Kamis, 09 November 2017 18:00:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Wildan Kusuma
Kunjungan Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao
Kunjungan Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao
Foto : Wildan Kusuma
 

KEBAYORAN – Bank sampah menjadi tempat penampungan sampah yang punya nilai ekonomis. Sampah-sampah itu dipilih, dikelompokan, kemudian disetor ke pengrajin sampah. 

Bank sampah bukan hanya sebagai pengurai masalah sampah Jakarta. Tempat ini bisa menjadi ladang ekonomi, layaknya sebuah bank, bagi nasabahnya. Setiap warga menjadi penyetor sampah akan mendapatkan buku tabungan seperti layaknya menabung di bank.

Fenomena bank sampah di Jakarta terjadi karena adanya keprihatinan akan lingkungan hidup yang semakin lama dipenuhi dengan sampah organik maupun anorganik. Akhirnya, sampah tersebut diolah untuk menjadi lebih berguna.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sangat gencar dalam hal sosialisasi bank sampah. Diharapkan bank sampah bisa menjadi garda terdepan penanggulangan sampah di Jakarta. 

Salah satu wilayah yang terbilang berhasil dalam menggerakkan bank sampah adalah Kalurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di wilayah administrasi ini, bank sampah ada di setiap RW, jumlahnya sudah mencapai 18 bank sampah. 

Dari jumlah itu, beberapa bank sampah terbilang sangat berhasil. Bahkan mendapat kunjungan dari luar daerah, kota dan negara lain. Salah satunya adalah Bank Sampah Makmur yang ada di RW 05, Kelurahan Cipete Utara, Jakarta Selatan. 

Bank Sampah Makmur dikunjungi Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao. Kunjungan tim dari Jepang ke Bank Sampah Makmur ini ternyata menjadi perbandingan untuk bank sampah yang ada di Jepang.

"Bank Sampah di kota kami juga mirip dengan yang ada di Cipete Utara, warga datang membawa sampah dan membawa buku tabungan Bank Sampah" ujar Yamauchi Takao dalam rilis yang diterima infonitas.com, Kamis (9/11/2017).

Secara praktik, warga RW 05 Cipete Utara, Jakarta Selatan, lebih memilih 'menjemput bola' untuk mengambil sampah dengan meminta ke setiap rumah di wailayah tersebut.

"Selain menunggu warga menyetor sampah, kami juga proaktif menjemput bola. Para ketua RT dan jajarannya menghimbau warga door to door di hari penimbangan mengingatkan agar setor sampah" ujar M. Yusuf, Ketua RW 05, sekaligus Pembina Bank Sampah Makmur.

Sampah-sampah itu tidak semuanya dijual melainkan juga ada yang diolah untuk kerajinan warga Cipete Utara. "Hasil dari Bank Sampah tidak semuanya dijual, ada jg yang dimanfaatkan untuk kerajinan tangan " ujar Ani Yuliyani Ketua TP PKK Kelurahan Cipete Utara.

Harapan Lurah Cipete Utara
Di Bank Sampah Makmur, rata-rata per hari bisa mencapai 250 kilogram sampah siap daur ulang.  Terhitung hingga Kamis, (9/11/2017), sampah terkumpul 291 kilogram dan nasabah bertambah 2 orang menjadi 22 nasabah. 

Melihat pencapaian tersebut, Lurah Cipete Utara Mohammad Yohan berharap pihaknya bisa diundang untuk melihat bank sampah yang berada di negara lain, khususnya Jepang.

"Kalau Bank Sampah baru sekali ini dikunjungi negara lain. Saya gak nyangka kali ini sangat spesial karena langsung didatangi Pak Wakil Walikota (Nerim City)," ujarnya kepada infonitas.com.

"Kalau kami diundang studi banding, kami bisa belajar soal Bank Sampah dan sanitasi lingkungan," lanjutnya.

Yohan menambahkan keberhasilan tersebut tentunya berkat dukungan Pemerintah Kota Jakarta Selatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Khususnya, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta.

 

Baca Juga

Berikan Komentar Anda