Depok > Laporan Utama

Ini Kata Ahli Linguistik UI Soal Kata ‘Pribumi’ pada Pidato Anies

Rabu, 18 Oktober 2017 14:32 WIB
Editor : Waritsa Asri | Reporter : Wildan Kusuma

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Foto : istimewa

Share this








Ahli Linguistik Universitas Indonesia, Untung Yuwono mengungkapkan soal kata ‘Pribumi’ pada Pidato Anies Baswedan, yaitu masyarakat yang dijajah kolonial

DEPOK – Munculnya kata ‘pribumi’ dari mulut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam pidato perdananya di Balaikota Senin (16/10/2017) kemarin, menjadi kontroversional. Ahli Linguistik Universitas Indonesia, Untung Yuwono, tidak mempermasalahkan penggunaan kata ‘pribumi’ yang dilontarkan Anies sepanjang masih dalam konteks yang relevan.

“Anies Baswedan menggunakan kata ‘pribumi’ dalam konteks penjajahan pada masa silam. ‘Pribumi’ dalam KBBI memiliki arti penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Anies menggambarkan ‘pribumi’ ketika itu dilawankan atau dioposisikan dengan penjajah yang berkenaan dengan sejarah kolonialisme di Jakarta pada masa silam,” ujar Untung kepada wartawan, Selasa (17/10/2017) kemarin malam.

Ia menambahkan, pemakaian kata ‘pribumi’ oleh Anies berupa konteks kebahasaan. Artinya, pemilihan kata 'pribumi' tersebut merupakan kalimat yang datang sebelum dan beberapa saat setelah kata itu terpakai.

“Dalam ilmu bahasa disebut ko-teks. Di mana, ko-teks merupakan kalimat-kalimat yang datang sebelum dan beberapa saat setelah kata "pribumi" itu dipakai ketika Anies berbicara tentang Jakarta sebagai kota yang telah dihuni oleh masyarakat (pribumi) yang pernah dijajah oleh kolonialis (penjajah) hingga merdeka,” bebernya.

Sebelumnya, Anies telah memberikan klarifikasi mengenai isi pidato politik pertamanya tersebut. Ia mengatakan, Jakarta adalah kota yang paling dekat dengan penjajahan saat kolonialisme masih bekuasa di negeri ini. Dalam konteks itulah pernyataannya tentang pribumi harus dipahami.

“Jadi, kata ‘pribumi’ yang digunakan oleh Anies Baswedan itu merujuk pada masyarakat Jakarta yang dijajah oleh kolonialis pada masa kolonialisme,” pungkas Untung.