Features

Giliran Relawan Ahok yang Beraksi

Senin, 15 Mei 2017 16:00:00
Editor : Wahyu AH | Sumber : DBS

Ilustrasi Ahok
Ilustrasi Ahok

Share this








Massa Aksi Bela Islam sudah tenang. Kini, giliran relawan Ahok yang beraksi.

JAKARTA – "Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, nggak pilih saya karena dibohongi (orang) pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu. Kalau Bapak Ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk neraka, dibodohin, begitu, oh nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu."

Penggalan ucapan Ahok saat berpidato di hadapan warga Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu menuai kontroversi dari kalangan Muslim Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan sampai mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah menghina Alquran dan atau menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

Fatwa ditandatangani langsung oleh Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin dan Sekretaris Jenderal MUI Dr. H. Anwar. Abbas pada Selasa (11/1/0/2017).

Sayangnya, pemerintah tidak cepat merespon dan terkesan acuh. Padahal, pasca terbit fatwa, satu per satu orang atau organisasi datang ke Polda Metro Jaya menuntut polisi agar segera menangkap Ahok atas tuduhan penistaan agama.

Hingga akhirnya, muncul unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Islam. Aksi ini terjadi beberapa kali bahkan hingga melibatkan ratusan ribu umat Islam dari penjuru Tanah Air dalam setiap kali aksi. Mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta hanya untuk berpartisipasi membela agama.

Bagi pihak yang kontra Ahok, kondisi itu menjadi senjata ampuh untuk menggerogoti elektabilitas Ahok sebagai calon petahana Gubernur DKI Jakarta.

Terbukti, Ahok kalah dalam pertarungan menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Lalu, pada 9 Mei 2017, majelis hakim menetapkannya sebagai terdakwa dalam kasus penistaan agama dengan hukuman 2 tahun penjara.

"Menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan penodaan agama," kata hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto membacakan amar putusan dalam sidang Ahok di auditorium Kementan, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017).

Baca Juga : Larangan Ahok dan Firasat Umi Nurul

Babak Baru

Putusan itu memaksa Ahok harus menanggalkan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Massa Aksi Bela Islam mulai tenang. Kini, giliran para pecinta Ahok yang tidak terima. Mereka menganggap Ahok hanya korban politik.

“Secara kinerja, Ahok sangat OK. Beliau mampu mengubah tradisi para birokrat di Jakarta. Mampu mengubah pelayanan di kelurahan menjadi lebih baik. Juga, mampu menciptakan pola kinerja yang efektif. Buktinya sudah dirasakan kok sama masyarakat,” ucap Aselin (42), pendukung Ahok yang ditemui di Balai Kota beberapa waktu lalu.

“Nah, kasus penistaan agama, itu hanya dibesar-besarkan. Ahok juga sudah minta maaf. Dia juga bilang tidak ada niat untuk melecehkan agama dalam ucapannya,” sambung Aselin.

Aksi ketidakpuasan mulai bermunculan. Tidak hanya di dalam negeri, para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri juga turut menggagas aksi kepedulian untuk Indonesia.

Seperti WNI di Amerika Serikat. Mereka menggelar acara di beberapa daerah. Seperti Aksi Peduli Indonesia di Capitol Reflecting Poo, US Capitol Bulding, Washington DC pada Minggu, 14 Mei 2017 sebagai wujud dukungan untuk pemerintah RI dan keprihatinan atas ketidakadilan terhadap Ahok.

"Gerakan ini adalah bagian gelombang dari gerakan yang saat ini terjadi di seluruh dunia. Beberapa orang sahabat memiliki ide untuk ikut menyuarakan dukungan ke pemerintah RI dan keprihatinan atas apa yang menimpa Bapak Ahok saat ini," ucap salah satu koordinator acara, Kurnia Hutapea, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/5).

Serta, Malam Keprihatinan Peradilan Indonesia di Glendora Avenue, West Covina, California. "Sebagian besar masyarakat Indonesia kecewa atas keputusan hakim yang diyakini tidak berlandasakan bukti kuat. Ini menandakan matinya sistem peradilan di Indonesia," demikian tertulis dalam undangan aksi tersebut.

Rencananya, pada 20 atau 21 Mei 2017 juga akan ada aksi serupa bertajuk ‘Merawat Kebhinnekaan’ di New York.

Begitupun WNI di Australia. Mereka menggelar aksi kepedulian di Perth, Canberra, dan Melbourne.

WNI di Belanda, Belgia, Paris, Swiss, Norwegia, Singapura, Korea, Jepang, dan Kanada juga tak mau kalah.

Sejatinya, aksi tersebut merupakan spontanitas. Tujuannya, bukan hanya menuntut keadilan untuk Ahok tetapi juga persamaan hak untuk mendapat kesempatan dan perlakuan yang sama walaupun dari latar belakang berbeda.

Baca Juga : Ini Dampak Psikologis Bagi Pendukung Ahok