Feature

HUT Kota Bekasi pada Pucuk Kepemimpinan

Selasa, 13 Maret 2018 11:30:00
Editor : Wahyu AH | Reporter : Leny Kurniawati

Kota Bekasi
Kota Bekasi

Share this








Selamat ulang tahun Kota Bekasi ke-21. Meski masih banyak kekurangan, Kota Bekasi tetap kian lebih baik.

BEKASI - Pembenahan terus dilakukan pasca pemberlakuan pemekaran antara Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi pada 1997. Image sebagai kota sampah karena identik dengan Bantar Gebang perlahan terhapus. Luntur oleh pertumbuhan area bisnis dan perumahan yang semakin pesat.

Selamat Ulang Tahun Kota Bekasi. Tampak kota, kini, semakin anggun, setidaknya bila dibandingkan 21 tahun silam. Tengok saja Bekasi barat dan timur, area pemukiman tumbuh subur. Begitupun area bisnis dan hiburannya sebagai penunjang. Kehidupan seolah bak Ibu Kota, tidak pernah ‘mati’.

Pemerintah kota memang sengaja menggenjot pembangunan infrastruktur. Fokusnya tidak hanya perumahan dan bisnis, tetapi juga fasilitas umum dan sosial. Contohnya saat perayaan HUT tahun lalu. Setidaknya, ada 10 infrastruktur yang diresmikan, seperti SMKN 3 Kota Bekasi, SMPN 42 Kota Bekasi, SDN Jakasetia 7, RSUD Dr Chasbullah Abdul Madjid, Stadion Patriot Candrabhaga beserta gedung parkir Stadion dan kantor Kelurahan Jatikarya.

Selanjutnya, taman di Kelurahan Bojong Rawalumbu, Pedestrian Jalan Ahmad Yani dan Instalasi Pengelohan Air Limbah (IPAL) domestik, dan Taman Toga RW 26 Kelurahan Margahayu.

“Tidak hanya itu, kami juga sudah meresmikan sejumlah jembatan layang, seperti Rawa Panjang, Bojong Menteng, Pondok Gede Jatiwaringin, dan Caman yang sebentar lagi selesai. Kami juga fokus ke akses. Laju pertumbuhan ekonomi kota akan terhambat jika aksesnya buruk,” tutur Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Ya, meski masih banyak kekurangan, Kota Bekasi tetap kian lebih baik. Lihat saja APBD. Periode 1999-2004 hanya Rp 150 miliar. Pada 2017, tembus hingga Rp 5,4 triliun.

Sejatinya, apa yang sudah dicapai tidak pernah luput dari dukungan masyarakat. "Kita di kota yang heterogen, harus saling menghargai dan menghormati. Plularisme menjadi satu modal untuk membangun. Oleh karena itu bangun kedamaian, rajut kebersamaan, jaga persatuan dan kesatuan. Itu yang harus kita pegang dan kembangkan, intinya NKRI final. Bila aman dan nyaman, Kota Bekasi bakal lebih maju," pesannya.

Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu sependapat. Jika pada 2016 adalah tahun infrastruktur dan 2017 merupakan tahun investasi. Maka, 2018 fokus kepada inovasi dan kreativitas anak muda. Mulai tahun ini, akan terus digalakkan berbagai kreativitas baik dari kalangan muda mapun pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Harapannya, lebih ramai lagi kreativitas dari para komunitas. Terlebih, infrastruktur yang disiapkan semakin sempurna dan memadai.

"Jadi, hal ini akan dibuktikan dengan munculnya ekonomi yang kreatif antara anak-anak muda yang ada. Kemudian kreativitas juga di berbagai bidang misalnya, di komunitas mampu memunculkan hasil inovasi dari masing-masing komunitasnya sendiri," kata Syaikhu, Kamis, (22/2/2018).

 “Artinya pengelolaan dana APBD itu dengan inovasi dan kreativitas. Paradigma Smart City menjadi poin utama pada tahun inovasi. Salah satu programnya pemasangan 1.000 titik wifi gratis yang berguna untuk semua kalangan. Dengan begitu potensi ekonomi dapat berkembang. Warga misalnya bisa memulai startup melalui jualan online yang disiapkan untuk warga bekasi," lanjutnya.

Pemimpin Penyempurna

Itu sebabnya, Syaikhu berharap pemimpin baru Kota Bekasi bisa menyempurnakan apa yang sudah dilakukan pada masa kepemimpinannya. Sehingga, tidak kembali dari nol.

Misalnya, terkait pelayanan publik. Sebelumnya, Pemkot Bekasi sudah berhasil melaunching Mal Pelayanan Publik bekerjasama dengan Polresta Metro Bekasi di pusat perbelanjaan Bekasi Junction, Jalan IR Juanda.

Harapannya, pelayanan ini bisa menjadi cikal bakal layanan publik yang terorganisir dengan baik dan cepat. “Memang, optimalisasinya masih kurang saat ini. Semoga, 2018 bisa terimplementasikan dengan baik,” tuturnya.

Lalu, terkait dengan keberadaaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang jumlahnya masih belum ideal saat ini. Hanya sekitar 11-14 persen. Padahal, berdasarkan aturan yang berlaku bisa mencapai 20 persen. Sedangkan pihak swasta 10 persen.

Pertumbuhan RTH di Kota Bekasi hanya 0,048 persen. Padahal bila mengacu pada UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, seharusnya pemerintah menyediakan 30 persen RTH dari total luas sekitar 210,5 kilometer persegi.

Jika dilihat dari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 17 tahun 2011, telah diatur izin pemanfaatan ruang bahwa, pengembang sektor apapun harus menyediakan RTH sekitar 15-20 persen dari lahan yang dibangun. Namun saat implementasinya, pembangunan kadang tidak sesuai. “Harapannya, ruang terbuka hijau bisa menjadi sarana refreshing bagi lingkungan masyarakat yang ada di sekitar. Insya allah, hal ini harus diteruskan kepada pemimpin baru untuk menyiapkan target RTH kedepannya," tuturnya.