Features

Gundah Ayah dari Teror Ananda

Rabu, 10 Mei 2017 16:30:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Wahyu Muntinanto

 Johanes (60) saat menunggu sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.
Johanes (60) saat menunggu sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, beberapa waktu lalu.

Share this








Anak dan menantu mengerahkan puluhan orang (preman) untuk menjaga dan menduduki lahan milik ayahnya sendiri.

PENJARINGAN – Johanes (60) nampaknya belum bisa hidup tenang. Di usia yang renta dia justru menjadi musuh bagi anak dan menantunya. Ketulusan hati Johanes tak membuat sang anak dan mantunya tobat, justru menebar teror bagi ayahnya dan hendak menguasai aset sang ayah.

Padahal, Johanes baru saja menghela nafas lega setelah di vonis bebas pada akhir April 2017 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara terkait gugatan perdata dan pidana penggelapan 3 sertifikat oleh anak dan mantunya,

Nampaknya sang anak tidak puas dengan putusan hakim tersebut. Bahkan, tanah milik Johanes seluas 1.700 meter per segi di Jalan Adi Sucipto No 7, RT 03/10, Belendung, Benda, Kota Tangerang, diserobot menantunya Jessica.

Karena tidak bisa menguasai tanah tersebut secara hukum, diduga Jessica mengerahkan puluhan orang (preman) untuk menjaga dan menduduki lahan itu. "Saya juga heran tanah milik saya juga mau diambil, tapi tidak bisa karena saya punya dokumennya. Makanya dia buat preman jaga lahan itu, biar saya gak bisa gunakan," ujar Johanes kepada Infonitas.com, Rabu (10/5/2017).

Empat Bulan Dikuasai Preman

Kegiatan premanisme itu nampaknya sudah berlangsung sekitar empat bulan, saat karyawan Johanes, Eman (37) membuat laporan penyerobotan lahan dan ancaman kekerasan ke SPK Polda Metro Jaya, pada 12 Januari 2017.  Namun, oleh penyidik Polda  Metro Jaya kasus tersebut dilimpahkan ke Polres Tangerang Kota. 

"Kata penyidik Polres Tangerang Kota, saya akan di BAP hari Jumat (12/5) besok. Saya sekarang baru sadar, apa yang sudah diperbuat mereka (Robert dan Jessica). Mereka benar-benar mau ambil semua harta saya. Saya hanya ingin hidup tenang, dan sekarang harus kembali mengurusi permasalahan hukum," tuturnya.

Lapang Dada

Johanes pun mengaku sudah berulangkali berlapang dada dan rela memberikan maaf pada Robert dan Jessica. Namun, hingga saat ini anak dan mantunya tersebut tidak diketahui keberadaannya. Padahal dirinya hanya ingin hidup tenang diusia senja dan bermain bersama cucunya.

Oleh karena itu pengelolaan perusahan, hingga asetnya selama ini dia percayakan dan serahkan kepada anak dan mantunya untuk menjalankannya. Namun, perusahaan yang dirintisnya tersebut justru disalahgunakan, hingga beberapa perusahaan bangkrut dan asetnya diambil.

"Saya sudah maafkan mereka (anak dan mantu), saya rindu cucu saya. Sampai saat ini tidak tahu kabar mereka. Sayang Ayah terhadap anaknya dan Kakek dengan cucu tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Saya kira, saya sudah bisa tenang disisi umur saya," pungkas Johanes.



Features

Kembali Ke Jakarta, Rumahku Sudah Rata dengan Tanah

Minggu, 26 Januari 2015 13:13:02
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.
Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.

Share this








Warga kolong Tol Wiyoto Wiyono banyak yang menyesalkan tindakan petugas membongkar hunian semi permanen mereka.

PENJARINGAN - Kamis siang (23/7/2015) lalu, Pemkot Jakarta Utara membongkar puluhan bangunan liar di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Pejagalan,  Penjaringan, Jakarta Utara. Penghuninya yang kebanyakan pendatang pun kaget ketika kembali dari kampung halaman, tempat tinggalnya sudah rata dengan tanah.

Salah satu warga kolong tol yang merasa kaget campur bingung adalah pasangan Tarsiah (47) dan Herman (50). Hunian mereka ternyata sudah dihancurkan puluhan petugas Satpol PP Pemkot Jakarta Utara. Padahal mereka baru menempati bangunan semi permanen tersebut selama 4 bulan.

"Saya baru pulang mudik dari Brebes tadi malam. Tau-tau siang ini sudah ada pembongkaran," ujar Tarsiah sambil mengusap seekor kelinci oleh-oleh untuk putrinya, Kamis (23/7/2015).

Dia pun terlihat pasrah dan tak berdaya melihat bangunan semi permanen miliknya rata dengan tanah. Tarsiah juga tak mengira bahwa pada Kamis siang rumahnya akan dibongkar petugas. Pasalnya surat pemberitahuan yang didapat sebelum lebaran tak tertera tanggal dan hari pembongkaran dimulai.

"Sudah dikasih tahu pas bulan puasa. Tapi kan bilangnya habis lebaran. Nggak tahu hari apa tanggal berapa," beber Tarsiah sambil terisak kepada Infonitas.com.

Sementara itu, sang suami Herman di tengah-tengah berlangsungnya pembongkaran mencurahkan isi hatinya. Dia tadinya berharap Jakarta yang notabene kota besar sudah barang tentu memiliki beragam potensi untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Namun nyatanya baru empat bulan tinggal di Ibukota, Herman mengalami penggusuran.

"Saya pikir kalau pindah ke Jakarta semua program berjalan dengan baik. Soalnya, di kampung saya program satu miliar satu keluarganya, tidak efektif. Ternyata di sini (Jakarta) sama aja. Baru empat bulan sudah digusur," paparnya.

Laki-laki yang mengaku pernah bekerja di empat negara sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini sempat membandingkan Indonesia dengan negara tempatnya bekerja tentang sistem pendataan penduduk.

"Saya sudah kerja di empat negara, Arab Saudi, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Tapi baru di Indonesia saya kesulitan membuat identitas diri. Gimana mau dapat rusun, kalo KTP DKI nggak ada. Pas mau bikin (KTP) malah dipersulit," pungkasnya.

Kalau sudah begini, Herman pun mengaku lebih nyaman kerja di luar negeri sebab semua lebih teratur dan disiplin. Namun apa boleh buat, di usianya yang hampir setengah abad, dia merasa sudah tidak produktif lagi jika tetap bekerja sebagai TKI di luar negeri.

Sedangkan menurut Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko, bangunan liar yang berada di kolong Tol Wiyoto Wiyono ini di anggap menyalahi aturan dan melanggar Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Dia pun menjelaskan bahwa bangunan tersebut sangat membahayakan, karena listrik di pemukiman itu dianggap ilegal. Apabila terjadi kebakaran maka akan merusak konstruksi jembatan tol.

"Bangunan yang dibongkar ini selain menyalahi aturan juga menggunakan sambungan listrik ilegal sehingga rawan terjadi kebakaran yang dapat merusak struktur tol," jelasnya.

Pembongkaran 70 bangunan liar itu sendiri melibatkan 100 personel gabungan Satpol PP Jakarta Utara, Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara beserta 4 truk sampah, Koramil Penjaringan dan Polsek‎ Metro Penjaringan.







Features

Ciri-ciri Penipuan Bisnis Online

Jumat, 04 September 2015 10:31:12
Editor : Hanafie | Sumber : Kcm

penipuan online
penipuan online

Share this








Mengecek terlebih dahulu kejelasan sebuah situs jual beli, menjadi hal yang wajib dilakukan netizen ketika bertransaksi di dunia maya.

Sejumlah orang mendatangi Polda Metro Jaya, kemarin. Mereka melapor telah menjadi korban penipuan saat transaksi pembelian tiket konser band rock asal Amerika Serikat, Bon Jovi, di Jakarta lewat www.ticketbonjovi.com. Setelah ditelusuri, kebanyakan korban tidak mengecek terlebih dahulu kejelasan situs tersebut.  

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iqbal, masyarakat perlu berhati-hati dengan transaksi jual beli di dunia maya. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat menelusuri kejelasan dan kebenaran informasi situs yang bersangkutan. “Sebelum transaksi, diperiksa dulu kontennya apa dan online mana,” kata Iqbal di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun ada ciri khusus metode penipuan yang paling mudah dikenali. Menurut Iqbal, salah satunya pelaku memberikan batasan waktu kepada pemesan untuk mentransfer uangnya. “Biasanya mereka memberikan batasan satu jam atau dua jam, karena mereka ingin langsung ditransfer,” ujarnya.

Seperti dilaporkan oleh Deki Surahman (35), yang mewakili 27 orang yang menjadi korban penipuan menyebutkan ia dan korban lainnya awalnya dijanjikan akan mendapat tiket fisik dari tempat penjualan tersebut. Mereka percaya saja dan mentransfer uang ke rekening yang ditunjuk. Namun ketika dikonfirmasi balik, tidak ada jawaban dari pihak situs tersebut. “Kami mencoba menghubungi Live Nation, ternyata mereka membantah bahwa ticketbonjovi.com bukan ofisial resmi pembelian ticket box dari mereka,” kata Deki.

Saat ini, jumlah total kerugian dari 28 orang tersebut ialah sekitar Rp 108.470.000. Namun, jumlah tersebut akan terus bertambah jika korban lainnya juga ikut melapor. Deki dan puluhan orang lainnya akhirnya memutuskan untuk melapor ke Polda Metro Jaya dengan nomor pelaporan LP/3542/IX/2015/PMJ/Ditreskrimsus. Pengelola situs tersebut terancam Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan atau Pasal 28 ayat 1 juncto Pasal 5 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.







Features

Diteriaki Maling, Penagih Hutang di Penjaringan Tusuk Warga hingga Tewas.

Minggu, 11 Oktober 2015 15:47:47
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Ilustrasi Penangkapan
Ilustrasi Penangkapan

Share this








Aris mengaku tidak bermaksud untuk membunuh korbannya. Ia hanya berupaya membela diri lantaran terus menerus dipukuli dan ditendangi massa.

PENJARINGAN – Bermaksud membantu tetangganya sekaligus memeroleh imbalan untuk membantu biaya hidupnya sehari-hari, Aris (35) kini malah harus mendekam di balik jeruji besi Mapolsektro Penjaringan, Jakarta Utara.

Cerita ini bermula saat Aris tengah duduk di teras rumahnya beberapa waktu. Tak lama kemudian, datanglah tetangganya yang bernama Mama Hila. Kepada Aris, Mama Hila bermaksud meminta tolong untuk menagihkan utang kepada Ronald sebesar Rp 2 juta.

“Dia (Mama Hila) bilang Ronald minjam uang dengan jaminan motor. Uangnya diambil tapi motornya enggak dikasih. Nah, saya dimintai tolong untuk membantu menagih. Saya menyanggupi untuk sama-sama menagih ke rumah Ronald,” cerita Aris, Kamis (8/10/2015) di Mapolrestro Jakarta Utara.

Aris dan Hila pun mendatangi rumah Ronald di kawasan Gang Naga, RT 08, RW 07, Teluk Gong, Pejagalan, Jakarta Utara pada Minggu (4/10/2015) malam, sekira pukul 21.00 WIB. Sebelum menagih hutang keduanya melapor terlebih dahulu pada pengurus RT setempat.

Usai memeroleh izin, Aris dan Hilla pun bergegas mendatangi rumah Ronald. Sesampainya di sana, mereka melihat sepeda motor milik Ronald terparkir di halaman rumah. Namun, Ronald yang berulang kali dipanggil-panggil tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Aris yang kesal lantaran Ronald tak kunjung menujukan batang hidungnya pun semakin kencang meneriaki Ronald diiringi luapan emosinya.

"Ronald… Ronald…. Keluar, saya tahu kau ada di dalam," teriak Aris.

Tanpa dinyana, sesaat setelah itu ada orang yang meneriakinya sebagai maling. Hanya dalam waktu sekejap, massa sudah berkerumun di depan rumah Ronaldn dan mengepung Aris. Tanpa perlu dikomando, berbagai pukulan, tendangan hingga hantaman benda tumpul dilontarkan warga terhadap Aris.

Sempat berusaha melarikan diri, Aris kembali terjatuh lantaran banyaknya warga yang mengeroyoknya. Tak ingin mati konyol, Aris pun mengambil sebilah pisau dapur yang sudah dipersiapkannya untuk berjaga-jaga.

Di tengah kepanikan dan upaya menyelamatkan diri dari penghakiman massa, Aris pun ‘memainkan’ pisaunya dan mengenai salah satu massa tepat di bagian pinggang dan dada kiri yang menembus ke jantung.

Melihat korban penusukan yang belakangan diketahui bernama Aris Feryanto (32) tumbang, massa pun sempat terdiam. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Aris untuk melarikan diri. Namun, tidak sampai satu jam kemudian, Aris dibekuk polisi di rumahnya yang terletak di kolong tol Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Benar kami telah menangkap pelaku penusukan pada pukul 23.35 WIB pada hari yang sama di rumahnya di kawasan Kalijodo. Pelaku ditangkap tanpa perlawanan dan segera kita amankan ke Polsek Penjaringan," ujar Kapolsek Penjaringan AKBP Ruddi Setiawan, Jumat (10/10/2015).

Kini, Aris tengah menghitung waktu terkait persidangan dirinya dengan menjadi tahanan di Polsektro Penjaringan. Ia dikenai Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman penjara di atas 7 tahun.







Features

Berharap ‘Tuah’ Final Piala Presiden 2015

Minggu, 18 Oktober 2015 14:05:53
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian dan perwakilan suporter di Mapolda Metro Jaya
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian dan perwakilan suporter di Mapolda Metro Jaya

Share this








Meski tidak mempertemukan Persib dan Persija, partai final Piala Presiden 2015 diharapkan jadi ajang rekonsiliasi The Jakmania dan Bobotoh Persib.

JAKARTA – Sejak era Galatama hingga Indonesia Super League (ISL), rivalitas antara Persib Bandung dan Persija Jakarta tak pernah surut. Duel keduanya bahkan kerap disebut sebagai El-Classico di Indonesia, merujuk pada persaingan antara Barcelona dengan Real Madrid di Liga Spanyol.

Sayangnya, rivalitas keduanya juga berimbas ke luar lapangan, dimana suporter fanatik kedua tim, The Jakmania (Persija) dan Viking atau Bobotoh (Persib Bandung) kerap bersinggungan dan terlibat bentrokan. Bahkan, belakangan rivalitas keduanya kerap memakan korban jiwa dan mulai menimbulkan aksi anarkisme satu sama lain yang merugikan masyarakat.

Tak ayal, saat Mahaka Sport and Entertainment selaku penyelenggara Piala Presiden 2015 mengumumkan final kejuaraan ini akan dihelat di Ibu Kota, berbagai pihak pun angkat bicara dan disibukan. Mulai dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kapolri Jend Pol Badrodin Haitin, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, hingga Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian.

Maklum, partai final nanti mempertemukan Persib Bandung melawan Sriwijaya FC. Penolakan partai final di Ibu Kota pun langsung disuarakan oleh oknum-oknum suporter Persija Jakarta, meski belakangan dicapai kesepakatan damai yang melibatkan Pemprov DKI, Pemkot Bandung, pengurus suporter masing-masing klub dan pihak kepolisian.

Meski demikian, tensi ketegangan dari jam ke jam jelang partai final kian meningkat. Bahkan, mobil Kapolretro Jakarta Timur Kombes Pol Umar Farouq pun dirusak pada Minggu (18/10/2015) dinihari oleh segerombolan massa yang mengincar mobil pribadi berplat nomor polisi D (Bandung).

“Saya perintahkan anggota menindak tegas. Tangkap yang anarkis. Kita akan cari dan usut siapa di belakang aksi pelemparan ini,” ujar Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.

Padahal, sejumlah tokoh sejak Jumat (16/10/2015) telah mengimbau kepada kedua kelompok suporter untuk memulai periode baru tanpa permusuhan, tanpa anarkisme dan aksi saling balas dendam. Mantan pendiri sekaligus pembina The Jakmania yang juga Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (purn) Sutiyoso meminta The Jakmania bersikap ksatria dan bisa berubah menjadi suporter modern yang menghindari bentrokan.

Sementara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berharap ada rekonsiliasi di antara The Jakmania dengan Bobotoh. Bahkan, ia menyatakan siap menyambut The Jakmania sebagai saudara saat datang ke Bandung.

Ada pun Gubernur DKI Jakarta Ahok sendiri berharap The Jakmania dapat menunjukan mampu bersikap fair dan menghormati semua tim maupun pendukung mereka yang berlaga di partai final petang nanti.

“Tunjukan Jakarta bisa menjadi tuan rumah yang baik, The Jak bisa menerima saudara-saudara mereka dari klub lain. Jangan sampai, nanti The Jak ditolak dimana-mana, kalau suka nolak pendukung tim tamu,” tukasnya.

Meski demikian, aparat gabungan tetap bersiaga. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian memimpin langsung 31.700 personil gabungan dari Polda Metro Jaya, Brimob Mabes Polri, Kodam Jaya hingga Satpol-PP dan Pemadam Kebakaran.

Dari jumah tersebut, sebanyak 9 ribu personil disebar di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dengan pola pengamanan berlapis 4 ring. Ini belum termasuk pengamanan oleh Paspampres lantaran Presiden Jokowi dipastikan hadir dan menyerahkan langsung Piala Presiden kepada klub pemenang.

"Polda dan rekan terkait siap mengamankan jalannya partai final nanti. Sesuai arahan Kapolri, kita akan tindak tegas setiap tindakan anarkisme dan provokatif, serta menekan sedini mungkin potensi kericuhan,” tandas Tito.

Semoga, suasana Ibu Kota dan sekitarnya meski ditetapkan Siaga-1 sepanjang hari ini, tidak memengaruhi kehidupan masyarakat lainnya. Pertandingan final pun dapat berlangsung aman, tertib dan lancar. Siapa pun yang menang, harus tetap rendah diri dan jangan memprovokasi. Sementara yang kalah harus siap dan jangan merusak. Sementara penonton jangan terprovokasi atau malah memprovokasi.

“Menang tetap rendah diri, jangan memprovokasi. Kalau kalah, jangan merusak,” pesan Tito.

Mari berharap agar partai final dan berbagai kesibukan jelang pelaksanaannya nanti bisa memberikan tuah berupa perdamaian antara The Jakmania dan Bobotoh Persib.







Features

Saatnya Ibu Kota Waspada Kekerasan Seksual dan Pencabulan Anak

Minggu, 18 Oktober 2015 14:35:48
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Tiga pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di Mapolda Metro Jaya.
Tiga pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di Mapolda Metro Jaya.

Share this








Perlu penanganan khusus bagi anak yang menjadi korban kekerasan seksual dan pencabulan, agar mereka tidak melakukan hal yang sama saat dewasa.

SEMANGGI - Tindakan kekerasan seksual dan pencabulan anak di bawah umur kembali marak di Ibu Kota. Bocah yang harusnya mendapat kasih sayang dan pelukan hangat orangtuannya, malah dijadikan pelampiasan birahi oleh segelintir orang yang hanya mementingkan nafsu dunia. Ironisnya, ada orangtua kandung yang justru menjadi pelaku kekejian ini terhadap buah hatinya sendiri.

Atau bagaimana bejat dan kejinya perilaku Agus, predator dari Kalideres yang kerap melakukan kekerasan seksual dan pelecehan terhadap anak-anak di bawah umur yang menjadi ‘binaannya’ dalam geng Boel Tachoes. Bahkan Agus tegas membunuh dan ‘mengepak’ jasad PNF ke dalam kardus, setelah mendapatkan kekerasan seksual dari dirinya.

Data Polda Metro Jaya mencatat, sejak akhir tahun 2014 sampai September 2015 terdapat 622 kasus kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Khrisna Murti mengatakan, situasi saat ini harus dicermati dan diwaspadai oleh para orangtua murid dan pihak sekolah. Sebab, pelaku kekerasan seksual dan pencabulan terhadap anak tidak jarang merupakan orang dekat dan dikenal korban.

"Kasus pencabulan anak dibawah umur kembali marak terjadi, bahkan pelaku pencabulannya justru orang-orang terdekat yang mustahil melakukan hal keji tersebut. Untuk itu, kita sebagai warga masyarakat patut lebih memperhatikan lingkungan sekitar, agar kejadian pencabulan bisa dihindarkan," ujar Khrisna, Senin, (5/10/2015).

Mungkin, para pelaku kejahatan tersebut sudah dibutakan oleh nafsu bejat sesaat. Para tersangka pencabulan justru lebih memilih orang-orang terdekatnya, dengan alasan lebih mudah dirayu. Para korban yang masih lugu tersebut, diiming-imingi uang atau barang kesukaannya agar terbujuk rayuan setan oleh si tersangka.

Yang lebih gilanya lagi, para tersangka bukan hanya melakukan hal bejat tersebut sekali, tetapi bisa berbulan-bulan bahkan ada korban yang melahirkan anak dari prilaku tidak bermoral tersebut.

"Kasus pencabulan yang paling membuat mata masyarakat terbelalak adalah saat ayah kandungnya sendiri yang tega melakukan tindakan tidak senonoh dan menyebabkan si korban sampai hamil," geram Khrisna.

Peristiwa memilukan tersebut, merupakan potret ketidak warasan lantaran kerap dicekoki dengan video-video porno. Karena, rata-rata berdasarkan pengakuan tersangka, mereka nekat melakukan tindak tidak terpuji tersebut karena usai menonton video porno.

"Saya melakukan ini (penjabulan) karena seusai menonton video porno, hasrat saya jadi meningkat. Saya menyesal, atas perbuatan saya. Makanya mungkin ini adalah hukuman terberat yang harus saya lalui," papar MY alias NI, tersangka kasus kekerasan seksual yang menyebabkan kehamilan anak kandungnya sendiri.

Yang menjadi pekerjaan rumah untuk kita semua bukan hanya melakukan tindak pencegahan terhadap penyakit moral tersebut, namun trauma para korban tersebut juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Jangan malah mengucilkan korban, lantaran tragedi yang tidak diinginkan korban.

"Untuk penanganan kasus kekerasan anak kami rasakan cukup bagus, namun untuk penanganan kepada anak yang mendapatkan kekerasan, trauma masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang," papar Sekjen Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Erlindabeberapa waktu lalu di Mapolda Metro Jaya.Sedangkan menurut pakar seksolog, Zoya Amirin, seorang yang pernah mengalami pelecehan seksual atau malah korban pencabulan dan dikucilkan dari lingkungan sekitar saat dewasanya akan melakukan hal yang sama saat waktu ia menjadi korban.

"Biasanya anak yang menjadi korban pencabulan dan kekerasan cendrung akan mengulanginya saat dewasa nanti, dan anak-anak kecil pula yang menjadi korban. Untuk itu perlu bantuan dari masyarakat sendiri, agar kejadian tersebut tidak terulang dimasa mendatang," tandas Zoya.







Features

Tanda Tanya Seputar Bom Alam Sutera

Sabtu, 31 Oktober 2015 13:59:22
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Leopard (belakang tengah, baju putih) saat diunjukan kepada wartawan.
Leopard (belakang tengah, baju putih) saat diunjukan kepada wartawan.

Share this








Meski Kompolnas dan Polisi bertolak belakang mengenai sosok Leopard, ada beberapa hal yang bisa dicermati dari kasus ini.

SEMANGGI – Teror ledakan bom di Mal Alam Sutera, Tangerang, Banten pada Rabu (28/10/2015) lalu masih menimbulkan tanda tanya besar, meski Polda Metro Jaya berhasil menangkap tersangka pemasang bom serta sejumlah barang bukti tak lama setelah ledakan pada Rabu siang tersebut.

Tanpa bermaksud mengecilkan kinerja jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya pimpinan Kombes Pol Krishna Murti yang berhasil menangkap Leopard Wisnu Kumala (29) terduga pelaku peledakan beserta sejumlah bom yang belum meledak di kediamannya.

Banyak pihak justru meragukan sosok Leopard dan sanksi jitorial.ka ia beraksi sendiri dalam teror ledakan bom yang sudah terjadi dua kali dalam tiga bulan terakhir. Banyak pihak meyakini Lep hanyalah pion.

Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane mengatakan, ada beberapa kejanggalan kasus ledakan bom di Mal Alam Sutera. Neta mengatakan, jenis bom yang meledak di Mal Alam Sutera sama dengan jenis bom yang meledak di pusat perbelanjaan Paragon, Bangkok pada 1 Februari 2015.

“Bomnya sama-sama jenis Triaceton Triperoxide (TATP) dengan daya ledak tinggi. Yang menarik, ini ledakan TATP pertama di Indonesia. Apa mungkin Leo yang membuatnya dengan mempelajari di dunia maya?” ungkap Neta.

Untuk diketahui, Leo memiliki latar belakan pendidikan teknologi informasi dan bekerja di salah satu perusaahan teknologi Informasi di kawasan Alam Sutera. Lantas, mungkinkah Leo mengerjakan sema seorang diri dan membuta bom hanya dari video tutorial.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengungkapkan, meski tergolong high explosive, bom jenis TATP mudah dibuat. Cukup dengan menggunakan bahan rumah tangga seperti tiner dan aceton.

“Jenisnya memang high explosive, namun sangat mudah dibuatnya,” tandas Tito.

Dikonfirmasi mengenai masalah ini, Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti menyayangkan pernyataan IPW dan Neta S. Pane. Krishna menilai, penyataan IPW bisa meresahkan warga.

Krishna menggaris bawahi, berdasarkan penyelidikan yang dilakukan polisi, Leo menjalankan akisnya sendiri dan tidak terkait dengan jaringan teroris internasional.

"Kejadiannya seperti itu dan yang kita dapat seperti itu. Sekarang kalau IPW merilis itu, apakah IPW melakukan penyelidikan?. Kan tidak dan tahu darimana kalau sama," ujar Krishna kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jumat, (30/10/2015).

Bagi masyarakat, Leo terlibat jaringan teroris internasional atau tidak, mengebom sendirian atau tidak, yang penting, peristiwa tersebut tidak terulang kembali dan menjadi yang terakhir kalinya di Nusantara.







Features

Kabid Humas Polda dan Polisi Gadungan

Sabtu, 12 Desember 2015 17:20:19
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M. Iqbal
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M. Iqbal

Share this








Intinya, jika merasa tidak bersalah, masyarakat jangan pernah takut dan selalu berupaya melakukan cross check mengenai identitas polisi yang dih

SEMANGGI – Kembali maraknya praktik penipuan berkedok anggota kepolisian alias polisi gadung, menjadi sorotan jajaran pemimpin kepolisian di negeri ini. Maklum, hingga saat ini kasus penipuan berkedok anggota kepolisian masih sering terjadi, termasuk di Ibu Kota.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Mohammad Iqbal mengatakan, selain meresahkan, perilaku seperti ini juga menjatuhkan citra Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Agar masyarakat awam tidak tertipu dengan praktik aparat gadung, mantan Kapolrestro Jakarta Utara ini memberikan saran bagaimana menghadapinya.

Menurutnyam masyarakat awam yang kurang pengetahuan tentang kepolisian, jika dihadapkan dengan polisi gadungan alangkah baiknya harus memiliki jiwa pemberani untuk sedikit melawan jika memang tidak terbukti bersalah.

"Para warga yang merasa tidak bersalah, lalu disatroni polisi gadungan dengan dalih memeras atau menipu harus berani menentang," papar dia kepada infonitas, Jumat (11/12/2015).

Lanjutnya, aparat penegak hukum selalu dilengkapi dengan Kartu Tanda Anggota (KTA) Polri untuk membuktikan bahwa dirinya adalah aparat yang sah di Republik Indonesia. Namun menurut Iqbal, jangankan KTA, buku Uji Berkala Kendaraaan Bermotor (KIR) saja bisa dipalsukan.

"Jika masih ragu juga dengan KTA anggota kepolisian, para masyarakat boleh menanyakan surat perintah yang sudah ditanda tangani Kapolres, Kapolsek dan RT/RW," lanjutnya.

Untuk itu, mantan Kepala SPN Lido Polda Metro Jaya ini mengimbau masyarakat untuk menyimpan nomor-nomor penting kepolisian di tempatnya tinggal. Seperti nomor Kapolres atau Kapolsek.  

Kendati demikian, Iqbal mengakui tidak tertutup kemungkinan ada anggota kepolisian yang sah namun menyalahgunakan wewenangnya. Hal seperti itu juga suatu tindakan melawan hukum, jadi jika masyarakat menjadi korban pemerasan atau penipuan yang dilakukan pihak kepolisian harus berani melawan jika memang tidak bersalah.

"Kalau dia benar oknum kepolisian, akan dikenakan Pasal 9, 10, 11 KUHP. Ancamannya 5 tahun penjara. Juga diatur dalam Pasal 18 Kepolisian RI mengenai penyalahgunaan diskresi polisi," papar alumnus Akademi Kepolisian Tahun 1991 ini.

Ditambahkan olehnya, namun kalau sipil yang mengaku menjadi petugas, akan dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan, 263 KUHP dan 268 KUHP tentang pemalsuan, kemudian 362 KUHP, 363 KUHP, dan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.







Features

Hadapi Kenakalan Remaja Gengster dengan Hipnoterapi

Rabu, 14 Juni 2017 11:26:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Wildan Kusuma

Hipnoterapi di Polresta Depok
Hipnoterapi di Polresta Depok

Share this








Menghadapi kenakalan remaja yang terjerumus dalam dunia gengster, ternyata penyembuhan bisa dilakukan dengan hipnoterapi.

DEPOK - Kasus anak remaja yang bergerombol menamakan diri mereka gangster muncul di Kota Depok. Mereka kerap terlibat tawuran antar remaja bahkan tak segan melukai warga.

Dengan dalih menjaga diri, remaja belasan tahun tersebut sangat percaya diri membawa senjata tajam seperti celurit, klewang, dan samurai. Jika tak ada musuh, warga biasa yang tengah berkumpul malah jadi sasaran keberingasan mereka.

Situasi tersebut lantas membuat geram Polresta Depok. Akhirnya, Polreta Depok melalui Satuan Reserse dan Kriminal di bawah pimpinan Kompol Teguh Nugroho melakukan operasi gangster. Alhasil, salah satu pelaku gangster "sanca bergoyang" diciduk Satreskrim Polreta Depok, Selasa (6/6/2017) lalu.

Salah satu pelaku dari geng "Sanca Bergoyang", berinisial KT (17) dijadikan tersangka lantaran dirinya menjadi bandar sajam untuk dijual ke gengster-gengster di Depok. Hal tersebut sangat miris, karena KT baru dianugerahi seorang anak berusia 9 bulan.

Di sisi kegeraman pihak kepolisian, muncul sebuah teka teki yang harus diungkap. Apa penyebab para remaja ini membuat beken kriminal menjadi gangster? Hal tersebut membuat Kompol Teguh mengundang ahli hipnoterapi untuk mengungkap penyebab para remaja yang terjerumus ke dalam gangster.

Senin, (12/6/2017) sore kemarin, Yulianti Wijoyo, seorang ahli hipnoterapi cantik menemui KT untuk melakukan proses wawancara. Proses wawancara ini merupakan salah satu rangkaian hipnoterapi kepada KT di Mapolresta Depok.

Kurang Perhatian Orang Tua

Di dalam ruangan kira-kira seluas 4 kali 4 meter di Mapolresta Depok, suasana proses wawancara sangat mengharukan. Isak tangis KT karena menyesal dengan perbuatannya, meminta ampun warnai suguhan proses hipnoterapi. Padahal, proses hipnoterapi hanya menggunakan psikologis yang menyentuh emosi si pelaku.

Yulianti menjelesan, ia dan rekannya, Romanus Remegius, hanya bertanya penyebab KT menjadi seorang gangster dan menjual senjata tajam. Ia menyimpulkan, kurangnya perhatian orang tua terhadap anak sangat mempengaruhi faktor jati diri KT.

"Memang semua berawal dari kurangnya perhatian, makanya dia perlu untuk mengeksistensikan diri, membuat diri terlihat keren gitu, itu yang kami temukan tadi. Karena kekosongan di dalam itu di sebabkan tidak dipenuhinya bahasa kasih 
dari orang tua sama anak," ujar Yulianti di ruangan Satreskrim Mapolresta Depok.

Yulianti menambahkan, bahasa kasih itu ada lima yaitu, waktu, hadiah, sentuhan, pelayanan, dan pujian. Menurutnya, semua orang memerlukan hal tersebut meski hanya sedikit.

"Dia mau untuk bisa diterima masyarakat, biar terlihat gagah, merasa harus menampilkan diri, karena tidak ada yang memperhatikannya," katanya.

Ia menegaskan, keluarga merupakan faktor yang paling penting terhadap masa depan anak. Jika hal tersebut dipenuhi, faktor lainnya seperti lingkungan bisa di atasi.

"Lingkungan ada, pasti ada, tapi kalo keluarganya kuat lingkungan bisa diatasi.Menyampaikan bahasa kasih itu setiap hari, ibarat baterai handphone tiap hari dicarger, jadi sama kayak ke anak harus diisi juga," kata dia.

 







Features

Begini Langkah Polres Jakbar Amankan Tiga Hari Besar

Sabtu, 26 Desember 2015 16:00:41
Editor : Denny | Reporter : Adi Wijaya

Jajaran Polres Jakarta Barat sedang memeriksa keamanan di gereja
Jajaran Polres Jakarta Barat sedang memeriksa keamanan di gereja

Share this








Selain menyebar 1608 personel, Polres Jakarta Barat juga menyisir tiap gereja untuk memeriksa kemungkinan adanya bahan peledak.

SLIPI - Sehari sebelum perayaan hari Natal 2015, Polda Metro Jaya menetapkan status Siaga Satu. Melihat kondisi seperti itu, jajaran Polrestro Jakarta Barat pun telah menerjunkan sebanyak 1608 anggota untuk mengamankan ketiga hari besar agama pada akhir tahun ini, yakni Maulid Nabi Muhamad SAW pada Kamis (24/12/2015), Natal pada Jumat (25/12/2015) serta malam pergantian tahun 1 Januari 2016.

Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Rudy Herianto Adi Nugroho mengatakan, ribuan anggotanya akan melakukan pengamanan di titik-titik rawan hingga akhir pergantian tahun 2016. “Pasukan Pengamanan Masyarakat (PAM) dibagi menjadi tiga. Pertama PAM Maulid Nabi Muhammad SAW, kedua PAM Natal, dan ketiga PAM Tahun Baru,” tutur Rudy kepada infonitas.com, Kamis (24/12/2015).

Rudy menjelaskan, dengan berdekatannya hari besar tersebut, jajarannya melakukan pengamanan ketat terutama di gereja yang berdekatan dengan masjid. “Kami telah bekerjasama dengan pengurus masjid dan gereja agar tidak melakukan ibadah secara bersamaan. Terutama tidak mengeraskan volume sound agar tidak terjadi kesalahpahaman antar umat yang sedang menjalankan ibadah,” ujar Rudy di lokasi penyisiran Unit Penjinak Bom Polda Metro Jaya di Gereja Maria Bunda Karmel, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Terkait penangkapan terduga anggota teroris di Bekasi pada Rabu (23/12/2015), Rudy mengklaim tidak akan menyepelekan pengamanan di berbagai titik rawan. “Kami tidak boleh menyepelekan hal tersebut, ada mau pun tidak ada penangkapan teroris kemarin akan tetap dilakukan pengamanan seoptimal mungkin agar masyarakat yang menjalankan ibadah merasa aman, tentram, serta hikmat,” tuturnya.

Di sisi lain, Unit Penjinak Bom (Jibom) Polda Metro Jaya yang turut menyisir ke-45 gereja di Jakarta tidak menemukan satupun bahan peledak. “Makanya akan dipastikan perayaan umat Nasrani tersebut akan berjalan aman,” tandasnya.

Sementara itu, Pastur Gereja Maria Bunda Karmel (MBK) Heri Bertus Supriyadi menambahkan, keberadaan pengamanan kepolisian yang ketat justru menambah keyakinan jemaatnya akan keamanan saat melakukan ibadah. “Kami berterimakasih kepada kepolisian yang melakukan pengamanan, karena hal tersebut dapat membuat rasa ketentraman kami dalam melakukan peribadatan,” sebutnya.

Ia melanjutkan, pihak gereja MBK pun sudah menjalin koordinasi dengan masyarakat sekitar, seperti dengan ketua RT dan RW untuk mengamankan jalannya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal yang jatuh berselang satu hari saja.

Perlu diketahui, di Jakarta Barat terdapat sebanyak 185 gereja yang melakukan Misa Natal. Hasil pengamanan tersebut terbayar tuntas dengan terciptanya suasana kondusif saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal. Kini jajaran Polres Jakarta Barat hanya tinggal memfokuskan pada keamanan saat perayaan pergantian tahun 2016.







Features

test features dev

Selasa, 24 Januari 2017 16:15:00
Editor : | Reporter :

Pempek Kapal Selam
Pempek Kapal Selam

Share this








test features

TEST