Feature

Menelusuri Kondisi Mal di Pluit

Rabu, 08 November 2017 12:45:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Farid Hidayat

Suasana Pluit Village
Suasana Pluit Village

Share this








Pengelola pusat perbelanjaan harus dapat mengikuti perkembangan pasar saat ini. Sebab, masyarakat sekarang lebih suka selfi atau swafoto di manapun berada.

PENJARINGAN - Beberapa waktu lalu, Bank Central Asia (BCA) mengeluarkan riset tentang pusat perbelanjaan di Jabodetabek. Hasil survei perbankan milik PT. Djarum Tbk ini, menyatakan ada 10 pusat perbelanjaan mengalami penurunan penjualan dan 10 pusat perbelanjaan menanjak atau mengalami peningkatan penjualan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang diterima Info Pluit Kapuk, 10 pusat perbelanjaan di Jabodetabek yang mengalami keterpurukan atau dalam riset BCA tersebut dinamai Old Mall, yakni Metro Pasar Baru, Taman Palem Mall, Glodok Plaza, Mangga Dua Mall, Mangga Dua Center, ITC Cempaka Mas, Mangga Dua Pasar Pagi, ITC Roxy Mas, Pasar Atom, Harco Mangga Dua. Kesepuluh mal tersebut tingkat pertumbuhan penjualan (Sales Growth) mengalami minus atau penurunan sepanjang kuartal pertama tahun 2017 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni (-) 59% hingga (-) 16%.

Sementara untuk 10 mal yang pertumbuhan penjualan mengalami peningkatan atau dalam riset tersebut disebut dengan Modern Mall, yakni Gandaria City 20%, Kasablanka Mall 18%, Mall Central Park 14%, Summarecon Mall Serpong 14%, Metropolitan Mall 13%, Plaza Indonesia 12%, Pondok Indah Mall 9%, Karawaci Supermal 9%, Grand Indonesia 9%, Puri Indah Mall 8%. Tingkat pertumbuhan itu, dilihat dari Quatal 1 2017 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari hasil survei BCA tersebut, Mal yang berada di kawasan Pluit Kapuk, Jakarta Utara tak masuk dalam daftar. Bisa diasumsikan, empat pusat perbelanjaan yang berdiri di wilayah Kecamatan Penjaringan, seperti Emporium Mall Pluit, Pluit Village, Baywalk Mall Pluit hingga PIK Avenue berada di zona stabil, dalam artian tidak mengalami penurunan maupun peningkatan penjualan. Namun, dari semua itu, tim Info Pluit Kapuk beberapa waktu lalu menyusuri salah kedua mal tersebut saat weekdays sekitar pukul 13.00 WIB.

Dari hasil penyusuran pertama di Baywalk Mall Pluit, pusat perbelanjaan yang berada di pinggir laut ini tak begitu ramai pengunjung. Terlihat dari beberapa karyawan outlet-outlet di sana lebih banyak menganggur daripada melayani pembeli. Sejumlah karyawan outlet hanya berdiri sambil mengobrol sesama rekan kerja lainnya. Ketika ditanya, salah satu karyawan outlet aksesoris asal Jepang, Yohan Setiawan (27) mengatakan mal ini hanya ramai ketika hari Sabtu dan Minggu.

"Kalau di hari biasa paling kalau ada tanggal merahnya saja baru ramai. Kalau di hari biasa seperti ini paling kebanyakan penghuni apartemen," terang Yohan.

Selain itu, Linda Armita (45) penghuni apartemen Green Bay Pluit mengatakan hal sama. Saat hari biasa, Baywalk Mall Pluit tidak terlalu ramai pengunjung dan memang sepertinya kebanyakan dari penghuni apartemen yang biasanya belanja untuk kebutuhan makanan.

"Kalau saya ke sini buat beli belanja kebutuhan makanan karena kan disini ada supermarket jadi dari pada ke pasar mending langsung turun ke bawah," ungkap dia.

Hal yang sama juga terlihat di Pluit Village Mall. Pusat perbelanjaan yang lokasinya tak jauh dari Baywalk Mall Pluit ini juga terhampar pemandangan sepi pengunjung. Mal yang terletak di tengah pemukiman penduduk yang mayoritas peranakan Tionghoa, saat ini sedang ada event salah satu developer ternama yang sedang memamerkan unitnya. Salah satu pengunjung Herman S (45) warga Pluit mengatakan, saat ini datang ke Mal karena ada keperluan penting. Ketika ditanya soal sering tidak ke Pluit Village Mal, dia mengatakan sangat jarang dan menurutnya mal ini dilihatnya sedikit ramai.

"Ya saya jarang sekali kesini, jika ada urusan baru ke sini. Sekarang juga lagi sambil lihat ini ada pameran. Ya kalau dilihat lumayan ramai tempatnya," ujar Herman.

Namun, pendapat berbeda dilontarkan oleh salah seorang karyawan restoran yang berada di lantai 4 Imam (27). Pria ini mengatakan sepi kalau di hari sedangkan, saat akhir pekan selalu ramai dengan pembeli. “Cukup ramai kalau weekend apa lagi libur tanggal merah pasti ramai ditambah lagi kalau sabtu minggu ada event lumayan ramai," terang Imam.

Pengelola Mal Harus Melek Digital

Menanggapi kondisi mal saat ini, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Stefanus Ridwan memiliki pandangan berbeda. Direktur Utama (Dirut) PT. Pakuwon Grup Jati Tbk ini mengatakan, pertumbuhan sales yang menurun sebenarkan tergantung dari inovasi dari pihak pusat perbelanjaan. Dan, dia beranggapan pernyataan old mall atau mal tua yang mengalami penurunan tidak tepat. Sebab, Plaza Indonesia, yang merupakan pusat perbelanjaan kawakan mampu bertengger di jajaran mal yang pertumbuhan penjualannya mengalami peningkatan.

“Saya Cuma enggak setuju yang satu old mall dan satunya modern mall. Mestinya yang satu bisa menyesuaikan dengan situasi pasar yang sedang berubah (digital era),” beber Ridwan saat berbincang dengan Info Pluit Kapuk.

Lantas Ridwan menjelaskan, saat ini pengelola mal harus bisa mengikuti tren yang tengah berkembang di masyarakat. Era digital, semakin membuat orang cenderung memamerkan apa yang telah dilakukan dalam bentuk foto. Kemudian, meng-upload ke media sosial seperti instagram. Minimal, mal saat ini harus instagramable.

Selain itu, Ridwan juga memberikan tips agar mal tetap bertahan di tengah pesatnya pertumbuhan pusat perbelanjaan saat ini. Yakni, pengelola harus  meng-update seluruh informasi terkait mal melalui media sosial, bisa lewat instagram, facebook atau twitter. Tujuannya, agar masyarakat mengetahui kegiatan-kegiatan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Misalnya, event musik, kuliner, bazar pakaian hingga diskon besar-besaran, bahkan tempat-tempat kuliner terbaru.

“Saat ini, masyarakat sedikit-sedikit update di media sosial. Lagi makan update, lagi jalan update. Jadi pengelola mal harus bisa tangkap ini. Selain itu, barang-barang yang dijual harus update. Jangan barang-barang lama yang dijual,” jelas Ridwan.

Berbeda halnya dengan Andy K. Natanael Vice President Director PT. City Sentul. Ia mengaku . pusat perbelanjaan yang sepi akibat ketatnya persaingan. Ditambah, jumlah pertumbuhan mal di Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat. Untuk itu, pengelolaan pusat perbelanjaan harus lebih jeli dan kreatif agar tetap memikat para pengunjung.

Adapun fenomena penutupan gerai di pusat perbelanjaan pada beberapa waktu belakangan ini dipicu oleh dua faktor. Petama perekonomian Indonesia sedang lesu. Kedua, gaya hidup konsumen beralih ke e-commerce.

Tanda-tanda pusat perbelanjaan akan mengalami kebangkrutan. Diantaranya, banyak toko furniture yang menyewa stan di mal, mengingat untuk membuka toko pasti membutuhkan ruang yang luas, maka harga sewanya turun. Kedua,  showroom mobil mulai masuk mal. Hal ini sama dengan toko furniture, alasannya persoalan space yang besar. Dan ketiga, toko alat ibadah juga mulai menyewa stan di mal, karena peruntukannya untuk menjual peralatan ibadah, maka pengelola mal memberikan harga sewa mal yang murah.