Features

Gagalnya Skenario Perampokan Minimarket

Rabu, 18 Januari 2017 14:45:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Apriyadi Hidayat

Usep Saefullah (24) membuat skenario seakan-akan minimarket yang dijaganya dirampok. Namun, usahanya gagal dan malah ditangkap polisi.
Usep Saefullah (24) membuat skenario seakan-akan minimarket yang dijaganya dirampok. Namun, usahanya gagal dan malah ditangkap polisi.

Share this








Pelaku Usep Saefullah membuat skenario seakan-akan minimarket yang dijaganya telah dirampok. Namun, usahanya gagal dan justru ditangkap polisi.

DEPOK – Usep Saefullah (24) gagal mendapatkan piala sebagai aktor terbaik. Ya, perannya sebagai korban perampokan rupanya gagal memukau 'juri' yang tak lain adalah polisi. Karyawan minimarket itu juga gagal membawa kabur uang Rp94,5 juta.

Usep merupakan asisten kepala toko Alfamart di Jalan Raya Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Warga Kabupaten Bogor itu berusaha merekayasa kasus perampokan yang menimpa tempat kerjanya. Sial baginya, skenario tersebut gagal mengelabui polisi.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Depok, Ajun Komisaris Firdaus, mengungkapkan kasus tersebut terjadi pada 3 Januari 2017. Awalnya, lanjut dia, tersangka datang ke toko sekitar jam 05:30 WIB.

"Tersangka yang menjabat sebagai assistant chief of store itu tidak langsung membuka, selanjutnya tersangka menaruh tas disamping meja kasir dan mematikan lampu," kata Firdaus, Rabu (18/1/2017).

Menghilangkan Jejak

Firdaus menjelaskan, untuk menghilangkan jejak, pelaku mencoba merusak DVR CCTV yang tersimpan di gudang. Pelaku mengambil dan merusaknya dengan cara merendam di bak mandi dan dengan leluasa masuk ke ruangan tempat brankas serta membukanya dengan kunci asli.

Uang senilai Rp94,5 juta pun berhasil dikuasi pelaku. Usep kemudian menaruh hasil rampokannya itu di dekat tower penyimpanan air.

"Selanjutnya tersangka mengambil rantai dan mengikat tangannya sendiri dengan rantai serta menutup mukanya dengan menggunakan jaket dan berpura-pura pingsan. Hal itu dilakukan pelaku seolah-olah sudah terjadi perampokan terhadap toko dan dirinya," jelas Firdaus.

Dari hasil penyelidikan polisi, ada yang janggal dari keterangan Usep. Polisi akhirnya berhasil mengungkap skenario yang dilakukan oleh tersangka.

"Tersangka diduga melakukan tindak pidana Pencurian dengan pemberatan, sebagaimana diatur dalam pasal  363 KUHP. Tersangka sudah ditangkap pada 16 Januari 2017," tandasnya.







Features

Meracik Sianida Lenyapkan Dua Nyawa

Jumat, 07 Oktober 2016 15:27:38
Editor : | Reporter : Apriyadi Hidayat

Dukun Palsu Anton Herdiyanto alias Aji ditangkap Polresta Depok.
Dukun Palsu Anton Herdiyanto alias Aji ditangkap Polresta Depok.

Share this








Sianida yang berbentuk butiran itu dilarutkan dalam air yang dimasukkan ke botol minuman warna merah. Kemudian racun dicampurkan dalam kopi.

SUKMAJAYA – Dukun palsu yang mengaku bisa menggandakan emas di salah satu padepokan di Limo, Kota Depok dengan keji meracun pengikutnya hanya untuk merantas harta bendanya.

Pelaku pembunuhan Anton Herdiyanto alias Aji, menggunakan kopi bersianida yang disuguhkan kepada korbannya. Kurang dari satu menit usai menyeruput kopi, kedua korban yakni Shendy Eko Budiyanto dan Ahmad Sanusi langsung tewas ditempat.

Jalan panjang Antong menyiapkan kopi bercampur sianida itu dia kisahkan. Pertama kali dia harus menyiapkan kopi panas. Itu dia dapat dari pedangan kopi bernama Jamaludin di kawasan Limo. Penjual kopi yang melayani Anton pada malam sebelum kejadian pembunuhan mengungkapkan pelaku sempat membeli kopi di warungnya. Ketika itu Anton membeli tiga bungkus kopi hitam. "Semuanya dibungkus ada tiga kopi," kata Jamal, Jumat (7/10/2016).

Dia menambahkan selain itu pelaku membeli satu es teh manis. Namun es itu dia minum di warung tersebut. "Kalau es tehnya diminum di sini," ceritanya.

Tak hanya itu, pelaku juga membeli gorengan tahu dan bakwan di warung Jamal. Semua pesanannya minta dibungkus, kecuali es teh manis. "Dia minta gelas plastik juga untuk kopinya," jelasnya.

Setelah itu Anton pergi menggunakan mobil. Namun Jamal lupa jenis mobil yang dinaiki Anton saat itu. Dirinya mengaku tidak pernah melihat Anton lagi setelah terakhir kali membeli kopi pada Jumat (29/9) malam pembunuhan itu.  "Sekitar jam 7-8 malam. Terus pergi naik mobil," pungkasnya.

Meracik Sianida Dan Kopi

Kurang dari lima menit Anton meracik racun untuk membunuh Shendy Eko Budiyanto dan Ahmad Sanusi. Hanya bermodalkan air putih yang dimasukkan botol minuman, Anton sudah mendapatkan racun jenis potasium sianida yang diraciknya di tempat tinggalnya di Jalan M Yusuf Gang H Naim, Sukmajaya Depok.

Potasium sianida yang berbentuk butiran itu dilarutkan dalam air yang dimasukkan ke botol minuman warna merah. Kemudian racun yang sudah dilarutkan itu dia campurkan dalam kopi dan disuguhkan pada Shendy dan Sanusi. "Ada setengah butir lagi sisa dari kampung. Saya masukin ke air terus dituang ke botol," kata Anton.

Keduanya tak mengetahui kopi itu sudah dicampur racun karena sudah larut dalam pekatnya kopi hitam. Selain itu kondisi lapangan yang gelap membuat kedua korban tidak menyadari jika kopinya telah dicampur racun. "Saya nyampurnya pas di lapangan. Mereka saya minta menghadap belakang supaya nggak keliatan, " terangnya.

Anton beralasan dirinya akan melakukan ritual dan tidak boleh dilihat keduanya. Mendengar perintah itu korban mengikuti perkataan Anton. "Saya bilangnya mau narik emas," katanya.

Hilangkan Jejak

Setelah kopi dicampur racun, Anton menyuruh korban meminum kopinya. Tak lama kemudian, keduanya terkapar dan tewas di lokasi. Untuk menghilangkan jejak, Anton membawa jasad keduanya ke dalam mobil milik Sanusi dan membuang di Limo, Depok. Setelah itu dia melarikan diri ke Lampung membawa mobil Sanusi. Dalam pelariannya itu dia diamankan di Lampung.

Anton menuturkan, racun itu dipersiapkan untuk menghabisi nyawa kedua korban. Tujuannya karena ingin menguasai mobil. Namun dia menyamarkan tindakannya itu dengan iming-iming bisa menarik emas batangan. Untuk itu dia meminta mahar berupa mobil. "Saya sendiri yang membuang mayatnya," akunya

Kapolresta Depok Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan pelaku Anton menyisakan racikan itu dalam botol minuman dan disimpan di balik ban bekas yang ada dilokasi. “Botol yang digunakan adalah botol minuman berwarna merah. Barang buktinya sudah dibawa penyidik," pungkasnya.







Features

Fenomena Dukun Palsu Pengganda Uang

Senin, 17 Oktober 2016 15:41:45
Editor : | Reporter : Apriyadi Hidayat

Sunarsih (48) tukang pijat yang mengaku bisa menggandakan uang.
Sunarsih (48) tukang pijat yang mengaku bisa menggandakan uang.

Share this








Dengan mudah masyarakat bisa mempercayai beragam modus penggandaan uang yang dijanjikan para pelaku.

DEPOK - Belakangan ini media tak pernah habis menyuguhkan berita seputar fenomena penggandaan uang. Ironisnya, masyarakat di era modern seperti saat ini, masih banyak yang mudah mempercayai praktik tipu-tipu tersebut.

Tak hanya Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang mampu meyakinkan ribuan pengikutnya sepelosok nusantara. Di Depok, ada pria bernama Anton Herdiyanto alias Aji sang dukun palsu yang mengklaim kesaktiannya bisa mendapatkan jodoh idaman hingga menggandakan emas dengan cara mudah.

Tak sampai di situ saja, baru-baru ini jajaran Reskrim Polres Depok berhasil menangkap seorang wanita paruh baya yang berprofesi sebagai tukang pijat. Dia menipu pasiennya dengan mengklaim bisa menggandakan uang yang disetorkan hingga miliaran rupiah.

Wanita tersebut bernama Sunarsih (48). Saat ditangkap polisi, pekan lalu, dia tak henti-hentinya menangis dan meronta minta dibebaskan. Ucapan belas kasihan pun dilontarkan Sunarsih. "Saya khilaf pak. Ampuni saya. Saya melakukan itu terpaksa karena harus bayar hutang. Anak saya yatim, suami baru saya ga bisa kerja karena patah tulang," ucap Sunarsih sembari menangis di hadapan Wakapolresta Depok AKBP Candra Kumara, Jumat (14/10/2016).

Anehnya, para korban rela menginvestasikan hartanya jutaan rupiah dengan harapan uangnya bisa bertambah berlipat-lipat tanpa melakukan apa pun. Tentu ini tawaran yang menggiurkan meski secara logika itu tidak masuk akal.

Meyakinkan Korban

Dalam pengakuannya, Sunarsih mengaku tidak menggunakan ilmu apapun, seperti hipnotis dan sebagainya. Dia hanya meyakinkan korban lewat obrolan-obrolan saat memijat sang korban. Sepintas kita sulit memercayai bagaimana orang begitu mudah percaya dengan praktik penggandaan uang tersebut. 

"Saya bilang ke korban, kalau kamu mau kehidupan lebih baik, harus menyetorkan uang Rp5 juta dan dalam beberapa hari uang itu akan berlipat," terang Sunarsih.

Agar lebih mempercayai korban, Sunarsih pun memberikan sejumlah syarat. Mulai dari dilarang menerima tamu di rumah, harus berjalan kaki minimal 1 kilometer setiap pagi hingga tidak boleh membuka ember tempat penyimpanan uang. 

Lama tidak dibuka, kemudian korban penasaran. Apalagi, ramainya berita di media massa tentang penipuan bermodus penggandaan uang yang kini tengah ramai dibicarakan. Para korban pun semakin penasaran ingin membuka ember itu.

Lalu, korban membuka isi ember tersebut. Akan tetapi, uang yang sudah dia setor ke Sunarsih tidak bertambah. Justru uangnya sudah tidak ada dan berganti pakaian kotor. "Total uang sudah disetorkan Rp22.250.000," terangnya.

Merasa ditipu korban pun langsung melaporkan kasus tersebut ke Polsek Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang merupakan wilayah hukum Polres Kota Depok. Atas perbuatannya tersebut, pelaku dikenakan pasal 378 Jo 372 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun.

Harus Berpikir Rasional dan Kerja Keras

Apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat? Mengapa mereka sangat gampang percaya dengan praktik penggandaan uang seperti itu?

Dari banyaknya kasus penipuan dengan modus penggandaan harta, Wakapolresta Depok AKBP Candra Kumara menyimpulkan ada kecenderungan masyarakat suka sesuatu yang instan tanpa mau mengikuti prosesnya. Mereka berharap tanpa bekerja keras bisa mendapat hasil yang banyak. 

“Tidak ada itu gandakan uang. Masyarakat harus lebih rasional dan bermain logikanya. Kalau mau uang yang banyak, caranya ya kerja keras. Siapaun itu,” kata Candra.

Selain itu, lanjut dia, kurangnya pemahaman agama secara utuh. Seorang pemeluk agama yang baik tidak akan bisa terjerumus dalam praktik-praktik seperti itu. "Faktor ekonomi dan pendidikan juga ikut menjadi penyebab mudahnya seseorang terjerumus dalam praktik-praktik penggandaan uang. Kita bisa lihat para penipu menyasar kalangan menengah bawah," tandasnya.

Maraknya kasus tersebut yang disebabkan berbagai faktor, khususnya kesejahteraan da  pendidikan masyarakat, tentu perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Para tokoh agama juga perlu ikut memberikan sumbangsihnya dalam mencerahkan masyarakat agar tidak mudah terjerumus ke hal-hal negatif.

 







Features

Pembunuh Nenek Stress Didatangi Arwah Korban

Rabu, 11 Januari 2017 17:10:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Apriyadi Hidayat

Solehudin alias Joko (34) pelaku pembunuhan nenek Sumarminah dibekuk polisi.
Solehudin alias Joko (34) pelaku pembunuhan nenek Sumarminah dibekuk polisi.

Share this








Dengan serangkaian peristiwa mengerikan yang dialami Joko, dirinya mengaku sangat menyesali perbuatannya tersebut.

DEPOK – Pelaku penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan nenek Sumarminah (65), yakni Solehudin alias Joko (34) tak bisa hidup dengan tenang. Bukan karena kini setiap harinya hidup di balik jeruji besi, tapi sosok korban selalu muncul dihadapannya.

Diakui Joko ia pernah didatangi arwah korban di kediamannya. Kedatangan arwah adalah hari ketiga usai Joko menghabisi nyawa nenek Sumarminah.

"Ketika itu saya sedang tidur di kontrakan di Cinangneng, Bogor. Sekitar jam setengah satu malam. Dia datang dan hanya diam saja depan saya," kata Joko di Mapolresta Depok, Rabu (11/1/2017).

Saat melihat arwah sang nenek, Joko hanya terdiam. Penampakan nenek itu tak berlangsung lama. Setelah itu dia langsung menghilang. "Saya sempat kaget," imbuhnya.

Sebelum didatangi arwah korban, Joko juga sempat mengalami peristiwa menyeramkan lainnya. Pada malam pertama usai membunuh dia kedatangan ayam yang sekujur tubuh hingga mata berwana hitam di kontrakannya.

Dengan serangkaian peristiwa mengerikan yang dialami Joko, dirinya mengaku sangat menyesali perbuatannya tersebut. Dia mengaku merasa kasihan dengan Sumarminah namun dia juga merasa kesal karena terus ditagih hutang oleh rentenir. "Ya nggak tega juga karena sudah tua si ibu. Tapi saya kesal jadi khilaf," ucapnya.

Pra Rekonstruksi

Dalam pra rekonstruksi yang dilakukan di Studio Alam TVRI, Sukmajaya, Selasa (10/1/2017), pelaku Joko menjalani 13 adegan. Mulai dari pertemuan tersangka dengan korban di kontrakan milik tersangka kawasan, Cinangneng, Parung Bogor.

Kemudian dalam kontrakan mereka mengobrol. Lantas korban menyerahkan isi dompet serta handphone miliknya kepada tersangka.

Setelah itu mereka pergi ke kawasan Gunung Kapur Kampung Bulak RT 01/10, Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ditempat itu tersangka dengan korban menjalankan berbagai macam ritual. Mereka juga sempat melakukan hubungan layaknya suami-istri yang disebutnya bagian dari ritual. "Bagian dari ritual untuk mendatangkan rejeki," katanya.

Setelah melakukan hubungan badan, tersangka menanyakan hutangnya kepada korban. Namun jawaban dari korban membuat tersangka kesal.

Tersangka kemudiam memukul korban berkali-kali menggunakan sebatang kayu hingga tewas. Tak hanya itu, tersangka juga menyeret korban ke tempat yang sep dan menutup tubuh korban dengan ranting pohon.

Dalam pra rekonstruki terungkap  tersangka Joko berniat membakar seluruh pakaian yang dikenakan korban.

Namun, niat itu dibatalkannya karena ketika hendak membuka baju milik korban, tersangka mendengar suara-suara aneh di sekitar lokasi kejadian.

Namun, dalam perjalanan tersangka berfikir untuk menghilangkan jejak sadisnya. Tersangka kemudian kembali ketempat tersebut untuk membakar pakaian yang dikenakan korban.







Features

Ratusan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Senin, 27 Februari 2017 20:15:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Apriyadi Hidayat

Inspektur Polisi Dua (IPDA) Nurull Kamila Wati.
Inspektur Polisi Dua (IPDA) Nurull Kamila Wati.

Share this








Apalagi, sejak menjabat sebagai Kepala Tim Srikandi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Depok pada 2016, Nurull sudah menerima 300 laporan kasus.

DEPOK - Miris. Itulah kata yang terlontar dari mulut Inspektur Polisi Dua (IPDA) Nurull Kamila Wati setiap menangani kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Apalagi, sejak menjabat sebagai Kepala Tim Srikandi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Depok pada 2016 lalu, Nurull sedikitnya sudah menerima 300 laporan kasus. Korban merupakan anak-anak dan perempuan.

Siang itu Depok cukup cerah, Nurull pun nampak sibuk. Selain mengurusi berkas kasus di meja kerjanya, kebetulan saat itu Mapolresta Depok sedang kedatangan Ketua Bhayangkari yang merupakan istri Kapolda Metro Jaya, Novita M Iriawan.

Di sela kesibukannya, Nurull menerima dengan hangat kedatangan infonitas.com di ruangannya, Mapolresta Depok. Polisi wanita ini memulai obrolan santainya.

Lulusan Akademi Kepolisian 2015 itu memulai karir dengan bertugas di Direktorat Sabhara Polda Metro Jaya. Kemudian ditugaskan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Depok pada 2016.

"Saya seperti ditakdirkan masuk polisi. Saya ingin sekali masuk di semua institusi yang ada ikatan dinas. Awalnya, selepas lulus SMA saya mendaftar di Universitas Diponegoro jurusan Sosial Politik. Saya juga daftar di IPDN, lalu Akpol. Semua lolos dan diterima," kata wanita kelahiran Wonosobo, 11 Juli 1993 itu.

Nurull pun memantapkan diri memilih Akpol lantaran pengumuman masuk yang diterimanya datang terlebih dahulu.

"Saya jalani. Prinsip hidup saya, apapun yang ditakdirkan Tuhan harus dijalani meski kadang apa yang kita inginkan tidak terpenuhi sesuai keinginan. Tapi percayalah itu yang terbaik Tuhan berikan. Tuhan punya rencana lain dengan takdir itu. Do the best and god do the rest," ujar penyuka kuliner bakso ini.

 

Atasi Kasus Kekerasan Pada Anak

Ditempatkan di Unit PPA memberikan warna dan tantangan tersendiri bagi Nurull. Lajang 23 tahun ini harus menunjukan sikap keibuan setiap menangani kasus yang melibatkan anak-anak sebagai korbannya.

"Setiap korban kekerasan ataupun pelecehan seksual akan mengalami trauma. Terlebih korbannya anak-anak. Mereka umumnya takut berbicara dengan orang lain dan itu menyulitkan penyidik untuk menggali informasi seputar kasus yang menimpanya. Sehingga kami harus melakukan pendekatan secara emosional terhadap seorang korban," jelas dia.

Selain menindak kasus pidananya terhadap tersangka, lanjut Nurull, fungsi dari Tim Srikandi unit PPA Polersta Depok juga memantau kondisi perkembangan psikologis korban.

"Untuk yang ini, tim rutin mendatangi rumah anak tersebut. Berbagai cara dilakukan untuk bisa dekat dengan korban. Ya itu tadi, harus ada jiwa keibuan atau tim menempatkan diri sebagai kakak mereka. Pernah juga kami mengajak korban untuk bermain, jalan-jalan hingga makan bersama agar trauma yang dialami korban sedikit demi sedikit berkurang. Intinya harus sabar," terang bungsu dari tiga bersaudara ini.

 

Lebih Peduli Sesama

Mengenai kasus yang pernah ditangani Tim Srikandi, kata Nurull, sangat beraneka ragam. Mulai dari lingkup keluarga. Natara lain adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan, ayah tiri atau kandung melakukan pelecehan seksual kepada anaknya. Kemudian di lingkup jalanan, adanya eksploitasi anak dengan dipekerjakan secara paksa, perdagangan manusia dengan dijadikan wanita penghibur. 

"Ada juga di lingkungan sekolah, anak-anak menjadi korban bully. Bahkan, ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya. Ini sangat miris," katanya.

 

300 Laporan Kasus

Tingginya kasus kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, membuat tim Srikandi tak sekedar melakukan penindakan melainkan juga pencegahan guna menekan angka tersebut.

"Sepanjang 2016 kami menerima lebih dari 300 laporan yang korbannya perempuan dan anak. Tim Srikandi yang digagas Kapolres dan Kasatreskrim ini melihat tinginya angka kejahatan terhadap perempuan dan anak di Kota Depok sehingga kita perlu ada langkah pencegahan selain penindakan. Kami rutin menyambangi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi sehingga anak-anak atau perempuan mampu membentengi dirinya sendiri dan tidak gamoang terpengaruh bujukan. Minimal mereka mampu menjadi polisi untuk dirinya sendiri," tandasnya.

Untuk pelajar SMP dan SMA, kata Nurull, pihaknya lebih menitikberatkan edukasi terhadap pengaruh penggunaan gadget.

"Karena gadget bisa menjadi pintu masuk kejahatan seksual terhadap pelajar. Mereka dewasa sebelum usianya karena ponsel dan teknologi. Buka media sosial bisa melihat apapun. Ada juga kasus penculikan dan pemerkosaan yang berawal dari teman kenalan di media sosial," ujar dia.

Kebanyakan pelaku kejahatan, menurut Nurull, merupakan masyarakat berekonomi rendah. Namun, seharunya, kata dia, tidak lantas bertindak kriminal apalagi melalukan kejahatan seksual terhadap anak.

"Rendahnya ekonomi dan pendidikan memang menjadi faktornya. Tapi yang terpenting adalah setiap manusia harus memiliki akhlak yang baik sehingga hal-hal tersebut bisa dihindari," pungkasnya. 

 







Features

Begini Pengakuan Bocah Korban Pedofil

Jumat, 31 Maret 2017 15:15:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Apriyadi Hidayat

Bocah korban pedofil di Mapolresta Depok.
Bocah korban pedofil di Mapolresta Depok.

Share this








Di kontrakan, pelaku memegang kemaluan korban, namun korban marah. Tapi pelaku lebih marah.

DEPOK - Pada medio September 2016 lalu, jajaran Satuan Reserse Kriminal Polresta Depok meringkus tersangka pencabulan anak di bawah umur atau pedofilia bernama Dedi alias Alex (25). Tak tanggung-tanggung, predator seks itu melakukan tindakan bejatnya kepada lima bocah, diantaranya 4 laki-laki dan seorang perempuan yang berusia 11-13 tahun.

Infonitas.com berkesempatan mewawancarai salah seorang korban berinisial AP (13). Dalam pengakuannya, AP mengenal pelaku saat masih duduk dibangku kelas 6 SD. Saat itu, Dedi yang berprofesi sebagai penjual mainan di depan sekolahan mengiming-imingi korban dengan uang dan mianan agar mau dibawa ke kontrakannya di kawasan Sukmajaya, Kota Depok.

“Di kontrakan, kemaluan saya dipegang-pegang. Saya marah, tapi dia lebih marah. Kalau ngga mau dipegang, diancem mau dikasih ke preman buat dipukulin," ungkap AP, Jumat (31/3).

Sekitar setahun sudah AP terpaksa melayani nafsu bejat tersangka. Selain pelecehan, AP juga mengaku sering disodomi oleh tersangka. "Kadang saya di kasih uang Rp5.000, dikasih pinjem hape, dikasih pinjem motor juga. Yang penting jangan ngadu kata dia (tersangka)," terangnya.

Dikontrakan

AP menyebutkan perlakukan yang sama juga dialami oleh teman-temannya. Dikontrakan tersangka yang berukuran sekitar 5x4 meter itu, ada sekitar teman AP yang sering bermain. "Kebanyakan cowok,” kata dia.

Terdakwa Dedi alias Alex pun sudah dijatuhkan hukuman selama sepuluh tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Depok, pada 2 Februari 2017. Amar putusan tersebut langsung dibacakan majelis hakim yang diketuai YF Tri Joko GP dihadapan jaksa penuntut umum (JPU) Putri Dwi Astrini. 

Putusan itu tentunya jauh lebih ringan dari yang ditunut JPU, yakni 14 tahun penjara sebagaimana diatur dalam Pasal 82 Ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP.