Features

Kalijodo, Dulu dan Sekarang

Senin, 06 Februari 2017 14:30:00
Editor : Hanafie | Sumber : DBS

RPTRA Kalijodo
RPTRA Kalijodo

Share this








Kalijodo yang dulunya lokasi prostitusi, kini berubah menjadi taman bermain yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas umum lainnya.

KALIJODO – Kalijodo. Kawasan ini adalah sebuah area di sekitar Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan Kecamatan Penjaringan. Secara umum, daerah ini dulunya terkenal sebagai sarang hiburan malam dan prostitusi untuk kelas bawah.

Tempat ini menjadi semakin terkenal karena sorotan dalam cerita dan film Ca Bau Kan. Bahkan yang fenomenal ketika menjadi sasaran penertiban pada masa pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Berdasarkan informasi dari wikipedia, awalnya nama Kalijodo berasal dari kata Kali dan Jodoh. Tempat ini di masa lalu adalah salah satu tempat perayaan budaya Tionghoa bernama peh cun, yaitu perayaan hari keseratus dalam kalender imlek.

Salah satu tradisi dalam perayaan peh cun adalah pesta air. Pesta ini menarik perhatian kalangan muda dan dibiayai oleh orang-orang berada dari kalangan Tionghoa. Pesta air itu diikuti oleh muda-mudi laki-laki dan perempuan yang sama-sama menaiki perahu melintasi kali Angke.

Setiap perahu diisi oleh tiga hingga empat perempuan dan laki-laki. Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama Tiong Cu Pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau. Sebaliknya, jika perempuan menerima, ia akan melempar balik dengan kue serupa.

Asal Usul

Tradisi ini akhirnya terus berlanjut sebagai ajang mencari jodoh sehingga dari sinilah sebutan Kali Jodoh berasal. Tradisi ini berhenti di tahun sejak tahun 1958 setelah Wali Kota Jakarta Sudiro yang menjabat diera 1953-1960 melarang perayaan budaya Tionghoa.

Namun menurut versi lain, Kalijodo memang pada awalnya sudah merupakan wilayah prostitusi terselubung. Pada tahun 1600an, banyak pelarian dari Manchuria berlabuh di Batavia, lalu mencari istri sementara atau gundik karena tidak membawa istri dari negara asalnya. Tempat untuk mencari pengganti istrinya di daerah Kalijodo.

Para calon gundik ini mayoritas didominasi oleh perempuan lokal, yang akan berusaha menarik pria etnis Tionghoa dengan menyanyi lagu-lagu klasik Tionghoa di atas perahu yang tertambat di pinggir kali. Pada masa tersebut, perempuan yang akan menjadi gundik disebut Cau Bau.

Cau Bau, yang bermakna perempuan, dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan pelacur. Kendati demikian, di lokasi tersebut masih berlangsung aktivitas seksual dengan transaksi uang. Aktivitas utamanya adalah menghibur dan mendapat penghasilan, mirip konsep Geisha di Jepang.

Di masa kini, Kalijodo tidak hanya dikunjungi orang-orang etnis Tionghoa, namun juga laki-laki non Tionghoa. Akibatnya Kalijodo berubah menjadi tempat pelacuran sesungguhnya. Bahkan semakin ramai sejak Kramat Tunggak ditutup.

Ruang Publik Terpadu

Tapi kini, sejauh mata memandang, terhampar lahan luas yang tengah dalam pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo. Pembangunannya mulai menunjukkan rupanya. Di sisi wilayah Jakarta Barat, sudah tampak lapangan futsal, taman, dan bangunan serbaguna.

Setiap sebidang taman ditanami satu pohon. Total ada sekitar delapan pohon yang ditanam. Pohon itu belum tumbuh dengan sempurna. Untuk menambah kecantikannya, terdapat rumput di sekitar pintu masuk dan lapangan futsal. Rumput itu juga masih dalam proses pertumbuhan dan belum sempurna. Saat ini, pembangunannya baru sekitar 80 persen.

Kalijodo sisi Jakarta Utara juga masih tahap pembangunan fisik. Kalijodo di sisi Jakarta Utara memiliki lahan lebih luas dibanding sisi Jakarta Barat. Oleh karena itu, beberapa fasilitas lebih banyak dibangun di Kalijodo sisi Jakarta Utara.

Fasilitas itu berupa arena skateboard berstandar internasional, plaza, forest sculpture, dan area tamasya. Saat ini, pembangunan fisik plaza dan arena skateboard mulai tampak.

Untuk area plaza, sudah terlihat beberapa kerangka dan tiang bangunan. Area itu juga sudah ditinggikan dan dibuat rapi. Sementara itu, arena skateboard sudah mulai terbentuk. Para pekerja tengah menghaluskan lantai untuk arena olahraga ekstrem tersebut. Selain dua fasilitas itu, pembangunan di Kalijodo sisi Jakarta Utara belum sepenuhnya terlihat secara fisik bangunan.

Percantik Lewat Graffiti

Tak Cuma taman dan fasilitas permainan, kawasan ini juga dipercantik dengan adanya graffiti. Lokasinya terletak di tembok sisi barat rumah pompa Kalijodo. Graffiti itu nampak di dinding sepanjang 24 meter dan tinggi sekitar 8 meter.

Pengerjaan graffiti belum selesai. Baru satu gambar yang terlihat jelas yakni berupa bunga. Gambar lain belum terlihat secara utuh, meskipun sudah dalam proses pengerjaan.

Proses pengerjaan graffiti dilakukan dengan memperhatikan keamanan. Seniman graffiti atau biasa disebut ‘bomber’ memasang steger besi. Pemasangan steger agar lebih memudahkan bomber.

Di atas steger juga dipasang terpal biru. Fungsi terpal agar para bomber dan graffiti tidak terkena hujan selama proses pengerjaan.