Features

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Petugas PPSU Ini Berbagi Kisah

Senin, 19 Juni 2017 16:15:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Rilangga Firsttian

Salah seorang petugas ppsu di Cilandak
Salah seorang petugas ppsu di Cilandak

Share this








Salah seorang petugas PPSU di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan bernama Sumarti (bukan nama sebenarnya) harus berjuang demi menghidupi keluarga.

CILANDAK – Menjadi tukang sapu Ibu Kota Jakarta atau biasa disebut Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) rupanya memiliki banyak cerita. Sumarti (nama samaran) mengatakan, kini warga lebih bisa menghargai keberadaan para pasukan oranye Jakarta dibandingkan dahulu.

Mungkin pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang kotor, meski begitu dirinya tidak patah semangat karena merasa pekerjaan yang ia emban sekarang menghasilkan uang yang halal untuk menghidupkan keempat anaknya.

"Sekarang sudah bisa diakui kebaradaan kami sama warga. Kalau dulu banyak perlakuan yang jahat, saya lagi nyapu di pinggir jalan diteriakin suruh minggir, dikatain, dan sebagainya," tutur salah seorang PPSU kepada infonitas.com, Senin (19/6/2017).

Meski pahit banyak dirasakan olehnya, ia mengaku jika memang masih mendapat kepercayaan dia akan tetap bekerja, karena mengingat mencari pekerjaan di Jakarta sangat sulit, terlebih untuk yang seusianya yang menginjak kepala lima.

"Kalau masih bisa jadi PPSU yaudah saya jalani, cari kerja sekarang susah, apalagi untuk yang seumur saya pasti sulit," lanjutnya.

Meski Mendapat Upah UMP Belum Cukup Untuk Biaya Hidup Sekarang

Honor sebagai pasukan oranye di DKI Jakarta sebesar Rp 3.300.000 ternyata masih dirasa kurang oleh Sumarti (nama samaran) salah seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan. Sebab, gaji yang setara Upah Minimum Provinsi (UMP) tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari Sumarti dan anak-anak yang hidup tanpa suami.

Ibu empat anak yang sudah bekerja sebagai petugas PPSU ini mengaku, dengan honor tersebut harus dibagi-bagi untuk biaya kontrakan, listrik pra bayar hingga biaya hidup keempat anaknya. Terlebih, salah satu anaknya laki-laki mengalami gangguan jiwa sejak ditinggal istri.

Padahal, menurut Sumarti, putranya tersebut sebelum mengalami gangguan jiwa merupakan satu-satunya anak yang membantu menunjang ekonomi keluarga.

"Kurang sekali penghasilan saya, biaya empat orang anak, biaya kontrakan, belum listrik yang pulsa, beli seratus ribu saja sladonya nggak sampai seratus ribu," katanya saat berbincang dengan infonitas.com di kawasan Jalan Raya Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (19/6/2017).

Masa Depan Sumarti Terancam Dengan Hadirnya Tenaga Muda

Sudah hampir 10 tahun dirinya tidak bisa merasakan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman tercinta di Pemalang, itu dirasakan karena sedikitnya waktu libur bahkan jika hari besar dirinya terkadang masih diharuskan bekerja, terlebih tidak ada ongkos yang dipegangnya untuk modal mudik.

Sadar jika tenaganya tidak lagi sebanyak saat muda, dirinya menjadi mengkhawatirkan masa depannya. Ketakutam itu sendiri datang dari mulai banyaknya tenaga muda yang tidak ragu melamar menjadi petugas oranye Jakarta.

"Saya juga belum tahu masa depan saya, kalau dulu tidak ada melamar setiap setahun seklinya, tapi sekarang jika saya mau bekerja lagi saya harus melamar lagi. Udah gitu banyak anak mudah yang jadi petugas PPSU, jadi saya mulai ketakutan tidak diperpanjang," ujarnya.







Features

Berbelanja Kue Lebaran di Pasar Mayestik

Minggu, 12 Januari 2015 18:04:54
Editor : | Reporter :

Pedagang kue kering di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan
Pedagang kue kering di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan

Share this








Kue kering khas Lebaran yang dijual di Pasar Mayestik, di antaranya nastar, kaastengels, putri salju, lidah kucing, kacang mede, pastel mini, dan sebagainy

JAKARTA – Hidangan opor ayam plus sayur ketupat menjadi menu utama di Hari Raya Idul Fitri. Biskuit dalam kemasan kaleng sudah tertata rapi di atas meja. Minuman dingin jenis sirup dan lainnya sudah tersedia di lemari es. Serasa merayakan hari Lebaran begitu sempurna dengan hidangan seperti itu

Tapi, bagaimana dengan kue kering khas Lebaran? Apakah sudah tersaji di atas meja? Mau beli atau bikin sendiri. Lebih baik beli saja karena waktunya sudah mepet, karena sebentar lagi Lebaran.

Sekarang banyak toko yang menjual kue kering buat Lebaran. Salah satunya di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di pasar ini terdapat puluhan pedagang menjual kue kering hingga meluber ke pinggir-pinggir jalan.

Salah satu pedagang kue kering, Nirwan (38) mengatakan dia menjual kue kering khas Lebaran seperti nastar, kaastengels, putri salju, lidah kucing, kue cokelat, kacang mede, pastel mini, cheese stick, dan sebagainya.

Harga kue-kue itu bervariasi mulai Rp 35 ribu untuk kue kacang dan Rp 75 ribu untuk kue jenis cokelat.

Pasar Mayestik ini ramai dikunjungi pembeli karena salah satunya kue Lebaran yang dijual pedagang di pasar ini jenisnya beragam. Sehingga pelanggan punya banyak pilihan. Susi (47) mengaku kerap kali membeli kue Lebaran di Pasar Mayestik setiap jelang Hari Raya Idul Fitri.

Menurut Susi, harga kue yang ditawarkan di pasar ini tidak terlalu mahal. Bagi Susi, kue merupakan hal penting dalam setiap Lebaran. Sebab, kue adalah hidangan camilan spesial buat para tamu yang datang ke rumahnya untuk bersilahturahmi Lebaran.

“Sudah sering ke sini setiap mau Lebaran, karena saya memang enggak pintar bikin kue, jadi, ya beli aja deh,” jelas Susi, Minggu (12/7/2015).







Features

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 17:13:31
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

 Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).

Share this








Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.







Features

Prilly Latuconsina Jajal Bisnis Kuliner

Senin, 22 Mei 2017 19:59:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Adresau Sipayung

Prilly Latuconsina.
Prilly Latuconsina.

Share this








Aktris peran Prilly Latuconsina mencoba membuka usaha dengan menjajal bisnis kuliner.

SETIABUDI -Kesuksesan berkarir di seni peran tidak membuat Prilly Latuconsina cepat puas serta bertahan di zona nyamannya. Kini, gadis berusia 20 tahun itu pun menjajal tantangan baru di bisnis kuliner, yaitu Really Cake.

Keinginan Prilly melebarkan sayapnya ke bisnis kue ini turut dilatarbelakangi kegemaran dirinya dan keluarga besar dengan kue. Sejak kecil, dia pun sudah akrab serta paham sama cita rasa kue. Oleh sebab itu, Prilly berani membuka bisnis kue.

"Aku memang sudah dari dulu paham banget tentang kue. Soalnya dulu kan oma aku pun buka kursus buat ibu-ibu masak kue. Dan Oma aku juga memang hebat banget buat kue. Suka masak juga yang spesialisnya masak beaking. Jadi, kenapa tidak aku kasih orang cobain resep kelaurgaku," ucap Prilly di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (22/5/2017).

Tak hanya itu, ia juga tak memungkiri saat ini nama kue lagi ramai digandrungi masyarakat. Menurutnya, tak ada asalan tak mencoba usaha kuliner ini.

"Di bisnis ini, aku turut terlibat untuk mencoba kue yang dibuat, ikut kasih masukan untuk resep kuenya. Tidak hanya itu, aku juga sering kali kasih komentar sama chetnya. Dan untuk pemilihan chef juga aku turut andil. Chef-nya kita pilih dengan hati-hati, serius dan memiliki cita rasa sama dengan lidah kita," kata aktris peran kelahiran 15 Oktober 1996 ini.

Selain itu, dia juga memperhatikan sekali rasa serta komposisi kuenya. Prilly tidak ingin kue yang dijualnya cuma terlihat baik serta cantik dari luarnya saja.

"Perhatikan, komposisinya itu udah sesuai gak? Rasa harus enak, terus teksturnya itu lembut atau tak seret ketika dimakan dan kandungan kue haruslah sehat dan baik untuk anak-anak. Aku terlibat untuk memikirkan semua itu," pungkasnya.

 

Tak Ingin Jual Nama

Di bisnisnya, Prilly Latuconsina juga menegaskan tidak mau sekadar jual nama besarnya di entertainment. Ia sangat mementingkan kualitas dari produk kuenya.

"Yang pasti saya enggak mau menjual produk cuma pakai nama saya, tapi itu enggak bagus. Yang pasti kalau saya usaha atau bikin sesuatu yang bagus dan berkualitas. Jadinya, jangan asal nama saja. Tapi pas kue dibeli sama orang enggak enak. Jadi kalau usaha dan pakai nama saya juga produknya harus bagus," jelas Prilly.

Sebab, dia juga tidak ingin dengan buruknya kualitas kue itu, dapat pula mencoreng nama baiknya. Makanya, Priyo sangat berhati-hati dan konsen dalam pengendalian mutu produksi.

"Karena ini kan nama aku yang di jual, jangan sampai gara-gara produknya jelek. Nama aku jadi jelek. Saya juga akan cari tim marketing yang bagus, terua tim produksi yang bagus semua-semuanya harus serba bagus," katanya.

 







Features

Perbanyak RPTRA di Jakarta Untuk Dukung Ideologi Bangsa

Rabu, 24 Mei 2017 17:00:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi area bermain anak-anak di RPTRA
Ilustrasi area bermain anak-anak di RPTRA

Share this








Plt Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengungkapkan dengan memperbanyak RPTRA di Jakarta diyakini akan mendukung ideologi bangsa.

PASAR MINGGU  - Jumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dipastikan bertambah setelah Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat meresmikan dua RPTRA di wilayah Jakarta Selatan, pada Rabu (24/5/2017).

Dua RPTRA yang baru saja diresmikan tersebut masing-masing adalah RPTRA Intan di Kelurahan Cilandak Barat, Cilandak dan RPTRA Kemuning di Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Total, hingga kini jumlah RPTRA yang ada di DKI Jakarta menjadi 187 lokasi.

Adapun, RPTRA Intan sendiri dibangun atas dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Yayasan High Scope Indonesia. Sedangkan RPTRA Kemuning, dibangun atas dana CSR dari Japfa Foundation.

Di kedua RPTRA ini, selain ada taman dan ruang bermain bagi anak-anak serta tempat berinteraksi orang dewasa, juga terdapat perpustakaan, PKK Mart, ruang menyusui dan ruang Ampi Theater.

Salah seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Cilandak Barat, Nurdin mengatakan, selama ini tidak ada ruang terbuka bagi warga dan anak-anak untuk bermain atau beraktivitas. Untuk itu, dengan adanya RPTRA Intan, warga Cilandak bisa melakukan aktivitas di taman yang ramah anak ini.

Baca : Djarot : RPTRA Jangan Jadi Tempat Pacaran

"Kami atas nama warga Cilandak Barat mengucapkan terima kasih kepada Plt Gubernur dan pihak High Scope atas dibangunnya RPTRA Intan. Kami berharap, RPTRA Intan menjadi tempat interaksi bagi seluruh warga dan dapat memberikan manfaat positif bagi anak-anak," katanya di Cilandak Barat, Cilandak.

Sementara itu, Direktur Pengelola High Scope, Ratna Dewi Antarina mengatakan, pembangunan RPTRA Intan ini merupakan hasil pembicaraan antara pihaknya dengan Gubernur DKI Jakarta non aktif Tjahaja Purnama (Ahok), pada 15 Agustus 2015 silam.

"Pak Ahok yang memberikan ide untuk dibangun RPTRA Intan di wilayah Cilandak Barat, karena itu kami wujudkan hari ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemprov DKI yang telah memberikan bantuannya sehingga High Scope bisa wujudkan ini," ujar perempuan yang juga merupakan cucu dari Ki Hajar Dewantara ini.

Sama halnya seperti di Kelurahan Cilandak Barat, warga di Pejaten Timur pun menyambut antusias atas dibangunnya RPTRA Kemuning. Pasalnya, kini warga dan anak-anak sudah memiliki taman bermain dan berinteraksi satu sama lain.

"RPTRA Kemuning ini pasti akan kami jaga dan rawat. Karena ini sudah menjadi kebutuhan kami sebagai mempunyai tempat untuk bermain bagi anak-anak kami dan aktivitas bagi warga," kata Yusuf, salah seorang tokoh masyarakat Pejaten Timur.

Sementara itu, Head of Japfa Foundation, Andi Prasetyo, mengungkapkan, menjadi sebuah impian bagi anak-anak di Jakarta memiliki tempat bermain yang aman dan nyaman. Ketika Pemprov DKI menginisiasi membangun RPTRA sebanyak-banyaknya, maka JAPFA menyambut baik inisiasi tersebut dengan membangun RPTRA Kemuning.

"Pemprov DKI sudah melihat kebutuhan tersebut dari beberapa tahun silam. Kami menyambut baik inisiasi itu untuk memberikan ruang bermain yang aman dan nyaman bagi anak-anak Jakarta," ujarnya.

 

RPTRA Hidupkan Kembali Ideologi Bangsa

Disisi lain, Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyampaikan apresiasinya kepada pihak swasta yang turut peduli terhadap penyediaan ruang bermain yang ramah anak dengan membangun RPTRA. Dan hari ini, ia bangga karena RPTRA telah bertambah dua di wilayah Jakarta Selatan.

"Alhamdulillah kita bisa menikmati RPTRA Intan dan Kemuning ini. Dan sudah bisa digunakan hari ini juga. Artinya kedua RPTRA bisa digunakan oleh anak-anak, orangtua dan seluruh masyarakat tanpa terkecuali," ucapnya.

Mantan Wali Kota Blitar ini pun mengungkapkan, pembangunan RPTRA ini merupakan ide bersama antara Ahok dan Veronica Tan serta Happy Farida Djarot yang menjadi pemimpin PKK di DKI Jakarta. Yakni bagaimana menjadikan Jakarta ramah anak, terutama di pemukiman padat penduduk. Agar mereka bisa saling berinteraksi, berbagi, belajar dan memberdayakan serta menguatkan satu sama lain.

"Kenapa ini penting bagi kami, karena kami melihat kebutuhan masyarakat Jakarta yang sangat sibuk, individualis dan tidak mengenal satu sama lain. Dan ini tentu tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Makanya, kita perbanyak RPTRA di Jakarta," pungkas Kader PDI Perjuangan ini.







Features

Gerakan Gesit Sudinhub Jaksel Lewat Qlue

Jumat, 02 Juni 2017 15:45:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi - Penindakan terhadap pelanggar lalu lintas
Ilustrasi - Penindakan terhadap pelanggar lalu lintas

Share this








Sudinhub Jakarta Selatan melakukan gerakan gesit dengan langsung menindak setiap pelaporan yang didapat lewat aplikasi Qlue

KEBAYORAN BARU  - Permasalahan lalu lintas seperti macet dan parkir liar, nampaknya sudah menjadi rutinitas harian bagi warga DKI Jakarta. Bagaimana tidak, hampir tiap hari macet selalu terjadi diberbagai titik jalan, terutama pada pagi dan sore hari.

Warga pun tak pernah bosan melaporkan hal ini ke pemerintah, melalui aplikasi Qlue. Namun terkadang respon dari dinas terkait seakan lamban dalam mengatasi permasalahan ini. Akibatnya, macet dan parkir liar pun semakin merajalela di Ibu Kota.

Berangkat dari hal itu, Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Selatan, membentuk Tim Reaksi Cepat Aplikasi Qlue. Pembentukan tim ini sebagai upaya untuk merespon secara cepat laporan masyarakat mengenai adanya tindakan seputar kemacetan dan parkir liar yang masuk melalui Qlue.

"Pembentukan Tim Reaksi Cepat Sudinhub Jakarta Selatan ini dilakukan agar laporan masyarakat dapat terlayani penuh, sehingga informasi yang diadukan bisa segera lekas diatasi," kata Kepala Sudinhub Jaksel, Christianto di Kebayoran Baru, Jumat (2/6/2017).

Christianto melanjutkan, penindakan terhadap laporan dari masyarakat tersebut akan dilakukan dengan melibatkan semua pihak. Mulai dari unsur TNI, Polri, hingga Satpol PP. Hal itu bertujuan agar laporan dapat segera diselesaikan

Menurut dia, dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, membuat masyarakat dapat dengan mudah membantu petugas, untuk menindak berbagai hal terkait pelanggaran yang terjadi di wilayah mereka.

"Masyarakat dapat melaporkan permasalahan kemacetan dan parkir liar melalui aplikasi, sehingga kita juga harus membentuk unit reaksi cepat untuk melakukan pengendalian dan pengawasan lalu lintas," tuturnya.

Untuk itulah, ia berkomitmen akan terus melakukan pengendalian lalu lintas melalui razia parkir liar, yang diyakini dapat mengurangi masalah kemacetan lalu lintas di wilayah Jakarta Selatan. 

"Manfaatkan aplikasi Qlue dalam menerima laporan dan merespon laporan dengan cepat sebagai wujud pelayanan terhadap masyarakat," imbaunya.

Sementara itu, berdasarkan data, Tim Reaksi Cepat Aplikasi Qlue berjumlah 55 personel. Tim ini terdiri dari Tim Patroli dan Qlue Motor sebanyak 20 personel, Tim Derek yang merupakan gabungan bersama Garnisun serta Kepolisian sebanyak 20 personel, serta Tim Tindak sebanyak 15 personel.

Cara Kerja Penindakan Laporan dari Qlue

Ada beberapa mekanisme yang dilakukan Tim Reaksi Cepat aplikasi Qlue dalam mengatasi beragam laporan dari masyarakat. Diantaranya, keluhan masyarakat dalam aplikasi Qlue diterima oleh Admin. Selanjutnya, Admin Qlue menyampaikan keluhan tersebut kepada Kasudin dan Kasiop. 

Usai mendapat laporan tersebut, Kasiop memerintahkan kepada para Danru dan Koordinator bersama anggotanya untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan keluhan masyarakat. Yakni dengan melakukan penertiban dan tindak lanjut aplikasi Qlue dengan membuat foto tindak lanjut di lokasi laporan masyarakat. 

Kemudian, Admin membuat laporan Qlue yang telah di respon. Terakhir, tim humas dan publikasi membuat dokumentasi video dan media berita dari setiap kegiatan operasi untuk disampaikan kepada masyarakat.