Features

Buruknya Jalan Menuju Kepulauan Seribu

Senin, 09 Januari 2017 12:00:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Wahyu Muntinanto

Akses menuju Dermaga Kali Adem, Muara Angke selalu digenangi banjir selama belasan tahun.
Akses menuju Dermaga Kali Adem, Muara Angke selalu digenangi banjir selama belasan tahun.

Share this





Selama belasan tahun akses utama menuju Dermaga Kali Adem dan Muara Angke untuj menuju Kepulauan Seribu, selalu digenangi banjir.

PENJARINGAN – Banjir setinggi 30 cm terus menggenangi Jalan Dermaga, Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Jalan tersebut merupakan akses utama menuju Pelabuhan Muara Angke dan Pelabuhan Kali Adem, yang kerap digunakan oleh warga sekitar dan wisatawan untuk mencari ikan dan berwisata ke Kepulauan Seribu.

Suasana kumuh terlihat ketika memasuki kawasan Muara angke. Rentetan rumah penduduk yang padat dan sejumlah warga yang melakukan usaha pembuatan ikan asin membuat suasana terlihat semakin tidak sedap di pandang mata. Ditambah dengan kebiasaan warga yang membuang sampah sembarangan, membuat suasana kawasan tersebut semakin kumuh dan menimbulkan bau tak sedap.

Saat ingin menuju ke Pelabuhan Kali Adem dan Muara Ángke wisatawan harus melintasi jalan Dermaga yang selalu terus terus tergenang air meskipun cuaca sedang terik matahari. Air yang hitam dan bau tidak sedap membuat perjalanan menuju pelabuhan merasa tidak nyaman.

Belasan Tahun Banjir

Warga sekitar bernama Taufik (52) mengungkapkan jalan tersebut tidak pernah luput dari banjir. Sejak bekerja sebagai tukang becak di kawasan Muara Angke selama belasan tahun jalan ini usdah banjir. Dia pun bingung mengapa banjir tida pernag surut di kawasan ini. Akibatnya becak miliknya sering rusak dan berkarat akibat terendam air laut yang terus menggenang.

"Saya juga bingung ini banjir mulu gak pernah dibenerin. Becak saya pelek rodanya jadi berkarat. Kalo begini terus jadi cepet rusak dan saya bisa merugi," tuturnya kepada infonitas.com, di Muara Angke, Senin (9/1/2017).

Sementara seorang wisatawan asal Bandung, Devina (25) menyayangkan soal akses menuju Pelabuhan Kali Adem yang kurang baik. Apalagi jalan tersebut merupakan jalan utama menuju pelabuhan untuk mengantarkan wisatawan berlibur ke Kepulauan Seribu.

"Sayang sekali ya sudah banjir, airnya juga bau, sangat tidak terawat. Gimana wisatawan mau berkungjung kalau jalannya aja ke pelabuhan penyebrangan seperti ini," tuturnya.

Dirinya berharap Pemprov DKI atau pun Dinas terkait agar bisa memperbaiki jalan menuju pelabuhan. Karehna hanya di jalan itulah wisatawan dan warga kerap kali melintasi intuk beraktifitas.

"Mudah-mudahan jalan menuju pelabuhan tidak lagi jelek dan bau, suasana kumuh di perkampungan nelayan juga bisa indah. Kalau itu di lakukan pastinya banyak wisatawan yang datang," pungkasnya.







Features

Kembali Ke Jakarta, Rumahku Sudah Rata dengan Tanah

Minggu, 26 Januari 2015 13:13:02
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.
Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.

Share this





Warga kolong Tol Wiyoto Wiyono banyak yang menyesalkan tindakan petugas membongkar hunian semi permanen mereka.

PENJARINGAN - Kamis siang (23/7/2015) lalu, Pemkot Jakarta Utara membongkar puluhan bangunan liar di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Pejagalan,  Penjaringan, Jakarta Utara. Penghuninya yang kebanyakan pendatang pun kaget ketika kembali dari kampung halaman, tempat tinggalnya sudah rata dengan tanah.

Salah satu warga kolong tol yang merasa kaget campur bingung adalah pasangan Tarsiah (47) dan Herman (50). Hunian mereka ternyata sudah dihancurkan puluhan petugas Satpol PP Pemkot Jakarta Utara. Padahal mereka baru menempati bangunan semi permanen tersebut selama 4 bulan.

"Saya baru pulang mudik dari Brebes tadi malam. Tau-tau siang ini sudah ada pembongkaran," ujar Tarsiah sambil mengusap seekor kelinci oleh-oleh untuk putrinya, Kamis (23/7/2015).

Dia pun terlihat pasrah dan tak berdaya melihat bangunan semi permanen miliknya rata dengan tanah. Tarsiah juga tak mengira bahwa pada Kamis siang rumahnya akan dibongkar petugas. Pasalnya surat pemberitahuan yang didapat sebelum lebaran tak tertera tanggal dan hari pembongkaran dimulai.

"Sudah dikasih tahu pas bulan puasa. Tapi kan bilangnya habis lebaran. Nggak tahu hari apa tanggal berapa," beber Tarsiah sambil terisak kepada Infonitas.com.

Sementara itu, sang suami Herman di tengah-tengah berlangsungnya pembongkaran mencurahkan isi hatinya. Dia tadinya berharap Jakarta yang notabene kota besar sudah barang tentu memiliki beragam potensi untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Namun nyatanya baru empat bulan tinggal di Ibukota, Herman mengalami penggusuran.

"Saya pikir kalau pindah ke Jakarta semua program berjalan dengan baik. Soalnya, di kampung saya program satu miliar satu keluarganya, tidak efektif. Ternyata di sini (Jakarta) sama aja. Baru empat bulan sudah digusur," paparnya.

Laki-laki yang mengaku pernah bekerja di empat negara sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini sempat membandingkan Indonesia dengan negara tempatnya bekerja tentang sistem pendataan penduduk.

"Saya sudah kerja di empat negara, Arab Saudi, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Tapi baru di Indonesia saya kesulitan membuat identitas diri. Gimana mau dapat rusun, kalo KTP DKI nggak ada. Pas mau bikin (KTP) malah dipersulit," pungkasnya.

Kalau sudah begini, Herman pun mengaku lebih nyaman kerja di luar negeri sebab semua lebih teratur dan disiplin. Namun apa boleh buat, di usianya yang hampir setengah abad, dia merasa sudah tidak produktif lagi jika tetap bekerja sebagai TKI di luar negeri.

Sedangkan menurut Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko, bangunan liar yang berada di kolong Tol Wiyoto Wiyono ini di anggap menyalahi aturan dan melanggar Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Dia pun menjelaskan bahwa bangunan tersebut sangat membahayakan, karena listrik di pemukiman itu dianggap ilegal. Apabila terjadi kebakaran maka akan merusak konstruksi jembatan tol.

"Bangunan yang dibongkar ini selain menyalahi aturan juga menggunakan sambungan listrik ilegal sehingga rawan terjadi kebakaran yang dapat merusak struktur tol," jelasnya.

Pembongkaran 70 bangunan liar itu sendiri melibatkan 100 personel gabungan Satpol PP Jakarta Utara, Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara beserta 4 truk sampah, Koramil Penjaringan dan Polsek‎ Metro Penjaringan.







Features

Seribu Kendala Pendidikan di Kepulauan Seribu

Minggu, 16 Agustus 2015 12:52:48
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Siswa SMAN 69, Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu
Siswa SMAN 69, Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Share this





Walau masih termasuk dalam wilayah DKI Jakarta, namun pendidikan di Kepulauan Seribu seperti dianaktirikan.

KEPULAUAN SERIBU - Cita-cita pemerintah dalam menyamaratakan pendidikan hingga daerah terpencil seperti jauh panggang dari pada api. Contohnya saja di Kepulauan Seribu, kondisi pendidikan di sana cukup menyedihkan.

Mulai dari sarana penunjang, hingga mata pelajaran pun kerap tertinggal dari sekolah-sekolah yang ada di Jakarta. Padahal, DKI sebagai Ibu Kota Indonesia dianggap sebagai tolok ukur pendidikan di Indonesia. Namun, daerah Kepulauan Seribu yang nota bene masih masuk dalam wilayah Jakarta seperti dianaktirikan.

Dari beberapa gususan pulau seperti Pulau kelapa, Pulau Panggang, Pulau Harapan dan lainnya, Pulau Pramuka lah yang dianggap lebih baik dari segi pendidikan. Tak heran, banyak siswa dari pulau-pulau tersebut yang mengenyam pendidikan di Pulau Pramuka. Salah satu sekolah yang dituju adalah SMAN 69.

"Iya mas, kami dari pulau yang berbeda. Jika kami ingin menuntut ilmu, kami harus ke Pulau Pramuka, karena hanya di sana sekolahannya," ujar salah satu siswa SMAN 69, Efan Suepan (16) kepada Infonitas.com, beberapa hari lalu.

Sambung Riska (17), siswa SMAN 69 lainnya, walaupun sudah bersekolah di SMA yang paling bagus di Kepulauan Seribu, sistem belajar mengajar di Pulau Pramuka masih dianggap tertinggal dengan wilayah lainnya seperti Jakarta non kepulauan.

"Sekolahnya di sini masih banyak ketinggalan khususnya mata pelajarannya berbeda dengan di wilayah Jakarta Utara, Selatan dan lainnya," tutur dia tanpa merinci perbedaannya.

Tak hanya hanya itu, segi transportasi dari tempat tinggal ke sekolah pun cukup merepotkan para siswa di Kepulauan Seribu. Siswa kelas X SMAN 69, Silvia (16) mengaku, agar tidak terlamabat bersekolah dia harus tinggal di asrama dekat sekolah. Baru pada akhir pekan dia bisa pulang bertemu orangtua.

"Saya dan teman-teman selama hari sekolah menginap di asrama, sedangkan pulangnya Jumat Sore," tutur Silvia.

Dia melanjutkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang sudah menyediakan asrama untuk para siswa SMAN 69 yang berasal dari luar Pulau pramuka. Dalam asrama tersebut terdapat dua tempat yang menampung siswa pria dan wanita.

 "Jumlah yang menginap di asrama perempuan muat hingga 100 orang, sedangkan laki-laki hanya untuk 89 orang," ucapnya.

Hal tak jauh berbeda dikatakan siswa lainnya bernama Heri Wahyudi yang tinggal di Pulau Kelapa.  . Untuk menuju sekolah, ia harus mempertaruhkan nyawa dengan melawan gelombang yang tak menentu dan kapal yang tak layak.

"Kendalanya itu kalo mau kesekolah dari kapalnya yang tak begitu bagus dan ombak yang tinggi bahayanya lagi ketika ada angin besar (badai)," tandasnya.

Mereka pun kini berharap kepada pemerintah agar mau membuatkan sekolah di pulau mereka tinggal. Sehingga untuk bisa menuntut ilmu meraka tak mengalami kesulitan.

"Ya mudah-mudahan di pulau kita masing -masing dibuatkan sekolah jadi kita tak seperti ini bersekolah menempuh waktu lama dengan menyeberang pulau," ujar Heri.







Features

Cerita Nelayan Terumbu Karang di Kepulauan Seribu

Sabtu, 22 Agustus 2015 14:50:35
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Terumbu Karang
Terumbu Karang

Share this





Dari yang awalnya mengambil terumbu karang dan koral secara ilegal, Deni berubah menjadi pengusaha sekaligus aktif dalam pelestarian terumbu karang.

JAKARTA – Berawal dari kebiasaannya ‘mencuri’ terumbu karang dan koral untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Deni (44) kini berubah menjadi nelayan terumbu karang yang sukses menyekolahnya anak-anaknya ke perguruan tinggi, bahkan ikut melestarikan terumbu karang di laut lepas.

Kepada Infonitas.com penduduk asli Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu ini menuturkan, sebelum menjalani profesi saat ini, dirinya merupakan nelayan tradisional dengan pekerjaan sampingan menjual terumbu karang dan koral laut secara ilegal.

Deni mengatakan, dirinya sadar bahwa kebiasaan mengambil terumbu karang dan koral laut merusak ekosistem laut. Terlebih, butuh waktu lama untuk terumbu karang tumbuh kembali. Namun, dalih memenuhi kebutuhan perut membuatnya mengabaikan kondisi ini.

“Saya mengambil terumbu karang dan koral untuk dijual guna memenuhi kebutuhan perut keluarga,” tuturnya sambil mengenang masa lalu, Minggu (16/8/2015).

Deni melanjutkan, kebiasaannya mengambil terumbu karang dan koral berhenti setelah bertemu dengan Sumarto (56), satu di antara petugas Taman Nasional di Kabupaten Kepulauan Seribu. Sumarto-lah yang membukan pikiran Deni, bahwa kebiasaannya selama ini mengancam kelestarian alam dan menyarankannya melakukan budidaya terumbu karang.

Perlahan, Deni pun mencoba membudidayakan terumbu karang. Awalnya, Deni sempat pesimis usahanya ini akan berhasil. Selain karena sedimen laut akibat pencemaran yang menyebabkan, terumbu karang mati, masih ada juga tangan-tangan jahil yang merusak budidayanya.

“Hasil budidaya malah nilai jualnya lebih tinggi. Dulu waktu ngambil di laut, jualnya Rp 1.500 – Rp 2.000. Sekarang harganya Rp 5 ribu – Rp 10 ribu,” jelasnya.

Perlahan, perekonomian Deni pun membaik. Bahkan, tak hanya bisa memenuhi kebutuhan perut keluarganya, Deni pun mampu menyekolahnya kedua anaknya hingga ke bangku perguruan tinggi. Anak pertamanya sudah menyelesaikan kuliah dan memeroleh gelar sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), sementara anak keduanya masih menempuh kuliah S-1 di Universitas Pamulang.

Berkaca dari pengalaman hidupnya, Deni pun memutuskan untuk bergabung dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu dan aktif melakukan kegiatan pelestarian alam. Deni beralasan, dirinya sebagai putra asli Kepulauan Seribu terpanggil untuk ikut memperbaiki kerusakan alam di Kepulauan Seribu.

“Luas perairan di sini 107.489 Ha. Sementara kerusakannya mencapai 40 persennya akibat praktik pengambilan terumbu karang secara ilegal. Kita baru bisa memulihkan 20 persennya,” tukasnya.

Ditambahkan olehnya, jika alam berhasil dipulihkan, terumbu karang kembali pulih, tidak hanya keindahan alam dan kehidupan di laut Kepulauan Seribu yang akan kembali.

“Kalau terumbu karang banyak, ikan juga akan banyak, jadi nelayan tidak perlu jauh-jauh mencari ikan, perekonomian juga semain baikkan,” pungkasnya.







Features

Mengupas Kisah Peniris BBM di Plumpang, Nyawa Jadi Taruhan

Minggu, 13 September 2015 16:39:03
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Peniris bensin truk tangki BBM Pertamina
Peniris bensin truk tangki BBM Pertamina

Share this





Meski risiko kecelakaan sangat besar, kalau sedang beruntung para peniris BBM ini bisa meraup ratusan ribu rupiah dalam beberapa jam.

KOJA - Saat matahari hendak kembali ke peraduan, jerigen Ari belum terisi penuh. Tapi usahanya mencari sisa Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium tak surut. Berbekal kaus oblong tak layak pakai, celana robek serta tanpa alas kaki, Ari menghabiskan waktunya di kolong tol Wiyoto Wiyono, Jalan Yos Sudarso, tepatnya di putaran mengarah ke Depo  Pertamina Plumpang, Jakarta Utara.

Sambil duduk di atas trotoar, mata Ari tetap terjaga melihat kendaraan yang sedang berputar arah. Ia berharap ada truk tangki berukuran besar melintas membawa bbm.

"Ya beginilah kita liat-liat kendaraan, kalo ada truk Pertamina kita siap-siap ngejar," ujarnya bersemangat.

Tak lama berselang, truk tangki besar berwarna merah bertuliskan Pertamina melintas. Dengan sigap Ari membawa jerigen yang digunakan untuk menampung sisa-sisa BBM pada keran tangki truk tersebut.

Dia bersiap mengadu nyawa di jalanan. Irama kakinya berpadu menyesuaikan kecepatan truk. Dalam hitungan singkat sambil mengikuti truk tangki yang berbalik arah, seolah menempelkan badannya di badan truk, penuh kesigapan, tangannya membuka wadah penutup kran tangki yang di bawahnya sudah ditaruh jerigen.

Tetes demi tetes bensin mengalir, sambil dijaga oleh Ari hingga penuh. "Dapetnya ya begini, sedikit-sedikit gak langsung penuh," paparnya belum lama ini.

Pria berusia 20 tahun ini seolah memiliki cadangan nyawa, meski mengandung risiko tinggi saat berpacu dengan kecepatan truk tangki ditengah hiruk-pikuk jalanan Jalanan di Tanjung Priok yang terkenal ganas. Ari mantap mengais rejeki dari tirisan sisa-sisa BBM.

"Orang-orang sih memanggil kita tukang tiris BBM," katanya singkat.

Jangan ditanya besaran rupiah yang didapat. Tapi juga jangan heran kalau sehari Ari bisa mendapat ratusan ribu rupiah dalam hitungan beberapa jam saja kalau sedang beruntung. Meski sekarang truk Pertamina hanya sedikit yang bisa ‘diakali’, Ari terkesan ‘kekeuh’ menggeluti profesi yang sudah dijalaninya hampir enam tahun ini.

"Kalo dulu bisa ditiris sekarang gak semuanya bisa udah dipasingin alat jadi kita kesulitan juga," tuturnya

Tekanan ekonomi yang tinggilah yang membuat dirinya tutup mata denga risiko yang dihadapinya. Hidup dengan mengais sisa-sisa bahan bakar adalah pilihan mutlak demi mencukupi desakan akan kebutuhan hidup sehari-hari. "Kalau sudah kepepet jadi berani,  toh yang penting bukan mencuri," tutupnya.







Features

Mau Barang Wah Tapi Murah? Ayo ke Pasar Ular

Sabtu, 26 September 2015 15:10:09
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Suasana di Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara
Suasana di Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara

Share this





Para penjual di Pasar Ular dijamin tidak akan menipu tentang status keaslian barang.

KOJA - Berbelanja menjadi hobi tersendiri bagi sebagian orang, terutama kaum hawa yang ingin tampil beda dan trendi. Di Jakarta Utara, ada sebuah tempat perbelanjaan terkenal. Tapi bukan mal mewah, melainkan hanya sekumpulan kios yang berada di Jalan Raya Plumpang, Koja, Jakarta Utara. Tempat itu dinamakan Pasar Ular.

Meski tempatnya jauh dari kata mewah, namun warga DKI Jakarta dan sekitarnya banyak yang berkunjung ke Pasar Ular. Sebabnya di sana pengunjung bisa mendapatkan barang-barang fashion bermerk ternama dengan harga miring.

"Kenapa murah? Karena barang-barang yang dijual di sini barang hasil ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Priok tapi tanpa prosedur resmi alias tanpa proses di bea cukai dan sebagainya," ujar H Ahmad Ulfi (53), Pengurus Paguyuban Pasar Ular.

Pasar Ular yang sebelumnya disebut sebagai Pasar Buaya pada tahun 1980 ini adalah hasil gusuran dari Pos 9, Koja Lama, yang kini menjelma menjadi Pelabuhan Tanjung Priok.

Ketika anda menapakan kaki menyusuri Pasar Ular, mata akan dimanjakan berbagai macam produk barang yang disajikan seperti baju, celana, sandal, sepatu, kacamata, tas, dompet, minyak wangi dan sebagainya. Barang-barang yang dijajakan bervariasi, ada yang asli ada juga versi asli tapi palsu (Aspal).

Untuk masalah harga, tetaplah pandai-pandai untuk menawar. Namun jika anda belum mengetahui soal keaslian barang tersebut, para penjual di Pasar Ular akan berkata jujur dengan kualitas barang yang dijualnya.

Sedangkan untuk urusan kenyamanan dan keamanan berbelanja, Pasar Ular kini sudah jauh lebih baik. Dengan bangunan besar sepanjang 100 meter dan beratap baja ringan serta telah berlantai keramik, pengunjung dijamin tidak akan risih saat berkunjung di musim hujan.

“Saat ini, Pasar Ular dihuni sekitar 164 kios. Para pedagangnya  rata-rata berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Makasar, Padang dan Banten,” ujar Ulfi yang asli daerah Kresek, Banten ini.

Di tengah penjualan berbasis online yang tengah digandrungi kawula muda, Pasar Ular tetap tak kalah populer. Pasar ini masih mempertahankan gaya tradisional dengan aktivitas tawar menawar yang menjadi keunikan tersendiri.

Menurut Joni (32), pedagang di pasar tersebut, tak hanya warga biasa yang mampir untuk berbelanja di tokonya, namun dari beberapa kalangan selebritis juga sudah menjadi pelanggannya.

"Orang bule dan anak buah kapal (ABK) paling sering, bule suka karena ukuran sepatu disini sesuai ukuran kakinya, besar-besar," ucapnya.

Namun sekarang Joni sempat mengeluhkan penjualan sepatunya yang tak sebagus tahun sebelumnya karena nilai dolar yang semakin tinggi. Dengan rentang harga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, rata-rata Joni dapat menjual sepatunya sebanyak 4 pasang sepatu dengan keuntungan 20 persen.

"Kalau menjelang Idul Fitri penjualan sandal paling ramai, kalau hari biasa ya, senangnya pas kapal bersandar, karena banyak ABK datang kemari," ujarnya lirih.

Dalam urusan berdagang, Joni punya prinsip tersendiri, ia tak ingin membohongi pelanggannya karena pantang hukumnya menipu.

"Kalau ada modal saya membeli sepatu Rp 50 ribu, lalu jika pembeli menawar harga Rp 50 ribu, pantang buat saya bilang modal saja kurang. Kalau kata orang Betawi pamali dalam berdagang," tegas pria Kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini.







Features

Pulau Semak Daun, Surga Tersembunyi di Kepulauan Seribu

Minggu, 04 Oktober 2015 15:50:12
Editor : Denny | Reporter : M Nashrudin Albaany

Salah satu spot terbaik dari Pulau Semak Daun
Salah satu spot terbaik dari Pulau Semak Daun

Share this





Saat naik kapal menuju Pulau Semak Daun dari Pulau Pramuka, beberapa kawanan lumba lumba akan mewarnai perjalanan.

JAKARTA - Menjalankan rutinitas sehari-hari di Ibukota tentu membuah kita penat. Jakarta yang terkenal sebagai julukan kota Metropolitan tak pernah sepi oleh aktivitas warga masyarakatnya. Maka alangkah baiknya jika memiliki waktu libur yang lumayan panjang anda manfaatkan dengan sebaik-baiknya. 

Salah satunya adalah dengan pergi berlibur, ada banyak alternatif tempat liburan di Indonesia mulai dari gunung hingga pantai. Namun salah satu cara menghabiskan waktu liburan dengan bujet minim adalah melakukan trip ala backpacker ke sebuah pulau yang terletak di pinggiran kota Jakarta.

Berwisata ke Kepulauan Seribu memang lebih murah, karena letaknya yang tidak terlalu jauh. Selain itu, wilayah Kepulaun Seribu memang juga terkenal dengan pesona alamnya yang indah. Di sana masih terdapat banyak pulau-pulau yang masih alami.

Seperti salah satunya Pulau Semak Daun. Untuk sampai kesana kita harus menyeberang menggunakan kapal dari pelabuhan Muara Angke menuju ke pulau Pramuka. Perjalanan ini menempuh kurang lebih 3-4 jam, yang perlu diingat adalah kapal dari pelabuhan Muara Angke hanya berangkat pada pukul 7 pagi. Jadi alangkah baiknya jika kita datang lebih dulu agar tidak ketinggalan kapal. Karena dalam sehari hanya ada satu kapal yang pergi ke pulau pramuka.

Setelah tiba di pulau Pramuka, selanjutnya perjalanan di tempuh menggunakan perahu nelayan untuk menuju ke pulau Semak Daun. Tarif yang dipatok oleh si penyewa kapal bersikar antara Rp 350-400 ribu untuk satu rombongan pulang pergi. Perjalanan ini ditempuh selama 15 menit dan jika beruntung, selama perjalanan kita akan menemui segerombolan ikan lumba-lumba.

Begitu sampai di dermaga Semak Daun kita diwajibkan untuk membayar uang kebersihan sebesar Rp 15 ribu permalam kepada seorang penjaga Pulau. Nah disini kita bisa mendirikan tenda, ada beberapa spot terbaik untuk mendirikan tenda. Salah satunya adalah di bibir pantai dekat dermaga.

Dari sini, kita bisa menghabiskan waktu dengan berenang di pinggir pantai dan juga ber-snorkling melihat indahnya kehidupan bawah laut. Melihat deburan ombak dan keindahan alam di sekitar dijamin membuat kita sedikit melupakan segala permasalahan dan rutinitas sehari-hari.

Oh ya, bagi anda yang ingin pergi ke tempat ini perlu membawa persediaan air untuk minum dan dimasak dari Jakarta atau dari pulau Pramuka. Karena di Pulau Semak Daun hanya ada satu sumur yang airnya berdekatan dengan laut sehingga membuatnya terasa asin.

Disarankan pula bagi anda yang ingin berlibur kemari, lebih baik datang bukan pada saat akhir pekan. Karena jika di akhir pekan biasanya tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan. Hal ini tentu akan membuat liburan kita menjadi kurang nyaman.

Pulau Semak Daun hanyalah satu dari sekian banyak lokasi wisata yang ada di Indonesia. Keindahan alam negeri ini yang telah dititipkan Tuhan kepada kita hendaklah kita jaga. Salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah di laut agar keindahan pulau Semak Daun tetap terjaga hingga anak cucu kita kelak.







Features

Cerita Aceng dari Simpang Plumpang

Minggu, 11 Oktober 2015 14:35:30
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Ilustrasi Pak Ogah
Ilustrasi Pak Ogah

Share this





Meski disibukan untuk mencari uang di sela-sela waktu belajarnya, Aceng tidak pernah mengeluh demi membantu keuangan keluarganya.

CILINCING – Usianya baru 14 tahun, namun, kesibukan Aceng yang dimulai sejak adzan Subuh berkumandang boleh jadi mengalahkan kita. Usai sholat, Aceng biasanya membantu menyiapkan makanan yang akan dijual sang ibunda di halaman rumah.

Saat sang ibunda menjajakan makanan, Aceng pun bergegas berangkat ke ‘tempat kerja’ berikutnya, simpang Plumpang, Cilincing, Jakarta Utara. Kemacetan yang kerap terjadi saat jam masuk sekolah dan masuk kerja menjadi ladang penghasilan bagi Aceng.

"Gini deh, kalau pagi untuk bantu-bantu orangtua, harus jadi pengatur lalulintas dulu baru dapet uang. Kalau enggak gini, gimana mau dapet uang,"ujarnya, Senin (5/10/2015).

Di usianya yang masih sangat muda, Aceng sudah harus merasakan kerasnya mencari uang. Selain bergelut dengan kepadatan arus lalu lintas dan polusi udara, Aceng juga memiliki satu tantangan lainnya, petugas keamanan.

Maklum, ‘profesinya’ sebagai Pak Ogah alias polisi cepek mengharuskan dirinya kucing-kucing dari penertiban petugas keamanan, apakah kepolisian atau Satpol PP. Aceng mengaku, dalam sehari dirinya bisa mengantongi Rp 50 ribu. Namun, jika ada polisi yang berjaga, ia pun bersalin profesi.

“Palingan nirisin bahan bakar minyak (BBM) dari truk-truk Pertamina yang terjebak macet. Daripada saya maksa-maksa minta uang,” tukasnya.

Meski sudah berusia 14 tahun, Aceng ternyata baru duduk di bangku kelas 5 SD. Tak heran, ia pun tidak bisa berlama-lama menjadi Pak Ogah di pagi hari, lantaran dirinya harus pulang dan bersiap untuk bersekolah setiap harinya saat jarum jam menunjukan pukul 10.00 WIB.

"Kan ada kelas siang, jadi paginya bisa nyari duit jajan dulu. Enggak enaknya, kalau ada petugas, kadang juga kaya main kucing-kucingan," tandasnya.

Keberadaan Pak Ogah sepeti Aceng di jalanan Ibu Kota memang seakan tidak ada habisnya. Meski kerap dirazia, jumlahnya tidak pernah habis. Di satu sisi, jasanya dalam mengatur arus lalu lintas sangat dibutuhkan pengguna jalan saat tidak ada polisi. Namun, terkadang para Pak Ogah ini justru merupakan pelaku berbagai tindak kriminal.

Tidak heran jika aparat dari Dinas atau Sudin Sosial, Satpol PP dan Kepolisian kerap kali menggelar razia terhadap para Pak Ogah ini. Kasudin Sosial Jakarta Utara Aji Antoko mengatakan, Pak Ogah yang terjaring razia nantinya akan bekali dengan keterampilan saat dibina di panti sosial.

"Mereka nantinya akan diberikan keterampilan sosial. Namun kita perlu mendata terlebih dahulu. Apakah anak tersebut kedua orangtuanya atau ekonominya terbilang mampu atau tidak. Apabila orang tuanya tidak mampu, baru akan kita bina di panti‎ sosial khusus anak. Di sana akan diberikan ketrampilan sesuai minat dan bakatnya," singkatnya.







Features

Diteriaki Maling, Penagih Hutang di Penjaringan Tusuk Warga hingga Tewas.

Minggu, 11 Oktober 2015 15:47:47
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Ilustrasi Penangkapan
Ilustrasi Penangkapan

Share this





Aris mengaku tidak bermaksud untuk membunuh korbannya. Ia hanya berupaya membela diri lantaran terus menerus dipukuli dan ditendangi massa.

PENJARINGAN – Bermaksud membantu tetangganya sekaligus memeroleh imbalan untuk membantu biaya hidupnya sehari-hari, Aris (35) kini malah harus mendekam di balik jeruji besi Mapolsektro Penjaringan, Jakarta Utara.

Cerita ini bermula saat Aris tengah duduk di teras rumahnya beberapa waktu. Tak lama kemudian, datanglah tetangganya yang bernama Mama Hila. Kepada Aris, Mama Hila bermaksud meminta tolong untuk menagihkan utang kepada Ronald sebesar Rp 2 juta.

“Dia (Mama Hila) bilang Ronald minjam uang dengan jaminan motor. Uangnya diambil tapi motornya enggak dikasih. Nah, saya dimintai tolong untuk membantu menagih. Saya menyanggupi untuk sama-sama menagih ke rumah Ronald,” cerita Aris, Kamis (8/10/2015) di Mapolrestro Jakarta Utara.

Aris dan Hila pun mendatangi rumah Ronald di kawasan Gang Naga, RT 08, RW 07, Teluk Gong, Pejagalan, Jakarta Utara pada Minggu (4/10/2015) malam, sekira pukul 21.00 WIB. Sebelum menagih hutang keduanya melapor terlebih dahulu pada pengurus RT setempat.

Usai memeroleh izin, Aris dan Hilla pun bergegas mendatangi rumah Ronald. Sesampainya di sana, mereka melihat sepeda motor milik Ronald terparkir di halaman rumah. Namun, Ronald yang berulang kali dipanggil-panggil tidak kunjung menunjukan batang hidungnya.

Aris yang kesal lantaran Ronald tak kunjung menujukan batang hidungnya pun semakin kencang meneriaki Ronald diiringi luapan emosinya.

"Ronald… Ronald…. Keluar, saya tahu kau ada di dalam," teriak Aris.

Tanpa dinyana, sesaat setelah itu ada orang yang meneriakinya sebagai maling. Hanya dalam waktu sekejap, massa sudah berkerumun di depan rumah Ronaldn dan mengepung Aris. Tanpa perlu dikomando, berbagai pukulan, tendangan hingga hantaman benda tumpul dilontarkan warga terhadap Aris.

Sempat berusaha melarikan diri, Aris kembali terjatuh lantaran banyaknya warga yang mengeroyoknya. Tak ingin mati konyol, Aris pun mengambil sebilah pisau dapur yang sudah dipersiapkannya untuk berjaga-jaga.

Di tengah kepanikan dan upaya menyelamatkan diri dari penghakiman massa, Aris pun ‘memainkan’ pisaunya dan mengenai salah satu massa tepat di bagian pinggang dan dada kiri yang menembus ke jantung.

Melihat korban penusukan yang belakangan diketahui bernama Aris Feryanto (32) tumbang, massa pun sempat terdiam. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Aris untuk melarikan diri. Namun, tidak sampai satu jam kemudian, Aris dibekuk polisi di rumahnya yang terletak di kolong tol Kalijodo, Penjaringan, Jakarta Utara.

"Benar kami telah menangkap pelaku penusukan pada pukul 23.35 WIB pada hari yang sama di rumahnya di kawasan Kalijodo. Pelaku ditangkap tanpa perlawanan dan segera kita amankan ke Polsek Penjaringan," ujar Kapolsek Penjaringan AKBP Ruddi Setiawan, Jumat (10/10/2015).

Kini, Aris tengah menghitung waktu terkait persidangan dirinya dengan menjadi tahanan di Polsektro Penjaringan. Ia dikenai Pasal 351 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman penjara di atas 7 tahun.







Features

Reklamasi Teluk Jakarta di Mata Melanie Subono

Kamis, 03 Desember 2015 16:31:35
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Nelayan Muara Angke saat berunjuk rasa menolak reklamasi.
Nelayan Muara Angke saat berunjuk rasa menolak reklamasi.

Share this





Reklamasi sering kali menyebabkan penduduk setempat tersingkir dan kerusakan ekosistem lingkungan.

PLUIT – Sosok perempuan ini tampak menonjol di antara para nelayan yang melakukan aksi unjuk rasa menolak reklamasi Pulau G di kawasan Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (2/12/2015).

Wajahnya familiar wara-wiri di layar kaca, namun belakangan lebih sering mengurusi campaign pelestarian lingkungan hidup, termasuk mengikuti aksi unjuk rasa, seperti yang terjadi kemarin.

“Iya memang belakangan saya fokus untuk membantu kampanye pelestarian lingkungan hidup dan bergabung dalam Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia,” ujar Melanie Subono.

Terkait reklamasi di Pantai Utara Jakarta, penulis lagu sekaligus penyanyi ini menilai, proyek tersebut masih perlu kajian lebih mendalam terkait dampak terhadap lingkungan hidup dan kelangsungan hidup para nelayan di kawasan sekitarnya.

Melanie bahkan mengatakan jika proyek reklamasi tersebut hanya untuk kepentingan pengusaha atau segelintir orang, bukan untuk kepentingan masyarakat. Belum lagi ia menilai proyek ini juga berdampak pada kerusakan wilayah lainnya di Indonesia.

"Ini pasti ada di daerah lain di Indonesia yang sudah siap-siap jual pasir ke Jakarta. Ngerusak juga kan itu, terlalu banyak yang main," geramnya.

Wanita kelahiran Jerman ini menuturkan, sepanjang sejarah proyek reklamasi di seluruh dunia, warga asli di sekitar lokasi reklamasi pasti menjadi korban bahkan tidak sedikit yang terpaksa menyingkir.

“Jadi bukan hanya lingkungannya saja, ekonominya saja, masyarakatnya juga menjadi korban. Satu hal pemerintah kita tidak pernah bilang iya atau tidak boleh soal reklamasi. Selalu abu-abu, artinya kan pasti ada kepentingan. Harusnya, kasih tahu kita plus minusnya apa, apa yang kita harus kita lakukan, baru kita bisa melihat, menilai dan memutuskan. Sejauh ini kan gak," bebernya.

Putri dari promotor kenamaan Adrie Subono ini pun geli dan menyoroti pertentangan kebijakan reklamasi yang terjadi di antara instansi dan pejabat pemerintahan di negeri ini. Hal ini merujuk pada pertentang reklamasi antara Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

"Antar (instansi dan pejabat) pemerintah saja masih pecah kan, kok sudah bisa jalan, inikan sudah ngaco dalam mereka sendiri kok," tandasnya

Melanie pun menyayangkan tidak berubahnya kebiasaan jelek para penguasa di negeri ini yang hanya mementingkan masyarakat dan pribadi mereka, tanpa memikirkan dampak yang diterima oleh masyarakat akibat dari pemaksaan suatu kebijakan.

“Sudah sering terjadi seperti ini, mereka (pemerintah) memutuskan diam-diam seperti (reklamasi) ini, tahu-tahu sudah ada,” tutupnya.







Features

Duka Cita Mendalam Orangtua seorang Driver Go-Jek

Minggu, 13 Desember 2015 17:50:02
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Anwar (berpeci hitam) saat mengunjungi putranya yang tewas ditusuk di Sunter
Anwar (berpeci hitam) saat mengunjungi putranya yang tewas ditusuk di Sunter

Share this





SUNTER - Tewasnya sang anak Septiawan alias Pian (19) karena dibunuh membuat Anwar (55), ayah korban, terkulai lemas. Anwar yang diketahui sebagai tahanan narkoba diperbolehkan menghadiri pemakaman sang anak yang berprofesi sebagai driver Go-Jek, Kamis (10/11/2015).

Ia menghadiri pemakaman anaknya datang menggunakan mobil tahanan dengan menggunakan baju koko dan peci berwarna hitam, lengkap dengan kawalan polisi berpakaian preman dan petugas Lapas Kelas I Tangerang, Banten. 

Saat disemayamkan di rumah keponakanya Siti Aisyah (30) di Sunter, Jakarta Utara, langkah Anwar semakin gontai. Sontak isak tangis pun pecah ketika Anwar melihat jenazah korban sudah terbujur kaku. Air matanya pun tak terbendung melihat kisah tragis Pian.

Sang ibu Suciati (51), tak kalah sedihnya. Dia mengaku belum bisa menerima kepergian anaknya yang terbilang tragis. Suciati berkata, Pian merupakan sosok anak yang sangat penurut di mata orang tuanya.

"Septian itu anaknya baik. Selalu sayang sama orangtuanya. Bahkan bertanggungjawab penuh terhadap ekonomi keluarganya. Saya tahunya, dia mau bekerja sebagai Go-jek demi keluarganya," ungkap wanita yang kerap disapa Suci ini.

Suciati melanjutkan, anaknya tak pernah sedikit pun melupakan keluarga. Ia selalu mengirimkan sebagian gajinya dari Go jek untuk keluarganya. Pian diketahui sebagai warga Bekasi, Jawa barat, namun ia lebih memilih tinggal di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Terkadang ya, seminggu sekali Pian datang ke Bekasi, hanya untuk menjenguk saya. Dia juga mengirimkan uang untuk biaya sekolah adiknya yang masih duduk di bangku kelas V SD. Sejak awal Pian kerja, tak pernah ada masalah, tapi kenapa sekarang kok jadi begini," paparnya sambil terisak.

Sementara itu, tetangga korban Olive (33), mengaku tak kuasa melihat mimik wajah Anwar saat melihat putra keempatnya terbalut kain kafan berwarna putih. Ia pun sempat berkata jika Anwar merupakan residivis yang suka keluar masuk penjara hingga tiga kali.

"Kasian saya lihat pak Anwar. Miris sekali, keluar dari tahanan dalam waktu singkat, hanya untuk melihat anaknya yang sudah tewas. Bapaknya Pian memang seorang residivis dan pengedar narkoba. Sudah dua tiga kali kalau gak salah," tutur Olive.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Susetio Cahyadi mengatakan, pihaknya hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait kasus penusukan driver Go-Jek hingga tewas ini. Ia pun meminta kepada rekan kerja korban untuk lebih bersabar menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

"Kami meminta meminta mereka (driver Go-jek) untuk tidak bertindak anarkis dengan melakukan balas dendam atau main hakim sendiri. Kami pun sudah mengantongi identitas pelaku yang merupakan juru parkir di lokasi kejadian. Kami juga sudah memeriksa bukti rekaman CCTV ‎yang ada di gate parkir dan sekitar area mal," jelasnya.