Rabu, 19 Juli 2017 15:30:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Chandra Purnama
Ilustrasi Pelecehan Anak (Ist)
Ilustrasi Pelecehan Anak (Ist)
Foto : istimewa
 

CIBUBUR – Kanak-kanak merupakan masa yang paling indah bagi semua orang. Masa di mana hanya mendapatkan keriangan serta kebahagiaan di tiap tapak kaki sehar-hari. Masa di mana anak mendapat perhatian juga kasih sayang secara penuh dari orang tua dan keluarga dengan sepenuh jiwa raga.

Tapi, dari ribuan kisah kanak-kanak yang hidup bagaikan di negeri dongeng. Tidak sedikit beberapa anak mendapat perlakukan tak senonoh baik fisik maupun mental sehingga mengganggu jasmani hingga rohaninya. Seperti yang dirasakan Bulan (24), bukan nama sebenarnya.

Ia pun menceritakan kisah pilu yang dialaminya pada saat kanak-kanak kepada jurnalis Infonitas.com. Dengan berlinang air mata, Bulan berbagi kisah pahitnya. Kala itu, saat dirinya berumur 9 tahun, Bulan mengalami tindak pemerkosaan yang hampir merusak masa depannya.

Bulan bercerita, dirinya beserta keluarga tinggal bersama keluarga besar disebuah rumah di Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam satu rumah dihuni oleh tiga kepala keluarga, yakni om dan tantenya.

Keadaan itu harus diterima oleh Bulan, lantaran kondisi ekonomi keluarganya tergolong tidak stabil. Sang ayah  hanya seorang pekerja bangunan yang masih disokong oleh seorang istri yang bekerja sebagai tukang cuci baju.

Kejadian nahas itu terjadi saat dirinya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD). Bulan mendapat pelecehan seksual dari saudara kandung dari ayahnya sendiri yaitu pamannya sendiri yang tidak memiliki pekerjaan alias pengangguran.

"Diajak sama paman katanya mau beli mainan dan ke tempat hiburan. Dulu karena masih kecil, saya ikut aja," ucap Bulan dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa rasa khawatir, dia ikut ajakan adik paling kecil dari sang ayah. Nahas, bukan mainan atau taman hiburan yang didapatnya, malah sebuah gubuk kecil yang cukup jauh dari kediaman Bulan.

Pada saat itu, sambung Bulan, dia mendapat ancaman yang tidak sepantasnya didapat oleh seorang anak kecil. "Buka bajumu atau saya bakar hidup-hidup," kata Bulan sambil menirukan ucapan pamanya.

Karena takut akan kematian, perlahan Bulan mulai mengikuti perintah dari sang paman. Setelah tanpa sehelai benang pun, Bulan langsung digagahi bak binatang oleh orang terdekatnya yang harusnya memberikan kasih sayang serta rasa aman. Bahkan kejadian itu tidak berlangsung sekali. 

"Saya disekap tiga hari, sehari melayani sampai tiga kali," ungkap wanita dengan rambut sebahu itu.

Mendapati sang anak sudah berhari-hari tidak pulang, ayah serta ibunya pun khawatir. Kemudian, pada hari ke empat, Bulan diselamatkan oleh ayahnya yang menaruh curiga kepada sang adik karena merasa tidak terlalu mempermasalahkan saat buah hatinya menghilang. 

Pasca kejadian itu, Bulan sempat trauma dan menjauh dari dunia luar. Masa kecil yang harusnya dihabiskan dengan bermain, dihabiskan Bulan hanya meratapi kesedihannya di dalam kamar. Meskipun begitu, orang tuanya tidak tinggal diam. Mulailah Bulan menjalani pengobatan untuk mengobati traumanya.

Sedikit demi sedikit Bulan mulai bisa melupakan kejadiaan keji yang dideritanya. Hampir 10 tahun, Bulan bertarung dengan rasa trauma. Memasuki umur 19 tahun, rasa trauma itu sedikit demi sedikit mulai hilang. Bahkan diumur 20 tahun, dia menemukan seorang laki-laki yang akhirnya menerimanya dengan lapang dada.

Di umur 21 tahun, Bulan akhirnya mengikat janji dengan pria pujaannya. Saat ini, Bulan telah dianugerahi seorang putra dari pernikahannya dengan sang pria yang diketahui sebagai anggota kepolisian ini.

"Suami saya orang yang sangat baik, pada saat saya cerita soal masa lalu dia cuma bilang lupakan dan kita jalani masa depan," pungkas Bulan.

Baca Juga

Berikan Komentar Anda