Feature

Mawar dan Tangisan Tarni di Hari Kartini

Jumat, 21 April 2017 14:45:00
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Chandra Purnama

jakarta
jakarta

Share this








Dialah Tarni, RA kartini masa kini seorang Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta.

JAKARTA - Sosok pejuang wanita di tubuh Raden Ajeng Kartini, tetap tumbuh di hati para perempuan Indonesia. Perjuangan bukan hanya sekedar membela tanah air tercinta yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, namun perjuangan bisa dilihat dari berbagai sisi kehidupan. Seperti yang dilakukan Tarni (38).

Wanita yang bertugas sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta ini, berjuang dengan caranya sendiri. Ditengah para lelaki yang berjuang menjadi tulang punggung keluarga, Tarni harus rela menjadi salah satu dari rombongan PPSU yang membersihkan kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Meskipun menjadi wanita satu-satunya, bukan berarti Tarni menjadi pemalas dan menunggu para lelaki kekar yang mengerjakan pekerjaannya. Dia yang sudah dikarunia dua orang putri itu, tetap semangat membanting tulang untuk kelangsungan hidup sang buah hati.

Berkat ketekunan dan rasa cintanya terhadap pekerjaannya, Tarni menjadi salah satu sosok wanita yang dipilih aplikasi Qlue, sebagai pelopor media pelaporan warga DKI Jakarta untuk mendapatkan penghormatan di Hari Kartini yang jatuh pada Jumat (21/4/) ini.

Meskipun tidak mengharapkan penghargaan. atas dedikasi tinggi menjadi ibu kota tetap bersih, namun tampaknya Tarni pantas dianugetahi kartini masa kini. Oleh sebab itu, Qlue memberikan sebuah penghargaan sebesar-besatnya. Bukan uang atau piagam penghargaan, tapi setangkai mawat merah yang melambangkan gagah berani di sosok wanita.

"Setangkai mawar ini tidak berharga mahal, tapi hari ini kami melihat banyak raut muka haru dan bahagia hanya dengan setangkai bunga. Keberadaan mereka sehari-hari mungkin terabaikan, momen hari ini yang mengingatkan kami akan jasa para petugas dinas lapangan perempuan dalam kehidupan kota," ungkap Stephanie Edelweiss selaku perwakilan dari Qlue.

Keberadaan wanita yang bertugas menjaga kebersihan ibu kota, kerap dipinggirkan oleh para penguasa. Para wanita masih dianggap lemah untuk pekerjaan lapangan, yang dituntut otot bukan rasa keibuan. Tapi siapa sangka berkat rasa keibuan, para pekerja laki-laki semakin bersemangat memenuhi tuntutan pekerjaan.

"Kami jadi kepacu, wanita itu masih bisa bekerja kasar yang biasanya untuk laki-laki. Ini memotivasi kami," ungkap Rasno (35), pekerja PPSU yang satu regu dengan Tarni

Tarni yang mendapat kado terindah dalam hidupnya ini berpesan kepada seluruh wanita Indonesia. Menjadi RA Kartini bukan berarti berjuang mencapai kemerdekaan RI, tapi bagaimana sosok wanita menyikapi perkembangan zaman agar terus berkarya dan berusaha.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perempuan Indonesia. Kesetaraan gender yang mulai diakui di negara Indonesia, diharapkan bisa menjadi pemicu para wanita terus mengembangkan pola fikirnya agar tetap bisa dihargai oleh kaum lelaki.

"Wanita itu jadi jangan dibawah bayang-bayang laki. Meskipun kodrat kita tetap menjadi tulang rusuk para pria. Tapi bisa kita berjuang melawan zaman dengan cara kita sendiri," pesan Tarni.