Depok > Laporan Utama

Ini Penjelasan SMAN 13 Soal Pemecatan Guru Sejarah Andika Ramadhan

Kamis, 12 Januari 2017 16:22 WIB
Editor : Dany Putra | Reporter :

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 13 Kota Depok, Rakhmat Fauzi (kanan), saat jumpa pers di SMAN 13.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 13 Kota Depok, Rakhmat Fauzi (kanan), saat jumpa pers di SMAN 13.
Foto : Apriyadi Hidayat

Share this








Selain Dika belum menyelesaikan kuliahnya, sekolah juga menilai ada beberapa hal yang janggal dalam proses kegiatan belajar dan mengajarnya.

DEPOK – Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 13 Kota Depok, Rakhmat Fauzi, menjelaskan secara gamblang soal guru honorer yang diberhentikan oleh sekolah. Menurutnya, guru bernama Andika Ramadhan Febriansah itu sebelumnya mengajar mata pelajaran sejarah, kini diberhentikan jam mengajarnya dan dipindahkan menjadi petugas perpustakaan. 

"Yang perlu digarisbawahi, diberhentikannya pak Dika bukan karena curhatnya di media sosial. Hanya masalah administrasi saja. Pak Dika tetap ada di SMAN 13, tidak dipecat," ungkap Rakhmat di ruangannya, Kamis (12/1/2017).

Dijelaskan Rakhmat, selain Dika belum menyelesaikan kuliahnya, sekolah juga menilai ada beberapa hal yang janggal dalam proses kegiatan belajar dan mengajarnya. Pertama, lanjut dia, Dika tidak pernah menggelar ulangan atau ujian kepada murid-muridnya. "Tentu ini sangat bertentangan dengan kurikulum kami," tandasnya.

Kedua, lanjut Rakhmat, terjadi perubahan pada peserta didik SMAN 13 Depok setelah Dika mengajar lima bulan. "Anak-anak cenderung melawan saat kami menertibkan rambut siswa yang gondrong atau merapihkan baju murid yang keluar. Soalnya dia (Dika) memperbolehkan hal itu," terangnya.

Ia menambahkan, kesalahan Dika yang ketiga adalah membentuk organisasi ilegal di lingkungan sekolah tanpa pemberitahuan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan. "Nama organisasinya Studi Merdeka. Jadi mereka menyebutnya sebagai wadah diskusi. Ini memang cukup bagus tapi menyalahi prosedur. Kadang mereka berdiskusi di cafe hingga larut malam. Bahkan, pernah ada orangtua yang anaknya tidak pulang karena ikut dengan pak Dika ke Puncak, Bogor. Jelas ini bertentangan," ungkap Rakhmat.

Sehingga, atas dasar rapat internal, Dika dinolkan jam mengajarnya. "Yang lebih utama, supaya Pak Dika fokus untuk skripsi. Kami tidak antikritik, asalkan sesuai faktanya. Kritik akan membuat kami termotivasi untuk maju," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus tersebut menyeruak lewat tagar #SavePakDika di media sosial. Pihak Dika menilai bahwa diberhentikannya sebagai guru karena curhatannya di media sosial berjudul 'Pendidikan Kita Memang Kacau, Adikku' (http://andikaramadhanf.tumblr.com/post/154029284356/pendidikan-kita-memang-kacau-adikku).