Features

Kalijodo, Dulu dan Sekarang

Senin, 06 Februari 2017 14:30:00
Editor : Hanafie | Sumber : DBS

RPTRA Kalijodo
RPTRA Kalijodo

Share this





Kalijodo yang dulunya lokasi prostitusi, kini berubah menjadi taman bermain yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas umum lainnya.

KALIJODO – Kalijodo. Kawasan ini adalah sebuah area di sekitar Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan Kecamatan Penjaringan. Secara umum, daerah ini dulunya terkenal sebagai sarang hiburan malam dan prostitusi untuk kelas bawah.

Tempat ini menjadi semakin terkenal karena sorotan dalam cerita dan film Ca Bau Kan. Bahkan yang fenomenal ketika menjadi sasaran penertiban pada masa pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Berdasarkan informasi dari wikipedia, awalnya nama Kalijodo berasal dari kata Kali dan Jodoh. Tempat ini di masa lalu adalah salah satu tempat perayaan budaya Tionghoa bernama peh cun, yaitu perayaan hari keseratus dalam kalender imlek.

Salah satu tradisi dalam perayaan peh cun adalah pesta air. Pesta ini menarik perhatian kalangan muda dan dibiayai oleh orang-orang berada dari kalangan Tionghoa. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi kali Angke.

Setiap perahu diisi oleh tiga hingga empat perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama Tiong Cu Pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau. Sebaliknya, jika perempuan menerima, ia akan melempar balik dengan kue serupa.

Asal Usul

Tradisi ini akhirnya terus berlanjut sebagai ajang mencari jodoh sehingga dari sinilah sebutan Kali Jodoh berasal. Tradisi ini berhenti di tahun sejak tahun 1958 setelah Wali Kota Jakarta Sudiro yang menjabat diera 1953-1960 melarang perayaan budaya Tionghoa.

Namun menurut versi lain, Kalijodo memang pada awalnya sudah merupakan wilayah prostitusi terselubung. Pada tahun 1600an, banyak pelarian dari Manchuria berlabuh di Batavia, lalu mencari istri sementara atau gundik karena tidak membawa istri dari negara asalnya. Tempat untuk mencari pengganti istrinya di daerah Kalijodo.

Para calon gundik ini mayoritas didominasi oleh perempuan lokal, yang akan berusaha menarik pria etnis Tionghoa dengan menyanyi lagu-lagu klasik Tionghoa di atas perahu yang tertambat di pinggir kali. Pada masa tersebut, perempuan yang akan menjadi gundik disebut Cau Bau.

Cau Bau, yang bermakna perempuan, dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan pelacur. Kendati demikian, di lokasi tersebut masih berlangsung aktivitas seksual dengan transaksi uang. Aktivitas utamanya adalah menghibur dan mendapat penghasilan, mirip konsep Geisha di Jepang.

Di masa kini, Kalijodo tidak hanya dikunjungi orang-orang etnis Tionghoa, namun juga laki-laki non Tionghoa. Akibatnya Kalijodo berubah menjadi tempat pelacuran sesungguhnya. Bahkan semakin ramai sejak Kramat Tunggak ditutup.

Ruang Publik Terpadu

Tapi kini, sejauh mata memandang, terhampar lahan luas yang tengah dalam pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Pembangunannya mulai menunjukkan rupanya. Di sisi wilayah Jakarta Barat, sudah tampak lapangan futsal, taman, dan bangunan serbaguna.

Setiap sebidang taman ditanami satu pohon. Total ada sekitar delapan pohon yang ditanam. Pohon itu belum tumbuh dengan sempurna. Untuk menambah kecantikannya, terdapat rumput di sekitar pintu masuk dan lapangan futsal. Rumput itu juga masih dalam proses pertumbuhan dan belum sempurna. Saat ini, pembangunannya baru sekitar 80 persen.

Kalijodo sisi Jakarta Utara juga masih tahap pembangunan fisik. Kalijodo di sisi Jakarta Utara memiliki lahan lebih luas dibanding sisi Jakarta Barat. Oleh karena itu, beberapa fasilitas lebih banyak dibangun di Kalijodo sisi Jakarta Utara.

Fasilitas itu berupa arena skateboard berstandar internasional, plaza, forest sculpture, dan area tamasya. Saat ini, pembangunan fisik plaza dan arena skateboard mulai tampak.

Untuk area plaza, sudah terlihat beberapa kerangka dan tiang bangunan. Area itu juga sudah ditinggikan dan dibuat rapi. Sementara itu, arena skateboard sudah mulai terbentuk. Para pekerja tengah menghaluskan lantai untuk arena olahraga ekstrem tersebut. Selain dua fasilitas itu, pembangunan di Kalijodo sisi Jakarta Utara belum sepenuhnya terlihat secara fisik bangunan.

Percantik Lewat Graffiti

Tak Cuma taman dan fasilitas permainan, kawasan ini juga dipercantik dengan adanya graffiti. Lokasinya terletak di tembok sisi barat rumah pompa Kalijodo. Graffiti itu nampak di dinding sepanjang 24 meter dan tinggi sekitar 8 meter.

Pengerjaan graffiti belum selesai. Baru satu gambar yang terlihat jelas yakni berupa bunga. Gambar lain belum terlihat secara utuh, meskipun sudah dalam proses pengerjaan.

Proses pengerjaan graffiti dilakukan dengan memperhatikan keamanan. Seniman graffiti atau biasa disebut ‘bomber’ memasang steger besi. Pemasangan steger agar lebih memudahkan bomber.

Di atas steger juga dipasang terpal biru. Fungsi terpal agar para bomber dan graffiti tidak terkena hujan selama proses pengerjaan. 







Features

Diteriaki Maling, Penagih Hutang di Penjaringan Tusuk Warga hingga Tewas.

Minggu, 11 Oktober 2015 15:47:47
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Ilustrasi Penangkapan
Ilustrasi Penangkapan

Share this





Aris mengaku tidak bermaksud untuk membunuh korbannya. Ia hanya berupaya membela diri lantaran terus menerus dipukuli dan ditendangi massa.

PENJARINGAN – Bermaksud membantu tetangganya sekaligus memeroleh imbalan untuk membantu biaya hidupnya sehari-hari, Aris (35) kini malah harus mendekam di balik jeruji besi Mapolsektro Penjaringan, Jakarta Utara.

Cerita ini bermula saat Aris tengah duduk di teras rumahnya beberapa waktu. Tak lama kemudian, datanglah tetangganya yang bernama Mama Hila. Kepada Aris, Mama Hila bermaksud meminta tolong untuk menagihkan utang kepada Ronald sebesar Rp 2 juta.

“Dia (Mama Hila) bilang Ronald minjam uang dengan jaminan motor. Uangnya diambil tapi motornya enggak dikasih. Nah, saya dimintai tolong untuk membantu menagih. Saya menyanggupi untuk sama-sama menagih ke rumah Ronald,” cerita Aris, Kamis (8/10/2015) di Mapolrestro Jakarta Utara.

Aris dan Hila pun mendatangi rumah Ronald di kawasan Gang Naga, RT 08, RW 07, Teluk Gong, Pejagalan, Jakarta Utara pada Minggu (4/10/2015) malam, sekira pukul 21.00 WIB. Sebelum menagih hutang keduanya melapor terlebih dahulu pada pengurus RT setempat.

Usai memeroleh izin, Aris dan Hilla pun bergegas mendatangi rumah Ronald. Sesampainya di sana, mereka melihat sepeda motor milik Ronald terparkir di halaman rumah. Namun, Ronald yang berulang kali dipanggil-panggil tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Aris yang kesal lantaran Ronald tak kunjung menujukan batang hidungnya pun semakin kencang meneriaki Ronald diiringi luapan emosinya.

"Ronald… Ronald…. Keluar, saya tahu kau ada di dalam," teriak Aris.

Tanpa dinyana, sesaat setelah itu ada orang yang meneriakinya sebagai maling. Hanya dalam waktu sekejap, massa sudah berkerumun di depan rumah Ronaldn dan mengepung Aris. Tanpa perlu dikomando, berbagai pukulan, tendangan hingga hantaman benda tumpul dilontarkan warga terhadap Aris.

Sempat berusaha melarikan diri, Aris kembali terjatuh lantaran banyaknya warga yang mengeroyoknya. Tak ingin mati konyol, Aris pun mengambil sebilah pisau dapur yang sudah dipersiapkannya untuk berjaga-jaga.

Di tengah kepanikan dan upaya menyelamatkan diri dari penghakiman massa, Aris pun ‘memainkan’ pisaunya dan mengenai salah satu massa tepat di bagian pinggang dan dada kiri yang menembus ke jantung.

Melihat korban penusukan yang belakangan diketahui bernama Aris Feryanto (32) tumbang, massa pun sempat terdiam. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Aris untuk melarikan diri. Namun, tidak sampai satu jam kemudian, Aris dibekuk polisi di rumahnya yang terletak di kolong tol Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Benar kami telah menangkap pelaku penusukan pada pukul 23.35 WIB pada hari yang sama di rumahnya di kawasan Kalijodo. Pelaku ditangkap tanpa perlawanan dan segera kita amankan ke Polsek Penjaringan," ujar Kapolsek Penjaringan AKBP Ruddi Setiawan, Jumat (10/10/2015).

Kini, Aris tengah menghitung waktu terkait persidangan dirinya dengan menjadi tahanan di Polsektro Penjaringan. Ia dikenai Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman penjara di atas 7 tahun.







Features

Kawasan Kalijodo, Pria Bersenter dan Rindu 150 Ribu

Minggu, 14 Februari 2016 10:11:55
Editor : | Reporter : Adi Wijaya

Sisi lain kawasan Kalijodo.
Sisi lain kawasan Kalijodo.

Share this





Begitu rapihnya koordinasi di kawasan Kalijodo, sampai-sampai sejak tiba hingga jelang pulang pun saya selalu melihat diarahkan dengan cahaya senter.

TAMBORA – Senja baru saya usai, matahari belum lama kembali ke peraduannya, saat gemerlap lampu dan papan reklame mulai dinyalakan. Denyut kehidupan dan hiruk-pikuk lalu-lalang manusia dan kendaraan pun silih berganti, kian ramai seiring dengan kian larutnya malam.

Itulah suasana Kalijodo, lokalisasi termurah dan terbesar se-Asia Tenggara yang ramai disorot akhir-akhir ini, saat saya menyambangi kawasan abu-abu ini tengah pekan kemarin. Bukan hanya karena denyut kehidupannya, kawasan ini juga disebut sebagai kawasan abu-abu, lantaran terletak di antara dua kota administrasi, Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Sayup-sayup mulai terdengar lantunan musik dangdut dan disko koplo yang berdegup kencang, seakan menuntun saya ke lokasi parkir salah satu tempat café dengan reklame minuman beralkohol berukuran besar tepat di atas pintu masuk.

Saya pun sempat tertegun dan bergumam dalam hati, seperti ini rupanya geliat kehidupan malam di Kalijodo. Kontras dengan suasana saat saya bertandang siang tadi, dimana suasana begitu sunyi, tidak ada alunan musik yang menghentak-hentak. Malah, ada kegiatan pengajian di salah satu rumah di kawasan tersebut.

“Hei mas, mau ngapain? Mau masuk ngga? ,” Tiba-tiba saja suara berat sesosok pria diikuti sorotan lampu senter pun menyadarkan lamunan kekaguman saya, Rabu (10/2/2016).

Saya pun bergegas melepas semua atribut berkendara, seraya menjawab pertanyaan pria tadi.

“Iya bang, sebentar,” jawab saya.

Pria yang memperkenalkan dirinya sambil menyebutkan nama khas salah satu suku di Indonesia ini pun kemudian mengarahkan dengan ramah ke salah satu sudut ruangan, dimana ada kursi dan meja yang kosong.

“Baru pertama kali ya ke sini? Santai saja kawan. Saya kasih pertama minuman free sebagai perkenalan. Nikmatin ya, saya harus lanjut tugas,” tukasnya bersahabat sambil mengarahkan senter yang dibawanya ke salah satu sudut café tersebut.

Tak menunggu lama, seorang perempuan berbadan sintal dengan pakaian serba ketat pun menghampiri dan sambil menanyakan minuman yang ingin saya pesan. Sempat melihat daftar minuman yang disodorkan, saya pun memesan dua botol softdrink dengan segelas es batu.

Sejurus kemudian, alunan musik di tempat tersebut pun semakin keras seiring dengan keluarnya sejumlah perempuan berpakaian seksi dari dalam ruang di belakangan ‘panggung’ di café tersebut.

Satu per satu pengunjung yang ada pun mulai larut dan asyik berjoged dengan para perempuan pemandu lagu tersebut. Sesekali sorot lampu senter menerpa tubuh para perempuan pemandu lagu tersebut bergantian. Mengganggu saja, batin saya, karena itu bukanlah lampu sorot.

Belum selesai kekesalan saya, tiba-tiba pria yang tadi menyambut saya pun sudah berada di samping saya seraya berujar.

“Pilih yang mana? Santai saja, nanti kalau sudah ada yang book, saya kasih tahu” lugasnya sambil menyoroti para pemandu lagu seperti yang membuat kekesalan saya beberapa menit sebelumnya.

Belum usai saya tercengang dengan penjelasan pria tersebut, ia pun sudah menyerocos kembali.

“Ada bilik di belakang, aman. Harga juga enggak mahal kok. Santailah. Apalagi ini baru pertama kan. Atau masih bingung? Oke, saya atur ya,” sambungnya.

Ia pun langsung menyorotkan lampu senternya dengan ritme cepat sebanyak tiga kali ke salah satu perempuan pemandu lagu. Sang perempuan pun bergegas menghampiri kami. Memiliki rambut sebahu, posturnya memang tidak terlalu tinggi, namun padat berisi, bukan over weight.

Mini dress setali berwarna hitam yang dikenakannya menujukan aura seksi yang dimilikinya. Bibir tipis dengan rambut halus di bagian tepi yang menggoda itu berujar singkat.

“Rindu (26),” ucapnya halus memperkenalkan diri, mengagetkan lamunan nakal saya.

Usai berbasi-basi, saya dan Rindu pun diarahkan pria yang dari awal memandu saya pun mengarahkan kami ke salah satu akses jalan, sambil lagi-lagi memainkan cahaya lampu senternya,

“Ikuti itu aja, Rindu sudah tahu. Nanti juga diarahin. Eh, dijaga yang benar, masih baru pertama,” ujar pria tersebut kepada saya dan Rindu.

Kami pun bergegas mengikuti arah yang ditunjukan, berpisah dengan pria tersebut hinga akhirnya tiba di depan sebuah kamar. Rindu pun mengambil inisiatif masuk terlebih dahulu kemudian ‘menarik’ saya masuk.

Sadar akan rasa kikuk yang melanda saya, Rindu pun dengan sabar dan penuh keramahan berusaha membuat saya nyaman di dalam kamar berukuran 2x3 meter dengan kondisi yang cukup lumayan untuk sekadar melepas birahi.

“Saya panggil mas aja ya, biar akrab. Kalau enggak ‘main’ juga enggak apa-apa kok mas. Baru pertama kali ya ke tempat begini? Biasanya ‘main’ atau tidak bayarnya tetap full. Tapi tadi saya dipesananin suruh melayani semua keperluan mas. Kalau enggak main, ngga apa-apa bayar setengah aja,” tutur Rindu halus, seakan menjadi ice breaking di antara kami, seraya menjelaskan kalau dia dititipi beberapa pesan oleh pria yang membawa lampu senter tadi sebelum menemani saya.

Kami pun sepakat untuk melalui malam itu dengan berbincang-bincang saja. Sempat terbersit kecurigaan di diri rindu, khawatir saya ini penegak hukum yang sedang menyamar. Namun, setelah berhasil meyakinkan dia kalau saya hanya pengunjung biasa, yang baru pertama kali ke tempat hiburan malam, ia pun kembali hangat.

“Di luar lagi ramai ya soal Kalijodo. Padahal di sini emang benar-benar cuma café karaoke doang. Lihat sendirikan tadi. Ini aja kita kan keluar sedikit. Sok tahu aja tuh yang bilang ada prostitusi di café” ungkapnya.

Rindu menuturkan, rata-rata perempuan seperti dirinya di café-café yang terdapat di Kalijodo memang melayani nafsu birahi laki-laki. Namun, tidak selamanya seperti itu, ada kalanya mereka hanya pure menemani berjoget dan minum, mengusir penat.

“ Kalau ngamar pun, belum tentu ‘main’ juga kok. Ada juga yang cuma ngobrol kayak kita gini mas. Ada juga yang minta dipuasin tapi enggak ‘main’, ya paling oral sama pakai tangan saja. Rata-rata tarif kita Rp 150 ribu. Cuma yang kita terima Rp 100 ribu, dipotong komisi keamanan dan kamar ini. Itu sekali main paling lama 40 menit,” paparnya.

Begitu cepat waktu belalu dengan mendengarkan berbagi cerita yang ditutukan rindu. Saya pun sempat mengajukan penambahan waktu saat seorang perempuan mengetuk pintu kamar kami, tepat 40 menit kami berada di dalam kamar.

Total 3 sesi atau 120 menit saya habiskan bersama Rindu. Sesuai kesepakatan dengan Rindu, saya tetap membayarnya penuh, Rp 150 ribu x 3, ditambah dengan tip untuknya, genap Rp 1 juta saya keluarkan. Ia pun sempat menolaknya karena merasa tidak enak, lantaran kami hanya bercerita-cerita saja.

Ia pun sempat berusaha menawarkan layanan oral, karena merasa menerima tip yang lumayan. Namun, setelah saya yakin kan dan kita berjanji untuk cerita-cerita lagi di lain hari, ia pun tersenyum dan mengangguk. Kami pun melangkah keluar kamar tersebut sambil berjalan menuju lokasi motor saya terparkir.

“Gila, baru kelar. Kayaknya berkesan banget yang pertama. Enggak salahkan gua pilihin si Rindu. Ya udah lanjut, ikutin arah ini aja ya,” tiba-tiba saya dan Rindu dikagetkan dengan suara si pria bersenter.

Saya pun sudah bersiapa melajukan kembali kuda besi saya, sementara Rindu sudah berada di sisi sang pria bersenter yang kembali memainkan sinar lampu senter ke arah jalan keluar yang akan saya lalui. 







Features

Jejak Tionghoa di Kalijodo

Sabtu, 20 Februari 2016 10:25:50
Editor : Andi MZ | Reporter : Chandra Purnama

Kawasan Kalijodo yang akan ditertibkan.
Kawasan Kalijodo yang akan ditertibkan.

Share this





Pada tahun 1950-an, muda-mudi Tionghoa kerap menggelar perayaan Peh Cun di Kalijodo. Perayaan itu melahirkan nama Kalijodo.

PENJARINGAN – Kalijodo dikenal sebagai hiburan malam kelas teri di Ibu Kota. Di kawasan yang berada di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara ini berdiri cafe remang-remang dan tempat penginapan serta aneka hiburan. Lengkap dengan wanita penghiburnya dan rupa-rupa minuman beralkohol.

Nama Kalijodo mulai kesohor pada tahun 1950-an. Dahulu, kawasan yang disebut Kali Angke ini sering digunakan kalangan muda-mudi etnis Tionghoa sebagai tempat perayaan menyeberangi sungai yang disebut Peh Cun. Warga setempat juga kerap ikut memeriahkan acara menyebrangi sungai tersebut.

Menurut budayawan Ridwan Saidi, perayaan Peh Cun bukan sekedar menyebrangi sungai. Tapi diisi dengan acara pandang memandang antara muda mudi. Dari pandangan itu, tak sedikit di antara mereka yang jatuh cinta. Jika seorang pemuda menaksir gadis, maka dia akan melempar kue ke arah perempuan idamannya.

Perayaan Peh Cun itulah yang membuat nama Kali Angke berganti menjadi Kalijodo. “Kali Angke berganti stigma menjadi Kalijodo karena di tempat itu banyak yang dapat jodoh,” tutur Saidi, budayawan asli Betawi, Minggu (13/2/2016).

Saidi bercerita perayaan Peh Cun digelar hampir setiap tahun. Namun Wali Kota Jakarta Sudiro geram. Ia menilai perayaan tersebut haram. "Akhirnya, pada tahun 1958, Sudiro melarang perayaan Peh Cun tanpa alasan yang jelas,” ujarnya.

Saat Perayaan Peh Cun tinggal kenangan, terjadilah urbanisasi besar-besaran dikawasan tersebut. Sedikit demi sedikit warga asli Kalijodo tergusur oleh pendatang yang ingin mengadu nasib di Ibu Kota.

Pada tahun 1963 muncullah Wanita Tuna Susila (WTS) seiring sulitnya perekonomian. WTS mulai banyak berdatangan dari luar Jakarta. "Keberadaan WTS Kalijodo terus terus berkembang. Sampai ada RT dan RW, prostitusi terus berjalan," ingat Saidi.

Mulai dari tahun kelam tersebut sampai di era digital sekarang, Kalijodo selalu identik dengan judi, minuman keras dan prostitusi. Meski demikian, bukan karena itu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ingin mengubah wajah Kalijodo. Ahok, panggilan akrab Basuki, menggusur Kalijodo karena berada di RTH.







Features

Kalijodo akan Menjadi Cerita Usang

Minggu, 21 Februari 2016 12:44:51
Editor : | Reporter : Wahyu Muntinanto

Operasi yang Dilakukan di Kawasan Kalijodo
Operasi yang Dilakukan di Kawasan Kalijodo

Share this





Kalijodo memang memiliki sejarah panjang. Dengan rencana penggusuran yang ramai diberitakan, Kalijodo akan menjadi salah satu cerita untuk pengantar tidur

Kalijodo. Kawasan yang terkenal dengan prostitusi, judi dan peremanismenya itu sebentar lagi hanyalah sebuah cerita yang mungkin akan didengar. Pasalnya, Pemprov DKI Jakarta tak lama lagi akan meluluh lantahkan bangunan milik warga yang berdiri di lahan pemerintah seluas 1.847 meter persegi sejak abad ke 18 silam.

Dengan alasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), Gubernur DKI Jakarta Basuki T purnama (Ahok) sudah melayangkan sosialisasi berupa surat teguran agar warga jalan Kepanduan II Rw 05 Penjaringan, Jakarta Utara agar segera angkat kaki dari wilayah yang terkenal sebagai tempat hiburan malamnya itu.

Jika kawasan itu memang benar dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) setidaknya ada hal positif yang bisa di dapat, kita masih bisa bernafas lega menghirup udara di Jakarta dan masih ada anak-anak yang berlarian belajar di alam terbuka ibukota.

"Itu ruang terbuka hijau, kita akan kembalikan sebagai mana fungsinya," kata Ahok dari sumber infonitas.com.

Sejak kecelakan mobil Fortuner yang menelan korban jiwa sehabis berpesta miras di kawasan Kalijodo, kini gemerlapnya lampu-lampu berwarna dan dentuman alunan musik dangdut koplo sudah tak lagi terdengar. Bahkan, Kalijodo sekarang bak kota mati layaknya kota di film-film perang. Ribuan Pekerja Seks Komersial (PSK) yang bertahun-tahun mencari makan demi alasan menghidupi keluarganya, sudah berkemas menuju kampung halamannya masing-masing.

Untuk memastikan tidak ada lagi aktifitas hiburan malam yang terletak di dua sisi Ibu kota antara Jakarta Utara dan Jakarta Barat itu, ribuan aparat gabungan menggelar oprasi pemberantasan penyakit masyarakat, Sabtu (20/2/2016) pagi

Rupanya kedatangan ribuan personil aparat gabungan membuat jantung Kalijodo kembali berdenyut. Namun, kedatangan mereka disana bukan lagi untuk mencari kenikmatan duniawi tapi menyisir kafe dan mencari preman yang berusaha melakukan provokasi terhadap warga Kalijodo agar tetap bertahan.

Suara langkah pasukan gabungan pun bergemuruh terdengar bersahutan bak tentara serdadu yang ingin berlaga di medan perang. Razia yang dipimpin langsung Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnivian itu langsung merazia satu per satu rumah penduduk dan kafe-kafe hingga menembus gang-gang sempit.

Tak terkecuali Kafe Intan yang diduga milik Abdul Azis atau yang dikenal Daeng Azis. Dari kafe pentolan Kalijodotersebut, aparat mendapati ratusan botol minuman keras dan berbagai senjata tajam yang diduga akan digunakan untuk melawan saat pembongkaran nanti.

"Sudah banyak yang kabur ya premannya, tapi gak apa-apa, bisa kita liat sendiri hasil operasi kali ini kami menemukan ratusan botol miras, ratusan alat kontrasepsi, senjata tajam berupa celurit, parang dan anak panah beracun," ujar mantan kepala Densus 88 di Kalijodo, Sabtu (20/2/2016).

Ya itulah lokalisasi kalijodo...

Tentunya akan menjadi sebuah cerita usang tentang bergelimangnya uang, asmara, judi dan premanisme di daerah itu. Barangkali, itulah sedikit gambaran betapa kerasnya Jakarta untuk bertahan hidup.

Cerita kalijodo nanti, mungkin seperti kita mendengar cerita saat awal kali jodo berdiri. Saat itu, etnis tionghoa melarikan diri ke Batavia dengan tidak membawa istri, sehingga mereka pun akhirnya mencari gundik atau pengganti istri di Batavia. Dalam proses pencarian gundik, mereka kerap kali bertemu di bantaran sungai. Lalu tempat yang dianggap menjadi pertemuan pencarian jodoh itu dinamakan Kalijodo.







Features

Mengubah Wajah Kalijodo

Kamis, 01 Desember 2016 18:08:24
Editor : | Reporter : Wahyu Muntinanto

Pembangunan area Joging Track kawasan Kalijodo.
Pembangunan area Joging Track kawasan Kalijodo.

Share this





Pembenahan kawasan Kalijodo terus dilakukan. Nantinya, kawasan Kalijodo akan dilengkapi beragam fasilitas.

PENJARINGAN – Kawasan Kalijodo terbagi dalam dua pemerintah kota administrasi, Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Sebelumnya, kawasan ini kental dengan image prostitusi. Namun, pasca Pemprov DKI melakukan penertiban pada akhir Februari 2016, suasananya berubah 180 derajat.

Kafe sebagai tempat penjaja wanita yang tadinya memenuhi Jalan Kepanduan II, sudah rata dengan tanah. Kini, jauh lebih senyap. Terlebih, saat malam hari.

Hingar bingarnya berganti dengan suara deru mesin alat berat. Pemprov DKI Jakarta memang tengah berupaya mengubah wajah Kalijodo. Paling tidak, seperti era 1950-an, menjadi wadah berkumpul kalangan muda mencari jodoh.

Pembangunan sudah berlangsung sejak Mei 2016. Nantinya, kawasan eks Kalijodo akan dilengkapi dengan beragam fasilitas, seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH), area skateboard, BMX park, lapangan fustal, jogging track, dan taman bermain.

“Untuk wilayah yang berada di Jakarta Barat, pembangunan sudah hampir rampung. Ada lapangan futsal dan gedung pertemuan,” kata Camat Penjaringan, Jakarta Utara Muhammad Andri kepada infonitas.com, Kamis (1/12/2016).

Namun, untuk pembangunan fasilitas di wilayah Jakarta Utara, seperti RTH, area skateboard, dan BMX park masih terus berlangsung. Masih dalam tahap perampungan.

“Jakarta Barat mungkin akan lebih dahulu selesai karena lahan kita lebih luas,” tuturnya.

Saat ini saja, pembangunan RTH baru mencapai 60 persen. “Kita juga sedang bangun BMX dan skateboard enggak jauh dari futsal. Terus juga tugu monumen selamat datang di depan jogging track, BMX, jalur hijau, skateboard. Untuk jalur hijau, sekarang sudah dalam tahap penataan usai diuruk.”

Andri berharap, proyek pembangunan RPTRA Kalijodo selesai sesuai target. “Semoga, pertengahan 2017, semua fasilitas sudah bisa dimanfaatkan warga,” pungkasnya.







Features

Cerita Mpok City Kalijodo

Jumat, 07 April 2017 16:00:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Yatti Febriningsih

Mpok City Tour, Merke
Mpok City Tour, Merke

Share this





Sempat menjajal berbagai bidang pekerjaan, Merke kini lebih menekuni sebagai pramudi Transjakarta yang lebih mampu menghadirkan beragam kesan

JAKARTA – Kalijodo yang identik dengan kawasan perjudian dan prostitusi kini sudah berganti wajah menjadi kawasan yang menyenangkan dan jauh dari hal negatif. Terlebih dengan dibangunnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Belum lagi Petahana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama bersama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menyediakan bus gratis menuju Kalijodo. Ini menjadi salah satu daya tarik masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Kalijodo untuk berwisata dan menikmati bus gratis yang disediakan.

Dari semua fasilitas yang disediakan sosok Mpok City Kalijodo juga tentunya harus menjadi perhatian. Hal ini lantaran mereka yang selalu setia mengantar para penumpang bus wisata gratis menuju Kalijodo setiap harinya. Dan salah satu pramudi wanita bus wisata gratis tersebut bernama Merke.

“Di Kalijodo semua drivernya perempuan, makanya dibilang kan Mpok City. Mpok itu artinya kan perempuan. Jadi perempuan yang membawa Bus City Tour,” kata Merke kepada Infonitas.com disela-sela tugasnya.

Sejarah Terjun Menjadi Pramudi Wanita

Merke sendiri sudah bergabung dengan Transjakarta sejak tahun 2004, sementara ditugaskan dua tahun belakangan ini di bus wisata. Sebelumnya, Wanita paruh baya ini mengaku banyak menjajal bidang pekerjaan lain untuk mencari nafkah.

“Saya saat awal bergabung dengan Transjakarta itu bertugas di koridor (Dukuh Atas – Ragunan). Sebelumnya saya pernah jadi tata usaha di SMK, saya pernah menjadi administrasi keuangan, saya juga pernah bekerja di showroom mobil dan masih banyak lainnya,” cerita wanita asal Manado itu. 

Merke mengatakan awalnya ia hanya tertarik untuk bergabung dengan Transjakarta dengan persepsi pramudi wanita yang hebat dimatanya. Ditambah bisa melayani ratusan bahkan ribuan penumpang menjadi salah satu kepuasan tersendiri dimatanya saat itu. 

“Awalnya sih cuma ngeliat perempuan membawa bus itu keren yah. Saya sempat takutnya awalnya karena kita dasarnya kan cuma mobil kecil. Tapi, kok lama-lama saya berpikir,  dia bisa kok saya nggak. Selain itu kita juga melihat wah, bisa melayani orang banyak, itu yang membuat saya tertarik ingin bergabung,” lanjutnya. 

 

Suka Duka Menjadi Pramudi Bus

Aktifitas menjadi seorang pramudi yang melayani masyarakat diakui Merke tidaklah muda. Karena disamping jam kerja selama kurang lebih 8 jam mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB, ia juga harus melaksanakan kegiatan lainnya sesuai aturan.

“Itu kan jam kerjanya sesuai jadwal. Sebelumnya kita kumpul di pool dulu, breffing dulu dari jam 7. Jam 8 kita bawa keluar mobil, jam 9 kita sampai Balai Kota dan baru kita mulai beroperasional melayani sampai jam 17.00. Setelah itu kita isi solar dulu sekitar jam 19.00 baru kita bisa sampai di pool kembali,” papar Merke.

Oleh karena itu setelah bertahun-tahun menjadi pramudi wanita, membuat Merke mempunyai banyak cerita baik suka dan duka. Meski begitu, ia mengaku sangat senang bisa menjadi bagian dari bagian pramudi wanita lain yang melayani masyarakat.

“Kami sering dimarah-marahin orang. Ada yang bilang kita bikin macetlah, kadang bilang headway lah, itu kan bukan kita yang mau. Tapi, saya fiki melayani jatuhnya bahagia hati nurani lah yah, bawa manusia lah istilahnya, melayani dengan ikhlas jadi kepuasan tersendiri buat kami. Kita sangat bangga sekali bisa dipercaya untuk beroperasional di rute Kalijodo, karena kita sama-sama tahu bagaimana Kalijodo dulu dan sekarang seperti apa,” katanya

Baca juga : KPU DKI Upayakan Agar TPS Bisa Berdiri di Komplek TNI

Dukungan Keluarga dan Harapan Ke Pemerintah

Merke mengatakan semua kerja kerasanya ini adalah dukungan dari keluarnya yang membuatya semangat. Hal ini yang kemudian menjadi motivasi ibu dari dua anak ini untuk berdedikasi lebih lagi melayani masyarakat.

“Ibu saya awalnya nggak mendukung, yang mendukung justu ayah saya. Tapi, kalau anak-anak saya justru sangat mendukung sekali. Makannya saya bangga, karena rata-rata perempuan yang bekerja di Transjakarta adalah perempuan yang kuat. Yang memang mau menghidupi keluarga. Semuanya sih have fun, be happy, semuanya dibawa nikmat,” ujarnya.

Dengan dedikasinya melayani masyarakat selama ini, Merke berharap pemerintah bisa memberi perhatian yang lebih lagi khususnya untuk pramudi wanita sendiri.

“Kita berharap perhatian peerintah terhadap pramudi-pramudi wanita agar lebih diperhatikan lagi.  Kita sebenarnya nggak menuntut yang lebih, cuma kita juga juga memelukan fasilitas lainnya, kita belum punya rumah dan sebagainya,  kali aja kita dikasih rumah susun,” tandasnya.