Features

Mengenal Lebih Dekat Komunitas Kemayoran Senam Club

Minggu, 16 Juli 2017 15:00:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Yatti Febriningsih

Komunitas Kemayoran Senam Club
Komunitas Kemayoran Senam Club

Share this








Komunitas Kemayoran Senam Club sudah berdiri sejak 20 tahun lamanya dan selalu eksis mengadakan kegiatan senam ruti di Kemayoran.

JAKARTA – Senam saat ini mulai digandrungi semuan kalangan. Kegiatan olah tubuh ini banyak sekali dijumpai di berbagai kegiatan seperti Car Free Day (CFD). Salah satu penggiat senam juga datang dari berbagai komunitas, salah satunya komunitas Kemayoran Senam Club (KSC) yang tergabung dalam yayasan Jantung Sehat Indonesia.

“Komunitas kita ini namanya Kemayoran Senam Club (KSC). KSC ini selalu beraktifitas di arena Mega Glodok Kemayoran (MGK). Kami rutin mengadakan senam setiap satu minggu sekali, tepatnya setiap hari minggu mulai pukul 06.00 – 07.30 WIB,” kata Ketua KSC, Mardiono saat dijumpai Infonitas.com dilokasi, Minggu (16/7/2017). 

Mardiono mengatakan, awalnya komunitas ini terbentuk dengan niat sebagai wadah untuk berkumpul saja. Namun, tercetuslah untuk membuat Komunitas Senam Club ini yang seudah berdiri puluhan tahun lamanya. 

“Komunitas ini pada awalnya hanya kumpul-kumpul saja. Saya sebelumnya tidak menjabat, tapi sesepuh-sesepuh saya ini yang menjadi saksi hidup kurang lebih 20 tahun lalu. Pada saat itu area ini belum sebagus seperti saat sekarang ini,” ujarnya.

Dia melanjutkan, dari komunitas yang hanya segelintir saja lama-lama menjadi ratusan orang. Hal ini karena senam merupakan olahraga untuk menjaga kesehatan yang tentunya banyak orang menyambut kegiatan ini positif. Mardiono menyebut Anggotanya juga sampai saat ini terus bertambah dan selalu aktif melakukan senam rutin.

“Pernah pada tahun 2014 membuat kartu anggota. Itu kurang lebih 200 orang dan seiringnya waktu itu semakin berkembang. Tapi sekarang pasang surut karena senam ada dimana-mana. Sehingga mereka silahkan leluasa untuk ketempat yang memang disukai,” lanjutnya.

Keunikan KSC

Mardiono mengatakan, banyak orang yang ingin bergabung dengan komunitas senam ini karena memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah, jika orang lain sebelum melakukan senam di awali dengan melakuan pemasanasan fisik, namun komunitas KSC lebih memilih untuk melakukan pemasanan jantung sebelum melakukan senam.

“Sebelum kita melaksanakan aerobic, kita awali dengan senam jantung sehat. Karena apa, karena supaya pemanasan terlebih dalulu. Karena daya tahan tubuh kita kan belum fit sama sekali. Jadi selalu kita buka dengan senam jantung sehat,” jelasnya.

Tidak hanya senam, KSC ini juga punya banyak sederet kegiatan lainnya yang tidak kalah unik. Salah satunya adalah arisan gaul yang dipelopori oleh para anggotanya.

“Kegiatan kita ini ada kegiatan sosial yang berkaitan dengan para anggota yang terkena musibah.  Kita juga punya kegiatan namanya arisan gaul.  Yah mungkin nama itu tercetus dari ibu-ibu tuh, saya nggak tahu. Apakah mungkin anggotanya tidak mau disebut terlalu tua.  Arisan ini dua minggu sekali, arisan sambil bersilahturahmi,” lanjutnya.

Menariknya lagi, meskipun senam identik dengan wanita tidak begitu dengan komintas ini. Rata-rata tim intinya terdiri dari para pria yang selau hadir setiap kegiatan senam.

“Sebenarnya anggota dari yayasan jantung sehat itu ada sekitar 13 anggota, dan itu tidak cowok semua kok, ada seksi-seksi lain juga. Tapi, anggota inti memang rata-rata cowok,” tukasnya.

Features

Asyiknya Berakhir Pekan di Jakarta Food Festival Kelapa Gading

Sabtu, 14 November 2015 17:05:51
Editor : Denny | Sumber : kcm

Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading
Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading

Share this








Jakarta Food Festival 2015 kali ini menyajikan menu Eropa dan Asia

KELAPA GADING - Kemana anda biasanya menghabiskan weekend? Bila bingung mau kemana, coba saja sambangi daerah Kelapa Gading yang terkenal akan wisata kulinernya. Pasalnya, di daerah itu saat ini sedang digelar acara bertema kuliner yakni Jakarta Food Festival 2015, yang bertempat di La Piazza Kelapa Gading.

Pada event yang berlangsung dari 6-22 November 2015 ini, Jakarta Food Festival menghadirkan ragam menu, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara. Pada 2015 ini, Jakarta Street Food Festival menghadirkan suasana berbeda. Kali ini, La Piazza dipenuhi nuansa Eropa. Hal ini dipertegas dengan dekorasi bangunan dan gedung khas Eropa dan pernak-pernik lainnya.

Sajian jenis makanan ada pun disesuaikan dengan tema Eropa, seperti Henk’s Pizza, Fruit Chocolate Fondue, La Crepie, Pastalicious Petit Julien, Bitslicious, hingga beragam makanan khas negara lainnya, antara lain, Phat Phuc, MieChino, Ichitori. 

Namun bagi pengunjung yang setia dengan kuliner asli Nusantara, ragam hidangan lezat bisa dicicipi, mulai dari ketoprak Ciragil, Makobar (Martabak Kota Barat), Durian Dessert by The Pancake Museum, hingga Bakso Malang Cak Kumis. 

Pengunjung pun dibuat nyaman dengan dekorasi bergaya street café khas kota-kota metropolitan di Eropa sana. Anda pun bisa bersantai menikmati makanan ringan dengan kopi ataupun minuman segar dalam suasana santai dan menyenangkan.

Selain menyajikan makanan, Jakarta  Street Food festival juga diramaikan dengan penampilan live music, kuis-kuis berhadiah, demo membuat kue serta program-program diskon lainnya. Ayo, tunggu apa lagi, segera langkahkan kaki anda ke La Piazza Kelapa Gading.

Features

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 17:13:31
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

 Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).

Share this








Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.

Features

Hari Ibu dan Peran Wanita Sosialita dalam Keluarga

Minggu, 13 Desember 2015 14:46:31
Editor : rudiyansyah | Reporter : Wahyu Muntinanto

Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading
Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading

Share this








Walau memiliki segudang kegiatan, para wanita sosialita yang gemar arisan ini tetap menomor satukan keluarganya.

KELAPA GADING - Desember merupkan hari bahagia bagi para ibu di Indonesia, mengingat di tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu. Sedikit , Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No 316 Tahun 1959 menetapkan bahwa 22 Desember sebagai hari ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Pada awalnya, peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama.

Jika dilihat dari sejarah, betapa heroiknya kaum perempuan pada masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu lalu dimana para kaum permpuan seperti Cut Nyak Dien dan RA Kartini merintis organisasi perempuan melalui gerakan perjuangan.

Namun di era globalisasi dan seiring perkembangan zaman, hari ibu mempunyai pergeseran. Kini, para ibu modern juga memiliki organisasi atau kegiatan dalam meluangkan waktu. Salah satunya di lakukan oleh Fanny Lisi (39), seorang wanita yang berkarier di bidang properti.

Selain sebagai wanita karir, dirinya juga mengetuai sebuah komunitas Arisan New Hore di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dirinya pun tak berkeberatan disebut sebagai seorang sosialita sejati. Lagi pula, Fanny menganggap kegiatan yang dilakukan bersama komunitasnya adalah hal positif.

"Hari ibu itu untuk mengenang kebaikan ibu kita yang sudah berjasa membesarkan dan mendidik kita hinggaa kita seperti sekarang," ujar Fanny ketika menghadiri arisan New Hore di sebuah restoran bilangan Kelapa Gading, Jumat (11/12/2015).

Banyaknya pandangan miring terhadap komunitas sosialita atau arisanbukanlah hambatan bagi Arisan New Hore untuk terus berkarya. Bagi mereka, arisan yang dibuat merupakan wadah bagi para ibu-ibu menyalurkan inspirasi dan berbagi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita mikir positifnya saja, kaya kita udah lama nih gak ketemu ibu A atau B, dengan arisan kan jadi bisa ketemu, bisa juga ada yang gak kenal bisa saling kenal," jelas Fanny.

Memiliki kesibukan dengan jadwal yang padat bukanlah kesulitan bagi Fanny. Semua pertemuan untuk arisan sudah di persiapkan dengan matang. Seperti Arisan New Hore ini yang mengagendakan pertemuan mereka setiap tanggal 10 untuk mengocok arisan.

"Kita harus pintar bagi-bagi waktu aja, kalo bentrok ya kita atur jadwal lagi biar gak bentrok, misalnya kaya di arisan New Hore itu kan udah pasti kalo setiap tanggal 10 kita kumpul jadi di tanggal tersebut gak bisa diganggu," ucap warga Kelapa Gading ini.

Fanny menjelaskan, dalam tiap kegiatan arisan para wanita sosialita itu, mereka tidak hanya melakukan aktivitas bersifat hura-hura. Namun, mereka juga saling berbagi cara mengurus keluarga, terutama pendidikan anak-anak mereka.

"Kita kan dalam kelompok arisan ini banyak yang bisa dibahas seperti aktivitas anak dan perkembanganya, terus apa yang harus dilakukan ibu-ibu dalam tumbuh kembang anak," ucapnya.

Menurut Fanny, dari banyaknya kegiatan yang dimiliki bukan berarti menomor duakan keluarga. Dia menganggap keluarga tetap merupakan nomer satu dalam kehidupannya. "Mau berapa banyak aktivitas kita di luar, kita harus tetap mementingkan keluarga karena keluarga harus menjadi nomor satu," tutupnya.

Features

Tukar-Tambah Hape Berujung Pengadilan

Minggu, 27 Desember 2015 12:00:25
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Betty (57) korban pemukulan
Betty (57) korban pemukulan

Share this








Lantaran melibatkan penggede, kasus ini ditangani oleh Polres Metro Jakarta Utara dan sudah memasuki tahap persidangan.

PADEMANGAN – Betty (57) mungkin tidak akan pernah menyangka jika di Hari Ibu pada 22 Desember lalu, hari dimana seharusnya ia memeroleh apresiasi sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, justru harus menjalani persidangan guna memeroleh keadilan.

Karyawan swasta ini mengikuti persidangan pada Selasa (22/12/2015) lalu, dalam kasus penganiayaan berat terhadap dirinya dengan terdakwa seorang pengacara bernama Michael Pasaribu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Kasus ini bermula dari niatan warga Jalan Gading Kusuma 2, Blok GK, No.17, Perumahan Gading Kusuma, Kelapa Gading ini, untuk mengikuti acara trade ini salah satu vendor telepon seluler di Mal Kelapa Gading pada 3 Juli 2015.

"Saat itu saya datang ke acara Tread in untuk menukarkan Handpone milik saya Blackberry Z10 dengan Samsung S6," tutur Betty, Selasa (22/12/2015) lalu.

Usai melakukan pembelian, Betty pun bermaksud memindahkan data-data pribadinya dari hadnphone lama miliknya ke handphone yang baru dibelinya. Namun, penjaga counter tempatnya mengantri di counter nomor tiga memintanya untuk berpindah ke counter nomor satu.

"Saya berada di counter nomor tiga, minta tolong pindahin data dari Blackberry milik saya ke Samsung yang sudah saya tukarkan sebelumnya. Tapi karena dia (penjaga counter tiga) enggak mengerti, saya dioper ke counter nomer satu," ceritanya.

Merasa diperintahkan untuk pindah ke counter nomor satu, ibu empat anak ini pun langsung bergeser. Namun, seorang pria yang sedang mengantri di counter nomor satu tidak terima, saat Bety langsung berada di depannya.

"Mungkin karena dia merasa dilewati, saya ditegur sama bapak Michael. Tapi saya bilang saya hanya disuruh oleh penjaga counter nomor tiga untuk memindahkan data saya di counter nomer satu," lanjutnya.

Pada saat yang bersamaan, Betty yang tengah kesal dan menggerutu sendiri didorong oleh Michael hingga hampir terjatuh.

"Kamu itu siapa coba-coba nasehati saya," tukar Betty menirukan perkataan Michael.

Sementara, Betty yang didorong Michael mengatakan.

"Kok bapak main fisik sih sama wanita," sergahnya.

Mendapat jawaban demikian, emosi Michael pun memuncak dan dirinya langsung melepaskan pukulan tangan kosong sekuat tenaga ke wajah sebelah kiri Betty, tepatnya di bagian bawah mata. Sejurus kemudian Betty pun tersungkur.

Dibantu beberapa pengunjung mal lainnya, Betty pun dipapah berdiri. Sementara Michael berhasil diamankan pengunjung dan dilaporkan ke pihak keamanan Mal Kelapa Gading.

“Setelah kejadian hari itu saya pulang. Baru pada 27 Juli 2015 saya melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Utara,” tandasnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Utara Kompol Sungkono membenarkan adanya pelaporan ini dengan sangkaan pemukulan yang menyebabkan luka memar dan lecet pada pelipis mata sebelah kiri bawah.

"Benar bulan Juli lalu ada sorang ibu yang melapor ke Polres Metro Jakarta Utara karena mengalami penganiayaan saat mengantri di sebuah counter penukaran hape di wilayah Kelapa Gading. Pasalnya kita sangkakan Pasal 351 ayat (1)," ungkap Sungkono.

Kasus ini sendiri tengah bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Betty berharap, sidang kasus ini dapat segera diselesaikan dan Michael dihukum sesuai dengan perbuatannya.

Harapan Betty terasa wajar, karena informasi terhimpun, kasus ini melibatkan ‘penggede’ sehingga ‘dilimpahkan’ ke Polres Metro Jakarta Utara, setelah sebelumnya beredar kabar kasus ini tidak ditanggapi dengan baik Polsek Kelapa Gading.

“Ini kasus waktu Kapolsek Kelapa Gading yang dulu (Kompol Sutriyono). Waktu itu sudah diterima laporannya, namun karena kasus ‘penggede’, ‘dilimpahkan’ ke Polres (Metro Jakarta Utara),” singkat seorang sumber Infonitas.com.

Features

Rumah Pompa Kelapa Gading Diganggu Momok Sampah

Sabtu, 13 Februari 2016 14:04:28
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Sampah yang kerap menjadi momok di Rumah Pompa Kelapa Gading
Sampah yang kerap menjadi momok di Rumah Pompa Kelapa Gading

Share this








Sampah tali dan plastik kerap menyebabkan pompa di Yos Sudarso dan Kelapa Gading, Jakarta Utara, tidak berfungsi normal.

KELAPA GADING - Sampah lagi-lagi menjadi sumber masalah yang cukup sulit ditanggulangi. Banjir pun bisa diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat ketika membuang sampah. Bicara soal banjir, Kelapa Gading, Jakarta Utara, adalah salah satu wilayah yang jadi langganan banjir. Selain letak geografisnya yang terbilang rendah, banjir di Kelapa Gading disebabkan oleh sampah yang menghiasi sungai-sungai yang melintas di salah satu kawasan elit Jakarta itu.

Walau kerap jadi biang keladi, nyatanya masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Ini dirasakan oleh warga dan beberapa petugas atau penanggung jawab rumah pompa yang selalu bekerja mengontrol ketinggian air yang tak kenal waktu. Tak pelak, momok bernama sampah menghantui para petugas rumah pompa air tersebut.

Kelapa Gading sebenarnya telah dipersenjatai tiga rumah pompa. Dua berada di Jalan Yos Sudarso, dan satunya bernama Rumah Pompa Waduk Kelapa Gading. Ketiganya adalah rumah pompa utama yang mengatasi genangan air dan banjir di sejumlah titik wilayah Kelapa Gading

Wahyudi (35), penjaga Rumah Pompa Yos Sudarso 1 mengaku sudah siap jika musim penghujan tiba. Tiga mesin pompanya pun berfungsi dengan baik menyedot air. Ketiganya dapat menyedot air sebanyak 2.700 liter perdetik dengan asumsi satu mesin menyedot 900 liter per detik.

Air tersebut terlihat mengucur deras dan terbuang di sebuah saluran Penghubung (PHB) di Jalan Yos Sudarso. Pantauan yang sama terlihat di Rumah Pompa Yos Sudarso II, ketiga mesinya beroperasi dengan normal.

Apriadi (35) selaku operator dan Purwanto (40) selaku penanggungjawab, mengoperasikan tiga pompa di Rumah Pompa di Yos Sudarso II. Ketiga pompa bermerk Grundfos dan dapat mengalir air 900 liter per detik itu pun beroperasi dengan baik.

Apriadi selaku operator, mengaku jika ketiga mesinya tak ada kendala namun menurutnya yang menjadi kendala ketiga pompanya macet adalah sampah.

"Sampah berupa karung, plastik dan tali sering membuat ampere pompanya panas. Yang paling saya takutkan adanya tali tambang atau sejenisnya tersangkut di baling-baling. Kalau tersangkut, ya harus dibongkar lagi, dan pastinya mesin mati secara mendadak," katanya, Jumat (12/2/2016).

Oleh karena itu, Apriadi sepakat bahwa sampah merupakan momok utama bagi dirinya. "Kalau sebab lain jarang terjadi. Pokoknya sampah dan paling berbahaya itu karung dan tali tambang," ungkapnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rozik (36), penanggungjawab sekaligus operator di Rumah Pompa Waduk Kelapa Gading. Selama dirinya bekerja satu tahun, tak pernah mengalami kendala lain terkecuali sampah yang pernah membuat dua pompa di sana tak berfungsi normal.

"Yang paling berbahaya memang tali tambang. Kalau sudah tersangkut di baling-baling, mesin menjadi overheat (panas) dan mesin berhenti secara mendadak. Mau tidak mau taling yang tersangkut di baling-baling yang ada dibawah air itu harus dicabut. Beruntung kalau mesinnya tak mengalami kerusakan, kalau rusak justru harus dibongkar untuk dilakukan perbaikan," paparnya.

Dirinya pun berharap, dua mesin pompa yang mampu menyedot air sebanyak 2000 liter per detik tersebut diharapkan tak terjadi kerusakan sehingga wilayah Kelapa Gading tidak terendam banjir.

Features

Kisah Jubaedah, Warga Kelapa Gading yang Tinggal di Rumah Kumuh

Senin, 07 November 2016 11:04:28
Editor : rudiyansyah | Reporter : Muhammad Azzam

Jubaedah bahagia, rumahnya terpilih dalam program bedah rumah Bazis Pemkot Jakarta Utara.
Jubaedah bahagia, rumahnya terpilih dalam program bedah rumah Bazis Pemkot Jakarta Utara.

Share this








Jubaedah menempati rumah di Kelapa Gading sejak lahir. Keterbatasan biaya membuat kondisi rumahnya kian memprihatinkan.

KELAPA GADING – Kondisi rumah Jubaedah (56) di Jalan Haji Oyar RT 002 RW 02, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara tampak memprihatinkan. Timpang dengan rumah-rumah yang ada disekelilingnya. Cenderung terkesan megah. Atau paling tidak, layak ditempati.

Dindingnya hanya berupa triplek, bukan susunan bata merah. Atapnya dari seng yang sudah berkarat dan berlubang di beberapa bagian. Bahkan, kondisinya sudah nyaris roboh saat ini.

Di rumah seluas 42 meter persegi ini, Jubaedah tinggal bersama suami, anak, menantu, dan dua cucunya. Apa daya, kondisi perekonomian yang cenderung pas-pasan, membuat Jubaedah dan keluarga tidak mampu merenovasi.

Suaminya menderita sesak nafas. Tidak mungkin untuk bekerja berat. Anaknya hanya bekerja sebagai petugas Penanganan Prasarana Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Pegangsaan Dua.

“Gimana mau renovasi, mau makan saja susah. Rumah ini peninggalan orangtua. Saya lahir di sini. Dari dulu, memang belum pernah diperbaiki. Kalau hujan, atap bocor dan air masuk ke dalam. Terus juga sering banjir. Kalau sudah basah semua, kami tidak  ke mana-mana dan terpaksa bertahan di sini,” katanya.

Pertolongan Datang

Beruntung, pertolongan datang. Petugas puskesmas yang datang mengobati suaminya terkejut melihat kondisi rumah. Terlebih, ketika itu, sedang ada genangan. Hampir setiap hari air selalu merembes ke dalam rumah.

Tim puskesmas langsung melaporkan hal ini ke petugas kelurahan. Satu pekan kemudian, tim kelurahan datang melihat lokasi dan menyampaikan bahwa pemerintah kota akan merenovasi rumah Jubaedah.

“Saya langsung menangis. Saya bahagia. Sebelumnya, saya sempat putus asa, kenapa rumah selalu ada genangan air. Alhamdulillah, ternyata pemerintah mau membantu. Sekitar akhir Oktober, rumah saya langsung dibedah,” ungkap Jubaedah.

Semua dindingnya diganti batako. Begitupun atapnya, menggunakan baja ringan dan asbes.

Kini, proses renovasi sudah masuk tahap finishing. Kondisinya sudah jauh lebih layak. "Saya ingin anak anak bisa kumpul kembali, rasanya sedih saat Lebaran lalu orang-orang merayakan, lah kita malah basah-basahan kebanjiran," pungkasnya.

Features

Menyelisik Kemegahan Kantor RW 08 Kelapa Gading Barat

Rabu, 23 November 2016 15:22:06
Editor : Wahyu AH | Sumber : Dokumentasi Info Gading

Kantor RW 08 Kelapa Gading.
Kantor RW 08 Kelapa Gading.

Share this








Proses renovasi dimulai pada Agustus 2013.

JAKARTA – Jumlah penduduk RW 08 Perumahan Gading Kirana, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara  cenderung bertambah dalam kurun waktu 23 tahun. Atau, pasca serah terima dari PT Nusa Kirana selaku pengembang Perumahan Gading Kirana.

Pada 2014 saja, sekiranya sudah ada 900 Kepala Keluarga (KK) yang menempati area perumahan dan 300 KK di area rumah kantor (rukan) dengan jumlah penduduk 4.800 jiwa.

Atas dasar itulah, pengurus RW 08 ketika itu berinisiatif melakukan renovasi bangunan kantor RW guna memberikan wadah untuk warga berinteraksi, sekaligus untuk meningkatkan pelayanan. “Lagipula, bangunan ini, awalnya adalah kantor proyek pengembang. Kondisinya sudah tidak layak,” kata Ketua RW 08 Kelapa Gading Barat Sutjipto, Rabu (23/11/2016).

Proses renovasi dimulai pada Agustus 2013. Setelah 80 persen rampung, muncul hambatan. Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta mengancam akan membongkarnya karena tidak memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Proses renovasi akhirnya tertunda.

“Sebagai RW terpilih, ketika itu, saya langsung mengambil tindakan cepat dengan melakukan perizinan dan proses mediasi dengan seluruh instansi terkait,” tuturnya.

Hasilnya mencapai titik terang. Pada Mei 2015, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta menerbitkan surat nomor 468/-1.711 perihal persetujuan pemanfaatan lahan dengan beberapa ketentuan.

Antara lain, lahan harus dimanfaatkan untuk kantor RW 08 dan balai warga. Perizinannya atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan selanjutnya agar diserahkan tanpa ganti rugi kepada pemprov sesuai ketentuan perundang-undangan. “Setelah terbit surat itu, kami langsung melanjutkan pembangunan,” lanjut Sutjipto.

Kantor RW 08 dan balai warga dibangun dengan mengusung konsep “Berwibawa”. Secara fungsional, dia menerjemahkan konsep itu dalam aspek pembagian luas yang hampir berimbang antara kantor RW dengan balai warga (ruang serba guna). Kantor RW sekitar 450 meter persegi (dua lantai) dan balai warga sekitar 300 meter persegi.

“Kami pun menyediakan tempat beribadah yang layak, semisal musala dan taman beserta balairung yang juga dapat mengakomodasi kebutuhan warga untuk bersosialisasi,” katanya seperti yang dipetik dalam Proposal  Pembangunan Kantor RW dan Balai Warga RW 08,.

Secara arsitektural, bangunan dirancang dengan bentuk yang sederhana yang dikombinasikan dengan pengulangan garis-garis vertikal agar terkesan monumental. Atapnya pun cukup tinggi. Semua dibalut dengan warna putih biar terkesan elegan.

Menurut Sutjipto, total biaya renovasi diperkirakan mencapai Rp 2,5 miliar. Dana ini dikumpulkan sejak 10 tahun lalu secara swadaya. “Pengurus RW 08 sejatinya akan terus berupaya agar menjadi prototype dalam mendukung penuh program pemerintah. Kami ingin memiliki standar sebagai percontohan RW-RW lainnya,” pungkasnya.

Features

Kisah Tukang Cukur Keliling di Kelapa Gading

Senin, 28 November 2016 14:32:17
Editor : Wahyu AH | Reporter : Muhammad Azzam



Share this








Menjadi tukang cukur keliling bukanlah hal yang mudah. Terlebih, bila dilakukan oleh orang yang sudah berusia 70 tahun.

KELAPA GADING – “Cukur, cukur, ayo yang mau cukur bisa pak.” Ya, Purwanto (70) selalu meneriaki kalimat itu saat berkeliling menawarkan jasanya. Menyusuri wilayah-wilayah RW padat penduduk di kawasan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Gayanya tidak mencolok, hanya mengenakan topi dan tas berisi peralatan cukur, termasuk kursi lipat. Teriakannya pun tidak lagi lantang, termakan usia.

Purwanto sudah menjalani profesinya sebagai tukang cukur keliling sejak 11 tahun lalu. Tepatnya, usai pensiun sebagai PNS di lingkungan TNI.

Dia mulai berkeliling sejak pukul 07.00 WIB. Berawal dari area rumahnya di kawasan Pegangsaan Dua. Rute terjauh, sampai area pemukiman di sekitar Perintis Kemerdekaan. 

“Kalau sudah cape, ya istirahat atau pulang dulu. Saya lihat kondisi fisik saja, kadang jam 1 siang udah pulang, kadang sampai sore. Yang jelas, saya keluar keliling harus pagi karena biar limpah rejekinya,” terang pria yang akrab disapa Pakde Pur kepada infonitas.com, Jumat (25/11/2016).

Dalam satu hari, dia bisa mendapat 2-7 pelanggan. Pakde Pur sama sekali tidak pernah mematok tarif untuk jasanya. Bagi dia, kegiatan ini hanya untuk mengisi kekosongan.

“Sekalian olahraga saja, isi kekosongan. Soal pendapatan, saya tidak mikiran. Lima anak saya kan juga sudah kerja dan berkeluarga,” papar kakek 4 cucu ini.

Ada yang bayar RP 5 ribu, Rp 10 ribu, ada juga yang murah hati memberi Rp 25 ribu. Namun, tak jarang pula yang memberi Rp 2 ribu atau Rp 4 ribu. “Semua saya terima, itung-itung nolong orang. Beruntung saya punya keahlian nyukur rambut, itu tandanya saya masih bermanfaat,” sahut Pakde Pur seraya tersenyum.

Mimpi Jadi TNI

Pakde Pur lahir di Yogyakarta. Ayahnya adalah seorang tentara. Saat usia belasan tahun, sang ayah berpindah tugas ke Garut, Jawa Barat. Keluarga mau tak mau ikut ke Garut.

Namun, tidak lama kemudian, kabar buruk datang. Sang ayah terkena penyakit jantung hingga meninggal dunia. Sebagai anak laki-laki pertama, Pakde Pur merasa beban keluarga ada di pundaknya. “Mulai saat itulah, saya mulai belajar nyukur dan bekerja di pangkas rambut milik tetangga. Di sini pula saya dapat gadis asli Garut.”

Kendati begitu, semangatnya untuk meneruskan profesi sang ayah tetap menggebu. Sambil bekerja, setiap ada pembukaan tes menjadi anggota TNI, Pakde Pur selalu menyempatkan diri mendaftar. Sayangnya, tidak pernah lolos.

“Nasib malah menjadi anggota PNS TNI. Awalnya, di Garut. Lalu, pada 1987 pindah ke Jakarta. Saya beli rumah di Cakung, terus pindah ke Pegangsaan Dua pada 2004, saat pensiun,” jelasnya.

Saat ini, Pakde Pur tinggal berdua bersama istrinya, Ema (59). Kelima anaknya sudah memiliki keluarga dan memilih pisah dari orangtua.  Dia berharap, di usianya yang sudah semakin renta, dia masih bisa terus bermanfaat bagi orang lain.

Features

Ada Pohon Natal dan Kreta Rusa Raksasa di Kelapa Gading

Sabtu, 17 Desember 2016 12:27:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Muhammad Azzam

Pohon Natal dan Kereta Kuda Raksasa di pintu masuk RW12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pohon Natal dan Kereta Kuda Raksasa di pintu masuk RW12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Share this








Pohon Natal dan kereta kuda raksasa ini merupakan hasil buatan warga RW 12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.

KELAPA GADING – Mendekati perayaan Natal, berbagai ornamen untuk menyemarakkan Natal mulai meramaikan beberapa tempat di Kelapa Gading. Seperti di RW 12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang memasang pohon Natal ukuran raksasa.

Pohon Natal ini memiliki tinggi 8 meter dan berdiameter 2,4 meter dilengkapi berbagai ornamen bola-bola serta lampu warna warni. Selain pohon Natal raksasa RW 12 pun membuat kreta Rusa Sinterklas yang sedang membawa kado. Kereta ini juga dibuat dengan ukuran raksasa dengan panjang 10 meter. Pohon Natal dan Kreta Rusa dipasang tepat di pintu gerbang RW 12 di Jalan Raya Kelapa Lilin.

Pembuatan pohon Natal dan kereta rusa tersebut dilakukan swadaya oleh masyarakat sekitar. Selama dua bulan wrga beserta pengurus RW gotong royong membuat semunya. "Kita mulai pembangunannya 2 Oktober, pohon dan Kreta Rusa kami pasang 2 Desember," ujar Ketua RW 12 Pegangsaan Dua, Sudirman kepada infonitas.com, Jumat (16/12/16).

Sudiman bangga dengan kreatifitas dan kerjasama warganya dalam membuat pohon Natal dan kereta kuda tersebut. Apalagi pohon Natal dan kereta kuda seperti ini belum ada di Kelapa Gading.

"RW 12 selalu berani tampil beda dengan yang lain, salah satunya pohon Natal ini. Di mall atau gereja saja belum ada yang sebesar ini, ditambah pohon ini 4 dimensi dilihat dari sudut manapun tetap terlihat jelas bentuk pohonnya," tegasnya.

Kesulitan

Dalam mengerjakan pohon Natal dan kereta kuda raksasa bukan tanpa kesulitan. Ukuran pohon yang cukup tinggi membuat warga kesulitan memasang pohon tersebut karena dibuat 4 lapis tidak kerucut begitu saja seperti pohon Natal kebanyakan.

"Dari segi bentuk ini benar benar pohon natal yang asli. Bahan juga kita buat dari daur ulang besi pipa bekas tiang listrik. Asli buatan pengurus bersama warga yang beli hanya lampu, daun-daun nya saja,"jelasnya.

Dalam membuat pohon Natal dan kereta kuda raksasa, warga Pegangsaan Dua harus merogoh kocek Rp 75 juta. Dana tersebut merupakan hasil patungan dari seluruh warga. "Saya memberi ide kepada warga pohon Natal dan Kreta Rusa Raksasa ini mereka langsung apresiasi dan setuju," ungkapnya.

Menurutnya, hal yang paling berkesan adalah selama proses pembuatan. Sebab, kerjasama dan gotong royong membuat warga bersatu. Canda tawa selalu mewarnai saat proses pembuatan pohon Natal dan kereta kuda tersebut. Sehingga saat pohon jadi dapat dinikmati seluruh warga.

Apalagi, lanjut dia, kreasi warganya itu tidak hanya dinikmati warga RW 12. Tetapi warga lainnya dan pengendara yang melintas ikut menikmati, banyak mereka yang berhenti hanya untuk sekadar berfoto di pohon natal dan Kreta Rusa Raksasa itu.

"Benar-benar menjadi daya tarik warga se-Kelapa Gading dan warga luar Kelapa Gading. Bahkan ketua RW lain pun datang ke kami menanyakan pohon itu beli dimana, kami jawab itu hasil karya buatan kami bersama warga," ungkapnya.

Sudirman mengatakan, pohon Natal dan kereta raksasa ini sekaligus sebagi symbol pemersatu umat. Dia mengaku meski beragam Islam dia rela mencurahkan tenaganya dalam proses pembuatan. Dia hanya ingin menghormati warganya yang kebanyakan dari mereka ikut merayakan Natal.

“Dan yang terpenting ada rasa dalam batin kepuasan sendiri bisa menyenangkan warga dan warga pun bangga karena memang hasilnya terlihat mewah,” ujarnya.

Features

Asyik Main Ular Tangga Jumbo di RPTRA Biru Laut Kelapa Gading

Senin, 19 Desember 2016 21:02:41
Editor : | Reporter : Muhammad Azzam

Ular Tangga Jumbo di RPTRA Biru Laut Kelapa Gading.
Ular Tangga Jumbo di RPTRA Biru Laut Kelapa Gading.

Share this








Permainan ular tangga jumbo sengaja dihadirkan oleh RPTRA Biru Laut Kelapa Gading. Warga sambut dnegan hangat.

KELAPA GADING - Permainan ular tangga sudah lazim menjadi permainan anak-anak. Permainan ini sangat populer di tahun 70 hingga 80-an. Hal lain yang unik dari permainan ini adalah adanya ganjaran hukuman dan reward bagi pemainnya. Permaianan ini dimainakan oleh beberapa orang dengan modal dadu dan tidak bisa dilakukan seorang diri. 

Namun, dalam perkembangannya permainan ular tangga ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Peraturan permaianan tetap sama, namun dalam permainan tersebut terkadang dimasukkan pesan-pesan moral khusus. Seperti pesan mengajarkan anak tentang disiplin, lagu daerah, serta kata-kata motivasi lainnya. Bentuk dadunya pun besar serta bentuk papan ular tangganya besar berukuran 3 x 3 meter.

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Biru Laut RW 10 Kelapa Gading Timur menyediakan permainan ular tangga Jumbo. Tiap sore banyak anak-anak bermain di sana. Canda tawa anak-anak saat bermain pun pecah.

Menurut Fahmi pengelola RPTRA Biru Laut, tujuan dari permainan ular tangga ini adalah memberikan hiburan yang mengedukasi anak-anak dalam bermain.

Ular Tangga Jumbo di RPTRA Biru Laut Kelapa Gading.

"Jadi ada pesan -pesan tiap anak tangganya yang harus di baca dan dijawab setiap anak. Seperti menyanyikan lagu anak, lagu Indonesia Raya, dan kata-kata motivasi untuk semangat dalam menuntut ilmu,"paparnya kepada infonitas.com  di RPTRA Biru Laut, RW 01 Kelapa Gading , Jakarta Utara, Senin (19/12/16).

"Ada pesan-pesan dalam setiap gambar yang ada tangga  dan ularnya," katanya. 

Permaian ular tangga raksasa ini rupa-rupanya disambut meriah anak anak yang bermain di RPTRA Laut Biru RW 10 Kelapa Gading Timur. Mereka yang bermain tak hanya anak-anak. Tetapi, ada juga remaja. ibu-ibu dan bapak-bapak pun terkadang turut serta menjajal permainan ini.

Para orang tua dan mereka yang sudah dewasa ingin bernostalgia dengan permainan ular tangga yang sempat populer dalam zaman kanak-kanak mereka dulu. Karena permainan ini memang mengasyikan dan bisa jadi hiburan tersendiri disaat hari libur Sabtu dan Minggu.

Aturan main Ular Tangga Jumbo:

1.Sebagai bidak adalah orang/manusia
2.Setiap kali main adalah 4 orang
3.Siapa yang paling duluan mencapai angka tepat 64 sebagai pemenang.
4.Pemain melemparkan dadu Jumbo dan jalan sesuai hasil lemparan