Feature

Masih Ada 'Preman' di Alexis, Wartawan Diintimidasi

Jumat, 23 Maret 2018 11:15:00
Editor : Muhamad Ibrahim | Reporter : Adi Wijaya

Hotel Alexis (Ist)
Hotel Alexis (Ist)

Share this








Salah satu wartawan sempat ditahan dan diintimidasi oleh preman Hotel Alexis saat hendak melakukan peliputan.

PADEMANGAN - Penutupan griya pijat dan tempat hiburan malam tak menurunkan tensi penjagaan keamanan bagi Hotel Alexis. ‘Barisan pagar betis’ baik sekuriti maupun preman masih berjaga ketat di hotel yang terletak di Jalan RE Martadinata, No 1, Pademangan, Jakarta Utara.

Faktanya, puluhan petugas keamanan tersebut bergantian berjaga di sekitar area hotel. Dilengkapi alat komunikasi Handy Talkie (HT), petugas memonitor siapa pun yang mendekati hotel tersebut.

"Mau kemana mas? dari mana?," tanya seorang petugas sekuriti berseragam safari hitam yang tak diketahui namanya, saat ditemui di loby Hotel Alexis, Pademangan, Jakarta Utara, Kamis (23/3/2018).

Lantas, saya dan dua rekan awak media online dimintanya menunjukkan kartu identitas wartawan. Setelah diterima, seorang petugas bergegas mencatat identitas dan memfotonya. Tak luput sekuriti lainnya memfoto kami bertiga saat berbincang dengannya.

"Ohh dari Info Gading. Ada apa datang ke sini?," tanyanya lagi.

Saya pun mengungkapkan maksud dan tujuan datang ke lokasi tersebut. Dengan lantang, saya pun menerangkan kedatangan untuk kroscek ihwal informasi penutupan hotel oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

"Apakah benar infonya mau datang pejabat DKI ke sini. Saya mau mengkorfirmasi benar atau tidak. Itu saja,” timpal saya.

Intimidasi Wartawan

Usai perbincangan di lobi hotel, seorang sekuriti berseragam safari hitam dengan membawa alat komunikasi HT mengantarkan kami bertiga untuk menemui humas hotel.

Namun, alih-alih dipertemukan dengan humas Alexis, sekuriti justru mengantarkan ke sebuah pos keamanan yang berhimpitan pada dinding area luar hotel, atau tepatnya tak jauh di dekat rel kereta jalur Kampung Bandan-Jakarta Kota.

Merasa curiga, saya meminta kedua rekan wartawan untuk beranjak ke luar area hotel seraya menginfokan kepada awak media lain tentang keberadaan saya di dalam pos sekuriti tersebut. 

"Saya meminta rekan yang tadi bersama-sama datang untuk segera keluar area hotel. Menginfokan saya berada di dalam pos," beber saya.

Rasa curiga itu pun terbukti, sejumlah petugas keamanan tanpa seragam telah menunggu kehadiran saya di dalam pos berukuran sekitar 4x6 meter. Perkenalan diri pun kembali saya lakukan dihadapan mereka. Serta mengutarakan maksud kedatangan saya ke Hotel Alexis.

"Saya utarakan kembali maksud dan tujuan kedatangan kali ini. Hanya sekadar mengkroscek kebenaran adanya kedatangan pejabat Pemprov," lanjut saya.

Seakan tak terima, mereka pun mencecar kembali sejumlah pertanyaan kepada saya. Cecaran pertanyaan justru tendensius dan mengarah intimidasi. Seakan meminta pengakuan saya sebagai anggota kepolisian. Hal itu diketahuinya dari postur dan gerak-gerik tubuh yang saya miliki.

"Gw tau, kayaknya lu ini anggota ya kan? Mata sama gerakan lu nggak bisa bohong. Berapa nomor NRP lu?," sergap pria yang diduga pimpinan sekuriti tanpa seragam itu.

Pria bergaya rambut Yakuza itu pun tak mengizinkan saya untuk beranjak dari dalam pos saat telponnya berdering. Mengikuti permintaannya, saya pun kembali duduk sembari meratapi satu persatu foto petinggi aparat Kepolisian, Republik Indonesia berpangkat bintang yang digantung pada dinding pos. Mulai dari petinggi berinisial BH hingga BW.

"Ada sekitar delapan foto petinggi Polri berfigura yang digantungkan di dinding," lanjut saya.

Hampir satu jam berada dalam pos, akhirnya rekan awak media lainnya dari Kelompok Kerja (Pokja) Jakarta Utara pun tiba di depan pos. Permintaan izin untuk menjemput salah satu dari mereka pun dipersilahkannya. Saat itu, saya meminta Norish untuk masuk ke dalam pos.

"Kita sempat ngobrol-ngobrol di dalam pos. Lagi-lagi, Norish mengutarakan maksud dan tujuannya seperti yang saya ucapkan sebelumnya," timpalnya.

Tak lama kemudian, Norish meminta izin untuk kami keluar dari ruangan pos. Namun, cecaran pertanyaan soal kebenaran saya sebagai anggota kepolisian masih tetap ditanyakan hingga kami beranjak pulang.

"Keliatan dari mata lu bro, kalau lu ini anggota. Gw gak bisa dibohongi,' jelasnya.

Tarik Ulur Penutupan Hotel Alexis

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membenarkan rencana penutupan Alexis di Ancol, Jakarta Utara. Namun, ia menegaskan penindakan soal rencana penutupan itu masih belum dilaksanakan. 

“Jadi, rencana penindakan ada, tapi eksekusi belum dilakukan," ujar Anies di Jakarta, kepada Infonitas.com, Kamis (23/3/2018).

Rencana penutupan dalam rangka upaya melakukan pengawasan bidang industri pariwisata. Oleh karena itu, ia akan menerapkan penindakan tegas terhadap aturan yang tertuang dalam Pergub Pariwisata Nomor 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata.

“Jangan sekali-kali mencoba kucing-kucingan. Kita ingin industri pariwisata menjadi industri positif dan itu harus dikontrol. Nanti saya disiplinkan baik pelaku industrinya maupun aparatur kita," tegasnya. 

Untuk diketahui, rencana penutupan ini beredar luas melalui Surat Satpol PP DKI tanggal 22 Maret 2018. Bahkan, Wakil Kepala Satpol PP DKI Hidayatullah membenarkan soal rencana penutupan itu.

Pemerintan Provinsi (Pemrov) DKI berencana menutup semua usaha yang ada di Alexis mulai dari bar, karaoke, hingga restoran. Penutupan ini lantaran Alexis diduga melakukan pelanggaran prostitusi. 

 

*Penulis merupakan salah satu wartawan Infonitas.com (Info Gading) yang sempat ditahan dan diintimidasi oleh oknum sekuriti di sana. Saat itu, wartawan kami bersama dua jurnalis lainnya tengah melakukan peliputan di Hotel Alexis, Kamis (23/3/2018).