Feature

Bisakah MRT Jakarta Jadi Solusi Kemacetan?

Kamis, 28 Juni 2018 14:45:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Pembangunan konstruksi MRT Jakarta
Pembangunan konstruksi MRT Jakarta

Share this








Untuk mengurai kemacatan, MRT Jakarta harus mampu membuat warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal.

KEBAYORAN - Kemacetan di Jakarta disebabkan oleh jumlah kendaraan di jalan yang sudah tidak sebanding panjang jalan Jakarta. Secara logika, untuk mengurai kemacetan itu, harus ada upaya pengurangan jumlah kendaraan yang melintas di Jakarta. Berbagai upaya pun dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, mulai dari pemberlakukan 3 in 1 hingga pengaturan sistem ganjil genap plat kendaraan roda empat.

Meski belum dikatakan ideal, namun upaya itu bisa menjadi alternatif mengurai kemacetan. Namun mengatasi kemacetan di Jakarta terus dilakukan. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur tranportasi berbasis rel yaitu LRT (light rail transit) dan MRT (mass rapid transit) yang akan beroperasi pada 2019 mendatang.

Pertanyaannya adalah mampukah transportasi LRT dan MRT Jakarta mengatasi kemacetan di Jakarta. Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) Azas Tigor Nainggolan menilai transportasi seperti MRT Jakarta bisa salah satu menjadi alternatif untuk mengurai kemacetan Jakarta. Namun dengan catatan, moda transportasi itu harus diintergrasikan dengan moda transportasi massal lainnya.

“Pertama, intergrasikan MRT dengan moda angkutan massal lainnya. Kedua, sunsidi tarifnya agar terjangkau warga (Jakarta),” kata Azas membalas sambungan pesan yang dikirim Infonitas.com. Artinya, keberadaan MRT Jakarta harus mampu membuat masyarakat beralih meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi massal.

Mengenai tarif, PT MRT Jakarta mengusulkan tarif untuk penumpang dikenakan Rp 8.500 per 10 kilometer.  Hal itu sesuai masukan dari pihak konsultan yang telah melakukan kajian dan survei mengenai tarif MRT Jakarta. “Angka rela bayarnya sekitar Rp 8.500 per 10 kilometer. Bukan 16 kilometer,” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar.

Namun, William menerangkan, tarif tersebut belum menjadi putusan final. Pasalnya, keputusan mengenai tarif ada di tangan pemerintah. Pemerintah bisa saja memiliki hitunga sendiri, salah satunya adalah subsidi dari tarif komersil yang akan diberikan bagi penumpang MRT Jakarta. “Angka itu dari kita, tarif komersilnya akan dihuting nanti,” tambah William.