Depok > Profil

Nanang Yusuf, Tanam Tumbuhan Produktif

Selasa, 21 April 2015 16:21 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Tokoh - Berbekal ilmu secara otodidak dan mengikuti pelatihan hingga tingkat internasional, pria kelahiran 7 Febuari 1971 ini beraksi mewujudkan keinginannya. Dengan kerja keras dan keuletannya, akhirnya dia berhasil mewujudkan keinginan tersebut. Hingga akhirnya sejak 2005 dia dipercaya sebagai Ketua APEBEDE oleh para petani belimbing Kota Depok.

Nanang Yusuf selaku Ketua Asosiasi Petani Belimbing Depok (APEBEDE) menginformasikan, penghijauan merupakan sebuah upaya untuk memulihkan, memelihara, serta meningkatkan kondisi alam agar dapat terus berfungsi secara optimal, baik sebagai pengatur tata air atau pelindung lingkungan. Hal tersebut menjadi landasan bagi seorang guna melakukan penghijauan dengan cara menanam tumbuhan produktif.

Menurut bapak dari dua anak ini, tanaman belimbing memiliki   banyak manfaat, mulai dari daun hingga buahnya. “Daun belimbing mampu menghasilkan oksigen secara maksimal, serta memiliki buah dengan kandungan gizi yang tinggi sehingga memiliki potensi ekonomis yang cukup baik, “ jelasnya.

Pria yang sudah menjadi petani sejak tahun 1997 tersebut menambahkan, dari segi ekonomi, nilai buah belimbing juga sangat tinggi. Untuk 1 pohon belimbing saja dapat menghasilkan buah mencapai 1.000 buah per musim. Harga buahnya juga cukup tinggi, mencapai sekitar Rp 10 ribu hingga 20 ribu per kilo. Lebih lanjut dijelaskan, dengan menanam tanaman produktif, maka akan dapat membantu program pemerintah di bidang pelestarian alam.

Narasumber : Nanang Yusuf/Ketua Asosiasi Petani Belimbing Depok

Depok > Profil

Mimpi Zanda Menjadi Crosser Perempuan Terbaik Indonesia

Rabu, 18 Januari 2017 18:17 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter : M Nashrudin Albaany

Frideswide Aurazanda saat berlatih motocross
Frideswide Aurazanda saat berlatih motocross

Share this





Di usianya yang masih 8 tahun sudah gemar dengan motocross. Padahal, biasanya sangat jarang kita melihat seorang motocross perempuan asal Indonesia.

DEPOK – Selama ini olahraga motocross memang lebih akrab bagi kaum adam. Tetapi siapa sangka jika di Kota Depok ternyata memiliki pembalap cilik dari kaum hawa. Dia adalah Frideswide Aurazanda atau yang lebih dikenal sebag

Zanda ternyata masih cukup belia, di usianya yang masih 8 tahun sudah gemar dengan motocross. Padahal, biasanya sangat jarang kita melihat seorang motocross perempuan asal Indonesia.

Pembalap cilik ini memiliki cita-cita menjadi pembalap yang bisa mengharumkan nama Indonesia di dunia crosser Internasional. Karena menurutnya, saat ini masih sedikit pembalap perempuan yang bisa membawa prestasi untuk Indonesia.

Ketertarikan Zanda terhadap dunia motocross sendiri, sudah dilakukannya sejak usia 7 tahun. Dirinya menyukai dunia crosser karena ayahnya, Slamet Budiono merupakan penggemar olahraga otomotif tersebut. Ia pun akhirnya meminta kepada sang ayah untuk dibelikan motor balap. 

"Kalau ingin menjadi pembalap memang kemauan sendiri, tetapi awalnya mulai suka karena Papa juga suka dengan dunia olahraga otomotif. Dan aku ingin seperti Sheva Anela Ardiansyah crosser terbaik Indonesia," ujarnya kepada infonitas.com, Rabu (18/1/2017).

Sejauh ini, prestasi terakhir yang berhasil ia raih adalah pada Oktober 2016 lalu, yakni menjadi juara pertama di Kejuaraan Daerah Jawa Barat yang dilaksanakan di Tasikmalaya pada kategori MX65CC.

Saat ini, Zanda sendiri masih berkonsentrasi untuk menghadapi kompetisi motocross yang akan segera digelar pada tahun ini. "Sekarang masih konsentrasi latihan, karena tahun ini akan ada kejuaraan untuk kelas 50cc," terangnya.

Sementara itu, sang ayah mengatakan bahwa ia sangat mendukung hobi yang digeluti oleh anak perempuannya tersebut. Namun, ia juga meminta Zanda tidak hanya bertanggung jawab dengan hobinya saja, tetapi juga dengan sekolahnya.

"Saya sebagai orang tua mendukung saja, selagi itu kegiatan positif. Sampai saat ini, tidak ada yang dikhawatirkan, semua nilai pelajaran mendapatkan nilai yang bagus. Zanda ditangani pelatih profesional, ini yang membuat saya mendukungnya," ungkap Slamet.

Slamet juga mengatakan, jika saat ini di Kota Depok sudah ada lokasi latihan motocross yang cukup strategis yang tidak jauh dari rumahnya. Sehingga membuat ia mudah dalam mengontrol sang anak saat berlatih.

"Sudah ada tempat latihan motocross di Jalan Raya KSU, namanya Gerbang Mas Sirkuit. Jadi anak saya tidak perlu jauh-jauh untuk berlatih sebelum kejuaraan," pungkasnya.

Depok > Profil

Fuad Syaifudin, Menyampaikan Ajaran Dengan Tulus Ikhlas

Selasa, 21 April 2015 16:12 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Tokoh - Menjadi seorang uztaz adalah cita-cita dari pemilik nama Fuad Syaifudin Nur ini. Dengan cita-citanya tersebut dia mampu berbagi pengalaman di bidang agama kepada semua lapisan masyarakat Depok. Bagi pria yang lahir di Pekalongan 23 Juli 1975 ini, dalam mengajarkan agama Islam yang terpenting adalah adalah keikhlasan diri. “Dengan menyampaikan ajaran secara ikhlas dan tulus, maka orang akan mudah mempercayai kita,” ungkapnya.

Sebagai seorang tamatan dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor dan Universitas Islam Negeri Jakarta, cukup memberikannya bekal dalam berdakwah dan penafsir buku dari bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut dilakoninya karena dia ingin memberikan manfaat bagi setiap orang muslim dan untuk alam semesta. “Karena Islam itu sendiri berasal dari kata aslamah yang artinya menyelamatkan. Jadi selain bermanfaat juga harus bisa menuntun orang ke jalan Allah,” tambahnya.

  Narasumber: Fuad Syaifudin Nur,S.Ag/Tokoh Agama Abadijaya Depok

Depok > Profil

Hj Sri Sunarni,SPd, Utamakan Pendidikan

Senin, 23 Maret 2015 10:53 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Tokoh- Wanita bernama Sri Sunarni ini membuka lembaga pendidikan nonformal dengan nama Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Wandios. Tujuan hanya satu, yakni untuk mencerdaskan masyarakat di lingkungan sekitar. Pendidikan yang diberikan antara lain mengenai bidang kecantikan wanita. Kursus tersebut terutama diperuntukkan bagi masyarakat  tidak mampu dan anak yatim, yang ingin mempunyai keahlian dan keterampilan dalam bidang tata rias. Kelahiran Cilacap 6 Juni 1960 yang sekaligus memegang jabatan sebagai ketua ini mengatakan, lembaga pendidikan haruslah menfokuskan diri pada kualitas agar dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang baik.

“Dalam hidup kita harus mengutamakan pendidikan, dan selalu mengembangkan keahlian yang ada. Karena itulah pendidikan formal sangat penting,” demikian ungkapnya. Besarnya minat wanita lulusan Universitas Negeri Jakarta Jurusan Tata Boga ini di bidang pengembangan pendidikan, membuatnya memperoleh beragam prestasi dan penghargaan di bidang tersebut. Salah satunya adalah Penghargaan Peningkatan Mutu SDM pada tahun 2013, Penghargan Program Studi Penguatan Manajemen dan LKP Perdagangan, serta Penghargaan Program Kepariwisataan.

Depok > Profil

Acmad Syaibani, Tidak Takut Gagal

Senin, 23 Maret 2015 10:51 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Tokoh - Sepak bola memang sudah menjadi olahraga favorit masyarakat dunia, tidak terkecuali Indonesia. Seiring berkembangnya zaman, olahraga sepak bola juga mengalami perubahan. Futsal atau sepakbola dalam ruangan (indoor soccer) adalah produk dari perubahan zaman tersebut. Namun, sayangnya olahraga ini belum mendapatkan perhatian penuh dari berbagai kalangan. Hal tersebut lantas membuat seorang Achmad Syaibani berusaha memperkenalkannya secara profesional kepada masyarakat umum.

“Saat ini saya melihat di Depok banyak sekali pemain muda yang memiliki bakat di bidang futsal. Oleh karena itu saya merasa tertarik untuk mengembangkan prestasi mereka di tingkat yang lebih tinggi,” demikian jelas pria yang pernah menjadi pemain timnas futsal Indonesia, sekaligus berperan sebagai pelatih muda futsal Porda Depok saat ini.

Bani sapaan akrabnya, yang pernah berlaga di liga Asian Futsal Championship (AFC 2008) dan Indonesian Futsal League (IFL 2008) ini, kemudian mencoba melatih para penggiat futsal di Depok agar mampu meraih prestasi di tingkat nasional. Dengan mendidik para pemain berbakat tersebut secara kompeten maka nantinya olahraga futsal di Depok akan semakin maju. “Agar bisa berprestasi lebih tinggi, janganlah takut untuk gagal. Karena kegagalan adalah jalan untuk meraih sukses,” pungkas Bani.

Depok > Profil

Evi Raswandi, Ingin Remaja Lakukan Hal Positif

Jumat, 20 Maret 2015 18:54 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Eksekutif - Dunia bisnis memang tidak pernah mengenal latar belakang seseorang. Hal tersebut layak disandang oleh seorang wanita bernama Evi Raswandi ini. Walau berprofesi sebagai seorang dokter, tidak menghalangi niatnya untuk memiliki usaha sampingan sekolah musik di Kota Depok yang bernama Sekolah Musik Kita Anak Negeri. Wanita kelahiran Makassar 10 Januari 1967 ini memutuskan untuk berhenti melakukan prakteknya sebagai dokter. Sejak itulah   Evi mencoba menggeluti dunia bisnis, dengan membuka usaha kuliner.

Bisnis pertamanya tersebut membuatnya belajar cara mengolah sebuah usaha secara profesional. “Saya ingin remaja sekarang bisa melakukan hal yang positif, bukan hanya nongkrong yang tidak memberikan manfaat,” katanya. Melalui sekolah musik ini diharapkannya mereka bisa mengisi waktu luangnya secara positif yang mampu menorehkan prestasi.

 
Depok > Profil

Muadzin F. Jihad, Bebas Tentukan Waktu dan Pendapatan

Jumat, 20 Maret 2015 18:46 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Eksekutif - Bagi pria bernama Muadzin F. Jihad ini memang tidak mudah untuk merintis sebuah bisnis, karena banyak membutuhkan kesiapan mental. Pensiun dini dari dunia kerja, dirinya langsung mengejar cita-cita yakni menjadi full time entrepreneur. “Saya memilih menjadi seorang wirausaha karena saya bisa bebas menentukan waktu dan pendapatan sendiri,” papar Muadzin.

Berkat kerja kerasnya kini pria lulusan Teknik Elektro Universitas Indonesia ini, sudah bisa menikmati hasilnya sedikit demi sedikit. “Tidak usah berpikir terlalu rumit. Mencoba mengawali segala sesuatu dari hal yang kecil, dan lakukanlah   segera tanpa banyak berpikir,” ungkap Muadzin.

Narasumber : Muadzin F. Jihad/owner Ranah Kopi

Depok > Profil

Menilik Sejarah Kota Depok (2)

Jumat, 20 Maret 2015 14:12 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Cikal Bakal Istilah “Belanda Depok”

Selain sarat akan nilai sejarah peninggalan penjajah Belanda, sebagian warga Kota Depok juga sempat memiliki ‘julukan'. Anda pernah mendengar istilah ‘Belanda Depok'? saat ini Depok dapat dikatakan sudah menjadi kotamaju dibandingkan dulu. Namun, tahukah Anda, Depok juga sempat mengalami perkembangan pada saat zaman Kerajaan Padjajaran hingga Banten. Setelah era kerajaan tersebut, tercatat bahwa Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yakni kongsi dagang Belanda, merapat ke Depok sekitar abad ke-15.

Depok sangat identik dengan seorang bangsawan Belanda yang bernama Cornelis Chastelein. Pada abad ke-16, Cornelis Chastelein membeli tanah di Depok beserta 150 orang budak untuk dipekerjakan. Asal bidak tersebut dari berbagai daerah seperti Bali, Ambon, Jawa, Sunda, hingga Bugis. Yano Jonathans sebagai mantan Kepala Bidang Sejarah di Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein mengatakan, saat itu belum ada satu bahasa yang digunakan untuk para budak, karena masih menggunakan bahasa daerahnya masing - masing. “Karena penguasa Depok ini adalah orang Belanda, maka Chastelein menetapkan Bahasa Belanda sebagai bahasa bahasa pemersatu mereka,” kata Yano.

Setelah Chastelein wafat pada 1714, Ia memberikan surat wasiat mengenai pembebasan pada budaknya untuk menentukan hidupnya sendiri. Surat wasiat tersebut bukan hanya mengenai pembebasan budak, tetapi juga pemberian tanah dan harta benda kepada 12 nama keluarga bekas para budak Chastelein.

Melalui sejarah itulah cikal bakal istilah ‘Belanda Depok' mulai muncul. Menurut masyarakat lokal, ‘Belanda Depok' bukan merupakan orang keturunan Belanda yang berambut pirang dan berkulit putih, tetapi orang pribumi yang menjadi budak dengan menggunakan Bahasa Belanda.

Depok > Profil

Menilik Sejarah Kota Depok (1)

Jumat, 20 Maret 2015 13:55 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





Info Utama - Bukan hanya kota tua saja yang menyimpan kenangan perjalanan penjajah Belanda di Indonesia. Salah satu tempat yang memiliki kenangan tersebut adalah Kota Depok. Ya. Kota yang berdekatan dengan Jakarta Selatan ini memiliki banyak sekali peninggalan sejarah masa penjajahan Belanda, salah satunya adalah bangunan. Namun, seiring berkembangnya pembangunan serta infrastruktur di Kota Depok, peninggalan tersebut dapat dikatakan sedikit terlupakan oleh masyarakat.

Ratu Farah Diba selaku ahli sejarah Kota Depok berharap, agar kawasan yang memiliki banyak bangunan tua dapat dijadikan cagar budaya agar terlindungi dari roda perkembangan zaman. Farah menjelaskan, beberapa bangunan bersejarah yang ada di Kota Depok antara lain Gereja Immanuel Depok yang berada di Jalan Pemuda, Depok Lama, yang dibangun pada abad ke-18 oleh seorang penguasa Depok yang pertama bernama Cornelis Chastelein. Kemudian bangunan Jembatan Panus yang melintasi Sungai Ciliwung yang menghubungkan Depok Lama dengan Depok II. Ini dibangun antara tahun 1917 sampai 1918.

Selain bangunan bersejarah, kawasan Depok juga banyak bertebaran situs peninggalan berupa tugu. Pada saat itu tugu berfungsi sebagai penanda jarak, ataupun peringatan akan peristiwa tertentu yang dianggap penting oleh pemerintah kolonial Belanda, ataupun pemerintah Indonesia pada masa lalu. “Tugu bersejarah tersebut tersebar   di sejumlah wilayah, seperti monumen berbentuk tugu di depan Rumah Sakit Harapan di Jalan Pemuda. Itu untuk mengenang jasa Cornelis Chastelein,” katanya. Selain itu terdapat pula sebuah monumen yang dibangun di Jalan Raya Sawangan, untuk memperingati kemenangan perjuangan TKR melawan tentara NICA di wilayah tersebut.

Beberapa peninggalan bersejarah tersebut juga berupa artefak prasejarah dan kawasan tertentu, seperti yang terdapat di Kramat Beji Depok berupa sumur dan bangunan kecil. Menurut data sejarah sumur tersebut merupakan sumber mata air para prajurit Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) pada sekitar tahun 1714.

Bersambung.

Baca selengkapnya:

Menilik Sejarah Kota Depok (2)

Depok > Profil

Asri Mulianita, Tak Melupakan Kodrat Wanita

Rabu, 11 Maret 2015 12:56 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





DEPOK - Seorang Asti Mulianita adalah sosok yang tak pernah meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Sebagai seorang pengusaha wanita yang cukup berhasil, perempuan asal Tegal ini tetap setia melaksanakan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Bahkan juga telah mampu membagi waktunya dengan menjadi Ketua Ikatan Wanita pengusaha Indonesia (IWAPI) Kota Depok.

Menurutnya, keberhasilan perempuan itu datang dari keluarganya. “Untuk itulah kita sebagai perempuan janganlah terlena dalam mengejar impian, dan meninggalkan keluarga. Karena keluarga merupakan awal mula keberhasilan kita,“ jelasnya bersungguh - sungguh.

Dalam meniti karirnya seorang perempuan haruslah bisa membagi waktu dengan baik. ”Meskipun berkarir perempuan tetap harus mengutamakan keluarga, terutama memikirkan suami dan anak-anaknya.” tambahnya.

Perempuan yang memiliki beberapa institusi pendidikan dan real estate ini menambahkan, dalam era modern seperti sekarang ini emansipasi bukan hadiah atau pemberian dari seseorang. “Perempuan juga harus membuktikan dan bisa menutupi kelemahannya, dengan bersikap kuat dan tegas serta berdiri seimbang dengan laki - laki,” jelasnya.

Walaupun bersikap kuat dan tegas, perempuan tetap tidak boleh melupakan kodrat alamnya sebagai wanita. “Perempuan adalah madrasah bagi anak - anak kita. Untuk itu kita harus siap memberikan contoh yang baik kepada anak - anak di rumah,” pungkasnya.

Reporter: Jefri Orianta Editor: Hari Sudibyo Foto: Info Depok/Irving
Depok > Profil

Dr Sukwanto, Rela Mengabdi untuk Masyarakat

Rabu, 11 Maret 2015 12:49 WIB
Editor : Admin | Reporter : Admin



Share this





DEPOK – Memperjuangkan kesejahteraan dokter adalah salah satu tugas yang diemban Ikatan Dokter Indonesia, yang salah satu cabangnya di Kota Depok diketuai oleh dr H Sukwanto Gamalyono, MARS.

“Sebagai Ketua IDI Kota Depok saya akan berusaha untuk memperjuangkan kesejahteraan dokter,” ujarnya. Karena dia melihat bahwa untuk saat ini kesejahteraan dokter masih sangat kurang. Sehingga dia pun berharap agar pemerintah lebih memperhatikan nasib para dokter di Indonesia.

Menurutnya, masih banyak orang yang beranggapan bahwa dokter itu bisa diibaratkan sebagai supir taksi. “Sehingga saat membuka praktik mereka akan selalu mendapatkan banyak uang,“ jelasnya. Hal ini tidak seluruhnya benar. Karena saat ini, masih banyak dokter yang lebih menitikberatkan pada pelayanan kesehatan masyarakat.

Bahkan dia menambahkan, untuk saat ini pemerintah juga harus mengupayakan kesejahteraan para dokter. Terutama terkait kapitasi yang masih minim, sementara pelayanan kesehatan terhadap pasien harus tetap optimal.

Sementara itu besarnya kepedulian akan prinsip pengabdian terhadap kesehatan masyarakat diwujudkannya dengan membuka klinik di Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Depok, dan juga praktik di RSUD Ciawi, Bogor. Bahkan untuk itu bapak dari tiga anak ini tetap rela mengabdi pada saat libur.

  Reporter: Jefri Orianta Editor: Hari Sudibyo Foto: Info Depok/Irving