Features

Bank Sampah, Ubah Sampah Bernilai Ekonomis

Kamis, 09 November 2017 18:00:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Wildan Kusuma

Kunjungan Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao
Kunjungan Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao

Share this








Peran bank sampah bukan hanya sebagai solusi mengatasi masalah sampah Jakarta. Bank ini memiliki fungsi mengubah sampah menjadi punya nilai ekonomi.

KEBAYORAN – Bank sampah menjadi tempat penampungan sampah yang punya nilai ekonomis. Sampah-sampah itu dipilih, dikelompokan, kemudian disetor ke pengrajin sampah. 

Bank sampah bukan hanya sebagai pengurai masalah sampah Jakarta. Tempat ini bisa menjadi ladang ekonomi, layaknya sebuah bank, bagi nasabahnya. Setiap warga menjadi penyetor sampah akan mendapatkan buku tabungan seperti layaknya menabung di bank.

Fenomena bank sampah di Jakarta terjadi karena adanya keprihatinan akan lingkungan hidup yang semakin lama dipenuhi dengan sampah organik maupun anorganik. Akhirnya, sampah tersebut diolah untuk menjadi lebih berguna.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sangat gencar dalam hal sosialisasi bank sampah. Diharapkan bank sampah bisa menjadi garda terdepan penanggulangan sampah di Jakarta. 

Salah satu wilayah yang terbilang berhasil dalam menggerakkan bank sampah adalah Kalurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di wilayah administrasi ini, bank sampah ada di setiap RW, jumlahnya sudah mencapai 18 bank sampah. 

Dari jumlah itu, beberapa bank sampah terbilang sangat berhasil. Bahkan mendapat kunjungan dari luar daerah, kota dan negara lain. Salah satunya adalah Bank Sampah Makmur yang ada di RW 05, Kelurahan Cipete Utara, Jakarta Selatan. 

Bank Sampah Makmur dikunjungi Wakil Wali Kota Nerima City, Tokyo, Jepang, Yamaochi Takao. Kunjungan tim dari Jepang ke Bank Sampah Makmur ini ternyata menjadi perbandingan untuk bank sampah yang ada di Jepang.

"Bank Sampah di kota kami juga mirip dengan yang ada di Cipete Utara, warga datang membawa sampah dan membawa buku tabungan Bank Sampah" ujar Yamauchi Takao dalam rilis yang diterima infonitas.com, Kamis (9/11/2017).

Secara praktik, warga RW 05 Cipete Utara, Jakarta Selatan, lebih memilih 'menjemput bola' untuk mengambil sampah dengan meminta ke setiap rumah di wailayah tersebut.

"Selain menunggu warga menyetor sampah, kami juga proaktif menjemput bola. Para ketua RT dan jajarannya menghimbau warga door to door di hari penimbangan mengingatkan agar setor sampah" ujar M. Yusuf, Ketua RW 05, sekaligus Pembina Bank Sampah Makmur.

Sampah-sampah itu tidak semuanya dijual melainkan juga ada yang diolah untuk kerajinan warga Cipete Utara. "Hasil dari Bank Sampah tidak semuanya dijual, ada jg yang dimanfaatkan untuk kerajinan tangan " ujar Ani Yuliyani Ketua TP PKK Kelurahan Cipete Utara.

Harapan Lurah Cipete Utara
Di Bank Sampah Makmur, rata-rata per hari bisa mencapai 250 kilogram sampah siap daur ulang.  Terhitung hingga Kamis, (9/11/2017), sampah terkumpul 291 kilogram dan nasabah bertambah 2 orang menjadi 22 nasabah. 

Melihat pencapaian tersebut, Lurah Cipete Utara Mohammad Yohan berharap pihaknya bisa diundang untuk melihat bank sampah yang berada di negara lain, khususnya Jepang.

"Kalau Bank Sampah baru sekali ini dikunjungi negara lain. Saya gak nyangka kali ini sangat spesial karena langsung didatangi Pak Wakil Walikota (Nerim City)," ujarnya kepada infonitas.com.

"Kalau kami diundang studi banding, kami bisa belajar soal Bank Sampah dan sanitasi lingkungan," lanjutnya.

Yohan menambahkan keberhasilan tersebut tentunya berkat dukungan Pemerintah Kota Jakarta Selatan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Khususnya, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta.

 

Features

Berbelanja Kue Lebaran di Pasar Mayestik

Minggu, 12 Januari 2015 18:04:54
Editor : | Reporter :

Pedagang kue kering di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan
Pedagang kue kering di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan

Share this








Kue kering khas Lebaran yang dijual di Pasar Mayestik, di antaranya nastar, kaastengels, putri salju, lidah kucing, kacang mede, pastel mini, dan sebagainy

JAKARTA – Hidangan opor ayam plus sayur ketupat menjadi menu utama di Hari Raya Idul Fitri. Biskuit dalam kemasan kaleng sudah tertata rapi di atas meja. Minuman dingin jenis sirup dan lainnya sudah tersedia di lemari es. Serasa merayakan hari Lebaran begitu sempurna dengan hidangan seperti itu

Tapi, bagaimana dengan kue kering khas Lebaran? Apakah sudah tersaji di atas meja? Mau beli atau bikin sendiri. Lebih baik beli saja karena waktunya sudah mepet, karena sebentar lagi Lebaran.

Sekarang banyak toko yang menjual kue kering buat Lebaran. Salah satunya di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di pasar ini terdapat puluhan pedagang menjual kue kering hingga meluber ke pinggir-pinggir jalan.

Salah satu pedagang kue kering, Nirwan (38) mengatakan dia menjual kue kering khas Lebaran seperti nastar, kaastengels, putri salju, lidah kucing, kue cokelat, kacang mede, pastel mini, cheese stick, dan sebagainya.

Harga kue-kue itu bervariasi mulai Rp 35 ribu untuk kue kacang dan Rp 75 ribu untuk kue jenis cokelat.

Pasar Mayestik ini ramai dikunjungi pembeli karena salah satunya kue Lebaran yang dijual pedagang di pasar ini jenisnya beragam. Sehingga pelanggan punya banyak pilihan. Susi (47) mengaku kerap kali membeli kue Lebaran di Pasar Mayestik setiap jelang Hari Raya Idul Fitri.

Menurut Susi, harga kue yang ditawarkan di pasar ini tidak terlalu mahal. Bagi Susi, kue merupakan hal penting dalam setiap Lebaran. Sebab, kue adalah hidangan camilan spesial buat para tamu yang datang ke rumahnya untuk bersilahturahmi Lebaran.

“Sudah sering ke sini setiap mau Lebaran, karena saya memang enggak pintar bikin kue, jadi, ya beli aja deh,” jelas Susi, Minggu (12/7/2015).

Features

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 17:13:31
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

 Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).

Share this








Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.

Features

Prilly Latuconsina Jajal Bisnis Kuliner

Senin, 22 Mei 2017 19:59:00
Editor : Denisa Tristianty | Reporter : Adresau Sipayung

Prilly Latuconsina.
Prilly Latuconsina.

Share this








Aktris peran Prilly Latuconsina mencoba membuka usaha dengan menjajal bisnis kuliner.

SETIABUDI -Kesuksesan berkarir di seni peran tidak membuat Prilly Latuconsina cepat puas serta bertahan di zona nyamannya. Kini, gadis berusia 20 tahun itu pun menjajal tantangan baru di bisnis kuliner, yaitu Really Cake.

Keinginan Prilly melebarkan sayapnya ke bisnis kue ini turut dilatarbelakangi kegemaran dirinya dan keluarga besar dengan kue. Sejak kecil, dia pun sudah akrab serta paham sama cita rasa kue. Oleh sebab itu, Prilly berani membuka bisnis kue.

"Aku memang sudah dari dulu paham banget tentang kue. Soalnya dulu kan oma aku pun buka kursus buat ibu-ibu masak kue. Dan Oma aku juga memang hebat banget buat kue. Suka masak juga yang spesialisnya masak beaking. Jadi, kenapa tidak aku kasih orang cobain resep kelaurgaku," ucap Prilly di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (22/5/2017).

Tak hanya itu, ia juga tak memungkiri saat ini nama kue lagi ramai digandrungi masyarakat. Menurutnya, tak ada asalan tak mencoba usaha kuliner ini.

"Di bisnis ini, aku turut terlibat untuk mencoba kue yang dibuat, ikut kasih masukan untuk resep kuenya. Tidak hanya itu, aku juga sering kali kasih komentar sama chetnya. Dan untuk pemilihan chef juga aku turut andil. Chef-nya kita pilih dengan hati-hati, serius dan memiliki cita rasa sama dengan lidah kita," kata aktris peran kelahiran 15 Oktober 1996 ini.

Selain itu, dia juga memperhatikan sekali rasa serta komposisi kuenya. Prilly tidak ingin kue yang dijualnya cuma terlihat baik serta cantik dari luarnya saja.

"Perhatikan, komposisinya itu udah sesuai gak? Rasa harus enak, terus teksturnya itu lembut atau tak seret ketika dimakan dan kandungan kue haruslah sehat dan baik untuk anak-anak. Aku terlibat untuk memikirkan semua itu," pungkasnya.

 

Tak Ingin Jual Nama

Di bisnisnya, Prilly Latuconsina juga menegaskan tidak mau sekadar jual nama besarnya di entertainment. Ia sangat mementingkan kualitas dari produk kuenya.

"Yang pasti saya enggak mau menjual produk cuma pakai nama saya, tapi itu enggak bagus. Yang pasti kalau saya usaha atau bikin sesuatu yang bagus dan berkualitas. Jadinya, jangan asal nama saja. Tapi pas kue dibeli sama orang enggak enak. Jadi kalau usaha dan pakai nama saya juga produknya harus bagus," jelas Prilly.

Sebab, dia juga tidak ingin dengan buruknya kualitas kue itu, dapat pula mencoreng nama baiknya. Makanya, Priyo sangat berhati-hati dan konsen dalam pengendalian mutu produksi.

"Karena ini kan nama aku yang di jual, jangan sampai gara-gara produknya jelek. Nama aku jadi jelek. Saya juga akan cari tim marketing yang bagus, terua tim produksi yang bagus semua-semuanya harus serba bagus," katanya.

 

Features

Perbanyak RPTRA di Jakarta Untuk Dukung Ideologi Bangsa

Rabu, 24 Mei 2017 17:00:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi area bermain anak-anak di RPTRA
Ilustrasi area bermain anak-anak di RPTRA

Share this








Plt Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat mengungkapkan dengan memperbanyak RPTRA di Jakarta diyakini akan mendukung ideologi bangsa.

PASAR MINGGU  - Jumlah Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dipastikan bertambah setelah Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat meresmikan dua RPTRA di wilayah Jakarta Selatan, pada Rabu (24/5/2017).

Dua RPTRA yang baru saja diresmikan tersebut masing-masing adalah RPTRA Intan di Kelurahan Cilandak Barat, Cilandak dan RPTRA Kemuning di Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Total, hingga kini jumlah RPTRA yang ada di DKI Jakarta menjadi 187 lokasi.

Adapun, RPTRA Intan sendiri dibangun atas dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Yayasan High Scope Indonesia. Sedangkan RPTRA Kemuning, dibangun atas dana CSR dari Japfa Foundation.

Di kedua RPTRA ini, selain ada taman dan ruang bermain bagi anak-anak serta tempat berinteraksi orang dewasa, juga terdapat perpustakaan, PKK Mart, ruang menyusui dan ruang Ampi Theater.

Salah seorang tokoh masyarakat di Kelurahan Cilandak Barat, Nurdin mengatakan, selama ini tidak ada ruang terbuka bagi warga dan anak-anak untuk bermain atau beraktivitas. Untuk itu, dengan adanya RPTRA Intan, warga Cilandak bisa melakukan aktivitas di taman yang ramah anak ini.

Baca : Djarot : RPTRA Jangan Jadi Tempat Pacaran

"Kami atas nama warga Cilandak Barat mengucapkan terima kasih kepada Plt Gubernur dan pihak High Scope atas dibangunnya RPTRA Intan. Kami berharap, RPTRA Intan menjadi tempat interaksi bagi seluruh warga dan dapat memberikan manfaat positif bagi anak-anak," katanya di Cilandak Barat, Cilandak.

Sementara itu, Direktur Pengelola High Scope, Ratna Dewi Antarina mengatakan, pembangunan RPTRA Intan ini merupakan hasil pembicaraan antara pihaknya dengan Gubernur DKI Jakarta non aktif Tjahaja Purnama (Ahok), pada 15 Agustus 2015 silam.

"Pak Ahok yang memberikan ide untuk dibangun RPTRA Intan di wilayah Cilandak Barat, karena itu kami wujudkan hari ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pemprov DKI yang telah memberikan bantuannya sehingga High Scope bisa wujudkan ini," ujar perempuan yang juga merupakan cucu dari Ki Hajar Dewantara ini.

Sama halnya seperti di Kelurahan Cilandak Barat, warga di Pejaten Timur pun menyambut antusias atas dibangunnya RPTRA Kemuning. Pasalnya, kini warga dan anak-anak sudah memiliki taman bermain dan berinteraksi satu sama lain.

"RPTRA Kemuning ini pasti akan kami jaga dan rawat. Karena ini sudah menjadi kebutuhan kami sebagai mempunyai tempat untuk bermain bagi anak-anak kami dan aktivitas bagi warga," kata Yusuf, salah seorang tokoh masyarakat Pejaten Timur.

Sementara itu, Head of Japfa Foundation, Andi Prasetyo, mengungkapkan, menjadi sebuah impian bagi anak-anak di Jakarta memiliki tempat bermain yang aman dan nyaman. Ketika Pemprov DKI menginisiasi membangun RPTRA sebanyak-banyaknya, maka JAPFA menyambut baik inisiasi tersebut dengan membangun RPTRA Kemuning.

"Pemprov DKI sudah melihat kebutuhan tersebut dari beberapa tahun silam. Kami menyambut baik inisiasi itu untuk memberikan ruang bermain yang aman dan nyaman bagi anak-anak Jakarta," ujarnya.

 

RPTRA Hidupkan Kembali Ideologi Bangsa

Disisi lain, Plt Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyampaikan apresiasinya kepada pihak swasta yang turut peduli terhadap penyediaan ruang bermain yang ramah anak dengan membangun RPTRA. Dan hari ini, ia bangga karena RPTRA telah bertambah dua di wilayah Jakarta Selatan.

"Alhamdulillah kita bisa menikmati RPTRA Intan dan Kemuning ini. Dan sudah bisa digunakan hari ini juga. Artinya kedua RPTRA bisa digunakan oleh anak-anak, orangtua dan seluruh masyarakat tanpa terkecuali," ucapnya.

Mantan Wali Kota Blitar ini pun mengungkapkan, pembangunan RPTRA ini merupakan ide bersama antara Ahok dan Veronica Tan serta Happy Farida Djarot yang menjadi pemimpin PKK di DKI Jakarta. Yakni bagaimana menjadikan Jakarta ramah anak, terutama di pemukiman padat penduduk. Agar mereka bisa saling berinteraksi, berbagi, belajar dan memberdayakan serta menguatkan satu sama lain.

"Kenapa ini penting bagi kami, karena kami melihat kebutuhan masyarakat Jakarta yang sangat sibuk, individualis dan tidak mengenal satu sama lain. Dan ini tentu tidak sesuai dengan ideologi Pancasila. Makanya, kita perbanyak RPTRA di Jakarta," pungkas Kader PDI Perjuangan ini.

Features

Gerakan Gesit Sudinhub Jaksel Lewat Qlue

Jumat, 02 Juni 2017 15:45:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi - Penindakan terhadap pelanggar lalu lintas
Ilustrasi - Penindakan terhadap pelanggar lalu lintas

Share this








Sudinhub Jakarta Selatan melakukan gerakan gesit dengan langsung menindak setiap pelaporan yang didapat lewat aplikasi Qlue

KEBAYORAN BARU  - Permasalahan lalu lintas seperti macet dan parkir liar, nampaknya sudah menjadi rutinitas harian bagi warga DKI Jakarta. Bagaimana tidak, hampir tiap hari macet selalu terjadi diberbagai titik jalan, terutama pada pagi dan sore hari.

Warga pun tak pernah bosan melaporkan hal ini ke pemerintah, melalui aplikasi Qlue. Namun terkadang respon dari dinas terkait seakan lamban dalam mengatasi permasalahan ini. Akibatnya, macet dan parkir liar pun semakin merajalela di Ibu Kota.

Berangkat dari hal itu, Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Jakarta Selatan, membentuk Tim Reaksi Cepat Aplikasi Qlue. Pembentukan tim ini sebagai upaya untuk merespon secara cepat laporan masyarakat mengenai adanya tindakan seputar kemacetan dan parkir liar yang masuk melalui Qlue.

"Pembentukan Tim Reaksi Cepat Sudinhub Jakarta Selatan ini dilakukan agar laporan masyarakat dapat terlayani penuh, sehingga informasi yang diadukan bisa segera lekas diatasi," kata Kepala Sudinhub Jaksel, Christianto di Kebayoran Baru, Jumat (2/6/2017).

Christianto melanjutkan, penindakan terhadap laporan dari masyarakat tersebut akan dilakukan dengan melibatkan semua pihak. Mulai dari unsur TNI, Polri, hingga Satpol PP. Hal itu bertujuan agar laporan dapat segera diselesaikan

Menurut dia, dengan perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, membuat masyarakat dapat dengan mudah membantu petugas, untuk menindak berbagai hal terkait pelanggaran yang terjadi di wilayah mereka.

"Masyarakat dapat melaporkan permasalahan kemacetan dan parkir liar melalui aplikasi, sehingga kita juga harus membentuk unit reaksi cepat untuk melakukan pengendalian dan pengawasan lalu lintas," tuturnya.

Untuk itulah, ia berkomitmen akan terus melakukan pengendalian lalu lintas melalui razia parkir liar, yang diyakini dapat mengurangi masalah kemacetan lalu lintas di wilayah Jakarta Selatan. 

"Manfaatkan aplikasi Qlue dalam menerima laporan dan merespon laporan dengan cepat sebagai wujud pelayanan terhadap masyarakat," imbaunya.

Sementara itu, berdasarkan data, Tim Reaksi Cepat Aplikasi Qlue berjumlah 55 personel. Tim ini terdiri dari Tim Patroli dan Qlue Motor sebanyak 20 personel, Tim Derek yang merupakan gabungan bersama Garnisun serta Kepolisian sebanyak 20 personel, serta Tim Tindak sebanyak 15 personel.

Cara Kerja Penindakan Laporan dari Qlue

Ada beberapa mekanisme yang dilakukan Tim Reaksi Cepat aplikasi Qlue dalam mengatasi beragam laporan dari masyarakat. Diantaranya, keluhan masyarakat dalam aplikasi Qlue diterima oleh Admin. Selanjutnya, Admin Qlue menyampaikan keluhan tersebut kepada Kasudin dan Kasiop. 

Usai mendapat laporan tersebut, Kasiop memerintahkan kepada para Danru dan Koordinator bersama anggotanya untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan keluhan masyarakat. Yakni dengan melakukan penertiban dan tindak lanjut aplikasi Qlue dengan membuat foto tindak lanjut di lokasi laporan masyarakat. 

Kemudian, Admin membuat laporan Qlue yang telah di respon. Terakhir, tim humas dan publikasi membuat dokumentasi video dan media berita dari setiap kegiatan operasi untuk disampaikan kepada masyarakat.

Features

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Petugas PPSU Ini Berbagi Kisah

Senin, 19 Juni 2017 16:15:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Rilangga Firsttian

Salah seorang petugas ppsu di Cilandak
Salah seorang petugas ppsu di Cilandak

Share this








Salah seorang petugas PPSU di Kawasan Cilandak, Jakarta Selatan bernama Sumarti (bukan nama sebenarnya) harus berjuang demi menghidupi keluarga.

CILANDAK – Menjadi tukang sapu Ibu Kota Jakarta atau biasa disebut Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) rupanya memiliki banyak cerita. Sumarti (nama samaran) mengatakan, kini warga lebih bisa menghargai keberadaan para pasukan oranye Jakarta dibandingkan dahulu.

Mungkin pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang kotor, meski begitu dirinya tidak patah semangat karena merasa pekerjaan yang ia emban sekarang menghasilkan uang yang halal untuk menghidupkan keempat anaknya.

"Sekarang sudah bisa diakui kebaradaan kami sama warga. Kalau dulu banyak perlakuan yang jahat, saya lagi nyapu di pinggir jalan diteriakin suruh minggir, dikatain, dan sebagainya," tutur salah seorang PPSU kepada infonitas.com, Senin (19/6/2017).

Meski pahit banyak dirasakan olehnya, ia mengaku jika memang masih mendapat kepercayaan dia akan tetap bekerja, karena mengingat mencari pekerjaan di Jakarta sangat sulit, terlebih untuk yang seusianya yang menginjak kepala lima.

"Kalau masih bisa jadi PPSU yaudah saya jalani, cari kerja sekarang susah, apalagi untuk yang seumur saya pasti sulit," lanjutnya.

Meski Mendapat Upah UMP Belum Cukup Untuk Biaya Hidup Sekarang

Honor sebagai pasukan oranye di DKI Jakarta sebesar Rp 3.300.000 ternyata masih dirasa kurang oleh Sumarti (nama samaran) salah seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan. Sebab, gaji yang setara Upah Minimum Provinsi (UMP) tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari Sumarti dan anak-anak yang hidup tanpa suami.

Ibu empat anak yang sudah bekerja sebagai petugas PPSU ini mengaku, dengan honor tersebut harus dibagi-bagi untuk biaya kontrakan, listrik pra bayar hingga biaya hidup keempat anaknya. Terlebih, salah satu anaknya laki-laki mengalami gangguan jiwa sejak ditinggal istri.

Padahal, menurut Sumarti, putranya tersebut sebelum mengalami gangguan jiwa merupakan satu-satunya anak yang membantu menunjang ekonomi keluarga.

"Kurang sekali penghasilan saya, biaya empat orang anak, biaya kontrakan, belum listrik yang pulsa, beli seratus ribu saja sladonya nggak sampai seratus ribu," katanya saat berbincang dengan infonitas.com di kawasan Jalan Raya Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (19/6/2017).

Masa Depan Sumarti Terancam Dengan Hadirnya Tenaga Muda

Sudah hampir 10 tahun dirinya tidak bisa merasakan berkumpul dengan keluarga di kampung halaman tercinta di Pemalang, itu dirasakan karena sedikitnya waktu libur bahkan jika hari besar dirinya terkadang masih diharuskan bekerja, terlebih tidak ada ongkos yang dipegangnya untuk modal mudik.

Sadar jika tenaganya tidak lagi sebanyak saat muda, dirinya menjadi mengkhawatirkan masa depannya. Ketakutam itu sendiri datang dari mulai banyaknya tenaga muda yang tidak ragu melamar menjadi petugas oranye Jakarta.

"Saya juga belum tahu masa depan saya, kalau dulu tidak ada melamar setiap setahun seklinya, tapi sekarang jika saya mau bekerja lagi saya harus melamar lagi. Udah gitu banyak anak mudah yang jadi petugas PPSU, jadi saya mulai ketakutan tidak diperpanjang," ujarnya.

Features

Nasib Warga Bukit Duri Usai Digusur

Selasa, 11 Januari 2017 14:30:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Warga Bukit Duri.
Warga Bukit Duri.

Share this








Hasan (37) warga Bukit Duri terpaksa berpisah dengan rumah yang telah ditempati sejak puluhan tahun silam serta mau tidak mau menempuh jarak yang jauh untuk ke tempat kerjanya.

TEBET – Seperti yang direncanakan, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menggusur kawasan permukiman di Bukit Duri yang berbatasan dengan Sungai Ciliwung sebagai bagian normalisasi Sungai Ciliwung, pada Selasa (11/7/2017) ini.

Alhasil,  Warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung, Kelurahan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, harus rela meninggalkan tempat tinggalnya.  Dalam penertiban yang telah dimulai sekira pukul 10.00 WIB, tidak ada perlawanan sama sekali dari warga.

Mereka nampak pasrah saat petugas gabungan yang terdiri dari  Satpol PP, TNI, Polri, petugas PPSU dan tim Rescue Damkar merobohkan bangunan tempat tinggal yang telah lama berdiri bahkan sudah menjadi bagian dari sejarah hidup.

Seperti yang dirasakan oleh Hasan (37), warga RT 03/012, Bukit Duri, yang harus rela berpisah dengan rumahnya yang telah tempati bersama seluruh keluarganya sejak puluhan tahun silam. Ia nampak pasrah dan menunjukkan raut wajah sedih saat melihat rumahnya dibongkar dengan alat berat eskavator.

"Sedih sekali mas, ini tanah kelahiran saya, orang tua saya juga dari awal tinggal disini. Tapi kita pasrah saja, karena pemerintah yang ambil, kita mau gimana lagi," ujarnya saat memulai perbincangan dengan infonitas.com di lokasi, Selasa (11/7/2017).

Sebelum rumahnya dibongkar, Hasan mengaku sudah terlebih dulu pindah ke Rusun Rawa Bebek, Jakarta Timur. Ia menempati lantai atas, sebab berdasarkan hasil rapat dengan pemerintah, golongan orang-orang tua lah yang berhak mendiami lantai dasar rusun.

"Berdasarkan keputusan rapat, kita yang termasuk golongan orang yang masih muda ini, harus tinggal di lantai atas Rusun," kata dia.

Di lantai atas Rusun Rawa Bebek, Hasan menempati rumah berukuran 4x6 meter, dengan 2 kamar, 1 kamar mandi, dan dapur serta ruang tamu. Meski mengaku tempat tinggalnya kini lebih layak, namun ia tetap mengaku lelah lantaran harus semakin jauh dengan tempat kerjanya di daerah Tebet.

"Saya sehari-hari kan kerja sebagai pengrajin disini. Jadi, lumayan jauh kalau dari Rawa Bebek ke Tebet. Untuk sementara ini, kita digratiskan 3 bulan biaya sewa rusun, tapi enggak tahu lagi nanti selanjutnya gimana," tuturnya.

Tak hanya itu, Hasan mengaku bahwa kini beban hidup keluarganya semakin berat usai dipindahkan ke Rusun Rawa Bebek. Bagaimana tidak, di rusun tersebut, ia harus bersiap-siap membayar uang sewa, listrik dan air. Sedangkan di tempat sebelumnya, ia hanya diwajibkan membayar pajak PBB dan tagihan listrik.

Sementara itu, Bejo (49), warga RT 03/012, Bukit Duri merasa kecewa dengan pembongkaran yang dilakukan oleh Pemprov DKI. Terlebih, warga yang terkena relokasi tidak mendapatkan uang kerohiman atau pengganti.

"Kita bongkar-bongkar sendiri kan ngeluarin duit sendiri, direlokasi juga tapi nggak ada uang kerohiman. Walaupun dipindah ke rusun, tapi kan sehari-hari kita kerjanya disini," ungkapnya.

Baik Hasan maupun Bejo, kini hanya bisa pasrah melihat bangunan miliknya dibongkar untuk proyek normalisasi Kali Ciliwung yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), guna mengatasi permasalahan banjir di Jakarta tersebut.

Urgensi penggusuran

Pemerintah Kota Jakarta Selatan sudah memilih waktu penggusuran yang tepat guna mengantisipasi banjir yang diprediksi rentan terjadi. Wali Kota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi mengungkapkan harus selesai secepatnya.

“Harus selesai. yang penting orang jangan kena banjir,” tutur Tri.

Sebelum di lakukan penertiban, Tri mengaku telah melakukan sosialisasi dan pemberian surat peringatan kepada warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung tersebut.

"Kami sudah melakukan sosialisasi sebanyak tiga kali, pada bulan Maret dan Mei. Sementara Surat Peringatan juga sudah kami berikan pada bulan Juni dan Juli," kata Tri di lokasi.

Sejarah yang Terlupakan

Menurut Zaenuddin HM, dalam buku karyanya berjudul “212 Asal Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada 2012, bahwa nama Bukit Duri memiliki sejarah yang panjang.

Berawal pada 1672, dari tanah seluas sekitar 5 km persegi antara Cipinang dan Ciliwung milik Meester Comelis Senen, seorang saudagar kaya dari Selamon di Pulau Lontar, Kepulauah Banda.

Kemudian, untuk melindungi para penebang hutan dan tukang kebun dari gerilya tentara Mataram dan Banten, maka rumah-rumah mereka dikelilingi pagar (1656). Selanjutnya, pada 1689, pagar sederhana itu pun diperkuat dengan pagar bambu berduri serta dijaga 14 tentara yang sebagian besar sakit-sakitan.

Pagar berduri itulah yang kemudian dipakai jadi nama pada Kampung Bukit Duri. Sekarang di daerah yang sama dijadikan nama kompleks pertokoan yang dibangun di atas lahan bekas tempat  Penjara Wanita Bukit Duri.

Selain itu juga dipakai untuk nama perumahan yaitu Perumahan Bukit Duri Permai yang dibangun di tempat bekas pabrik senapan yang didirikan oleh Herzog KB von Sachsen-Weimar Eisenach. 

Features

Nasib PKL di Bulan Tertib Trotoar

Kamis, 03 Agustus 2017 18:00:00
Editor : Waritsa Asri | Reporter : M Nashrudin Albaany

Ilustrasi PKL  - Waritsa
Ilustrasi PKL - Waritsa

Share this








Pemprov DKI Jakarta mulai memberlakukan bulan tertib trotoar pada Agustus. Akibatnya, nasib para PKL pun mulai terkatung-katung dan dilanda rasa cemas

SUDIRMAN - Terhitung sejak awal Agustus ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai memberlakukan bulan tertib trotoar selama sebulan penuh. Hal itu tertuang dalam peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 99 Tahun 2017. 

Pemprov DKI Jakarta beralasan, bulan tertib trotoar sengaja dilakukan untuk mengembalikan fungsi trotoar bagi masyarakat atau pejalan kaki agar dapat menikmati fasilitas ini dengan aman dan nyaman. Sebab, trotoar yang ada di Jakarta saat ini sudah banyak yang disalah fungsikan dan dijadikan sebagai tempat usaha.

Seperti yang terlihat di kawasan Jalan Kendal, Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di sepanjang jalan menuju ke Stasiun Sudirman. Selama ini, trotoar yang ada di kawasan ini dikuasai oleh Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menggelar lapak dagangannya.

Namun kini PKL yang biasa berjualan di kawasan tersebut mulai mengemasi dagangannya dan pergi mencari lokasi baru. Meskipun masih ada saja sebagian dari mereka yang nekat berjualan di kawasan tersebut.

 

PKL Was-Was

Sejatinya, PKL yang masih tersisa dan berjualan di sekitar Stasiun Sudirman merasa cemas jika sewaktu-waktu ada petugas Satpol PP yang menertibkan dagangan mereka. Namun, mereka mengaku tak memiliki pilihan lain dan enggan pindah dari lokasi tersebut.

Seperti yang diutarakan oleh Mardi (48), pedagang minuman yang sudah tiga tahun berjualan di sekitar Stasiun Sudirman. Ia mengaku sudah mengetahui tentang adanya larangan berjualan di trotoar, tapi tetap nekat lantaran harus mencari uang demi keluarganya.

"Sudah ada petugas yang pernah kasih tahu sama saya kalau sekarang enggak boleh berjualan disini. Tapi gimana, saya belum ketemu tempat baru buat jualan. Kalau ada peraturan baru kan saya juga jadi cemas mau jualan," kata dia di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/8/2017).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Surya (36), pedagang gorengan yang ada di dekat Stasiun Sudirman. Dia enggan pindah karena mengaku penghasilan selama berjualan di lokasi tersebut lumayan besar.

"Berat ya mas kalau harus meninggalkan tempat ini. Karena omzet selama berjualan di sini lumayan besar. Stasiun ini kan cukup padat ya. Kadang saya cemas juga, takut tiba-tiba datang Satpol PP," ungkapnya.

Baik Mardi maupun Surya dan pedagang lain pun berharap agar Pemprov DKI Jakarta tetap membolehkan PKL untuk berjualan di trotoar. Namun, jika tidak diizinkan, mereka meminta agar pemerintah menyediakan tempat untuk berjualan.

"Ya, maunya kami di sini. Jangan sampai diusir ya, tetap boleh jualan di sini. Tapi kalau itu sudah peraturan pemerintah, kami minta juga agar pemerintah memberikan kami tempat layak untuk berjualan. Supaya kami enggak diusik-usik lagi," tuturnya.

 

Sanksi Tegas

Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta melalui Satpol PP dengan tegas telah meminta agar para PKL segera mengosongkan lapaknya dari trotoar dan pindah ke tempat lain. PKL pun diminta dapat menaati bulan tertib trotoar ini.

Pasalnya, jika masih tetap membandel, petugas Satpol PP akan membongkar paksa lapak dagangan mereka dan menyitanya. Tak hanya itu, sanksi tegas juga telah disiapkan, yakni berupa sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) bagi PKL.

"Ya, mereka kan sebelumnya sudah diingatkan oleh petugas. Tapi kalau ternyata di lapangan masih ada yang bandel juga, nanti akan kita razia. Barang dagangannya kita angkat dan kita juga akan sidangkan di Pengadilan," tegas Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Yani Wahyu.

Yani mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan kejaksaan dan pengadilan untuk mempersiapkan sidang tipiring yang ada di lima wilayah DKI Jakarta. Menurut dia, sidang tipiring bagi pelanggar trotoar telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. 

Selain itu, jika mengacu pada Pasal 274 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Sanksi bagi para PKL yang mengokupasi trotoar pun tergolong berat. Yakni berupa hukuman penjara mulai dari satu bulan hingga satu tahun atau denda maksimal Rp 24 juta.

"Di sidang Tipiring ada dua hal, yang pertama di tindak 1 tahun penjara, bagi yang merusak fungsi trotoar. Kemudian pejalan kaki yang pakai untuk okupasi ini juga bisa kena 1 bulan. Nanti di sidang Tipiring ini, hakim yang akan menentukan denda fisik atau materi," paparnya.

Dalam pelaksanaannya, imbuh Yani, Satpol PP DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan Dishub dan pihak kepolisian. Sebanyak 500 petugas gabungan akan menertibkan PKL dan parkir liar dari 150 trotoar rawan di lima wilayah DKI Jakarta yang menjadi fokus penertiban.

Sebelumnya sendiri, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan bahwa ke depannya trotoar yang ada di Jakarta akan semakin dilebarkan untuk ditanam pohon agar tidak digunakan PKL untuk berjualan, ataupun kendaraan sebagai tempat parkir. Program bulan tertib trotoar ini diharapkan bisa mengubah perilaku masyarakat untuk sadar akan fungsi trotoar.

Features

Lika – Liku Pendirian Bank Sampah Kelurahan Pluit

Rabu, 20 September 2017 15:30:00
Editor : Nurul Julaikah | Reporter : Farid Hidayat

Bank Sampah Kelurahan Pluit
Bank Sampah Kelurahan Pluit

Share this








Pendirian Bank Sampah di Kelurahan Pluit mengalami kesulitan dalam menjual saat memasarkan hasil produksi pada awal pendirian 2013 lalu.

PENJARINGAN – Sampah di Ibu Kota menjadi persoalan klasik bagi warga maupun Pemerintah. Akhirnya, untuk mengatasinya Pemprov DKI Jakarta berinisiatif agar setiap kelurahan memiliki Bank Sampah. Tujuannya, mereduksi sisa limbah rumah tangga menjadi barang bermanfaat dan memberikan penghasilan bagi warga.

Namun, ada cerita menarik dibalik Bank Sampah. Seperti, Bank Sampah Kelurahan Pluit yang berdiri sejak 2013 lalu memiliki cerita tersendiri saat awal pendirian. Hal ini, terkait penjualan hasil cacahan produksi yang telah dipisahkan oleh para anggota.

Akhirnya Bank sampah yang terletak di Jalan Pluit Karang Permai. Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta utara ini mendapatkan bantuan dari PT. Pembangkitan Jawa Bali, dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Perusahaan pelat merah tersebut memberikan mesin pencacah, motor bak serta pelatihan sistem bank sampah.

“Awalnya kami agak tersendat dalam menjual hasil cacahan produksi kita. Tetapi atas pendampingan ACT kami hingga sekarang masih terus berjalan,” kata Risnandar, Ketua Karang Taruna Kelurahan Pluit saat berbincang dengan infonitas.com, Rabu (20/9/2017).

Untuk nasabah, Risnandar mengatakan kebanyakan berasal dari warga Muara Angke terutama di 4 RW, zona kelurahan pluit ada tiga zona muara angke, muara karang dan pluit. Akan tetapi, untuk saat ini, pihaknya fokus merekrut warga RW 01, 11, 20 dan 21 yang masuk dalam kategori masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah menjadi nasabah bank sampah.

Bagi nasabah baru, dapat mengambil uang tabungan setelah tiga bulan. Nantinya para nasabah akan mendapatkan uang kas

"Kedepannya program kita hasilnya itu tidak uang nantinya kita mau sembako. Jadi hasil dengan nilai tabungan uang itu bisa ditukarkan sembak,”kata dia.

Cara Daftarkan Diri Jadi Nasabah

Bank sampah kelurahan pluit memiliki sub unit di setiap RW. Sehingga, nasabah pun tidak perlu jauh-jauh datang ke kantor karang taruna kelurahan pluit. Warga bisa menabung lewat perwakilan di setiap rw yaitu dikelola oleh ibu-ibu PKK, dan  setiap sabtu akan mengambil sampah di setiap unit-unit yang ada.

Lanjut Risnandar, saat ini bank sampah baru bisa menerima sampah seperti botol plastik, gelas plastik, kardus, dan alumunium.

“Harapannya kegiatan bank sampah bisa menjadi satu kegiatan yang pertama bisa diandalkan dan bermanfaat oleh masyarakat dalam segi ekonomi dan kedua berdampak mengurangi pencemaran sampah di lingkungan. Kegiatan ini bisa bermanfaat buat kita dan masyarakat,” tutupnya.

Features

Melirik Rancangan Busana Karya Anak Bangsa

Rabu, 08 November 2017 14:45:00
Editor : Ichwan Hasanudin | Reporter : Rachli Anugrah Rizky

Rancangan busana karya anak bangsa
Rancangan busana karya anak bangsa

Share this








Desainer muda terus bermunculan seiring suburnya ajang fashion show. Berbagai kreasi busana menjadi tanda perkembangan industri fashion Tanah Air.

KEBAYORAN – Industri fashion Tanah Air menjadi salah satu penggerak roda ekonomi nasional. Tidak main-main, sektor fashion memberi kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Ekonomi kreatif menempati urutan kedua setelah sektor kuliner. 

Data Statistik dan Hasil Survei Ekonomi Kreatif tahun 2016 menyebutkan sektor fashion memberi sumbangan PDB ekonomi kreatif sebesar 18,15 persen. Di urutan atas ada sektor kuliner dengan angka mencapai 41,69 persen. Sementara sektor kriya memberi sumbangan sebesar 15,70 persen pada PDB ekonomi kreatif. 

Esthy Reko Astuti, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata RI menjelaskan, fashion dan pariwisata mempunyai peranan penting. Bahkan fashion menjadi magnet pariwisata Indonesia. “Fashion menjadi magnet pariwisata pariwisata Indonesia yang mengandalkan pada potensi budaya (culture) sebesar 60 persen, alam (nature) 35 persen, dan buatan manusia (man-made) 5 persen,” kata Esthy dalam jumpa pers persiapan IMFW 2017 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, 9 Oktober lalu.

Sementara itu, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf dalam pembukaan Jakarta Fashion Week (JFW) 2018 mengatakan ajang JFW menjadi salah satu wadah bagi para desainer dan pencinta mode agar masuk dalam pasar global. “Banyak karya yang lahir dari rahim-rahim kreasi bangsa Indonesia, dan alangkah baiknya memang jika karya-karya ini memiliki wadah untuk dipamerkan secara megah," tambah Triawan dalam sambutan di Jakarta Fashion Week (JFW) 2018.

Marakanya ajang fashion yang digelar membuat passion anak bangsa kian tumbuh. Bukan hanya perangcang busana muda, desainer senior pun turut menyemarakkan khazanah fashion dengan menampilkan ciri khas kedaerahannya.  Sentuhan  budaya Indonesia kerap dimasukkan menjadi inspirasi koleksi busana. 

Sebut saja Parang Kencana yang menghadirkan koleksi terbarunya di Plaza Indonesia Men's Fashion Week 2017. Dalam pagelaran fashion show kali ini, Parang Kencana menampilkan 25 busana ready to wear dengan palet warna keabuan yaitu dusty blue, navy blue, hingga clay brown. Koleksi yang ditujukan untuk generasi milenial ini merupakan perpaduan dari inspirasi gaya hidup militer dengan keindahan batik tradisional yang didesain secara modern, urban, dan fashionable.

Sementara itu, di ajang terbaru yakni Jakarta  Fashion Week (JFW) 2018 pun mengangkat tema “Bhinneka dan Berkarya” yang diharapkan mampu merangkum berbagai pengaruh dan warisan budaya serta menjadi berbagai titik pandang atau pilihan lifestyle. 

Sentuhan kedaerahan juga diperlihatkan oleh Barli Amara yang mengangkat pesona batik dan songket Jambi. Dengan tema “Kain Negeriku Jambi”, batik dan songket Jambi menjelma menjadi busana feminim nan anggun, mewah, dan modern. 

Pembukaan JFW 2018 juga dimeriahkan oleh  suguhan sebelas karya desainer yang dianggap menjadi deretan pionir utama dalam perkembangan industri mode. Mereka adalah Edward Hutabarat, Ciel, Sebastian Gunawan, Tex Saverio, Sapto Djojokartiko, MAJOR MINOR, BINHouse, Anne Avantie, Itang Yunasz, Rinaldi A. Yunardi, dan TOTON.

Selama sepekan, pencinta mode akan disuguhi beragam  koleksi busana yang bisa menjadi gambaran tren fashion Tanah Air di tahun depan. Beragam looks seperti ready to wear, busana muslim (hijab), , couture, dan modern wear dari banyak desainer ternama Tanah Air.