Gagal Dobrak Pendidikan, Guru Dika Dinonaktif
Features

Gagal Dobrak Pendidikan, Guru Dika Dinonaktif

Kamis, 12 Januari 2017 16:45:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Apriyadi Hidayat

Andika Ramadan Febriansah, guru sejarah SMAN 13 Kota Depok yang diduga diberhentikan akibat curhat di media sosial.
Andika Ramadan Febriansah, guru sejarah SMAN 13 Kota Depok yang diduga diberhentikan akibat curhat di media sosial.

Share this





Guru Dika melihat banyak problematika di dunia pendidikan. Ia pun mencoba mendobrak sistem yang menurutnya konvensional.

DEPOK - Andika Ramadan Febriansah, guru sejarah SMAN 13 Kota Depok yang diduga diberhentikan akibat curhat di media sosial, sangat menyayangkan sikap sekolah yang dinilai sepihak memberhentikan dirinya. 

Dika, sapaan akrabnya, tidak menerima jika alasan pemberhentian sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut hanya karena dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa yang sedang menjalani tugas akhir.

"Saat mengajukan diri sebagai guru di SMAN 13 Depok, saya bilang belum selesai kuliah. Sedang skripsi dan pihak sekolah pun tidak mempermasalahkan," ujar mahasiswa UNJ itu saat berbincang di Perpustakaan Universitas Indonesia, Rabu (11/1/2017).

Juli 2016, lanjut Dika, ia memulai mengajar di sekolah yang terletak di Cimanggis itu. Dika mengajar mata pelajaran sejarah. Selama menjalani profesi barunya sebagai guru, ia melihat banyak problematika di dunia pendidikan. Ia pun mencoba mendobrak sistem yang menurutnya konvensional. Bahkan, Dika juga sempat menyinggung soal bangunan sekolah yang tak kunjung selesai dan masih adanya praktek pungutan liar di lingkungan sekolah.

"Dalam tulisan yang saya posting juga banyak mengkritik sistem pendidikan. Ada pungutan yang nggak wajar, sekelas sekolah negeri masih ada pungutan uang seragam. Belum lagi soal buku, memang sekolah tidak menjual secara langsung tapi guru mengarahkan untuk membeli di tempat yang ditunjuk. Ini saya lihat sendiri. Belinya dekat sekolah," jelas Dika.

Pendidikan Kita Memang Kacau Adikku

Ia menilai menulis dan menyampaikan pendapat itu merupakan hak setiap waraga negara. Bahkan, lanjutnya, sebelum memposting tulisan di media sosial berjudul 'Pendidikan Kita Memang Kacau, Adikku' (http://andikaramadhanf.tumblr.com/post/154029284356/pendidikan-kita-memang-kacau-adikku), Dika sempat menyampaikan pendapatnya itu kepada kepala sekolah langsung. Namun, dianggap angin lalu.

"Saya sudah beberapakali mengadukan tentang pungutan dan lain-lain kepada kepsek tapi dijawab 'itu bukan kapasitas kamu'. Terus ada lagi soal siswa yang boleh ikut UTS jika sudah bayar uang gedung. Ironi sekali ini. Tapi jawabannya seperti itu juga. Saya merasa tidak didengarkan, yasudah saya menulis di medsos. Itu praktek yang perlu dikritik," bebernya.

Dengan diberhentikan Dika sebagai tenaga pengajar di SMAN 13 Depok, membuat sejumlah siswa melakukan aksi unjukrasa dengan tagar #SavePakDika. "Sangat disayangkan murid-murid yang dekat dengan saya mendapatkan intimidasi secara verbal oleh guru lain," katanya.

Setelah dinolkan jam mengajarnya, Dika pun dipindahkan menjadi petugas perpustakaan. "Ini hanya permainan bahasa dari pihak sekolah. Saya diberhentikan sebagai guru tapi digeser jadi petugas perpustakaan. Ibaratnya, saya nggak digusur tapi direlokasi. Apa karena tulisan saya? Atau karena gelar saya yang belum sarjana?," pungkasnya.

Jam Mengajar Dinolkan

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 13 Kota Depok, Rakhmat Fauzi mengatakan, guru Dika tidak dipecat, hanya dinolkan jam mengajarnya dan dipindahkan menjadi petugas perpustakaan. 

"Yang perlu digarisbawahi, diberhentikannya pak Dika bukan karena curhatnya di media sosial. Hanya masalah administrasi saja. Pak Dika tetap ada di SMAN 13, tidak dipecat," ungkap Rakhmat di ruangannya, Kamis (12/1/2017).

Dijelaskan Rakhmat, selain Dika belum menyelesaikan kuliahnya, sekolah juga menilai ada beberapa hal yang janggal dalam proses kegiatan belajar dan mengajarnya. Pertama, lanjut dia, Dika tidak pernah menggelar ulangan atau ujian kepada murid-muridnya. "Tentu ini sangat bertentangan dengan kurikulum kami," tandasnya.