Features

Mawar dan Tangisan Tarni di Hari Kartini

Jumat, 21 April 2017 14:45:00
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Chandra Purnama

jakarta
jakarta

Share this








Dialah Tarni, RA kartini masa kini seorang Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta.

JAKARTA - Sosok pejuang wanita di tubuh Raden Ajeng Kartini, tetap tumbuh di hati para perempuan Indonesia. Perjuangan bukan hanya sekedar membela tanah air tercinta yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, namun perjuangan bisa dilihat dari berbagai sisi kehidupan. Seperti yang dilakukan Tarni (38).

Wanita yang bertugas sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta ini, berjuang dengan caranya sendiri. Ditengah para lelaki yang berjuang menjadi tulang punggung keluarga, Tarni harus rela menjadi salah satu dari rombongan PPSU yang membersihkan kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Meskipun menjadi wanita satu-satunya, bukan berarti Tarni menjadi pemalas dan menunggu para lelaki kekar yang mengerjakan pekerjaannya. Dia yang sudah dikarunia dua orang putri itu, tetap semangat membanting tulang untuk kelangsungan hidup sang buah hati.

Berkat ketekunan dan rasa cintanya terhadap pekerjaannya, Tarni menjadi salah satu sosok wanita yang dipilih aplikasi Qlue, sebagai pelopor media pelaporan warga DKI Jakarta untuk mendapatkan penghormatan di Hari Kartini yang jatuh pada Jumat (21/4/) ini.

Meskipun tidak mengharapkan penghargaan. atas dedikasi tinggi menjadi ibu kota tetap bersih, namun tampaknya Tarni pantas dianugetahi kartini masa kini. Oleh sebab itu, Qlue memberikan sebuah penghargaan sebesar-besatnya. Bukan uang atau piagam penghargaan, tapi setangkai mawat merah yang melambangkan gagah berani di sosok wanita.

"Setangkai mawar ini tidak berharga mahal, tapi hari ini kami melihat banyak raut muka haru dan bahagia hanya dengan setangkai bunga. Keberadaan mereka sehari-hari mungkin terabaikan, momen hari ini yang mengingatkan kami akan jasa para petugas dinas lapangan perempuan dalam kehidupan kota," ungkap Stephanie Edelweiss selaku perwakilan dari Qlue.

Keberadaan wanita yang bertugas menjaga kebersihan ibu kota, kerap dipinggirkan oleh para penguasa. Para wanita masih dianggap lemah untuk pekerjaan lapangan, yang dituntut otot bukan rasa keibuan. Tapi siapa sangka berkat rasa keibuan, para pekerja laki-laki semakin bersemangat memenuhi tuntutan pekerjaan.

"Kami jadi kepacu, wanita itu masih bisa bekerja kasar yang biasanya untuk laki-laki. Ini memotivasi kami," ungkap Rasno (35), pekerja PPSU yang satu regu dengan Tarni

Tarni yang mendapat kado terindah dalam hidupnya ini berpesan kepada seluruh wanita Indonesia. Menjadi RA Kartini bukan berarti berjuang mencapai kemerdekaan RI, tapi bagaimana sosok wanita menyikapi perkembangan zaman agar terus berkarya dan berusaha.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perempuan Indonesia. Kesetaraan gender yang mulai diakui di negara Indonesia, diharapkan bisa menjadi pemicu para wanita terus mengembangkan pola fikirnya agar tetap bisa dihargai oleh kaum lelaki.

"Wanita itu jadi jangan dibawah bayang-bayang laki. Meskipun kodrat kita tetap menjadi tulang rusuk para pria. Tapi bisa kita berjuang melawan zaman dengan cara kita sendiri," pesan Tarni.

Features

Hadapi Kenakalan Remaja Gengster dengan Hipnoterapi

Rabu, 14 Juni 2017 11:26:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Wildan Kusuma

Hipnoterapi di Polresta Depok
Hipnoterapi di Polresta Depok

Share this








Menghadapi kenakalan remaja yang terjerumus dalam dunia gengster, ternyata penyembuhan bisa dilakukan dengan hipnoterapi.

DEPOK - Kasus anak remaja yang bergerombol menamakan diri mereka gangster muncul di Kota Depok. Mereka kerap terlibat tawuran antar remaja bahkan tak segan melukai warga.

Dengan dalih menjaga diri, remaja belasan tahun tersebut sangat percaya diri membawa senjata tajam seperti celurit, klewang, dan samurai. Jika tak ada musuh, warga biasa yang tengah berkumpul malah jadi sasaran keberingasan mereka.

Situasi tersebut lantas membuat geram Polresta Depok. Akhirnya, Polreta Depok melalui Satuan Reserse dan Kriminal di bawah pimpinan Kompol Teguh Nugroho melakukan operasi gangster. Alhasil, salah satu pelaku gangster "sanca bergoyang" diciduk Satreskrim Polreta Depok, Selasa (6/6/2017) lalu.

Salah satu pelaku dari geng "Sanca Bergoyang", berinisial KT (17) dijadikan tersangka lantaran dirinya menjadi bandar sajam untuk dijual ke gengster-gengster di Depok. Hal tersebut sangat miris, karena KT baru dianugerahi seorang anak berusia 9 bulan.

Di sisi kegeraman pihak kepolisian, muncul sebuah teka teki yang harus diungkap. Apa penyebab para remaja ini membuat beken kriminal menjadi gangster? Hal tersebut membuat Kompol Teguh mengundang ahli hipnoterapi untuk mengungkap penyebab para remaja yang terjerumus ke dalam gangster.

Senin, (12/6/2017) sore kemarin, Yulianti Wijoyo, seorang ahli hipnoterapi cantik menemui KT untuk melakukan proses wawancara. Proses wawancara ini merupakan salah satu rangkaian hipnoterapi kepada KT di Mapolresta Depok.

Kurang Perhatian Orang Tua

Di dalam ruangan kira-kira seluas 4 kali 4 meter di Mapolresta Depok, suasana proses wawancara sangat mengharukan. Isak tangis KT karena menyesal dengan perbuatannya, meminta ampun warnai suguhan proses hipnoterapi. Padahal, proses hipnoterapi hanya menggunakan psikologis yang menyentuh emosi si pelaku.

Yulianti menjelesan, ia dan rekannya, Romanus Remegius, hanya bertanya penyebab KT menjadi seorang gangster dan menjual senjata tajam. Ia menyimpulkan, kurangnya perhatian orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi faktor jati diri KT.

"Memang semua berawal dari kurangnya perhatian, makanya dia perlu untuk mengeksistensikan diri, membuat diri terlihat keren gitu, itu yang kami temukan tadi. Karena kekosongan di dalam itu di sebabkan tidak dipenuhinya bahasa kasih 
dari orang tua sama anak," ujar Yulianti di ruangan Satreskrim Mapolresta Depok.

Yulianti menambahkan, bahasa kasih itu ada lima yaitu, waktu, hadiah, sentuhan, pelayanan, dan pujian. Menurutnya, semua orang memerlukan hal tersebut meski hanya sedikit.

"Dia mau untuk bisa diterima masyarakat, biar terlihat gagah, merasa harus menampilkan diri, karena tidak ada yang memperhatikannya," katanya.

Ia menegaskan, keluarga merupakan faktor yang paling penting terhadap masa depan anak. Jika hal tersebut dipenuhi, faktor lainnya seperti lingkungan bisa di atasi.

"Lingkungan ada, pasti ada, tapi kalo keluarganya kuat lingkungan bisa diatasi.Menyampaikan bahasa kasih itu setiap hari, ibarat baterai handphone tiap hari dicarger, jadi sama kayak ke anak harus diisi juga," kata dia.

 

Features

test features dev

Selasa, 24 Januari 2017 16:15:00
Editor : | Reporter :

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam

Share this








test features

TEST

Features

Semangat Udin Membuat Jakarta Bersih

Jumat, 31 Maret 2017 18:36:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : M Nashrudin Albaany

Petugas Kebersihan PHL Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bertemu Kepala Dinas. (Baany)
Petugas Kebersihan PHL Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bertemu Kepala Dinas. (Baany)

Share this








Ditemani sebuah sapu yang ia genggam, pekerja harian lepas (PHL) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta ini, tiap harinya bertugas dari pukul 04.00 sd 16.00 WIB.

KEBAYORAN BARU – Di saat sebagian besar warga Jakarta masih terlelap tidur, Zainuddin (41), warga Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini sudah bergegas menuju jalan yang masih sepi kendaraan. 

Ditemani sebuah sapu yang ia genggam, pekerja harian lepas (PHL) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta ini, tiap harinya bertugas dari pukul 04.00 sd 16.00 WIB. Udin bertanggung jawab mengumpulkan sampah yang berceceran di sepanjang Jalan Senopati Raya.

"Tanggung jawab saya membersihkan jalan sepanjang 1 kilometer dari sampah. Supaya saat warga menjalankan aktifitasnya bisa merasa nyaman," ujarnya kepada infonitas.com, Kamis (30/3/2017).

Tak boleh ada sampah di sepanjang jalan protokol tersebut, karena harus terlihat bersih. Apalagi jalur itu termasuk kawasan yang cukup sibuk saat pagi dan sore hari.

Sudah hampir dua tahun belakangan ini, pria yang akrab disapa Udin ini terdaftar sebagai PHL di kantor Kelurahan Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Berbagai suka duka telah dialami bapak dua anak ini dalam menjalankan profesi sebagai petugas kebersihan.

"Alhamdulillah, selama ini banyak senangnya. Karena kalau kerja dengan ikhlas pasti semua akan terasa ringan," ucapnya sembari menyeka keringat di wajah.

Menurut dia, selain bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya, Udin juga ingin menjadikan Jakarta bersih dan asri. Dia pun berharap agar masyarakat semakin sadar dengan tidak membuang sampah sembarangan. 

"Bukannya saya mau makan gaji buta, tapi kan rapi dan bersihnya lingkungan pastinya untuk warga juga," tuturnya.

Udin mengaku, selama menjalankan pekerjaannya banyak pengguna jalan yang kerap memberi perhatian. Pasalnya, hampir setiap hari dirinya selalu bertemu dengan orang-orang yang baik dengannya. 

"Kadang-kadang ada yang kasih makan, minum, atau bahkan juga uang buat tambahan jajan anak," sambungnya.

Suka Duka

Udin menceritakan memiliki kenangan yang membanggakan ketika dirinya tengah menyapu. Saat itu, datang Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Isnawa Adji. Hal itupun membuatnya sedikit gemetar karena takut ditegur akan hasil kerjanya. 

"Waktu pas turun dari mobil saya agak takut. Nggak tahunya beliau baik banget," ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, kata Udin, Kepala Dinas berbincang mengenai pekerjaan yang dilakukan selama ini. Bahkan Isnawa juga menyampaikan ucapan terima kasihnya atas apa dilakukan PHL dalam membersihkan lingkungan Jakarta. 

"Waktu itu saya juga sempat selfie sama bapak. Itu jadi kenang-kenangan berharga untuk saya," katanya bangga.

Hingga saat ini, dia mengaku terus menyimpan fotonya saat berdampingan dengan Kepala Dinas. Meski menggunakan handphone yang tak terlalu bagus untuk mendapatkan hasilnya, namun fotonya dicetak untuk di pajang di rumah. 

"Ya, biar anak-anak di rumah juga tahu kalau saya foto bareng pejabat," pungkasnya. 

 

Features

Mengenal Lebih Dekat Anies Baswedan

Kamis, 20 April 2017 13:30:00
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs

Ilustrasi Anies Baswedan
Ilustrasi Anies Baswedan

Share this








Sosok Anies Baswedan memiliki dedikasi tinggi baik dalam bidang pendidikan dan keterlibatan sebagai anggota tim sukses Joko Widodo, hingga menjadi Menteri Pendidikan.

JAKARTA – Memiliki dedikasi tinggi di bidang pendidikan dan keterlibatan sebagai anggota tim sukses Joko Widodo di pemilu Presiden 2014, , mengirimkan Anies Baswedan ke kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Akan tetapi, hal tersebut tak bertahan lama karena Anies terkena perombakan pada Juli 2016 lalu.

Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, pada tanggal 7 Mei 1969 dari pasangan Rasyid Baswedan, dan Aliyah Rasyid, ini mulai mengenyam bangku pendidikan pada usia lima tahun, di TK Masjid Syuhada. Kemudian usia enam tahun, Anies masuk ke SD Laboratori, Yogyakarta.

Ia pun diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Cucu dari Abdurrahman Baswedan itu pun aktif mengikuti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya. Anies pernah dijuluki seksi kematian karena tugasnya mengabarkan kematian. Lulus dari SMP, ia meneruskan pendidikan di SMA Negeri 2 Yogyakarta, dan kembali aktif di kegiatan OSIS.

Bahkan, Anies mengikuti kepemimpinan bersama 300 orang ketua OSIS se-Indonesia. Ia pun terpilih menjadi Ketua OSIS se-Indonesia pada 1985.  Dia pun terpilih mengikuti program pertukaran pelajar AFS dan tinggal selama satu tahun di Amerika Serikat. Akibatnya, program ini membuatnya menempuh masa SMA selama empat tahun, yang baru lulus pada 1989.

“Kita ditarik dulu ke belakang kemudian bisa meloncat dengan jauh,” tutur Anies, ketika menggambarkan keterlambatan kelulusannya.

Ia pun masuk ke Universitas Gajah Mada pada 1995, untuk strata satu, dilanjut  S2 di University of Maryland, dan S3  di Nothern Illionis University, pada 2005.

Anies selalu menitikberatkan tiga hal ketika memilih karier,”Apakah secara intelektual dapat tumbuh, apakah dapat menjalankan tangung jawab sebagai kepala keluarga, dan apakah memiliki pengaruh sosial,” ungkapnya.

DP 0  Sebagai Program Kerja

Anies Baswedan yang mengajukan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, dengan partai pengusung PKS dan Gerindra ini, menjanjikan berbagai macam program kerja. Akan tetapi, ada satu program menarik minat masyarakat.

Suami dari Fery Farhati Ganis ini menjanjikan kemudahan bagi warga DKI Jakarta untuk memiliki rumah dengan down payment / DP nol. Bapak dari empat orang anak itu mengklaim menarik bagi rakyat karena sulitnya menemukan rumah yang terjangkau bahkan di Jakarta. Akan tetapi, program ini mengundang banyak kritik dan diketahui memiliki ketidak konsistenan.

Awalnya Anies mengajukan DP Nol Persen. Namun, dianggap melanggaran aturan Bank Indonesia. Kemudian, ia mengubahnya menjadi DP Nol Rupiah. Bahkan, DP tersebut tidak diketahui  untuk rumah tapak atau rumah susun. Kemudian diralat oleh partnernya, Sandiaga Uno, bahwa program ini mirip dengan rumah susun di Singapura, yaitu pemerintah membangunkan rumah, bukan menjadi fasilitator pembiayaan.

Akan tetapi, ia menegaskan bahwa bank yang akan terlibat dalam membantu rakyat menikmati DP Nol, namun dikritik karena secara total puluhan triliun uang yang dibutuhkan tidak sesuai dengan kekuatan finansial Bank DKI yang digadang akan membantu program ini. 

Features

Satu Dekade, Nenek Lima Cucu Jadi Kartini Kebersihan Ibu Kota

Jumat, 21 April 2017 13:30:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Adi Wijaya

Helly, Kartini Kebersihan Ibu Kota Jakarta
Helly, Kartini Kebersihan Ibu Kota Jakarta

Share this








Nenek lima cucu yang bertahan selama satu dekade menjadi Kartini Kebersihan Ibu Kota Jakarta.

KOJA - Tak ada kata lelah bagi Helly (47), seorang nenek lima cucu yang bekerja sebagai penyapu jalanan Ibu Kota. Belum juga mentari keluar dari sarangnya, atau sekitar Pukul 05.00 WIB, perempuan paruh baya ini sudah harus mengayuh sepeda dari kediamannya di Jalan Melati Tugu RT11/09, Kelurahan Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara menuju lokasi bertugas.

Rutinitas menyisir sampah di sepanjang Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Sulawesi dari Pagi hingga Sore menjadi makanan sehari-hari bagi Helly. Jam kerja yang biasa dilakoninya mulai pukul 05.00 -10.30 WIB. kemudian pukul 13.30 - 16.00 WIB.

Tak terasa, pekerjaan yang dilakukannya setiap hari itu telah menginjak satu dekade. Keterbatasan skill melatarbelakangi perempuan berdarah Jawa Tengah ini terpaksa menjalani pekerjaan ini sejak 2007 silam. Namun, seiring berjalannya waktu, keterpaksaan itu menjadi kebiasaan yang kini tak pernah lagi dikeluhkannya.

"Awalnya memang agak malu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah takdir Tuhan," ujar Helly saat ditemui sedang menyapu di Jalan Yos Sudarso, Koja, Jakarta Utara, Jumat (21/4/2017).

Di awal bekerja, Helly dibayar Rp 300 ribu per bulan

Di awal perjalanan kerjanya, Helly mengaku sangat prihatin. Menjadi pasukan orange yang cukup menguras tenaga, dirasa tak sebanding dengan honor yang didapatkannya. Dia hanya mengantongi sebesar Rp 300 ribu setiap bulannya.

"2007 lalu, pekerjaan ini masih diambil alih swasta. Saya bekerja pada PT. Artha Waluya," ungkap perempuan berhijab ini.

Keterpaksaan itu selalu dikuatkannya, mengingat saat itu dia masih harus berjuang membiayai anak keempatnya, Rocky Septiansyah yang kala itu masih berusia tiga tahun.

"Ketiga anak lainnya sudah berkeluarga. Sekarang tinggal Rocky yang masih berumur 15 tahun, masih sekolah kelas 10 SMK," ungkapnya.

Jokowi - Ahok Pahlawan Bagi Helly

Ketekunannya bertahan menjalani pekerjaan sebagai penyapu jalanan pun membuahkan hasil. Honor yang diterimanya kian meningkat. Terutama saat Joko Widodo - Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu.

Sejak Tahun 2013, Istri dari penjahit ini mengalami kenaikan pendapatan karena diangkat sebagai Petugas Harian Lepas (PHL) Dinas Kebersihan Kecamatan Koja. Semula hanya mendapatkan honor Rp 300 ribu meningkat menjadi Rp 2,4 juta per bulan.

"Memang bertahap, awalnya Rp 300 ribu, naik menjadi Rp 600 ribu, lalu Rp. 700 ribu, dan meningkat jadi Rp 1,2 juta. Naik lagi dua kali lipat saat Jokowi - Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta," paparnya.

Tak sampai disitu, dia menerangkan honornya kembali naik menjadi Rp 3,1 juta saat Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2015 silam. Lalu, seiring kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) pada 2017, kini honornya menjadi Rp 3.350.000,-.

"Kini pekerjaan penyapu jalanan semakin diakui. Enggak diremehkan seperti dahulu," katanya.

Bersih Jadi Tanggung Jawab Hidup

Bekerja di dunia kebersihan menjadikan hidupnya lebih bertanggungjawab. Tak hanya di jalan, namun kebersihan pun dilakukannya ditiap dirinya berada. Termasuk di kediamannya sendiri.

"Mungkin ini kodrat saya sebagai wanita. Harus bisa menjaga kebersihan dimanapun berada," ungkapnya.

Rasa sedih dirasakannya, ketika melihat sejumlah orang atau pengendara kendaraan sengaja membuang sampah di jalan. Padahal, baru saja dirinya menyapu jalan tersebut.

"Sesekali juga saya menasihati mereka agar tak membuang sampah sembarang," ujarnya.

Sementara itu, anak keempatnya Rocky Septiansyah memuji sang ibu yang tak kenal lelah bekerja, meski kini tenaganya tak sekuat dulu. Ibunya tak pernah mengeluh bekerja sepanjang hari. Mengayuh sepeda dari rumahnya menuju lokasi yang menjadi lokasi bertugasnya.

"Ibu itu 'super mom'. Dia bisa membagi waktu untuk keluarga dan tugasnya," tutupnya.

Baca juga : Mei, Siap-siap Jakarta International Bike Week

Features

Mawar dan Tangisan Tarni di Hari Kartini

Jumat, 21 April 2017 14:45:00
Editor : Muhammad Saiful Hadi | Reporter : Chandra Purnama

jakarta
jakarta

Share this








Dialah Tarni, RA kartini masa kini seorang Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta.

JAKARTA - Sosok pejuang wanita di tubuh Raden Ajeng Kartini, tetap tumbuh di hati para perempuan Indonesia. Perjuangan bukan hanya sekedar membela tanah air tercinta yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, namun perjuangan bisa dilihat dari berbagai sisi kehidupan. Seperti yang dilakukan Tarni (38).

Wanita yang bertugas sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaran Umum (PPSU) Pemprov DKI Jakarta ini, berjuang dengan caranya sendiri. Ditengah para lelaki yang berjuang menjadi tulang punggung keluarga, Tarni harus rela menjadi salah satu dari rombongan PPSU yang membersihkan kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Meskipun menjadi wanita satu-satunya, bukan berarti Tarni menjadi pemalas dan menunggu para lelaki kekar yang mengerjakan pekerjaannya. Dia yang sudah dikarunia dua orang putri itu, tetap semangat membanting tulang untuk kelangsungan hidup sang buah hati.

Berkat ketekunan dan rasa cintanya terhadap pekerjaannya, Tarni menjadi salah satu sosok wanita yang dipilih aplikasi Qlue, sebagai pelopor media pelaporan warga DKI Jakarta untuk mendapatkan penghormatan di Hari Kartini yang jatuh pada Jumat (21/4/) ini.

Meskipun tidak mengharapkan penghargaan. atas dedikasi tinggi menjadi ibu kota tetap bersih, namun tampaknya Tarni pantas dianugetahi kartini masa kini. Oleh sebab itu, Qlue memberikan sebuah penghargaan sebesar-besatnya. Bukan uang atau piagam penghargaan, tapi setangkai mawat merah yang melambangkan gagah berani di sosok wanita.

"Setangkai mawar ini tidak berharga mahal, tapi hari ini kami melihat banyak raut muka haru dan bahagia hanya dengan setangkai bunga. Keberadaan mereka sehari-hari mungkin terabaikan, momen hari ini yang mengingatkan kami akan jasa para petugas dinas lapangan perempuan dalam kehidupan kota," ungkap Stephanie Edelweiss selaku perwakilan dari Qlue.

Keberadaan wanita yang bertugas menjaga kebersihan ibu kota, kerap dipinggirkan oleh para penguasa. Para wanita masih dianggap lemah untuk pekerjaan lapangan, yang dituntut otot bukan rasa keibuan. Tapi siapa sangka berkat rasa keibuan, para pekerja laki-laki semakin bersemangat memenuhi tuntutan pekerjaan.

"Kami jadi kepacu, wanita itu masih bisa bekerja kasar yang biasanya untuk laki-laki. Ini memotivasi kami," ungkap Rasno (35), pekerja PPSU yang satu regu dengan Tarni

Tarni yang mendapat kado terindah dalam hidupnya ini berpesan kepada seluruh wanita Indonesia. Menjadi RA Kartini bukan berarti berjuang mencapai kemerdekaan RI, tapi bagaimana sosok wanita menyikapi perkembangan zaman agar terus berkarya dan berusaha.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh perempuan Indonesia. Kesetaraan gender yang mulai diakui di negara Indonesia, diharapkan bisa menjadi pemicu para wanita terus mengembangkan pola fikirnya agar tetap bisa dihargai oleh kaum lelaki.

"Wanita itu jadi jangan dibawah bayang-bayang laki. Meskipun kodrat kita tetap menjadi tulang rusuk para pria. Tapi bisa kita berjuang melawan zaman dengan cara kita sendiri," pesan Tarni.

Features

Jeritan Penjual Buku Bekas Kwitang di Pasar Senen

Jumat, 21 April 2017 20:15:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Rilangga Firsttian

Pedagang buku bekas di Pasar Senen, Jakarta Pusat
Pedagang buku bekas di Pasar Senen, Jakarta Pusat

Share this








Semenjak dipindahkan ke Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat, pedagang buku bekas Jalan Kwitang menjerit tentang penghasilan yang merosot.

SENEN - Pasca kebakaran blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat pada Januari 2017 lalu, merugikan penjual buku bekas. Puluhan pedagang tersebut, kini harus memulai kembali usahanya dari nol karena direlokasi di Blok V, Pasar Senen.

Tempat penampungan sementara yang berada di blok V yang bersebelahan dengan terminal Senen terlihat jarang dikunjungi pembeli. Lokasi yang kurang strategis ikut mempengaruhi lesunya aktivitas jual beli buku bekas di sana.

Pertama memasuki area jualan buku bekas ini, terlihat para pedagang sibuk merayu pembeli yang hanya segelintir orang. Lapak tempat jualan mereka terlihat seadanya, namun buku tersusun rapi.

Fahri salah satu penjual buku bekas di sana mengatakan, memulai berjualan buku dari tahun 2008 mengaku kebingungan bagaiman menggenjot penghasilan seperti sedia kala. Diakui, semenjak dipindah dari Jalan Kwitang, Jakarta Pusat ke Pasar Senen, pendapatan terus menurun.

“Kalau di Kwitang pendapatan saya itu lumayan, kalau di sini harus mulai dari awal. Soalnya masih banyak pelanggan kita yang di Kwitang itu enggak tahu tempat jualan yang sekarang,” tutur Fahri saat berbincang dengan infonitas.com di Blok V Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (21/4/2017).

Pendapat Sebulan di Pasar Senen sama dengan Penghasilan Sehari di Kwitang

Mulai membuka lapak dari pukul 08.00 WIB, Bapak satu anak tersebut mengaku dirinya dalam satu bulan belakangan hanya membersihkan barang dagangannya serta tidur tiduran dilapak saja. Aktivitas ini lebih disebabkan langkanya pembeli yang datang dan singgah untuk melihat lihat dan membeli barang dagangannya.

Ia mengatakan, dulu, saat berjualan di Jalan Kwitang, penghasilan per hari dapat mencapai Rp 500 ribu – Rp 1 juta. Tetapi, semenjak dipindahkan ke Pasar Senen, untuk memperoleh keuntungan sebesar itu harus didapatkan selama satu bulan penuh lamanya.

“Pendapatan di Kwitang itu kami bisa dapatkan lima ratus ribu sampai satu juta, tapi kalau di Pasar Senen ini untuk dapetin uang segitu butuh waktu sebulan,” ujar bapak satu anak yang tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara ini.

Tak jarang, lelaki berusia 35 tahun tersebut selalu meneriakan barang dagangannya kepada setiap pengunjung yang sesekali melewati lapaknya dan menjualnya dengan harga yang kurang dari modal yang dikeluarkan. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil, entah apalagi yang harus ia perbuat, jika seperti ini terus dia serta penjual yang lain akan sangat kesulitan untuk menyambung hidup serta menafkahi kerluarga kecil mereka.

Akan tetapi dirinya tetap tidak berputus asa, buku-buku bekas yang dijual berkisar antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000 tergantung dari buku apa, kondisi buku serta kelangkaan buku tersebut.

Kredit Modal Usaha di Bank Hanya Sia-sia

Sempat mendapat pinjaman Kredit Usaha Rakyat yang diberikan oleh Bank DKI, menurutnya belum bisa membantunya untuk kembali ke masa keemasannya saat berjualan di kawasan Kwitang. Ia mengakui, mendapatkan pinjaman lunak dari Bank hanya sia-sia belaka.

“Saya dan teman-teman disini tidak butuh modal pinjaman tetapi butuh pembeli. Buku yang kami jual ini masih lengkap dan bagus jadi enggak perlu untuk beli barang dagangan lagi,” jelasnya.

Akan tetapi dalam beberapa hari belakangan ini, Fahri agak sedikit merasa senang, karena pelanggan lamanya banyak yang kembali mencari buku dagangannya. Meski hanya memesan via telepon seluler, tetapi pelanggannya rutin membeli buku hingga tiga kali berturut turut dalam satu minggu, tentu hal ini membuat semangatnya kembali sedikit bertambah.

Fahri mengatakan, apapun yang dirinya alami sekarang dan nanti ia akan terus berusaha memperahankan pekerjaannya, dan apapun kondisinya dirinya tidak akan menyerah untuk alasan apapun.

Baca juga : Kisah Jukir Tuna Rungu di Kelapa Gading Dipalak Preman

Features

Lika-Liku Sandi Menuju Kursi DKI 2

Minggu, 23 April 2017 09:45:00
Editor : Ivan | Sumber : DBS

Sandiaga Uno
Sandiaga Uno

Share this








Dari Summa Cum Laude, pengangguran, pengusaha kaya, Panama Paper, hingga akhirnya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

JAKARTA - Sandiaga Uno langsung mencuri perhatian warga Jakarta saat ia dikabarkan maju di Pilkada DKI 2017. Tak banyak warga Ibukota yang mengenalnya saat itu. Namun dalam waktu singkat, ia dapat meraih simpati warga.Hingga akhirnya, ketika benar-benar maju dalam Pilkada DKI Jakarta sebagai calon wakil gubernur, ia dan pasangannya Anies Baswedan mendapat suara terbanyak versi hitung cepat.

Sandiaga merupakan pengusaha, calon wakil gubernur yang diusung Partai Gerindra, dan berjanji meningkatkan ekonomi serta kesejahteraan warga Jakarta. Mungkin inilah pengetahuan sebagain besar warga Ibukota tentang pria berkaca mata tersebut. Tapi sebenarnya, siapakah dia?

Dikutip dari berbagai sumber, pria yang akrab disapa Sandi ini bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno, B.A., M.B.A. Ia lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969.

Sebelum terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi pemimpin DKI Jakarta bersama Anies, banyak kegiatan yang ia lakukan selain menjadi pengusaha.

Sandi yang berdarah Gorontalo ini kerap dipercaya untuk memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda. Kepercayaan ini didapat karena Sandi telah lama menekuni bidang tersebut.

Karier dan Kekayaan

Sejatinya, Sandi adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Ia mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990.

Setahun kemudian, ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00 .

Pada tahun 1993, ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus di MP Holding Limited Group (mulai 1994).

Tahun 1995, ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan.

Sayangnya, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Alhasil, Sandi tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanya. Ia pulang ke Indonesia dengan predikat pengangguran.

Meskipun demikian, Sandi tak ingin terpuruk karena kejadian tersebut. Ia kemudian mengubah cara pandangnya dan berbalik arah menjadi pengusaha.

Pada tahun 1997, Sandi mendirikan perusahaan penasihat keuangan bernama PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya kala itu.

Kemudian, pada 1998 ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Berbekal jejaring (network) yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi sukses menjalankan bisnis tersebut.

Pada 2005-2008, Sandi menjadi ketua umum Himpunan pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).  Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.

Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS, Pada 2007. Sementara pada 2008, ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset mencapai 245 juta dollar AS.

Memasuki 2009, ia tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Kemudian pada tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Namun ia menduduki peringkat ke-37 kala itu. Total kekayaannya mencapai USD 660 juta (Rp 8,5 triliun pada kurs Rp 13.000/USD).

Masuk Dunia Politik

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk yang digelar 10 Juni 2015, Sandi resmi mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Ia juga melepaskan berbagai jabatan di beberapa perusahaan lain karena ingin fokus pada tugas barunya, yakni sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang dipimpinan oleh Prabowo Subianto.

Saat itu, posisinya di Saratoga digantikan oleh Michael Soeryadjaya, anak dari Edwin Soeryadjaya dan cucu dari pendiri Astra International William Soeryadjaya. Namanya termasuk dalam daftar Panama Papers. Dia mengikuti program Tax Amnesty.

Wakil Gubernur DKI Jakarta

Kini, bersama pasangannya Anies Baswedan, Sandi fokus pada Jakarta. Terlebih, hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei dan real count yang dirilis KPU Jakarta menunjukkan, ia dan Anies mendapat suara terbanyak. Hal ini membuat Sandi berupaya semaksimal mungkin untuk menepati janjinya, yakni meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga Jakarta melalui sejumlah program. Ok Oce adalah salah satu andalannya. 

Features

Nenek Lincah Bernyanyi Hibur Penumpang Transjakarta

Selasa, 25 April 2017 12:15:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Yatti Febriningsih

Nenek Ceisaria bernanyi bersama Transjakarta Symphony, di Halte Transjakarta di Harmoni.
Nenek Ceisaria bernanyi bersama Transjakarta Symphony, di Halte Transjakarta di Harmoni.

Share this








Nenek ini begitu semangat menunjukan kebolehannya mengolah vokal. Seakan lupa usia dan fisik yang tak lagi muda.

JAKARTA - Ada yang beda dari rangkaian acara Transjakarta Symphony di halte Harmoni, Sabtu (22/4/2017) kemarin. Salah satunya penampilan nenek berusia 53 tahun yang berhasil mencuri perhatian penumpang di halte tersebut.

Nenek ini begitu lincah dan terlihat antusias untuk bisa bernyanyi bersama peserta Transjakarta Symphony. Tidak lama kemudian pihak PT Transjakarta mengajak nenek tersebut naik ke atas panggung dan berduet bersama peserta dari sekolah musik, Trust Sympony.

Tak pelak, nenek ini begitu semangat menunjukan kebolehannya mengolah vokal. Seakan lupa usia dan fisik yang tak lagi muda, nenek ini begitu energik bernyanyi di atas panggung. Sekelebatan penumpang yang lewat melempar senyum, bahkan ada pula yang meluangkan waktu melihat atrakasi nenek lincah ini.

Duet nenek ini diawali dengan lagu nasional Satu Nusa Satu Bangsa. Suara yang menggelorakan semangat ini kontan langsung menjadi perhatian seluruh penumpang setia Transjakarta yang ada dilokasi. Tiga lagu dinyanyikannya, nenek ini tak terlihat lelah, karena senang dapat menghibur penumpang yang sedang menunggu bus.

Nenek tersebut bernama Ceisaria. Dirinya mengaku sangat bangga bisa tampil duet bersama peserta Transjakarta Symphony. "Tentu saya sangat bangga diberi kesempatan dan  bisa tampil bersama anak-anak muda berbakat di Indonesia dalam acara Transjakarta Sympony ini," kata Ceisaria saat kepada Infonitas.com.

Kesempatan Menghibur

Ceisaria dan kebanyakan penumpang lainnya mengaku begitu bersyukur dengan adanya acara Transjakarta Sympony ini. Sebab, acara musik semacam ini bisa memberikan kesempatan kepada para penumpang untuk bisa menghibur pengunjung Transjakarta dalam menghadapi kemacetan Ibu Kota.

"Saya sangat mendukung acara ini. Acara ini sangat bagus untuk peserta bisa lebih mengembangkan bakat musik mereka dan menghibur penumpang juga," katanya.

Transjakarta Sympony merupakan acara rutin yang digagas oleh PT Transportasi Jakarta (Transjakarta). Dan ini adalah Transjakarta Sympony yang keempat dengan mengangkat tema Kartini Indonesia.

Features

Ragam Rasa Warga Kepada Ahok

Rabu, 26 April 2017 14:15:00
Editor : Waritsa Asri | Sumber : Dbs

Ilustrasi Basuki Tjahaja Purnama
Ilustrasi Basuki Tjahaja Purnama

Share this








Warga DKI Jakarta berduyun-duyun mendatangi Balai Kota untuk bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta,Ahok, serta memberikan karangan bunga ucapan terima kasih

JAKARTA – Sejarah Politik Indonesia tidak pernah mencatat sebuah kekalahan diganjar dengan rasa terima kasih, kesedihan, hingga gelombang simpati yang begitu besar dari warganya.

Akan tetapi, hal tersebut bisa terlihat di Balai Kota. Ratusan hingga ribuan karangan bunga dari masyarakat kini terlihat memenuhi halaman kantor, dalam dua hari terakhir ini.

Warga melakukan hal tersebut sebagai bagian dari pengakuan sekaligus ekspresi terima kasih atas kerja Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang telah membuat perubahan dalam dua tahun di ibu kota Indonesia ini.

Diperkirakan ratusan karangan bunga memenuhi halaman Balai Kota, sejak Senin (24/4/2017) lalu. Ungkapan rasa sedih, penyemangat dan banyak juga lucu tertera dalam pesan karangan bunga.

Satu diantaranya karangan bunga yang ukurannya lebih besar dibandingkan karangan bunga lainnya yakni bertuliskan 'Oh Tuhan, Ku Cinta Basuki, Ku Sayang Tjahaja, Rindu Purnama, Inginkan Badja'.

Karangan bunga tersebut dikirimkan oleh Mami Cantik Puri Mansion Lagi Mellow.

Baca juga : Tagar #GombalinAhok Jadi Trending Topik Indonesia

MEDIA SOSIAL RAMAI UNTUK AHOK

Bahkan, ungkapan tersebut pun menjelma menjadi tagar #GombalinAhok yang bisa diketahui lewat media sosial twitter. Beberapa warga  pun sempat mengabadikan ratusan karangan bunga tersebut lewat postingan foto yang ditautkan.

“Kaulah anugrah terindah yang pernah kami miliki. Kami tunggu karyamu berikutnya untuk negeri #GombalinAhok,” tulis akun @nilanandita

Pantauan Infonitas.com, netizen pun ramai-ramai membuat tagar #GombalinAhok hingga kini masih bertahan dalam daftar trending topik Indonesia, dengan cuitan akun mencapai 5.224  pukul 14.11 WIB, pada Rabu (26/4/2017) ini.

Bahkan, Ahok pun memberikan ucapan terima kasih lewat akun pribadinya karena banyaknya karangan bunga yang diterima di Balai Kota.