Features

Ada Pohon Natal dan Kreta Rusa Raksasa di Kelapa Gading

Sabtu, 17 Desember 2016 12:27:00
Editor : Dany Putra | Reporter : Muhammad Azzam

Pohon Natal dan Kereta Kuda Raksasa di pintu masuk RW12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pohon Natal dan Kereta Kuda Raksasa di pintu masuk RW12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Share this








Pohon Natal dan kereta kuda raksasa ini merupakan hasil buatan warga RW 12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.

KELAPA GADING – Mendekati perayaan Natal, berbagai ornamen untuk menyemarakkan Natal mulai meramaikan beberapa tempat di Kelapa Gading. Seperti di RW 12 Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang memasang pohon Natal ukuran raksasa.

Pohon Natal ini memiliki tinggi 8 meter dan berdiameter 2,4 meter dilengkapi berbagai ornamen bola-bola serta lampu warna warni. Selain pohon Natal raksasa RW 12 pun membuat kreta Rusa Sinterklas yang sedang membawa kado. Kereta ini juga dibuat dengan ukuran raksasa dengan panjang 10 meter. Pohon Natal dan Kreta Rusa dipasang tepat di pintu gerbang RW 12 di Jalan Raya Kelapa Lilin.

Pembuatan pohon Natal dan kereta rusa tersebut dilakukan swadaya oleh masyarakat sekitar. Selama dua bulan wrga beserta pengurus RW gotong royong membuat semunya. "Kita mulai pembangunannya 2 Oktober, pohon dan Kreta Rusa kami pasang 2 Desember," ujar Ketua RW 12 Pegangsaan Dua, Sudirman kepada infonitas.com, Jumat (16/12/16).

Sudiman bangga dengan kreatifitas dan kerjasama warganya dalam membuat pohon Natal dan kereta kuda tersebut. Apalagi pohon Natal dan kereta kuda seperti ini belum ada di Kelapa Gading.

"RW 12 selalu berani tampil beda dengan yang lain, salah satunya pohon Natal ini. Di mall atau gereja saja belum ada yang sebesar ini, ditambah pohon ini 4 dimensi dilihat dari sudut manapun tetap terlihat jelas bentuk pohonnya," tegasnya.

Kesulitan

Dalam mengerjakan pohon Natal dan kereta kuda raksasa bukan tanpa kesulitan. Ukuran pohon yang cukup tinggi membuat warga kesulitan memasang pohon tersebut karena dibuat 4 lapis tidak kerucut begitu saja seperti pohon Natal kebanyakan.

"Dari segi bentuk ini benar benar pohon natal yang asli. Bahan juga kita buat dari daur ulang besi pipa bekas tiang listrik. Asli buatan pengurus bersama warga yang beli hanya lampu, daun-daun nya saja,"jelasnya.

Dalam membuat pohon Natal dan kereta kuda raksasa, warga Pegangsaan Dua harus merogoh kocek Rp 75 juta. Dana tersebut merupakan hasil patungan dari seluruh warga. "Saya memberi ide kepada warga pohon Natal dan Kreta Rusa Raksasa ini mereka langsung apresiasi dan setuju," ungkapnya.

Menurutnya, hal yang paling berkesan adalah selama proses pembuatan. Sebab, kerjasama dan gotong royong membuat warga bersatu. Canda tawa selalu mewarnai saat proses pembuatan pohon Natal dan kereta kuda tersebut. Sehingga saat pohon jadi dapat dinikmati seluruh warga.

Apalagi, lanjut dia, kreasi warganya itu tidak hanya dinikmati warga RW 12. Tetapi warga lainnya dan pengendara yang melintas ikut menikmati, banyak mereka yang berhenti hanya untuk sekadar berfoto di pohon natal dan Kreta Rusa Raksasa itu.

"Benar-benar menjadi daya tarik warga se-Kelapa Gading dan warga luar Kelapa Gading. Bahkan ketua RW lain pun datang ke kami menanyakan pohon itu beli dimana, kami jawab itu hasil karya buatan kami bersama warga," ungkapnya.

Sudirman mengatakan, pohon Natal dan kereta raksasa ini sekaligus sebagi symbol pemersatu umat. Dia mengaku meski beragam Islam dia rela mencurahkan tenaganya dalam proses pembuatan. Dia hanya ingin menghormati warganya yang kebanyakan dari mereka ikut merayakan Natal.

“Dan yang terpenting ada rasa dalam batin kepuasan sendiri bisa menyenangkan warga dan warga pun bangga karena memang hasilnya terlihat mewah,” ujarnya.



Features

Kembali Ke Jakarta, Rumahku Sudah Rata dengan Tanah

Minggu, 26 Januari 2015 13:13:02
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.
Keluarga Herman meratapi rumahnya yang telah rata dengan tanah di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Penjaringan.

Share this








Warga kolong Tol Wiyoto Wiyono banyak yang menyesalkan tindakan petugas membongkar hunian semi permanen mereka.

PENJARINGAN - Kamis siang (23/7/2015) lalu, Pemkot Jakarta Utara membongkar puluhan bangunan liar di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Pejagalan,  Penjaringan, Jakarta Utara. Penghuninya yang kebanyakan pendatang pun kaget ketika kembali dari kampung halaman, tempat tinggalnya sudah rata dengan tanah.

Salah satu warga kolong tol yang merasa kaget campur bingung adalah pasangan Tarsiah (47) dan Herman (50). Hunian mereka ternyata sudah dihancurkan puluhan petugas Satpol PP Pemkot Jakarta Utara. Padahal mereka baru menempati bangunan semi permanen tersebut selama 4 bulan.

"Saya baru pulang mudik dari Brebes tadi malam. Tau-tau siang ini sudah ada pembongkaran," ujar Tarsiah sambil mengusap seekor kelinci oleh-oleh untuk putrinya, Kamis (23/7/2015).

Dia pun terlihat pasrah dan tak berdaya melihat bangunan semi permanen miliknya rata dengan tanah. Tarsiah juga tak mengira bahwa pada Kamis siang rumahnya akan dibongkar petugas. Pasalnya surat pemberitahuan yang didapat sebelum lebaran tak tertera tanggal dan hari pembongkaran dimulai.

"Sudah dikasih tahu pas bulan puasa. Tapi kan bilangnya habis lebaran. Nggak tahu hari apa tanggal berapa," beber Tarsiah sambil terisak kepada Infonitas.com.

Sementara itu, sang suami Herman di tengah-tengah berlangsungnya pembongkaran mencurahkan isi hatinya. Dia tadinya berharap Jakarta yang notabene kota besar sudah barang tentu memiliki beragam potensi untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Namun nyatanya baru empat bulan tinggal di Ibukota, Herman mengalami penggusuran.

"Saya pikir kalau pindah ke Jakarta semua program berjalan dengan baik. Soalnya, di kampung saya program satu miliar satu keluarganya, tidak efektif. Ternyata di sini (Jakarta) sama aja. Baru empat bulan sudah digusur," paparnya.

Laki-laki yang mengaku pernah bekerja di empat negara sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ini sempat membandingkan Indonesia dengan negara tempatnya bekerja tentang sistem pendataan penduduk.

"Saya sudah kerja di empat negara, Arab Saudi, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Tapi baru di Indonesia saya kesulitan membuat identitas diri. Gimana mau dapat rusun, kalo KTP DKI nggak ada. Pas mau bikin (KTP) malah dipersulit," pungkasnya.

Kalau sudah begini, Herman pun mengaku lebih nyaman kerja di luar negeri sebab semua lebih teratur dan disiplin. Namun apa boleh buat, di usianya yang hampir setengah abad, dia merasa sudah tidak produktif lagi jika tetap bekerja sebagai TKI di luar negeri.

Sedangkan menurut Camat Penjaringan Yani Wahyu Purwoko, bangunan liar yang berada di kolong Tol Wiyoto Wiyono ini di anggap menyalahi aturan dan melanggar Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Dia pun menjelaskan bahwa bangunan tersebut sangat membahayakan, karena listrik di pemukiman itu dianggap ilegal. Apabila terjadi kebakaran maka akan merusak konstruksi jembatan tol.

"Bangunan yang dibongkar ini selain menyalahi aturan juga menggunakan sambungan listrik ilegal sehingga rawan terjadi kebakaran yang dapat merusak struktur tol," jelasnya.

Pembongkaran 70 bangunan liar itu sendiri melibatkan 100 personel gabungan Satpol PP Jakarta Utara, Suku Dinas Kebersihan Jakarta Utara beserta 4 truk sampah, Koramil Penjaringan dan Polsek‎ Metro Penjaringan.







Features

Mengupas Kisah Peniris BBM di Plumpang, Nyawa Jadi Taruhan

Minggu, 13 September 2015 16:39:03
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Peniris bensin truk tangki BBM Pertamina
Peniris bensin truk tangki BBM Pertamina

Share this








Meski risiko kecelakaan sangat besar, kalau sedang beruntung para peniris BBM ini bisa meraup ratusan ribu rupiah dalam beberapa jam.

KOJA - Saat matahari hendak kembali ke peraduan, jerigen Ari belum terisi penuh. Tapi usahanya mencari sisa Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium tak surut. Berbekal kaus oblong tak layak pakai, celana robek serta tanpa alas kaki, Ari menghabiskan waktunya di kolong tol Wiyoto Wiyono, Jalan Yos Sudarso, tepatnya di putaran mengarah ke Depo  Pertamina Plumpang, Jakarta Utara.

Sambil duduk di atas trotoar, mata Ari tetap terjaga melihat kendaraan yang sedang berputar arah. Ia berharap ada truk tangki berukuran besar melintas membawa bbm.

"Ya beginilah kita liat-liat kendaraan, kalo ada truk Pertamina kita siap-siap ngejar," ujarnya bersemangat.

Tak lama berselang, truk tangki besar berwarna merah bertuliskan Pertamina melintas. Dengan sigap Ari membawa jerigen yang digunakan untuk menampung sisa-sisa BBM pada keran tangki truk tersebut.

Dia bersiap mengadu nyawa di jalanan. Irama kakinya berpadu menyesuaikan kecepatan truk. Dalam hitungan singkat sambil mengikuti truk tangki yang berbalik arah, seolah menempelkan badannya di badan truk, penuh kesigapan, tangannya membuka wadah penutup kran tangki yang di bawahnya sudah ditaruh jerigen.

Tetes demi tetes bensin mengalir, sambil dijaga oleh Ari hingga penuh. "Dapetnya ya begini, sedikit-sedikit gak langsung penuh," paparnya belum lama ini.

Pria berusia 20 tahun ini seolah memiliki cadangan nyawa, meski mengandung risiko tinggi saat berpacu dengan kecepatan truk tangki ditengah hiruk-pikuk jalanan Jalanan di Tanjung Priok yang terkenal ganas. Ari mantap mengais rejeki dari tirisan sisa-sisa BBM.

"Orang-orang sih memanggil kita tukang tiris BBM," katanya singkat.

Jangan ditanya besaran rupiah yang didapat. Tapi juga jangan heran kalau sehari Ari bisa mendapat ratusan ribu rupiah dalam hitungan beberapa jam saja kalau sedang beruntung. Meski sekarang truk Pertamina hanya sedikit yang bisa ‘diakali’, Ari terkesan ‘kekeuh’ menggeluti profesi yang sudah dijalaninya hampir enam tahun ini.

"Kalo dulu bisa ditiris sekarang gak semuanya bisa udah dipasingin alat jadi kita kesulitan juga," tuturnya

Tekanan ekonomi yang tinggilah yang membuat dirinya tutup mata denga risiko yang dihadapinya. Hidup dengan mengais sisa-sisa bahan bakar adalah pilihan mutlak demi mencukupi desakan akan kebutuhan hidup sehari-hari. "Kalau sudah kepepet jadi berani,  toh yang penting bukan mencuri," tutupnya.







Features

Mau Barang Wah Tapi Murah? Ayo ke Pasar Ular

Sabtu, 26 September 2015 15:10:09
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Suasana di Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara
Suasana di Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara

Share this








Para penjual di Pasar Ular dijamin tidak akan menipu tentang status keaslian barang.

KOJA - Berbelanja menjadi hobi tersendiri bagi sebagian orang, terutama kaum hawa yang ingin tampil beda dan trendi. Di Jakarta Utara, ada sebuah tempat perbelanjaan terkenal. Tapi bukan mal mewah, melainkan hanya sekumpulan kios yang berada di Jalan Raya Plumpang, Koja, Jakarta Utara. Tempat itu dinamakan Pasar Ular.

Meski tempatnya jauh dari kata mewah, namun warga DKI Jakarta dan sekitarnya banyak yang berkunjung ke Pasar Ular. Sebabnya di sana pengunjung bisa mendapatkan barang-barang fashion bermerk ternama dengan harga miring.

"Kenapa murah? Karena barang-barang yang dijual di sini barang hasil ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Priok tapi tanpa prosedur resmi alias tanpa proses di bea cukai dan sebagainya," ujar H Ahmad Ulfi (53), Pengurus Paguyuban Pasar Ular.

Pasar Ular yang sebelumnya disebut sebagai Pasar Buaya pada tahun 1980 ini adalah hasil gusuran dari Pos 9, Koja Lama, yang kini menjelma menjadi Pelabuhan Tanjung Priok.

Ketika anda menapakan kaki menyusuri Pasar Ular, mata akan dimanjakan berbagai macam produk barang yang disajikan seperti baju, celana, sandal, sepatu, kacamata, tas, dompet, minyak wangi dan sebagainya. Barang-barang yang dijajakan bervariasi, ada yang asli ada juga versi asli tapi palsu (Aspal).

Untuk masalah harga, tetaplah pandai-pandai untuk menawar. Namun jika anda belum mengetahui soal keaslian barang tersebut, para penjual di Pasar Ular akan berkata jujur dengan kualitas barang yang dijualnya.

Sedangkan untuk urusan kenyamanan dan keamanan berbelanja, Pasar Ular kini sudah jauh lebih baik. Dengan bangunan besar sepanjang 100 meter dan beratap baja ringan serta telah berlantai keramik, pengunjung dijamin tidak akan risih saat berkunjung di musim hujan.

“Saat ini, Pasar Ular dihuni sekitar 164 kios. Para pedagangnya  rata-rata berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Makasar, Padang dan Banten,” ujar Ulfi yang asli daerah Kresek, Banten ini.

Di tengah penjualan berbasis online yang tengah digandrungi kawula muda, Pasar Ular tetap tak kalah populer. Pasar ini masih mempertahankan gaya tradisional dengan aktivitas tawar menawar yang menjadi keunikan tersendiri.

Menurut Joni (32), pedagang di pasar tersebut, tak hanya warga biasa yang mampir untuk berbelanja di tokonya, namun dari beberapa kalangan selebritis juga sudah menjadi pelanggannya.

"Orang bule dan anak buah kapal (ABK) paling sering, bule suka karena ukuran sepatu disini sesuai ukuran kakinya, besar-besar," ucapnya.

Namun sekarang Joni sempat mengeluhkan penjualan sepatunya yang tak sebagus tahun sebelumnya karena nilai dolar yang semakin tinggi. Dengan rentang harga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, rata-rata Joni dapat menjual sepatunya sebanyak 4 pasang sepatu dengan keuntungan 20 persen.

"Kalau menjelang Idul Fitri penjualan sandal paling ramai, kalau hari biasa ya, senangnya pas kapal bersandar, karena banyak ABK datang kemari," ujarnya lirih.

Dalam urusan berdagang, Joni punya prinsip tersendiri, ia tak ingin membohongi pelanggannya karena pantang hukumnya menipu.

"Kalau ada modal saya membeli sepatu Rp 50 ribu, lalu jika pembeli menawar harga Rp 50 ribu, pantang buat saya bilang modal saja kurang. Kalau kata orang Betawi pamali dalam berdagang," tegas pria Kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini.







Features

Cerita Aceng dari Simpang Plumpang

Minggu, 11 Oktober 2015 14:35:30
Editor : Fauzi | Reporter : Wahyu Muntinanto

Ilustrasi Pak Ogah
Ilustrasi Pak Ogah

Share this








Meski disibukan untuk mencari uang di sela-sela waktu belajarnya, Aceng tidak pernah mengeluh demi membantu keuangan keluarganya.

CILINCING – Usianya baru 14 tahun, namun, kesibukan Aceng yang dimulai sejak adzan Subuh berkumandang boleh jadi mengalahkan kita. Usai sholat, Aceng biasanya membantu menyiapkan makanan yang akan dijual sang ibunda di halaman rumah.

Saat sang ibunda menjajakan makanan, Aceng pun bergegas berangkat ke ‘tempat kerja’ berikutnya, simpang Plumpang, Cilincing, Jakarta Utara. Kemacetan yang kerap terjadi saat jam masuk sekolah dan masuk kerja menjadi ladang penghasilan bagi Aceng.

"Gini deh, kalau pagi untuk bantu-bantu orangtua, harus jadi pengatur lalulintas dulu baru dapet uang. Kalau enggak gini, gimana mau dapet uang,"ujarnya, Senin (5/10/2015).

Di usianya yang masih sangat muda, Aceng sudah harus merasakan kerasnya mencari uang. Selain bergelut dengan kepadatan arus lalu lintas dan polusi udara, Aceng juga memiliki satu tantangan lainnya, petugas keamanan.

Maklum, ‘profesinya’ sebagai Pak Ogah alias polisi cepek mengharuskan dirinya kucing-kucing dari penertiban petugas keamanan, apakah kepolisian atau Satpol PP. Aceng mengaku, dalam sehari dirinya bisa mengantongi Rp 50 ribu. Namun, jika ada polisi yang berjaga, ia pun bersalin profesi.

“Palingan nirisin bahan bakar minyak (BBM) dari truk-truk Pertamina yang terjebak macet. Daripada saya maksa-maksa minta uang,” tukasnya.

Meski sudah berusia 14 tahun, Aceng ternyata baru duduk di bangku kelas 5 SD. Tak heran, ia pun tidak bisa berlama-lama menjadi Pak Ogah di pagi hari, lantaran dirinya harus pulang dan bersiap untuk bersekolah setiap harinya saat jarum jam menunjukan pukul 10.00 WIB.

"Kan ada kelas siang, jadi paginya bisa nyari duit jajan dulu. Enggak enaknya, kalau ada petugas, kadang juga kaya main kucing-kucingan," tandasnya.

Keberadaan Pak Ogah sepeti Aceng di jalanan Ibu Kota memang seakan tidak ada habisnya. Meski kerap dirazia, jumlahnya tidak pernah habis. Di satu sisi, jasanya dalam mengatur arus lalu lintas sangat dibutuhkan pengguna jalan saat tidak ada polisi. Namun, terkadang para Pak Ogah ini justru merupakan pelaku berbagai tindak kriminal.

Tidak heran jika aparat dari Dinas atau Sudin Sosial, Satpol PP dan Kepolisian kerap kali menggelar razia terhadap para Pak Ogah ini. Kasudin Sosial Jakarta Utara Aji Antoko mengatakan, Pak Ogah yang terjaring razia nantinya akan bekali dengan keterampilan saat dibina di panti sosial.

"Mereka nantinya akan diberikan keterampilan sosial. Namun kita perlu mendata terlebih dahulu. Apakah anak tersebut kedua orangtuanya atau ekonominya terbilang mampu atau tidak. Apabila orang tuanya tidak mampu, baru akan kita bina di panti‎ sosial khusus anak. Di sana akan diberikan ketrampilan sesuai minat dan bakatnya," singkatnya.







Features

Asyiknya Berakhir Pekan di Jakarta Food Festival Kelapa Gading

Sabtu, 14 November 2015 17:05:51
Editor : Denny | Sumber : kcm

Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading
Suasana Jakarta Food Festival 2015 di La Piazza Kelapa Gading

Share this








Jakarta Food Festival 2015 kali ini menyajikan menu Eropa dan Asia

KELAPA GADING - Kemana anda biasanya menghabiskan weekend? Bila bingung mau kemana, coba saja sambangi daerah Kelapa Gading yang terkenal akan wisata kulinernya. Pasalnya, di daerah itu saat ini sedang digelar acara bertema kuliner yakni Jakarta Food Festival 2015, yang bertempat di La Piazza Kelapa Gading.

Pada event yang berlangsung dari 6-22 November 2015 ini, Jakarta Food Festival menghadirkan ragam menu, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara. Pada 2015 ini, Jakarta Street Food Festival menghadirkan suasana berbeda. Kali ini, La Piazza dipenuhi nuansa Eropa. Hal ini dipertegas dengan dekorasi bangunan dan gedung khas Eropa dan pernak-pernik lainnya.

Sajian jenis makanan ada pun disesuaikan dengan tema Eropa, seperti Henk’s Pizza, Fruit Chocolate Fondue, La Crepie, Pastalicious Petit Julien, Bitslicious, hingga beragam makanan khas negara lainnya, antara lain, Phat Phuc, MieChino, Ichitori. 

Namun bagi pengunjung yang setia dengan kuliner asli Nusantara, ragam hidangan lezat bisa dicicipi, mulai dari ketoprak Ciragil, Makobar (Martabak Kota Barat), Durian Dessert by The Pancake Museum, hingga Bakso Malang Cak Kumis. 

Pengunjung pun dibuat nyaman dengan dekorasi bergaya street café khas kota-kota metropolitan di Eropa sana. Anda pun bisa bersantai menikmati makanan ringan dengan kopi ataupun minuman segar dalam suasana santai dan menyenangkan.

Selain menyajikan makanan, Jakarta  Street Food festival juga diramaikan dengan penampilan live music, kuis-kuis berhadiah, demo membuat kue serta program-program diskon lainnya. Ayo, tunggu apa lagi, segera langkahkan kaki anda ke La Piazza Kelapa Gading.







Features

Saatnya Bisnis Secondary Property Berkibar

Sabtu, 12 Desember 2015 17:13:31
Editor : Fauzi | Reporter : Chandra Purnama

 Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).
Ignasius Untung saat memberikan sambutan dalam Comsumer Choice Award yang diadakan rumah123.com, Kamis (10/12/2015).

Share this








Kian berkurangnya pasokan lahan baru hingga ketidakstabilan perekonomian, membuat bisnis secondary property diprediksi mengkilat tahun depan.

JAKARTA – Sebagai salah satu jenis industri yang tidak pernah lekang dimakan zaman dan selalu dibutuhkan, industri properti dari waktu ke waktu terus berevolusi dan bergerak dinamis, berlomba-lomba memenuhi kebutuhan manusia modern akan hunian yang menarik, aman, nyaman dan sesuai dengan gaya hidup mereka.

Tidak heran jika perkembangan desain dan jenis hunian pun terus berkembang pesat. Tak hanya di situ, industri ini pun berkembang dengan adanya transaksi secondary properti dan sewa.

"Semua konsumen yang hendak membeli pasti menginginkan konsep sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka," ujar Ignasius Untung selaku Country General Manager rumah123.com kepada Infonitas.com, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut Ignasius menerangkan, pada tahun 2016 mendatang bisnis di bidang ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan kembali, setelah sebelumnya sempat mengalami perlambatan pasca booming pada tahun 2012-2013.

Ignasius mendasarkan prediksinya pada meningkat tajamnya permintaan properti pada semester akhir tahun ini.

"Tidak bisa diingkari lagi, kebutuhan properti akan meningkat. Saya prediksi di 2016 meningkat 30%," tambah Ignasius.

Sementara itu, pemerhati bisnis properti dalam negeri Hendriansyah mengatakan, peningkatan permintaan properti pada tahun depan diprediksi terjadi pada sektor secondary. Menurutnya, di tengah belum stabilnya kondisi perekonomian global dan nilai tukar Rupiah hingga kian berkurangnya lahan, sementara kebutuhan akan hunian terus bertambah setiap tahunnya. Membuat masyarakat kian melirik secondary property.

“Pasar secondary tahun depan diprediksi akan ramai. Kenapa? Orang terus butuh hunian, sementara pasokan baru berkurang, lahan kurang. Mau beli baru? Ekonomi dan Rupiah juga masih enggak stabil. Jadi orang pilih ke secondary,” paparnya.

Ia pun lantas menyebutkan sejumlah lokasi pasar secondary property yang diprediksi banyak diminati masyarakat, baik di Ibu Kota mau pun kawasan sekitarnya.

“Tradisionalnya itu ya di Kelapa Gading, Kebayoran, Menteng, Pondok Kelapa sampai Cibubur. Kalau yang agak ke pinggir itu selatan Jakarta, Depok, Tangerang. Kawasan-kawasan itu memiliki pasar secondary property yang sudah lama terbentuk,” ungkap pria yang akrab disapa Hendri ini.

Baik Ignasius maupun Hendri sama-sama meyakini bisnis secondary property tahun depan akan semakin menggeliat. Terlebih, menilik kawasan-kawasan yang diprediksi di atas, harga jual secondary property di kawasan tersebut hampir sampa dengan harga primary property di kawasan pinggiran Ibu Kota.







Features

Hari Ibu dan Peran Wanita Sosialita dalam Keluarga

Minggu, 13 Desember 2015 14:46:31
Editor : rudiyansyah | Reporter : Wahyu Muntinanto

Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading
Komunitas Arisan New Hore saat melakukan kegiatan arisan rutin di Kelapa Gading

Share this








Walau memiliki segudang kegiatan, para wanita sosialita yang gemar arisan ini tetap menomor satukan keluarganya.

KELAPA GADING - Desember merupkan hari bahagia bagi para ibu di Indonesia, mengingat di tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari ibu. Sedikit , Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No 316 Tahun 1959 menetapkan bahwa 22 Desember sebagai hari ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Pada awalnya, peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama.

Jika dilihat dari sejarah, betapa heroiknya kaum perempuan pada masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada waktu lalu dimana para kaum permpuan seperti Cut Nyak Dien dan RA Kartini merintis organisasi perempuan melalui gerakan perjuangan.

Namun di era globalisasi dan seiring perkembangan zaman, hari ibu mempunyai pergeseran. Kini, para ibu modern juga memiliki organisasi atau kegiatan dalam meluangkan waktu. Salah satunya di lakukan oleh Fanny Lisi (39), seorang wanita yang berkarier di bidang properti.

Selain sebagai wanita karir, dirinya juga mengetuai sebuah komunitas Arisan New Hore di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dirinya pun tak berkeberatan disebut sebagai seorang sosialita sejati. Lagi pula, Fanny menganggap kegiatan yang dilakukan bersama komunitasnya adalah hal positif.

"Hari ibu itu untuk mengenang kebaikan ibu kita yang sudah berjasa membesarkan dan mendidik kita hinggaa kita seperti sekarang," ujar Fanny ketika menghadiri arisan New Hore di sebuah restoran bilangan Kelapa Gading, Jumat (11/12/2015).

Banyaknya pandangan miring terhadap komunitas sosialita atau arisanbukanlah hambatan bagi Arisan New Hore untuk terus berkarya. Bagi mereka, arisan yang dibuat merupakan wadah bagi para ibu-ibu menyalurkan inspirasi dan berbagi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

"Kita mikir positifnya saja, kaya kita udah lama nih gak ketemu ibu A atau B, dengan arisan kan jadi bisa ketemu, bisa juga ada yang gak kenal bisa saling kenal," jelas Fanny.

Memiliki kesibukan dengan jadwal yang padat bukanlah kesulitan bagi Fanny. Semua pertemuan untuk arisan sudah di persiapkan dengan matang. Seperti Arisan New Hore ini yang mengagendakan pertemuan mereka setiap tanggal 10 untuk mengocok arisan.

"Kita harus pintar bagi-bagi waktu aja, kalo bentrok ya kita atur jadwal lagi biar gak bentrok, misalnya kaya di arisan New Hore itu kan udah pasti kalo setiap tanggal 10 kita kumpul jadi di tanggal tersebut gak bisa diganggu," ucap warga Kelapa Gading ini.

Fanny menjelaskan, dalam tiap kegiatan arisan para wanita sosialita itu, mereka tidak hanya melakukan aktivitas bersifat hura-hura. Namun, mereka juga saling berbagi cara mengurus keluarga, terutama pendidikan anak-anak mereka.

"Kita kan dalam kelompok arisan ini banyak yang bisa dibahas seperti aktivitas anak dan perkembanganya, terus apa yang harus dilakukan ibu-ibu dalam tumbuh kembang anak," ucapnya.

Menurut Fanny, dari banyaknya kegiatan yang dimiliki bukan berarti menomor duakan keluarga. Dia menganggap keluarga tetap merupakan nomer satu dalam kehidupannya. "Mau berapa banyak aktivitas kita di luar, kita harus tetap mementingkan keluarga karena keluarga harus menjadi nomor satu," tutupnya.







Features

Duka Cita Mendalam Orangtua seorang Driver Go-Jek

Minggu, 13 Desember 2015 17:50:02
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Anwar (berpeci hitam) saat mengunjungi putranya yang tewas ditusuk di Sunter
Anwar (berpeci hitam) saat mengunjungi putranya yang tewas ditusuk di Sunter

Share this








SUNTER - Tewasnya sang anak Septiawan alias Pian (19) karena dibunuh membuat Anwar (55), ayah korban, terkulai lemas. Anwar yang diketahui sebagai tahanan narkoba diperbolehkan menghadiri pemakaman sang anak yang berprofesi sebagai driver Go-Jek, Kamis (10/11/2015).

Ia menghadiri pemakaman anaknya datang menggunakan mobil tahanan dengan menggunakan baju koko dan peci berwarna hitam, lengkap dengan kawalan polisi berpakaian preman dan petugas Lapas Kelas I Tangerang, Banten. 

Saat disemayamkan di rumah keponakanya Siti Aisyah (30) di Sunter, Jakarta Utara, langkah Anwar semakin gontai. Sontak isak tangis pun pecah ketika Anwar melihat jenazah korban sudah terbujur kaku. Air matanya pun tak terbendung melihat kisah tragis Pian.

Sang ibu Suciati (51), tak kalah sedihnya. Dia mengaku belum bisa menerima kepergian anaknya yang terbilang tragis. Suciati berkata, Pian merupakan sosok anak yang sangat penurut di mata orang tuanya.

"Septian itu anaknya baik. Selalu sayang sama orangtuanya. Bahkan bertanggungjawab penuh terhadap ekonomi keluarganya. Saya tahunya, dia mau bekerja sebagai Go-jek demi keluarganya," ungkap wanita yang kerap disapa Suci ini.

Suciati melanjutkan, anaknya tak pernah sedikit pun melupakan keluarga. Ia selalu mengirimkan sebagian gajinya dari Go jek untuk keluarganya. Pian diketahui sebagai warga Bekasi, Jawa barat, namun ia lebih memilih tinggal di kawasan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

"Terkadang ya, seminggu sekali Pian datang ke Bekasi, hanya untuk menjenguk saya. Dia juga mengirimkan uang untuk biaya sekolah adiknya yang masih duduk di bangku kelas V SD. Sejak awal Pian kerja, tak pernah ada masalah, tapi kenapa sekarang kok jadi begini," paparnya sambil terisak.

Sementara itu, tetangga korban Olive (33), mengaku tak kuasa melihat mimik wajah Anwar saat melihat putra keempatnya terbalut kain kafan berwarna putih. Ia pun sempat berkata jika Anwar merupakan residivis yang suka keluar masuk penjara hingga tiga kali.

"Kasian saya lihat pak Anwar. Miris sekali, keluar dari tahanan dalam waktu singkat, hanya untuk melihat anaknya yang sudah tewas. Bapaknya Pian memang seorang residivis dan pengedar narkoba. Sudah dua tiga kali kalau gak salah," tutur Olive.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Susetio Cahyadi mengatakan, pihaknya hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait kasus penusukan driver Go-Jek hingga tewas ini. Ia pun meminta kepada rekan kerja korban untuk lebih bersabar menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

"Kami meminta meminta mereka (driver Go-jek) untuk tidak bertindak anarkis dengan melakukan balas dendam atau main hakim sendiri. Kami pun sudah mengantongi identitas pelaku yang merupakan juru parkir di lokasi kejadian. Kami juga sudah memeriksa bukti rekaman CCTV ‎yang ada di gate parkir dan sekitar area mal," jelasnya.







Features

Sinterklas Hadir dan Bagikan ‘Hadiah’ untuk Penghuni Seaworld Ancol

Sabtu, 26 Desember 2015 13:15:51
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Aksi Sinterklas menyelam di akuarium besar Seaworld
Aksi Sinterklas menyelam di akuarium besar Seaworld

Share this








Atraksi Sinterklas yang menyelam ke dalam akuarium raksasa milik Seaworld menjadi primadona pengunjung Ancol.

ANCOL – Perayaan Natal 2015 yang jatuh kemarin, Jumat (25/12/2015), diselenggarakan di beberapa tempat wisata di Jakarta. Seperti di lokasi Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, aksi sinterklas sempat membuat decak kagum para pengunjung Seaworld.

Suasana perayaan Natal sendiri sudah terasa di Ancol sejak Jumat pagi. Kawasan wisata pantai tersebut dipadati oleh sekitar 90 ribu pengunjung yang berdatangan dari berbagai macam wilayah untuk mengisi liburan. Pengunjung membludak dengan mengunjungi berbagai jenis wahana dan wisata kuliner di Ancol.

Akibatnya arus lalu lintas dibeberapa titik area ancol macet akibat sejumlah kendaraan yang mencari tempat parkir, tak hayal banyak pengunjung yang memarkirkan kendaraanya di bahu jalan hingga mengurangi lajur.

Sementara itu, untuk menghibur para pengunjung Seaworld, pihak Ancol Taman Impian menghadirkan tontonan menarik bagi pengunjung yakni aksi Sinterklas yang memberi hadiah makanan bagi ikan-ikan yang berada di akuarium raksasa.

Tak hanya itu, Seaworld juga menghadirkan biota bernuansa Natal, yaitu Chrismans Tree Worm atau cacing pohon natal dan ikan platy santa. Ikan ini tubuhnya 7 cm seperti kostum Sinterklas dan biasanya hidup di air tawar di Amerika Tengah dan Meksiko.

“Nama cacing pohon natal diberikan karena bentuk dan warna-warninya yang menyerupai pohon natal. Cacing ini hidup dengan menggali lubang pada karang untuk melindungi dirinya berukuran 4 cm memakan plankton dan hidup di perairan laut tropis,” ujar Manager Corporate Communication PT. Pembangunan Jaya Ancol Rika Lestari.

Seorang pengunjung Sari (32) mengaku senang dapat berlibur dan berkumpul bersama keluarga menyaksikan hiburan yang disediakan pihak panitia Ancol.

"Seru aja yah ada santa claus yang memberikan hadiah malkanan buat ikan-ikan, bagus juga buat edukasi kepada anak," ujar warga Cililitan, Jakarta Timur tersebut.

Sementara untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru di Ancol, Kapolres Jakarta Utara Kombes Susetio Cahyadi mengatakan, ada 2 pos besar dan 4 pos kecil yang akan disebar di dalam kawasan Ancol Taman Impian. Ini ditujukan agar tercipta suasanya aman dan nyaman pengunjung, baik yang berada di dalam area wahana maupun di sekitar pantai.

"Beberapa kerawanan yang diantisipasi oleh pihak kepolisian, yakni: kasus anak hilang, penggunaan narkotika pada malam tahun baru, konsumsi minuman beralkohol di dalam area wisata, pencopetan/penjambretan," jelas Setio.

Dia juga menambahkan, bagi masyarakat yang akan menghabiskan waktu liburan di Ancol, dapat melewati 4 pintu gerbang, yaitu Pintu Gerbang Barat, Pintu Gerbang Timur, Pintu Gerbang Marina, dan Pintu Gerbang Carnaval.







Features

Merasakan Kerukunan Beragama dari Sudut Tanjung Priok

Sabtu, 26 Desember 2015 15:07:33
Editor : Denny | Reporter : Wahyu Muntinanto

Gereja berdiri berdampingan dengan masjid di Tanjung Priok
Gereja berdiri berdampingan dengan masjid di Tanjung Priok

Share this








Kemarin, jemaah Gereja Manahnaim mempercepat ibadah misa Natal, sementara ceramah shalat Jumat di Masjid Al Muqarrabien diperkecil suaranya.

TANJUNG PRIOK - Menjalani hidup berdampingan antar umat beragama sangatlah rentan terjadi konflik SARA. Hal tersebut dirasakan oleh kaum minoritas yang hidup di tengah wilayah kaum mayoritas. Namun, hal tersebut dapat di kesampingkan oleh warga Tanjung priok, Jakarta Utara.

Di Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara, terdapat bangunan gereja yang bersebelahan dengan masjid. Sejak 1960 silam, Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud (GMIST) Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien berdiri bersebelahan. Dua rumah ibadah itu membuktikan kerukunan hidup beragama di Indonesia.

Hidup berdampingan selama puluhan tahun telah membuat jemaat Gereja Protestan Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabin dapat saling menghargai satu sama lain. Rumah ibadah yang hanya dibatasi oleh dinding setinggi satu meter ini tak pernah dikeluhkan oleh salah satu pihak saat melakukan peribadahan.

"Sejak kecil saya tak pernah mendengar ribut-ribut masalah peribadahan, sebagai pengurus gereja kami juga selalu mengajarkan untuk selalu menjaga toleransi dengan pihak masjid," ujar Merry, salah satu jemaat Gereja Protestan Mahanaim, Jumat (25/12/2015).

Dalam Natal kali ini, kebetulan bertepatan di hari Jumat, di mana umat Islam harus menunaikan ibadah shalat Jumat dan bagi Kristiani harus menunaikan ibadah Misa. Di kedua rumah ibadah ini terlihat dimana hubungan toleransi umat beragama salaing berbagi.

"Ceramah shalat Jumatnya diperkecil suaranya. Selain itu ibadah Misanya dipercepat untuk saling menghargai,” ujar Vina Bidara, jemaat Gereja Mahanaim lainnya.

Tidak hanya itu, sikap saling menghargai juga kembali diperlihatkan oleh kedua rumah ibadah tersebut. Ketika dua ibadah berjalan hampir bersamaan, kerukunan umat beragama terlihat dari berbaginya lahan parkir.

"Kalau kami lagi ada shalat Jumat atau shalat Idul Fitri sementara di gereja tidak ada kegiatan kebaktian, jamaah masjid Al-Muqarrabin bisa memarkirkan kendaraannya di halaman parkir gereja, begitu juga sebaliknya," jelas Yusuf, pria yang sering shalat di masjid tersebut.

Kegiatan yang sudah berlangsung puluhan tahun ini bagaikan benih yang di tabur waktu lalu dan ini adalah buah atau hasil mereka petik. Keindahan hidup bertoleransi antar agama tanpa ada konflik bisa di wujudkan oleh warga pesisir Tanjung Priok.

Satu contoh kecil yang harus ditiru oleh kehidupan beragama di seluruh Nusantara. Mayoritas dan minoritas bukan lagi pembatas bagi perbedaan keyakinan yang dianut, sebab keyakinan hanya milik Tuhan dan umatnya.