Features

Kisah Haiva Pengusaha Angkot AC Pertama di Bekasi

Senin, 15 Mei 2017 19:00:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Yusuf Bachtiar

Pemilik angkot ber-AC, Haiva Rosi.
Pemilik angkot ber-AC, Haiva Rosi.

Share this








Kisah Haiva pengusaha angkot AC pertama di Bekasi dengan dukungan Dirjen Transportasi Kementerian Perhubungan.

BEKASI-Pemilik angkot 02 jurusan Pondok Gede -Terminal Bekasi bernama Haiva Rosi. Haiva  merupakan pemilik angkot ber-AC pertama di Kota Bekasi yang baru diresmikan siang tadi, di Pemkot Bekasi.

Menurut Haiva, biaya modifikasi angkot miliknya ditanggung Dirjen Transportasi Darat Kementerian Perhubungan Pudji Hartanto Iskandar sebesar Rp 15 juta.

Dia menceritakan hingga akhirnya angkot miliknya itu dipilih sebagai percontohan angkot ber-AC pertama di Kota Bekasi. Awalnya kata Rosi, ide menjadikan angkot ber-AC dimulai ketika dia bersama rekan-rekan pengusaha angkot melakukan pertemuan dengan Dirjen Transportasi Darat Kementerian Perhubungan di  sebuah restoran yang terletak, Summarecon, Bekasi.

Pertemuan tersebut terkait keberadaan transportasi online yang mulai menggilas pendapatan pengusaha angkot. Di sana Rosi diminta menceritakan keluhannya. Sehingga, ia mengutarakan bagaimana pendapatannya menurun drastis semenjak adanya transportasi online.

Baca : Belum Ada Penerangan, Ini Jam Operasi Koridor 13 TransJakarta

Lalu kata Rosi, Dirjen Transportasi Darat Kementerian Perhubungan, Pudji Hartanto Iskandar menawarkan pemasangan AC di angkot miliknya. Tujuannya tak lain agar dapat bersaing dengan transportasi online dari segi fasilitas yang nyaman bagi penumpang.

"’Bagaimana kalau angkot ibu saya pasang AC?’ Pak Dirjen bilang gitu, terus saya jawabkan, 'bener pak? Oh ya maulah pak, kata saya kan. Tiga hari berselang langsung direalisisikan,” tutur Haiva kepada Infonitas.com di Halaman Kantor Pemkot Bekasi, Jalan Jenderal A Yani, Bekasi Selatan, Senin (15/5/2017).

Dia melanjutkan, tujuan utama dijadikan angkot miliknya ber-AC untuk memicu pemilik angkot lain agar menerapkan konsep yang sama agar dapat bersaing.

"Sejauh ini sudah ada yang minat, bilang ke saya 'wah enak ya mobilnya ber-AC, nanti saya enggak mau kalah dong'. Itu sudah memancingkan artinya memancing buat pemilik angkot lain bersaing memiliki fasilitas AC di mobilnya," kata dia.

Namun kata dia untuk biaya modifikasi belum tentu menghabiskan biaya sebesar Rp 15 Juta, hal itu tergantung bagimana pemilik mau memodifikasi seperti apa.

"Saya habis Rp 15 juta, itu harga yang untuk percontohan. Tapi, kalau yang lain mau pasang AC mungkin akan beda-beda harga, tergantung sejauh mana penambahan fasilitas. Kalau saya kan tambah TV, tape, sama dekorasi interior bangku" kata dia.

Terkait tarif, sejauh ini memang belum ada peraturan yang menentukan nominal untuk angkot ber-AC. Namun Rosi berharap pemerintah dapat menyesuaikan tarif angkot ber-AC karena biaya operasionalnya​ berbeda dengan angkot biasa atau non-AC.

"Untuk tarif pinginnya naik, karena kebutuhan bahan bakar kan akan nambah. Enggak mungkinlah pemerintah malah ngerugiin yang sudah bermodal, di pasangin fasilitas AC tarifnya tetep sama aja," pungkasnya.