Depok > Laporan Utama

Margonda, Pejuang Depok yang Gugur di Usia Muda

Minggu, 10 September 2017 20:00 WIB
Editor : Ichwan Hasanudin | Sumber : DBS

Margonda
Margana atau Margonda (Foto: historia.id)
Foto : istimewa

Share this








Nama Margonda sangat dikenal warga Jakarta khususnya Kota Depok. Tapi, siapakah sebenarnya sosok Margonda yang menjadi nama jalan utama di Kota Depok ini?

DEPOK – Bagi warga Jakarta khususnya Kota Depok, Jalan Margonda Raya sudah sangat familiar dan seringkali dilintasi. Namun, mungkin hanya sedikit orang yang mengenal siapa sosok Margonda ini. Siapa dia? Apa jasanya sampai namanya diabadikan menjadi jalan utama Kota Depok.

Margonda banyak orang menyebut namanya. Namun, bukan itu nama sebenarnya. Nama aslinya adalah Margana, lahir di Cimahi, Jawa Barat tahun 1918. Margonda adalah seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia di Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Lembaga ini dahulunya bernama Analysten Cursus.

Di era 1940-an, Margonda atau Margana mengikuti pelatihan penerbangan cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda dan sempat bekerja di sana sampai kedatangan Jepang tahun 1942. 

Setelah Jepang kalah, Margonda aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar. Dia pun membentuk laskar AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor dan menjadi pimpinan. “AMRI pimpinan Margonda lebih dahulu berdiri dibanding BKR (Badan Keamanan Rakyat),” tulis buku Sejarah Perjuangan Bogor dikutip laman dari historia.id.

Pada 11 Oktober 1945, Margonda bersama pasukan AMRI dan laskar lainnya menyerbu Kota Depok. Penyerbuan itu dilakukan karena Kota Depok tidak mau bergabung dengan Republik Indonesia. Dilepas oleh istrinya, Maemunah, Margonda berangkat naik kereta menuju Kota Depok dari Stasiun Bogor. 

Ribuan pemuda berhasil mengepung dan menguasai Kota Depok. Namun itu tidak berlangsung lama. Pasukan Sekutu datang dan merebut kembali Kota Depok. Para pejuang terpaksa mundur untuk menyusun strategi dan kekuatan. Mereka melakukan serangan kembali pada 16 November 1945. 

“Itulah pertempuran yang paling benar-benar sengit. Dari jam lima pagi sampai jam lima pagi besoknya lagi. Perang sehari semalam itu sandinya Serangan Kilat, kalau di Jogja ada Serangan Fajar. Saya ikut bertempur,” tandas Adung Sakam kepada Historia.

Dalam serangan itu, Margonda gugur di Kalibata Depok. Usianya saat itu masih 27 tahun. Dia gugur bersama para pejuang lain yang nama-namanya terpampang di dinding Museum Perjoangan Bogor. Mereka gugur dengan gagah berani membela negara yang dicintainya, Republik Indonesia. 

Makam dan jasad Margonda tidak pernah diketahui. Namun di kalangan pejuang di Bogor, beredar kabar bahwa Margonda dimakamkan satu liang lahat dengan para pejuang lainnya di Kalibata Depok. Makam itu akhirnya dibongkar dan jasad Margonda dimakamkan ulang di samping Stasiun Bogor. Saat ini, lokasi makam Margonda menjadi Taman Ade Irma Suryani, dekat Taman Topi. Namun tetap tidak diketahui dimana tepatnya makan Margonda.

Pahlawan Kota Depok
Saat perayaan HUT ke-72 Republik Indonesia, Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok masih terus melakukan inventarisir data pahlawan dari Depok, termasuk keluarga, dan para ahli warisnya.

Pihaknya masih terus melakukan proses melengkapi data para pahlawan yang berasal dari Depok. Saat ini, baru ada belasan data yang terekap. Mulai dari lokasi makannya, silsilah keluarga, para ahli waris hingga sejarah perjuangannya. 

Di antara pahlawan-pahlawan Depok tersebut, kata Mohammad Idris, datanya masih di Kabupaten Bogor. Seperti Tole Iskandar dan Margonda. “Yang sudah lengkap dengan keluarga sekitar belasan, masih banyak yang perlu kita telusuri apakah benar keluarga pahlawan atau bukan,” kata Mohammad Idris di laman www.depok.go.id.

Di kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Depok Pradi Supriatna menambahkan pendataan dan inventarisir itu dilakukan sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Kota Depok terhadap para pahlawan. Salah satunya dengan mengusulkan menjadi nama jalan. 

“Seperti Tole Iskandar, yang menjadi jalan di kawasan Sukmajaya. Bahkan menjadi nama jalan nasional, ini penghargaan yang luar biasa. Karena sudah diperdakan, tentu tak bisa diganti,” jelas Pradi usai Upacara Penurunan Bendera Memperingati HUT RI ke-72 di Lapangan Balai Kota Depok.