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) mengatakan, cairan itu disebut Blue Safir karena warnanya yang biru muda seperti air laut yang dilihat dari permukaan. Blue Safir sendiri merupakan zat turunan dari senyawa Katinon. Katinon merupakan narkotika jenis baru yang pernah mencuat saat kasus narkoba yang menjerat artis Raffi Ahmad beberapa waktu lalu.

Buwas menyampaikan, dalam peredarannya, cairan blue safir bisa digunakan dengan cara dikeringkan lebih dahulu. Kemudian blue safir berubah menjadi serbuk kristal warna putih seperti sabu, sebelum akhirnya ditaburkan ke minuman alkohol maupun non alkohol. 

"4-CMC itu senyawa sintetik turunan katinon berbentuk kristal putih. Namun bentuk edarnya di Indonesia ilegal, berupa cairan warna biru dengan kemasan jual bernama blue safir," tutur Buwas di Kantor BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (2/1/2017).

Dapat Dicampur Minuman Beralkohol

Dalam penggunannya, serbuk kristal tersebut dapat dicampur ke dalam berbagai macam minuman baik beralkohol atau pun tidak. Hal itu dilakukan agar pengguna mendapatkan efek 'Fly' saat mengkonsumsi minuman tersebut.

"Balai Lab Narkoba BNN berhasil mengidentifikasi beberapa bentuk edar lainnya yaitu cairan berwarna coklat, cairan bening dalam kemasan botol warna hijau, dan cairan berwarna kuning," jelas dia.

Buwas menyebut, tentunya senyawa 4-CMC tersebut berbahaya bagi kesehatan, karena mempunyai efek stimulan seperti halnya sabu. Jenderal polisi bintang satu ini menjelaskan, efek pengonsumsi blue safir sendiri hampir menyerupai efek pengguna sabu.

Efek Seperti Sabu

Efek itu di antatsanya yakni pengguna akan merasakan euforia, merasa senang, percaya diri, semangat dan aktif, agresif, gelisah, pusing, panik, halusinasi, insomnia, berbicara ngelantur, dilatasi pupil, mulut kering, meningkatnya tekanan darah, dan pada dosis lebih tinggi dapat menyebabkan kejang, stroke, hingga koma.

"Bahkan dapat mengakibatkan kematian bila dikonsumsi secara berlebihan," ujar Buwas.

Seperti diketahui, BNN baru melakukan pengungkapan cairan blue safir sebanyak 50 liter pada 13 Januari 2017 lalu. Dua tersangka pun dibekuk atas nama Edi Pidono Phe alias Edi (50) dan Hendro (34) setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta pada Selasa 17 Januari 2017.

"Kita sita 50 liter. Nanti itu dikeringkan menjadi serbuk kurang lebih 42 kg beratnya. 1 Kg serbuk 4-CMC dapat menghasilkan 1.200 botol siap saji dengan volume 15 miligram tiap botol. Jadi 50 liter ini bisa jadi 50.400 botol. Ini harus jadi perhatian masyarakat karena ini jenis baru," pungkas dia. 

Dari keterangan para tersangka, minuman yang telah dicampur dengan serbuk atau cairan 4-CMC itu bermerek dagang 'Snow White'. Adapun harganya dibandrol dengan Rp 600.000 per gelas.

"Jadi blue safir ini diedarkan ke diskotik atau tempat hiburan malam. Dan karena harganya Rp 600 ribu per gelas, jadi yang pakai hanya golongan atas atau yang punya uang saja," pungkas Buwas.