Feature

Banyak Berkah Ekonomi Mudik Lebaran

Rabu, 13 Juni 2018 11:00:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Ichwan Hasanudin

Mudik ke kampung halaman
Mudik ke kampung halaman

Share this








Mudik Lebaran punya banyak manfaat bukan hanya menjadi silaturahmi tapi juga ada nilai perpuratan ekonomi di daerah.

KEBAYORAN – Sebagai sebuah tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun, esensi mudik pada dasarkan untuk menjalin silaturahmi dan melepas rindu pada orangtua, sanak saudara serta kampung halaman.

Fenomena mudik ini menjadi sebuah tradisi tahunan yang tak lekang oleh zaman dan waktu. Bahkan, mudik bisa melepas kasta atau golongan masyarakat. Tidak ada istilah kalangan bawah atau atas. Masyarakat dari berbagai golongan dan tingkatan beramai-ramai melakoni tradisi mudik saat Lebaran.

Bukan hanya sebagai sebuah tradisi, mudik Lebaran seakan mulai bergeser menjadi hal yang wajib. Para pemudik rela memaksakan diri melakukan apapun dan menghabiskan uang yang dimiliki hanya untuk mudik Lebaran.

Ada fakta lain dari mudik Lebaran. Fenomena mudik ini bukan lagi didominasi oleh masayarakat muslim. Pemeluk agama lain juga melakukan kegiatan mudik ini. Semuanya memanfaatkan momentum ini sebagai waktu yang tepat untuk berkunjung ke keluarga dan menikmati kampung halaman.

Mudik tidak hanya punya nilai positif bagi spiritual atau psikologis pemudik. Jutaan orang yang pulang kampung akan membawa berkah ekonomi daerah. Coba banyangka berapa banyak uang yang akan dibawa pemudik dan akan berputar di daerah.

Dalam catatan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kementerian Perhubungan RI, jumlah pemudik dalam lima tahun terakhir relatif meningkat dan sangat besar mencapai belasan hingga puluhan juta jiwa.

Jumlah pemudik pada 2013 mencapai 22, 1 juta orang. Jumlah ini meningkat menjadi 23 juta pemudik pada tahun 2014. Di tahun berikutnya (2015) jumlah pemudik mencapai 23,4 juta jiwa dan menurun menjadi 18,16 juta pemudik pada 2016.

Pada 2017, jumlah pemudik meningkat tipis menjadi 18,6 juta orang dan pada tahun ini (2018) jumlah pemudik diperkirakan meningkat sebesar 15-20 persen dari tahun lalu menjadi 22,32 juta orang.

Sementara untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta, belum ada data yang pasti mengenai jumlah pemudik Lebaran tahun ini. Namun jika terjadi peningkatan sebesar 20 persen dari tahun lalu yang mencapai 6,5 juta orang, diperkirakan tahun ini jumlah pemudik Jakarta mencapai 7,8 juta pemudik.

Melihat data tersebut, bisa dibayangkan berapa potensi perputaran uang yang dibawa pemudik di daerah. Sebagai ilustrasi, dengan asumsi perkiraan jumlah pemudik tahun ini dan satu keluarga  terdiri dari empat orang serta setiap keluarga membawa uang rata-rata minimal Rp 10 juta, maka jumlah perputaran uang di daerah yang terjadi mencapai minimal Rp 55,8 triliun.

Jumlah perputaran uang di daerah itu pun bisa bertambah besar dari para perantau seperti dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang kampung dengan membawa mata uang asing dalam jumlah besar.

Dalam laman Kementerian Keuangan RI, fenomena mudik ini dari segi ekonomi sering disebut dengan redistribusi ekonomi atau redistribusi kekayaan. Dimana terjadi perpindahan kekayaan (uang) dari satu daerah ke daerah lain atau dari individu ke individu lain.

Dalam teori hubungan sosial, mudik juga memiliki makna yang bisa diterjemahkan sebagai media untuk
menjaga tali persaudaraan dan mempererat hubungan antara masyarakat urban-rural, baik dalam format horizontal maupun vertikal.

Hubungan horizontal terjadi antara sesama teman, kerabat, ataupun sanak saudara. Hubungan format vertikal terjalin antara orangtua dan anak-anak, atau antara yang lebih tua dan yang muda.

Dalam dimensi sosial, tradisi mudik berarti bisa menjadi budaya positif untuk menjaga keutuhan dan kelanggengan kehidupan berbangsa dan bernegara.