Features

Keluar dari Zona Nyaman, Pria Ini Jadi Pengusaha Sablon Sukses

Selasa, 08 Agustus 2017 13:15:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Rilangga Firsttian

Rifai (31) tengah mempraktikan kegiatan sablon
Rifai (31) tengah mempraktikan kegiatan sablon

Share this








Rifai (31) berbekal pengalaman sebagai tukang sablon di usaha orang. Dirinya pun keluar dari zona nyaman dan sekarang telah menjadi pengusaha sablon sukses

LEBAK BULUS – Berawal dari ikut bekerja menjadi tukang sablon, Rifai (31) memutuskan untuk membuka usahanya sendiri setelah mendapat pengalaman selama empat tahun. Pria lulusan sekolah menengah atas (SMA) itu pun mengungkapkan perjalanan panjangnya demi keluar dari zona nyaman.

Bapak dari tiga orang anak itu menerangkan perjalanan menjadi tukang sablon tidak semulus yang dikiranya. Walaupun, ia sendiri sempat merasa percaya diri karena telah memiliki kemampuan di bidang tersebut.

"Memang awalnya saya ragu buka sendiri, cuma saya coba untuk berani supaya saya bisa berkembang dan keluar dari zona nyaman saya," ungkapnya.

Akan tetapi, Rifai tidak menyadari bahwa kemampuan saja tidak cukup karena ia membutuhkan pemasaran untuk jasanya yang dirasa sulit, mengingat sudah banyak jasa serupa ditawarkan bahkan lebih bagus hasilnya.

"Sulit sekali mendapat pelanggan, tapi saya terus aja sablon desain sendiri terus saya promosiin ke temen," ungkap warga Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Tak pantang menyerah, Rifai pun menunggu hingga dua tahun lamanya, agar bisa membuahkan hasil yang lebih baik. Akhirnya, jasanya sebagai tukang sablon pun diakui oleh beberapa distro anak muda, serta sekolah yang membutuhkan jasa pembuatan baju seragam.

Tapi, perjuangan tidak berakhir sampai di situ, Rifai mengaku selama dua tahun sempat tidak memiliki penghasilan yang jelas dan pasti. Sekarang, ia dapat bernafas lega dan bisa menghidupi anak-anaknya dengan penghasilan hampir Rp7 juta per bulan.

Penghasilan itu Ia dapatkan lewat pengerjaan ratusan kaos dalam satu hari. Rifai membeberkan rahasia para pelanggan tetap setia pada jasanya yaitu dengan menggunakan teknik sablon manual.

“Saya masih pakai sablon manual dengan tinta rubber. Soalnya, sekarang orang-orang udah banyak yang pakai tinta print tapi saya tetap berusaha di manual," terusnya.

Kesuksesan Lewat Berbagi

Terlepas dari jerih payah yang telah dilakukannya, Rifai juga tak luput untuk tetap bersyukur atas kesuksesannya sekarang ini. Salah satu cara untuk bersyukur, Ia memilih untuk beramal.

Tak ragu, ia pun mencoba berbagi dengan warga yang tinggal di wilayah Masjid Al-Aqsa, Palestina. Rifai mencetak 1.000 kaos bertuliskan Save Al-Aqsa, yang keuntungan sepenuhnya akan disumbangkan ke warga di sana.

"Saya merasa banyak rizki yang saya dapat, oleh karena itu saya ingin beramal dengan cara seperti ini," ungkap Rifai.

Ini adalah kali keempat, dirinya melakukan bakti sosial seperti ini. Tiga diantaranya, untuk warga Palestina dan Rohingya.

Tak sampai di situ, ia pun kerap kali membagikan ilmu menyablonnya kepada anak secara suka rela tanpa dipunggut biaya. Bagi Rifai, membagikan ilmu maka akan membuatnya bertambah banyak ilmu yang didapat.

"Sekarang ada sekitar 20 orang yang jadi murid, mereka saya ajarin tanpa saya pungut biaya, biar saya semakin mahir. Merek semua sekarang rata-rata sudah buka jasa sablon sendiri, dan penghasilannya cukup lumayan," tutupnya.