Jumat, 04 Mei 2018 14:15:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin
Hari Buruh (May Day)
Hari Buruh (May Day)
Foto : Ichwan
 

KEBAYORAN – Setiap tanggal 1 Mei, serentak di semua daerah di Indonesia memperingati Hari Buruh Internasional (May Day). Setiap tahun pula, para buruh bergerak bersama-sama menyampaikan tuntutan-tuntutan yang (mungkin) sering diulang.

Ini bukan gerakan serentak yang hanya seremoni atau sekadar rutinitas tahunan. Mereka tidak pernah lelah melakukannya. Cuaca panas, hujan, lapar, dan haus dilakoni hanya untuk menyampaikan, meminta dan menuntut hak yang sepatutnya mereka dapatkan.

Tidak jarang pula, aksi demo buruh itu terpaksa harus berakhir dengan kericuhan. Gesekan-gesekan bisa saja terjadi. Ribuan orang yang berada dalam satu tempat tentunya bisa memunculkan peristiwa atau kejadian yang sebetulnya tak perlu terjadi.

Tahun ini, para pekerja itu kembali bergerak. Mereka menyerukan tiga tuntutan yang berbeda. Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) meminta pemerintah menghapus Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, menghapus sistem kontrak dan outsourcing, dan memperbaiki kinerja pengawasan di Dinas Tenaga Kerja seluruh Indonesia.

Sementara Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang berkumpul di kawasan Istora Senayan mendesak pemerintah dengan tiga tuntutan, yaitu mencabut peraturan Pemerintah (PP) No.78/2015 tentang pengupahan, menuntut pemerintah turunkan harga beras dan listrik, dan meminta Pemerintah harus jaga ketahanan pangan dan energi nasional.  

Pada kesempatan itu pula, harum suasana politik pun terasa. KSPI menyampaikan deklarasi dukungan politik terhadap calon presiden (capres) 2018. Dukungan politik itu mengarah pada Capres Prabowo Subianto.

Hari Buruh Internasional
Sejarah Hari Buruh (May Day) di dunia merupakan kisah panjang perjuangan pekerja di Amerika Serikat dan negara Eropa pada abad ke-19. Pergerakan itu muncul dari aksi mogok pekerja Cordwainers di tahun 1806. Saat itu, para pekerja diwajibkan bekerja selama 20 jam sehari.

Mulai dari itu, di Amerika Serikat muncul agenda perjuangan bersama yang menuntut pengurangan jam kerja. Perjuangan panjang dan penuh cerita mewarnai tuntutan mereka. Hingga pada 1872, seorang pekerja asal New Jersey Peter McGuire bersama 100 ribu pekerja lainnya menggelar aksi mogok menuntut pengurangan jam kerja.

Sejak saat itu, mulai banyak bermunculan aksi pekerja yang menuntut pengurangan jam kerja dari 20 jam menjadi 8 jam sehari. Puncaknya, pada 5 September 1882 digelar parade Hari Buruh pertama di New York, Amerika Serikat.

Tuntutan mereka mendapat pehatian dunia. Sampai digelarnya Kongres Buruh Internasional pertama di Jenewa, Swiss yang akhirnya menetapkan tuntutan pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari sebagai perjuangan resmi buruh di dunia.

Penetapan tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional dilandasi dari aksi perjuangan pekerja di Kanada tahun 1872. Tuntutannya sama, bekerja 8 jam sehari dan tuntutan itu berhasil. Dari situlah peringatan Hari Buruh Internasional diperingati setiap tanggal 1 Mei.

Sejarah Hari Buruh di Indonesia
Perayaan Hari Buruh juga tidak lepas dari sejarah di Indonesia. Laman sejarahri.com menuliskan “Peringatan 1 Mei Pertama Kita” yang terselenggara pada 1 Mei 1918. Kala itu, ratusan anggota Serikat Buruh Kung Tang Hwee Koan menggelar aksi di Surabaya.

Meski pada peringatan May Day saat itu, tidak ada orang-orang Indonesia yang ikut hadir, namun sejarah mencatatnya perayaan 1 Mei 1918 di Surabaya sebagai peringatan Hari Buruh se-Dunia pertama di Indonesia. Bahkan ada menyebut sebagai yang pertama di Asia.

Setelah itu, mulai 1919 hingga 1926, peringatan hari buruh kerap diperingati. Misalnya, pada 1921, Tokoh Nasional HOS Tjokroaminoto bersama Soekarno datang menghadiri dan berpidato mewakili Serikat Buruh. Selanjutnya Hari Buruh tahun 1923, Samaun melancarkan mogok besar.

Peringatan Hari Buruh se-Dunia kembali diperingati pada 1946 secara meriah dan berlanjut ke tahun 1947 dan 1948. Pada tahun 1948 inilah dikeluarkan Undang-Undang Kerja Nomor 12 Tahun 1948 yang isinya mengesahkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh.

Salah satu pasal dalam UU tersebut menyebutkan “Pada tanggal 1 Mei buruh dibebaskan dari kewajiban bekerja” yang tercantum dalam Pasal 15 ayat 2 UU No. 12 Tahun 1948. Sejak saat itu, peringatan Hari Buruh Internasional yang jatuh pada 1 Mei secara resmi diakui negara dan rutin diperingati.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda